Sabtu, 03 Mei 2014

FITNES DAN FITNAH

Pagi indah. Suasana di hotel ini terasa nyaman. Udara cerah. Di kolam renang banyak orang berenang, kebanyakan perempuan. Ada sejumlah anak-anak. Di samping kolam renang ada tempat fitnes. Tidak terlalu luas, peralatannya juga terbatas.  lagu-lagu gembira dari tempat fitnes itu.

Hanya ada tiga orang di dalam tempat fitnes, seorang lelaki paruh baya dan dua wanita tiga puluh tahunan menggunakan pakaian yang tergolong sangat seksi. Rasanya di tempat fitnes ya memang begitu. Mosok di tempat fitnes orang menggunakan mukena atau baju tidur.

Tidak sampai setengah jam, perempuan berpakaian yang siap aerobic terus bertambah. Pakaian mereka sangat penuh warna, dan semuanya kelihatan seksi dan sangat seksi. Bahkan yang mengenakan kerudung, menggunakan pakaian senam yang sangat ketat. Kesannya membungkus tubuh.

Di tempat sesempit ini ada banyak wanita berpakaian seksi, tentulah tidak nyaman. Inilah resiko berada di ruang publik. Meski baru berolah raga sekitar tiga puluh menit aku putuskan menyudahi saja berolah raga. Setiap kali bergerak dari satu titik ke titik lain untuk berganti alat, susah menghindari terjadinya senggolan. Bisa-bisa bukan otot tangan yang akan menguat, tetapi otot lain yang cepat menegang.

Tempat fitnes telah menjadi pusat baru bagi interaksi antarmanusia di perkotaan. Banyak orang makin sadar akan kesehatan dan kebugaran tubuh. Menjadi anggota tetap pada sebuah tempat fitnes sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kota, terutama mereka yang menyebut diri eksekutif muda.

Agaknya para pengelola pusat kebugaran atau fitnes dengan responsif mengelola dan memanfaatkan gaya hidup baru ini. Mereka berlomba-lomba menyediakan fasilitas, program, dan layanan prima. Para pengelola  sengaja mendesain tempat fitnes dengan gaya mewah sangat berkelas yang bukan saja memberi kenyamanan, juga dapat dijadikan simbol gengsi.

Akibatnya, tempat fitnes tidak hanya menjadi pusat kebugaran. Sejumlah tempat fitnes telah meningkat fungsinya menjadi tempat janjian, pertemuan, dan juga transaksi bisnis. Bisnis apa saja.

Di tempat fitnes para perempuan menggunakan pakaian fitnes atau senam yang biasanya memang seksi. Melakukan gerakan-gerakan yang acap kali menampakkan lekuk liku tubuh. Gerakan yang memang semestinya dilakukan di tempat fitnes. Ruang fitnes yang kadang tidak terlalu luas memungkinkan terjadinya interaksi, bahkan senggolan. Sangat terbuka kemungkinan untuk melanjutkan interaksi ke tingkat yang lebih akrab.

Tempat fitnes, seperti juga diskotik, klub malam, dan tempat karaoke adalah bagian dari modernitas, bisa jadi merupakan simbol penting modernitas. Ciri utamanya sungguh menunjukkan ciri terpenting modernitas yaitu kebebasan, keterbukaan, ekspresi individual, dan transaksi bebas berdasarkan ekonomi pasar dengan prinsip mau sama mau, atau sama-sama untung.

Meski tidak semua orang yang datang ke fitnes melakukan transaksi bebas yang didasarkan sama-sama mau, dan tidak semua tempat fitnes digunakan untuk keperluan itu. Tetapi kita tidak dapat menutup mata bahwa praktik-praktik seperti itu memang ada. Bisa jadi tak ada transaksi yang mengharuskan terjadi 'jual beli'. Boleh jadi yang berkembang adalah kesepakatan mau sama mau.

Ini juga merupakan ciri modernitas, saat hubungan perempuan-laki menjadi lebih bebas atas dasar prinsip-prinsip, kebiasaan-kebiasaan, dan norma-norma yang sama sekali baru. Dalam konteks seperti inilah fitnes jadi sangat dekat dengan fitnah.

Fitnes memang melahirkan komunitas-komunitas baru, model perkawanan yang juga baru. Orang-orang menjadi sangat dekat karena sama-sama menyukai yoga atau sama-sama menyenangi aerobic yang menjadi program di tempat fitnes. Komunitas dan perkawanan ini diikat   oleh kesamaan yang berbasis kesenangan, maka bisa berkembang beragam kesenangan lainnya.

Fitnes sungguh menempatkan orang yang datang pada tantangan khas modernitas.  Anda adalah makhluk individual yang memiliki kebebasan       untuk memilih. Silahkan memilih.  Anda adalah makhluk rasional, silahkan menggunakannya untuk berbagai kepentingan dan tujuan. Fitnes adalah ruang publik, tempat terbuka yang memberi banyak sekali kemungkinan. Kita bebas memilih.

Dengan demikian tempat fitnes bukan sekedar ruang, bukan hanya sebuah tempat, tetapi ruang sosial yang memiliki banyak konteks. Setiap orang yang datang bisa menentukan secara bebas konteks apa yang hendak ia ciptakan di situ, makna apa yang mau ia bangun.
Karena itu tempat fitnes tak pernah hanya menjadi tempat berfitnes. Ia selalu lebih dari itu. Melampaui tanda keberdaannya  sebagai sekadar sebuah pusat kebugaran. Tempat fitnes bisa jadi tempat untuk menentramkan kegusaran, ruang yang cocok membuang kerunyaman, lokasi yang bagus bagi ekspresi kenikmatan, dan menyalurkan banyak kesenangan.

FITNES MENYENANGKAN, TETAPI BISA JADI PROBLEMATIS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd