Marah bisa mengerikan dan fatal. Satu keluarga dibunuh di Tangerang. Seorang bapak membunuh putrinya yang lumpuh dan bunuh diri. Seorang polisi menembak mati komandannya. Seorang anak membunuh orangtuanya setelah kalah berjudi dan tidak diberi ketika meminta uang. Semuanya terjadi karena kemarahan.
Kemarahan memiliki kekuatan luar biasa karena mampu menjerumuskan manusia yang katanya makhluk rasional ke dalam sumur gelap kerendahan perilaku. Kemarahan sering menghempaskan manusia ke jurang tak bertepi kesadisan.
Mengapa bisa? Marah itu persis arus pendek listrik yang menjadi pemicu kebakaran besar. Terjadi secepat kilat, bermula dari percikan api kecil. Bila ada benda mudah terbakar di sekirarnya, dengan cepat api menjalar ke mana saja. Pasar Senen kemarin terbakar habis karena arus pendek. Arus pendek kemarahan terjadi dalam otak manusia.
Tuhan memberi manusia sebuah otak yang memiliki multifungsi. Masing-masing fungsi memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Hakikinya otak manusia bekerja secara terpadu. Artinya masing-masing bagian yang memiliki fungsi-fungsi khusus memberikan kontribusi. Namun, setiap kegiatan biasanya membutuhkan adanya bagian yang memegang peranan yang lebih penting dibandingkan bagian lainnya.
Saat seorang manusia mengerjakan soal matematika yang sulit, bagian-bagian otak yang aktif berbeda dibandingkan ketika ia mengerjakan soal matematika yang mudah. Pastilah akan sangat berbeda dibandingkan jika ia sedang melukis. Juga berbeda lagi saat ia meluk dan kiss.
Ada bagian otak manusia yang disebut sebagai otak berfikir atau otak rasional dan otak merasa atau otak emosi. Dahulu kala otak emosi dianggap terpisah dari otak berfikir dan dinyatakan sebagai bagian negatif dari manusia. Penelitian-penelitian otak yang mutakhir menunjukkan bahwa otak berfikir dan otak emosi itu memang berbeda. Posisinya juga berbeda. Otak emosi yang biasa disebut sistem limbik ada pada bagian dalam otak, sedangkan otak berfikir yang biasa disebut dengan banyak istilah yaitu neokorteks, dan fungsi mulia, terletak di bagian depan atas (frontal lobes). Meski berbeda, ternyata keduanya tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling pengaruh memengaruhi dan berinteraksi. Bisa dalam bentuk kerjasama, kadang seperti berseteru.
Otak emosi tumbuh dan berkembang lebih dulu, baru kemudian diikuti otak berfikir. Karena itu salah satu nama otak berfikir adalah neokorteks. Artinya korteks yang baru, maksudnya baru tumbuh setelah bagian yang lain lebih dulu tumbuh dan optimal. Kondisi ini rupanya membawa akibat yang tidak sederhana. Karena lebih senior, otak emosi bisa membajak otak berfikir.
Arus normalnya adalah setiap kali ada rangsang atau informasi yang masuk, seluruh bagian otak akan bekerja sesuai fungsinya. Inilah saat otak mempertimbangkan segala sesuatunya sebelum kita mengambil keputusan. Kecuali jika keadaan mendesak menyangkut keselamatan. Biasanya ada gerak refleks.
Arus pendek terjadi bila ada rangsang atau informasi yang sangat emosional, masuk ke otak emosi, otak emosi kemudian menahannya, tidak mengalirkannya ke otak berfikir. Arus terganggu. Saat inilah kemarahan meledak, bahkan tindakan pembunuhan bisa terjadi. Otak emosi membajak info atau rangsang itu, tidak mengirimkannya ke otak berfikir. Arus pendek inilah yang membakar amarah. Itulah sebabnya bila emosi diperturutkan api kemarahan makin membakar, tak menyisakan apapun.
Bila orang marah, tetapi dia masih bisa menahan diri, mengelola marahnya, itu bermakna tidak terjadi peristiwa pembajakan. Inilah marah yang relatif terkendali. Pemicu marah bisa ikut menentukan pengendalian.
Lantas bagaimanakah mengembalikan agar arusnya menjadi normal?Harus ada saat jeda. Jangan mengucapkan apapun, jauhi orang dan tempat kemarahan itu terjadi. Agar arus informasi itu dapat dikirimkan ke otak berfikir. Dalam saat jeda inilah arus dibuat menjadi normal.
Dalam Islam cara yang disarankan untuk memadamkan marah adalah segerakan ingat Allah dengan mengucapkan kata-kata yang mengingatkan kita pada Allah (istighfar). Bila kemarahan masih menyala, lanjutkan dengan mengambil air wudhu. Mengambil air wudhu membuat kita terjarak dengan orang dan tempat terjadinya kemarahan, plus kesejukan air. Jika kemarahan terus saja membakar shalatlah dua rakaat. Shalat bisa diteruskan sampai kemarahan benar-benar padam.
Proses berkelanjutan dari istighfar, berwudhu, sampai shalat memberi kesempatan agar otak saat jeda dan kembali ke arus normal. Semua bagian, terutama otak emosi dan otak berfikir kembali dalam keselarasan. Tak ada lagi percik api kemarahan.
Namun, tentu saja saat kemarahan sangat membakar, tidaklah mudah memadamkannya, pun dengan cara yang diurai di atas. Paling kurang, kita sekarang tahu mekanisme kemarahan itu dan upaya apa yang dapat dilakukan untuk memadamkannya.
KEMARAHAN ADALAH PERCIK API YANG BISA MEMBAKAR APA SAJA, TETAPI BUKAN TAK BISA DIPADAMKAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd