Kasus JIS membuka mata kita bahwa sekolah
internasional pun memiliki masalah dan tak bisa menjamin kemanan bagi muridnya. Kasus ini harus
menjadi titik anjak bagi pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan tentang
sekolah internasional. Terutama yang menjadiakan warga negara kita sebagai
murid-muridnya.
Pemerintah dan masyarakat juga harus banyak
belajar dari negara-negara
yang tergolong maju dengan sangat pesat seperti Jepang, Korea Selatan, Cina dan
Taiwan terkait dengan keberadaan sekolah internasional. Apakah regulasi yang dibuat
pemerintah sudah tepat atau saatnya direvisi. Masyarakat juga harus menyadari,
sekolah internasional bukanlah jaminan satu-satunya bagi anak-anak mereka untuk
dapat hidup sukses dalam globalisasi yang memunculkan persaingan ketat dan
ketakpastian.
Kita sepenuhnya
menyadari bahwa mutu pendidikan kita belum seperti yang diharapkan. Jauh
tertinggal dari sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Oleh
karena itu sangat wajar bila para orang tua yang mampu menyekolahkan anaknya di
sekolah-sekolah internasional yang dirasa mutunya lebih baik.
Tetapi ada
pertanyaan mendasar yang pantas direnungkan. Apakah para orang tua itu tidak
mempertimbangkan faktor-faktor budaya dan religi saat anaknya dimasukkan ke
sekolah internasional. Anak-anak sejak TK sampai dengan SMU berada dalam tahap
pembentukan diri sebagai manusia. Siapa yang menjamin sekolah-sekolah
internasional memperhatikan kedua aspek itu dalam praktik pembelajarannya. Atau
para orang tua memang menginginkan anak-anaknya memasuki budaya internasional
yang dianggap lebih baki dan kebih tinggi dari budaya nasional?
Mestinya para
orang tua dan juga Pemerintah melakukan kajian mendalam terhadap anak-anak kita
yang sejak kecik sudah belajar di sekolah internasional. Dalam kecerdasan dan
keterampilan apa saja mereka unggul dan dalam kecerdasan dan keterampilan apa
saja ia mandul?
Dalam kaitan
inilah kita harus belajar dari Jepang, Korea Selatan, Cina dan Taiwan. Mereka
menjadi negara yang tergolong maju, hebat dan disegani bahkan oleh
negara-negara barat karena mampu berkembang dan maju dengan jati dirinya yang
asli. Semua negara itu tidak jadi pengekor barat, bahkan menciptakan berbagai
produk termasuk sistem manajemen, sistem peningkatan kualitas dalam segala
bidang berakar dari budaya lokal atau budaya asli mereka. Kini malah barat yang
belajar dan meniru mereka. Itulah sebabnya mereka tidak pernah diributkan soal
sekolah internasional. Mereka berkeyakinan bahwa dengan kekuatan dan budaya
sendiri mereka bisa menjadi yang terbaik.
Bukan berarti
mereka tertutup terhadap budaya asing. Mereka mengembangkan strategi yang
menjamin bahwa putra-putra terbaik mereka memiliki keterampilan yang setara
bahkan melebihi orang asing terutama barat, tetapi tidak kehilangan jati diri
dan budayanya. Caranya adalah mengirimkan putra-putra terbaik mereka setelah
menjadi sarjana ke lembaga-lembaga pendidikan dengan kualitas dunia di
negara-negara maju.
Bersamaan dengan
itu mereka terus meningkatkan mutu pendidikan sampai mencapai tingkat dunia.
Mereka menerjemahkan buku-buku terbaik dalam segala bidang ke dalam bahasa
nasionalnya. Jangan heran banyak orang Jepang berhasil dalam dunia
internasional termasuk memenangkan hadiah Nobel dengan bahasa Inggris yang di
bawah rata-rata. Perguruan tinggi di Jepang sangat sedikit yang menggunakan
bahasa Inggris, seoerti juga di Rusia. Tetapi mereka bisa berkiprah dan berprestasi oada tingkat
internasional.
Maknanya,
kebudayaan dan kecerdasan, serta bagaimana keduanya ditumbuhkembangkan dalam pengasuhan
dan pendidikan lebih penting daripada bersibuk diri dengan semua yang berbau
internasional dan internasionalisasi. Dalam kaitan ini kita juga bisa belajar
dari India.
Sebenarnya sistem
pendidikan kita sudah memuat sejumlah konsep yang menuju ke sana. Dalam tautan
itulah sekolah bertaraf internasional coba dipraktikkan. Namun, sangat
disayangkan. Pelaksanaannya mengikuti nalar kuasa bukan nalar pendidikan.
Paradigma rezim bukan paradigma bangsa.
Nalar kuasa dan
paradigma rezim hanya mengejar tujuan-tujuan jangka pendek yang bersifat
politis. Akibatnya tiba-tiba bagai pasir saat erupsi gunung berapi, RSBI atau
rintisan sekolah bertaraf internasional bermunculan. Semua serba instan. Tanpa
persiapan yang matang dan tanpa melewati proses yang normal sebagaimana
layaknya proses pendidikan yang benar yaitu bertujuan, terencana, sistematis,
bertahap, berkelanjutan, dan terukur.
Akhirnya RSBI
diplesetkan menjadi rintisan sekolah bertarif internasional. Hanya tarifnya
yang internasional yaitu mahal. Tetapi mutunya tak jelas. Akibatnya semua yang
berbau internasional itu dibatalkan MK.
Pelajaran paling
berharga dari tragedi JIS yang najis, memuakkan dan menjijikkan itu adalah,
sudah saatnya Pemerintah lebih sungguh-sungguh meningkatkan mutu pendidikan menggunakan
paradigma bangsa dan nalar pendidikan. Bukan dengan paradigma rezim dan nalar
kuasa. Juga membuat regulasi baru tentang lembaga pendidikan internasional agar
tidak merusak anak-anak bangsa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd