Selasa, 27 Mei 2014

FLYING WITHOUT WINGS

Berbicara tanpa lidah. Berjalan tanpa kaki. Memegang tanpa tangan. Menggigit tanpa gigi. Melihat tanpa mata. Mendengar tanpa telinga. Menbaui tanpa hidung. Mengecap tanpa lidah. Berdiri tegak tanpa tulang. Berfikir tanpa otak.

Rasanya ungkapan-ungkapan  di atas sekadar permainan kata, mungkin tak bermakna apa-apa. Bila ada yang berfikir bahwa ungkapan itu merupakan kemustahilan, bisa jadi ada benarnya.

Lazimnya ungkapan-ungkapan ini muncul dalam syair atau lirik lagu. Tentu sebagai ungkapan simbolik yang biasanya mengungkapkan optimisme, kemampuan manusia melampaui beragam keterbatasan.

Memang, kreativitas manusia selalu relatif tak terbatas. Manusia kerap kali mampu melampaui beragam keterbatasannya dengan menciptakan beragam alternan, termasuk yang tak pernah difikirkan oleh kebanyakan orang dan orang kebanyakan.

Berbicara tanpa lidah bisa dilakukan manusia. Bukankah ada ungkapan, katakanlah dengan bunga. Bisa bunga melati, mawar, anggrek dan dahlia. Tetapi rasanya banyak yang mengharapkan bungan bank.

Dulu telepati dianggap merupakan kemampuan yang hanya bisa dimiliki orang-orang khusus yang berjumlah terbatas.  Kini penelitian mendalam tentang cara kerja otak menunjukkan bahwa otak bisa dilatih untuk memiliki sejumlah kemampuan khusus. Atas dasar temuan ini para ahli mencoba mengembangkan komunikasi telepatis menggunakan piranti micro komputer yang memungkinkan komunikasi langsung antar otak yang tidak menggunakan peralatan komunikasi yang lazim yaitu lidah, mulut dan kuping. Temuan ini merupakan bentuk nyata dari berbicara tanpa lidah. Pada masa lalu, berbicara tanpa lidah bisa menggunakan simbol memanfaatkan anggota badan sebagaimana biasa dilakukan orang tunarungu.

Penelitian-penelitian tentang otak yang semakin canggih dan rinci memungkinkan dikembangkannya sejumlah proses dan piranti yang dapat menghasilkan beragam temuan yang luar biasa. Satu di antaranya adalah kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan merupakan upaya untuk meniru otak manusia yang dipindahkan ke dalam bentuk mesin berupa komputer canggih.

Meskipun kecerdasan buatan itu masih jauh dari kecanggihan berfikir manusia yang memiliki kemampuan untuk bekerja secara holistik integratif dan mampu melakukan refleksi mendalam, namun perkembangan terbarunya menunjukkan kecanggihan yang makin meningkat. Artinya berfikir sekarang tidak lagi harus tergantung pada otak.

Penjelasan di atas mau tunjukkan bahwa ungkapan-ungkapan yang ditulis pada awal tulisan ini memang bisa ditanggapi dengan banyak cara. Ungkapan itu bisa dilihat sebagai ungkapan metaforis dan puitis dengan makna yang konotatif. Karena itu ungkapan itu memang tidak memiliki makna yang pasti. Sangat tergantung dari tangkapan setiap orang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya.

Bersebalikan dengan itu, ungkapan-ungkapan tersebut juga bisa memiliki makna yang sebenarnya atau denotatif. Makna sebenarnya inilah yang melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi baru yang pada mulanya memang berasal dari imaji yang bersifat metaforis.

Meskipun pada tataran teknis kedua ungkapan itu sangat berbeda, bahkan bertentangan. Karena yang satu bersifat metaforis, puitis, konotatif dan cenderung bebas serta liar, sedangkan yang lain bersifat denotatif, ketat dan akurat. Namun, ternyata ada titik di mana keduanya bukan saja bersua, bahkan saling terkait dan memengaruhi.

Pada titik inilah Einstein benar, saat mengatakan bahwa imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan. Karena sudah seringkali terbukti, ilmu pengetahuan lahir dari imajinasi yang liar. Sebelum orang pergi ke bulan, para seniman telah membuat cerita perjalanan ke bulan. Begitu juga perjalanan di kedalaman laut. Leonardo da Vinci sebagai seniman mengembangkan berbagai imajinasinya dalam beragam gambar yang ternyata menjadi inspirasi bagi banyak peralatan moderen seperti helikopter, kapal selam, dan peralatan sejata moderen. Bisa jadi kloning mendapat percik inspirasi dari frankenstein.

Keseluruhannya bermakna bahwa hakikinya manusia adalah makhluk multidimensi. Ia bisa mengungkapkan rasa hatinya dalam syair puisi yang metaforis dan misterius. Ia pun bisa merumuskan pemikiran mendalamnya, hasil refleksi atas diri sendiri dan alam semesta dalam ungkapan yang akurat sampai mampu merumuskan teori yang sistematis sebagai temuan keilmuan. Pemilahan ketat yang selama ini dilakukan oleh banyak pihak, terutama dalam praktik pendidikan merupakan upaya penyederhanaan manusia yang sangat keterlaluan. Mereduksi manusia sebagai orang ipa, ips dan bahasa adalah cara pengkategorian yang sungguh menghina manusia.

Manusia memang bisa memilih keterampilan teknis atau profesi tertentu. Ini tak terelakkan karena tuntutan kehidupan yang mendorong manusia harus memilih. Namun, pilihan itu tak pernah membuat manusia kehilangan fakta hakikinya sebagai makhluk multidimensi.

Pendidikan pada semua jenjang, terutama pendidikan usia dini, dasar dan menengah harus memberi kesemoatan pada anak didik keindahan puisi yang penuh imaji, metafora, dan simbol yang misterius menantang. Juga keindahan matematika yang teratur, terstruktur, harmonis, logis, akurat, tertata dan pasti. Keluasan ips yang mampu memicu keceradasan sosial, dan kedalaman ipa yang memicu kecerdasan alami dan refleksi mendalam. Merupakan suatu kesalahan besar saat kita meremehkan yang satu dan meninggikan yang lain. Seni dan ilmu, puisi dan matematika adalah ungkapan yang secara hakiki memuaskan dahaga kita pada keingintahuan yang sangat manusiawi.Oleh karena itu

PENDIDIKAN HARUS MENGASAHTAJAMKAN DAN MEMBINA MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK MULTIDIMENSI.

1 komentar:

  1. Sejak di ciptakannya, manusia di bekali anugerah untuk bisa berfikir lebih bahkan bisa mewujudkannya sekaligus. manusia memang merupakan mahluk multidimensi yang mampu menciptakan suatu hal yang mustahil menjadi nyata. manusia dengan segala kecerdasannya mampu menembus ruang dan waktu.
    setiap manusia memiliki jalan sendiri untuk membuka wawasan dan melakukan perubahan. walaupun serimh kita temukan adanya ungkapan-ungkapan yang membuat tingkatan pada pendidikan manusia itu sendiri , seperti yang di sebutka pak nusa di atas seperti adanya sebutan untuk orang ipa, ips dan bahasa. namun sebagai mahluk hidup tentu kita memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
    pendidikan sudah selayaknya memciptakan manusia yang nyata. dengan kecanggihan pikiran dan kemoderenan yang semakin akurat.

    1. adakah faktor yang memicu otak agar terus berkembang

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd