Kamis, 24 April 2014

TAQDIR MANUSIA



Tragis. Itulah nasib Hadi Poernomo. Tepat saat ulang tahun dan mengakhiri masa jabatan sebagai Ketua BPK dengan baik, ia ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK terkait dengan jabatannya yang dulu sebagai Dirjen Pajak. Ini bukan kali pertama. Dulu saat ulang tahun ia juga dicopot sebagai Dirjen Pajak. Namun, kali ini terasa sangat tragis sebab ia bukan kehilangan jabatan, karena memang berketepatan dengan masa berakhirnya jabatan itu. Ia akan kehilangan kebebasan dan kesempatan menikmati masa pensiun dengan nyaman. Sungguh masa tua yang sama sekali tak menyenangkan.

Inilah taqdir manusia. Misteri gulita gelap. Tak seorang pun tahu dan pernah tahu akan jadi apa dia pada keakanan, di masa depan. Semua kita berada dalam ketidaktahuan itu. Fakta inilah yang menegaskan betapa lemah dan rentan manusia itu. Bahkan akan jadi apa dia, sama sekali tidak berada dalam genggamannya

Manusia bisa dan boleh membuat rencana apapun. Mempersiapkan masa depan seperti apa yang akan dijalaninya. Untuk itu, bisa saja ia melakukan semua yang mungkin bagi pemenuhan keinginannya tersebut. Tetapi, ada taqdir yang telah ditentukan. Dan kita tak pernah tahu taqdir bagi diri itu seperti apa.

Apa yang terjadi pada Hadi Poernomo bisa terjadi pada kita semua. Bagaimana kelampauan atau masa lalu memenjara keakanan atau masa depan kita. Semua kebaikan dan kejahatan manusia tak pernah menguap dan hilang. Ia tercatat. Bukan saja dalam flash disc malaikat, juga dalam dokumen-dokumen kemanusiaan, dalam memori orang-orang di sekitar kita. Semua kebaikan dan kejahatan kita akan kembali pada kita, entah bagaimana pun caranya.

Khusus bagi para pejabat dan mantan pejabat, persoalannya sangat pelik. Dalam jabatannya itu mereka harus membuat keputusan yang memiliki dampak luas. Seorang mantan menteri, dan sejumlah mantan pejabat esselon satu dari berbagai kementerian  bercerita. Dalam birokrasi kita, seringkali orang-orang baik yang menjadi pejabat dipaksa atau terpaksa membuat keputusan yang sangat potensial mencelakakan dirinya karena dikondidsikan oleh atasan atau kekuatan politik tertentu. Tidak semua pejabat itu berani menolak dengan resiko kehilangan jabatan. Sialnya, bila keputusan itu bermasalah maka dialah yang menanggung akibatnya, masuk penjara dan dipermalukan karena korupsi. Seringkali pejabat bersangkutan tidak mendapatkan apapun dari keputusan itu.
Ini bisa terjadi karena undang-undang anti korupsi berbunyi orang bisa dihukum bila memperkaya diri sendiri dan/atau orang lain. Burhanuddin Abdulah dalam kapasitas sebagai Gubernur Bank Indonesia  mengalami nasib kayak begini. Mungkin inilah makna ungkapan, orang baik di tempat atau waktu yang salah.

Dalam konteks seperti itu siapa pun yang sedang dalam jabatan  haruslah sangat berhati-hati. Keadaannya makin parah bila si pejabat itu pada dasarnya manusia yang rakus kemaruk dan hobinya memang merampok uang negara atau rakyat. Kemungkinan ia mengalami nasib seperti Hadi Poernomo sangat besar. Meski kasusnya terjadi pada masa lalu. Kasus Hadi Poernomi ini sudah berlalu sepuluh tahun. Ini semacam tabungan kejahatan yang akan dibuka pada waktunya.

Apa yang difirmankan Allah dalam Al Quran menjadi tak terbantahkan. Allah katakan bahwa kekuasaan memang bisa membuat si penguasa mulia atau terhina. Bila terjerat kasus korupsi seperti ini, terhinalah jadinya.

Hakikinya siapa pun bisa mengalami nasib seperti ini. Tidak mesti pejabat. Artinya setiap perbuatan jahat yang dilakukan pada masa lalu atau masa kini,  bisa menjadi masalah dan hukuman yang mengerikan pada masa depan.

Orang tua bijak pada masa lalu menegaskan tak ada orang yang bisa menyimpan bangkai. Cepat atau lambat bau busuknya akan menyebar. Ini hanya soal waktu. Ungkapan lain yang juga benar adanya adalah, sepandai-pandai tupai melompat, suatu kali akan terjatuh juga. Bila seorang memiliki mental dan perilaku jahat, bisa saja dengan beragam strategi ia mencapai apa yang merupakan ambisinya menjadi penguasa atau pejabat pada tingkat tertentu, kemudian merampok apa saja saat menjadi pejabat. Sebenarnya orang seperti ini sedang menggali kubur bagi dirinya sendiri.

Secara manusiawi bisa ditegaskan bahwa sebenarnya apa yang akan  dialami pada keakanan atau masa depan ternyata kita bisa ikut menentukannya. Bila kita selalu berbuat baik dan hati-hati, kebaikanlah yang didapatkan. Namun, jika kita berbuat jahat maka kejahatan itulah yang akan menghancurkan kita pada masa depan di dunia dan juga pada kehidupan di seberang kematian. Secara hipotetis bisa dikatakan, kita bisa berperan menentukan taqdir diri sendiri. Meskipun seberapa besar derajat penentuan itu tak pernah kita ketahui.

Barangkali di sinilah pentingnya saling mengingatkan, kritik dan masukan dari orang lain. Suatu upaya untuk saling mejaga agar jangan sampai terjerumus dalam perbuatan dan perilaku jahat. Namun celakanya, banyak orang yang sedang dalam kekuasaan atau jabatan, sekecil apapun jabatan dan kekuasaan itu, seringkali menganggap masukan, peringatan, dan kritik itu menghina dan hendak hancurkan mereka. Seringkali mereka dibutakan dan tak mampu melihat substansi masukan, peringatan dan kritik itu. Mereka malah meributkan cara atau ungkapannya. Nanti, saat merasakan akibat perbuatan jahat, baru mereka sadari makna terdalam kritik itu. Sayangnya sudah terlambat.

Namun, memang demikianlah sifat kebanyakan manusia. Di dalam Al Quran banyak cerita tentang orang-orang jahat yang terlambat menyadari kejahatannya, padahal para Nabi dan Rasul sudah mengingatkan berkali-kali. Mereka menyesal pada waktu yang tidak teoat. Merekalah orang salah yang berada pada waktu dan tempat yang benar. Namun, yang paling parah adalah orang salah yang berada pada tempat dan waktu yang salah. Inilah orang-orang yang terus saja berbuat salah dalam keadaan apapun. Orang-orang yang telah majal hati dan otaknya.

MESKI TAK BISA DIPREDIKSI, KITA BISA IKUT MENENTUKAN TAQDIR DIRI SENDIRI.

1 komentar:

  1. Nama : Dwi Putri Yulianti
    Kelas : P.IPS 2014 (B)

    Niat seseorang sangat menentukan takdir kita sendiri. Kita bisa membuat dan mengandai-andaikan masa depan atau takdir kita. Tetapi apa yang kita buat tidak diikuti dengan niat yang baik hasilnya akan nihil. Kondisi lingkungan, sikap, teman sangat menentukan takdir kita. Siapa yang tahu nasib Hadi Poernomo sebelum ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK? Sebelumnya hidupnya sudah enak dan bisa memenuhi keinginannya, tetapi sekarang nasib berkata lain. Mungkin kondisi lingkungan telah membuatnya menjadi gelap mata dan melakukan korupsi dan setelah kejadian tersebut mungkin dia baru menyadari dan menyesal terhadap perbuatannya. Maka dari itu, tentukanlah apa yang akan kita raih dan kita akan menjadi apa di kehidupan yang akan datang. Usahakan kita melakukan dengan niat yang baik dan tidak membuat sesuatu yang kita lakukan berjalan dengan sia-sia.

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd