Rabu, 23 April 2014

SEKOLAH INTERNASIONAL



Kasus JIS membuka mata kita bahwa sekolah internasional pun memiliki masalah dan tak bisa menjamin kemanan bagi muridnya. Kasus ini harus menjadi titik anjak bagi pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan tentang sekolah internasional. Terutama yang menjadiakan warga negara kita sebagai murid-muridnya.

Pemerintah dan masyarakat juga harus banyak belajar dari negara-negara yang tergolong maju dengan sangat pesat seperti Jepang, Korea Selatan, Cina dan Taiwan terkait dengan keberadaan sekolah internasional. Apakah regulasi yang dibuat pemerintah sudah tepat atau saatnya direvisi. Masyarakat juga harus menyadari, sekolah internasional bukanlah jaminan satu-satunya bagi anak-anak mereka untuk dapat hidup sukses dalam globalisasi yang memunculkan persaingan ketat dan ketakpastian.

Kita sepenuhnya menyadari bahwa mutu pendidikan kita belum seperti yang diharapkan. Jauh tertinggal dari sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Oleh karena itu sangat wajar bila para orang tua yang mampu menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah internasional yang dirasa mutunya lebih baik.

Tetapi ada pertanyaan mendasar yang pantas direnungkan. Apakah para orang tua itu tidak mempertimbangkan faktor-faktor budaya dan religi saat anaknya dimasukkan ke sekolah internasional. Anak-anak sejak TK sampai dengan SMU berada dalam tahap pembentukan diri sebagai manusia. Siapa yang menjamin sekolah-sekolah internasional memperhatikan kedua aspek itu dalam praktik pembelajarannya. Atau para orang tua memang menginginkan anak-anaknya memasuki budaya internasional yang dianggap lebih baki dan kebih tinggi dari budaya nasional?

Mestinya para orang tua dan juga Pemerintah melakukan kajian mendalam terhadap anak-anak kita yang sejak kecik sudah belajar di sekolah internasional. Dalam kecerdasan dan keterampilan apa saja mereka unggul dan dalam kecerdasan dan keterampilan apa saja ia mandul?

Dalam kaitan inilah kita harus belajar dari Jepang, Korea Selatan, Cina dan Taiwan. Mereka menjadi negara yang tergolong maju, hebat dan disegani bahkan oleh negara-negara barat karena mampu berkembang dan maju dengan jati dirinya yang asli. Semua negara itu tidak jadi pengekor barat, bahkan menciptakan berbagai produk termasuk sistem manajemen, sistem peningkatan kualitas dalam segala bidang berakar dari budaya lokal atau budaya asli mereka. Kini malah barat yang belajar dan meniru mereka. Itulah sebabnya mereka tidak pernah diributkan soal sekolah internasional. Mereka berkeyakinan bahwa dengan kekuatan dan budaya sendiri mereka bisa menjadi yang terbaik.

Bukan berarti mereka tertutup terhadap budaya asing. Mereka mengembangkan strategi yang menjamin bahwa putra-putra terbaik mereka memiliki keterampilan yang setara bahkan melebihi orang asing terutama barat, tetapi tidak kehilangan jati diri dan budayanya. Caranya adalah mengirimkan putra-putra terbaik mereka setelah menjadi sarjana ke lembaga-lembaga pendidikan dengan kualitas dunia di negara-negara maju.

Bersamaan dengan itu mereka terus meningkatkan mutu pendidikan sampai mencapai tingkat dunia. Mereka menerjemahkan buku-buku terbaik dalam segala bidang ke dalam bahasa nasionalnya. Jangan heran banyak orang Jepang berhasil dalam dunia internasional termasuk memenangkan hadiah Nobel dengan bahasa Inggris yang di bawah rata-rata. Perguruan tinggi di Jepang sangat sedikit yang menggunakan bahasa Inggris, seoerti juga di Rusia. Tetapi mereka  bisa berkiprah dan berprestasi oada tingkat internasional.

Maknanya, kebudayaan dan kecerdasan, serta bagaimana keduanya ditumbuhkembangkan dalam pengasuhan dan pendidikan lebih penting daripada bersibuk diri dengan semua yang berbau internasional dan internasionalisasi. Dalam kaitan ini kita juga bisa belajar dari India.

Sebenarnya sistem pendidikan kita sudah memuat sejumlah konsep yang menuju ke sana. Dalam tautan itulah sekolah bertaraf internasional coba dipraktikkan. Namun, sangat disayangkan. Pelaksanaannya mengikuti nalar kuasa bukan nalar pendidikan. Paradigma rezim bukan paradigma bangsa.

Nalar kuasa dan paradigma rezim hanya mengejar tujuan-tujuan jangka pendek yang bersifat politis. Akibatnya tiba-tiba bagai pasir saat erupsi gunung berapi, RSBI atau rintisan sekolah bertaraf internasional bermunculan. Semua serba instan. Tanpa persiapan yang matang dan tanpa melewati proses yang normal sebagaimana layaknya proses pendidikan yang benar yaitu bertujuan, terencana, sistematis, bertahap, berkelanjutan, dan terukur.

Akhirnya RSBI diplesetkan menjadi rintisan sekolah bertarif internasional. Hanya tarifnya yang internasional yaitu mahal. Tetapi mutunya tak jelas. Akibatnya semua yang berbau internasional itu dibatalkan MK.

Pelajaran paling berharga dari tragedi JIS yang najis, memuakkan dan menjijikkan itu adalah, sudah saatnya Pemerintah lebih sungguh-sungguh meningkatkan mutu pendidikan menggunakan paradigma bangsa dan nalar pendidikan. Bukan dengan paradigma rezim dan nalar kuasa. Juga membuat regulasi baru tentang lembaga pendidikan internasional agar tidak merusak anak-anak bangsa ini.

MUTU PENDIDIKAN KITA HARUS TERUS DITINGKATKAN BERDASARKAN PARADIGMA BANGSA DAN NALAR PENDIDIKAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd