Tragis. Itulah
nasib Hadi Poernomo. Tepat saat ulang tahun dan mengakhiri masa jabatan sebagai
Ketua BPK dengan baik, ia ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK terkait dengan
jabatannya yang dulu sebagai Dirjen Pajak. Ini bukan kali pertama. Dulu saat
ulang tahun ia juga dicopot sebagai Dirjen Pajak. Namun, kali ini terasa sangat
tragis sebab ia bukan kehilangan jabatan, karena memang berketepatan dengan
masa berakhirnya jabatan itu. Ia akan kehilangan kebebasan dan kesempatan
menikmati masa pensiun dengan nyaman. Sungguh masa tua yang sama sekali tak
menyenangkan.
Inilah taqdir
manusia. Misteri gulita gelap. Tak seorang pun tahu dan pernah tahu akan jadi
apa dia pada keakanan, di masa depan. Semua kita berada dalam ketidaktahuan
itu. Fakta inilah yang menegaskan betapa lemah dan rentan manusia itu. Bahkan
akan jadi apa dia, sama sekali tidak berada dalam genggamannya
Manusia bisa dan
boleh membuat rencana apapun. Mempersiapkan masa depan seperti apa yang akan
dijalaninya. Untuk itu, bisa saja ia melakukan semua yang mungkin bagi
pemenuhan keinginannya tersebut. Tetapi, ada taqdir yang telah ditentukan. Dan
kita tak pernah tahu taqdir bagi diri itu seperti apa.
Apa yang terjadi
pada Hadi Poernomo bisa terjadi pada kita semua. Bagaimana kelampauan atau masa
lalu memenjara keakanan atau masa depan kita. Semua kebaikan dan kejahatan
manusia tak pernah menguap dan hilang. Ia tercatat. Bukan saja dalam flash disc malaikat, juga dalam dokumen-dokumen kemanusiaan, dalam memori
orang-orang di sekitar kita. Semua kebaikan dan kejahatan kita akan kembali
pada kita, entah bagaimana pun caranya.
Khusus bagi para
pejabat dan mantan pejabat, persoalannya sangat pelik. Dalam jabatannya itu
mereka harus membuat keputusan yang memiliki dampak luas. Seorang mantan
menteri, dan sejumlah mantan pejabat esselon satu dari berbagai
kementerian bercerita. Dalam birokrasi
kita, seringkali orang-orang baik yang menjadi pejabat dipaksa atau terpaksa
membuat keputusan yang sangat potensial mencelakakan dirinya karena dikondidsikan
oleh atasan atau kekuatan politik tertentu. Tidak semua pejabat itu berani
menolak dengan resiko kehilangan jabatan. Sialnya, bila keputusan itu
bermasalah maka dialah yang menanggung akibatnya, masuk penjara dan dipermalukan
karena korupsi. Seringkali pejabat bersangkutan tidak mendapatkan apapun dari
keputusan itu.
Ini bisa terjadi
karena undang-undang anti korupsi berbunyi orang bisa dihukum bila memperkaya
diri sendiri dan/atau orang lain. Burhanuddin Abdulah dalam kapasitas sebagai
Gubernur Bank Indonesia mengalami nasib
kayak begini. Mungkin inilah makna ungkapan, orang baik di tempat atau waktu
yang salah.
Dalam konteks
seperti itu siapa pun yang sedang dalam jabatan
haruslah sangat berhati-hati. Keadaannya makin parah bila si pejabat itu
pada dasarnya manusia yang rakus kemaruk dan hobinya memang merampok uang
negara atau rakyat. Kemungkinan ia mengalami nasib seperti Hadi Poernomo sangat
besar. Meski kasusnya terjadi pada masa lalu. Kasus Hadi Poernomi ini sudah
berlalu sepuluh tahun. Ini semacam tabungan kejahatan yang akan dibuka pada
waktunya.
Apa yang
difirmankan Allah dalam Al Quran menjadi tak terbantahkan. Allah katakan bahwa
kekuasaan memang bisa membuat si penguasa mulia atau terhina. Bila terjerat
kasus korupsi seperti ini, terhinalah jadinya.
Hakikinya siapa
pun bisa mengalami nasib seperti ini. Tidak mesti pejabat. Artinya setiap perbuatan
jahat yang dilakukan pada masa lalu atau masa kini, bisa menjadi masalah dan hukuman yang
mengerikan pada masa depan.
Orang tua bijak pada
masa lalu menegaskan tak ada orang yang bisa menyimpan bangkai. Cepat atau
lambat bau busuknya akan menyebar. Ini hanya soal waktu. Ungkapan lain yang
juga benar adanya adalah, sepandai-pandai tupai melompat, suatu kali akan
terjatuh juga. Bila seorang memiliki mental dan perilaku jahat, bisa saja
dengan beragam strategi ia mencapai apa yang merupakan ambisinya menjadi penguasa
atau pejabat pada tingkat tertentu, kemudian merampok apa saja saat menjadi pejabat.
Sebenarnya orang seperti ini sedang menggali kubur bagi dirinya sendiri.
Secara manusiawi bisa
ditegaskan bahwa sebenarnya apa yang akan
dialami pada keakanan atau masa depan ternyata kita bisa ikut menentukannya.
Bila kita selalu berbuat baik dan hati-hati, kebaikanlah yang didapatkan.
Namun, jika kita berbuat jahat maka kejahatan itulah yang akan menghancurkan
kita pada masa depan di dunia dan juga pada kehidupan di seberang kematian.
Secara hipotetis bisa dikatakan, kita bisa berperan menentukan taqdir diri
sendiri. Meskipun seberapa besar derajat penentuan itu tak pernah kita ketahui.
Barangkali di
sinilah pentingnya saling mengingatkan, kritik dan masukan dari orang lain.
Suatu upaya untuk saling mejaga agar jangan sampai terjerumus dalam perbuatan
dan perilaku jahat. Namun celakanya, banyak orang yang sedang dalam kekuasaan
atau jabatan, sekecil apapun jabatan dan kekuasaan itu, seringkali menganggap masukan,
peringatan, dan kritik itu menghina dan hendak hancurkan mereka. Seringkali
mereka dibutakan dan tak mampu melihat substansi masukan, peringatan dan kritik
itu. Mereka malah meributkan cara atau ungkapannya. Nanti, saat merasakan
akibat perbuatan jahat, baru mereka sadari makna terdalam kritik itu. Sayangnya
sudah terlambat.
Namun, memang
demikianlah sifat kebanyakan manusia. Di dalam Al Quran banyak cerita tentang
orang-orang jahat yang terlambat menyadari kejahatannya, padahal para Nabi dan Rasul
sudah mengingatkan berkali-kali. Mereka menyesal pada waktu yang tidak teoat.
Merekalah orang salah yang berada pada waktu dan tempat yang benar. Namun, yang
paling parah adalah orang salah yang berada pada tempat dan waktu yang salah.
Inilah orang-orang yang terus saja berbuat salah dalam keadaan apapun.
Orang-orang yang telah majal hati dan otaknya.
Nama : Dwi Putri Yulianti
BalasHapusKelas : P.IPS 2014 (B)
Niat seseorang sangat menentukan takdir kita sendiri. Kita bisa membuat dan mengandai-andaikan masa depan atau takdir kita. Tetapi apa yang kita buat tidak diikuti dengan niat yang baik hasilnya akan nihil. Kondisi lingkungan, sikap, teman sangat menentukan takdir kita. Siapa yang tahu nasib Hadi Poernomo sebelum ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK? Sebelumnya hidupnya sudah enak dan bisa memenuhi keinginannya, tetapi sekarang nasib berkata lain. Mungkin kondisi lingkungan telah membuatnya menjadi gelap mata dan melakukan korupsi dan setelah kejadian tersebut mungkin dia baru menyadari dan menyesal terhadap perbuatannya. Maka dari itu, tentukanlah apa yang akan kita raih dan kita akan menjadi apa di kehidupan yang akan datang. Usahakan kita melakukan dengan niat yang baik dan tidak membuat sesuatu yang kita lakukan berjalan dengan sia-sia.