Keajaiban.
Peristiwa Isra' Mi'raj memang merupakan ujian
berat bagi manusia beriman. Manusia diyakini sebagai makhluk rasional.
Makhluk yang menggunakan rasionya untuk banyak keperluan. Mulai dari pemahaman
sederhana, memecahkan masalah, sampai melakukan refleksi mendalam. Rasio yang
merupakan anugerah Illahi memang harus digunakan manusia untuk mempertahankan
dan memaknai hidup.
Saat mendengar
khabar tentang Isra' Mi'raj, perjalanan malam Nabi Muhammad SAW melintasi waktu
yang teramat sangat jauh dalam waktu amat singkat, bukan hal yang mengherankan
bila ada yang bertanya, apa mungkin? Rasio atau akal pasti tergoda untuk
mempertanyakan. Karena memang begitulah sifat alamiah atau kodrat akal.
Akal bekerja dalam
kategori, klasifikasi, kelogisan, kaitan sebab akibat, dan cenderung
menghubung-hubungkan, serta asyik dengan pengukuran dan akurasi. Perjalanan
malam sangat cepat itu pastilah menimbulkan pertanyaan: mengendarai apa? Dalam
kecepatan yang sangat tinggi apa Nabi tidak terganggu secara fisik dan psikis,
apa perjalanan sangat cepat itu tidak menimbulkan pengaruh buruk pada Nabi, koq
rasanya perjalanan itu tidak masuk akal?
Tidak mengherankan
bila sejumlah filsuf Islam berkesimpulan bahwa Isra' Mi'raj itu adalah
perjalanan yang sepenuhnya spiritual, sama sekali tidak melibatkan fisik.
Simpulan ini dibuat karena sulit bagi mereka menerima dengan logika manusia
bisa lakukan itu. Al Ghazali sangat keras membantah mereka.
Pada zaman moderen
ini, sejumlah orang mencoba memanfaatkan teori relativitas Einstein untuk
menjelaskan Isra' Mi'raj agar terlihat logis atau masuk akal. Tentulah semua upaya
untuk membuat peristiwa ini masuk akal mesti dihargai. Namun, mungkin keasyikan
untuk melakukan pembuktian itu melupakan satu hal yang sangat penting.
Agama boleh dan bisa, juga selalu dipahami
menggunakan akal. Tetapi hakikinya agama itu soal iman. Agaknya iman tidak
selalu harus dikaitkan apalagi didasarkan pada akal. Meski penting, akal amat
sangat terbatas. Karena itu, peristiwa Isra' Mi'raj sungguh merupakan ujian
berat bagi iman.
Hanya iman yang
bisa membenarkan peristiwa ini. Iman yang didasarkan pada rasa percaya total
bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dalam semua agama pasti banyak
peristiwa yang bukan saja tidak masuk akal, tetapi bertentangan dengan akal.
Inilah mu'jizat atau keajaiban.
Di dalam Al Quran
ada cerita tentang sejumlah anak muda yang tidur 300 dan 9 tahun. Jika kita
tidak menerima cerita ini dengan keimanan, pastilah penjelasan apapun yang
bersifat rasional dan keilmuan tidak bisa diterima. Karena peristiwa itu memang
melanggar semua ketentuan dan hukum-hukum yang mengatur manusia dan
kehidupannya.
Iman memang
melampaui akal. Manusia beriman harus tahu bagaimana menempatkan dan memfungsikan akalnya dengan
tepat dan benar. Meski akal sangat membantu manusia memahami banyak hal, dan
menjadi alat utama untuk membongkar misteri alam dan dirinya sendiri, akal
memiliki sejumlah keterbatasan yang merupakan keniscayaan akibat keterbatasan
manusia.
Modernitas memang
telah memerangkap banyak manusia dalam penjara akal dan ilmu pengetahuan. Tidak
sedikit manusia yang percaya bahwa akal dan ilmu adalah sumber kebenaran dan
kepastian. Padahal hidup manusia yang panjang, sejak zaman dahulu sampai
sekarang memberikan bukti tak terbantahkan tentang keterbatasan akal dan ilmu.
Meski ilmu terus berkembang dengan percepatan yang sangat luar biasa.
Contoh yang paling
dekat dengan kita sekarang adalah hilangnya pesawat Malaysia. Sejauh ini tak
ada secuil pun penjelasan yang bisa diberikan. Semua info tentang pesawat itu
lebih merupakan kira-kira dan spekulasi. Banyak fenomena alam, seperti bencana
alam, berbagai kejadian misterius di Segitiga Bermuda, belum dapat dijelaskan
dengan benar dan tepat. Sejumlah teori yang pernah dikemukakan hanya dapat
menjelaskan secuil saja berbagai kejadian di tempat itu. Dan akhirnya
teori-teori itu rontok berguguran.
Tak usah jauh,
lihatlah diri kita sendiri. Apakah semua hal tentang manusia sudah dapat dijelaskan?
Banyak penyakit yang menyerang manusia, bukan saja belum bisa diobati,
penyebabnya pun belum bisa diidentifikasi. Apakah para ilmuwan sudah bisa
menjelaskan fenomena kesadaran dan kematian dengan lengkap dan memuaskan?
Cermati di sekitar
kita atau bayangkan bila orang yang sangat kita cintai direnggut maut. Apakah
akal dan ilmu bisa menolong kita? Bahkan untuk menjelaskan mengapa dia yang
dijemput maut. Apalagi jika ia sehat-sehat saja. Bila kita menghadapi kematian
menggunakan akal, apa yang akan terjadi? Kita akan mencoba bertanya dan
mempertanyakan. Mengapa dia? Mengapa sekarang? Mengapa dengan cara seperti ini?
Mengapa bukan orang jahat yang ada di luar sana? Inilah sifat hakiki akal,
merajangcincang, mengiris habis dengan kekuatan analisis yang tak mengenal
tepi. Semakin dipertanyakan , semakin
tak mengerti kita. Akhirnya kita terperosok dalam gulita absurditas,
ketakmengertian yang kelam. Ujungnya adalah frustrasi.
Menghadapi misteri
kematian, apalagi bila yang mati adalah orang yang dicintai, kita mengabaikan
pemahaman akal. Bermain dengan hati. Bukan memahami dengan gaya analitis bagai
seorang ahli yang menghadapi bangkai monyet di laboratorium untuk diurai dalam
potongan-potongan tubuh sebagai uapaya mencari tahu. Tetapi berusaha untuk
menyadari secara mendalam makna kematian dalam perspektif yang lebih holistik,
yang melibatkan seluruh kemanusiaan kita. Akal
hanya menjadi bagian dari keholistikan kemanusiaan itu. Memang terasa
berat, namun harus kita hadapi.
Begitulah kita
menghadapi peristiwa Isra' Mi'raj. Kita harus mengabaikan pemahaman akal. Menggunakan kesadaran iman. Memang
terasa berat, sebab kita sudah terlalu terikat dan terlanjur sangat percaya
pada akal. Apakah ini bermakna bahwa kesadaran iman itu bertentangan dengan
pemahaman akal? Pastilah tidak.
Kesadaran iman itu
mengatasi atau melampaui pemahaman akal. Maknanya, kesadaran iman bisa
memanfaatkan akal, namun bukanlah merupakan suatu keharusan. Ada kalanya
pemahaman akal itu diperlukan. Tetapi ada saatnya pantas untuk diabaikan,
justru untuk memasuki kedalaman penghayatan kesadaran.
Sebenarnya dalam
praktik hidup sehari-hari, kita sering mengabaikan akal, justru dengan penuh
kesadaran. Ingat kembali saat terayun tenggelam dalam cinta. Apakah saat itu
kita lebih menikmati gejolak emosi atau melakukan telaah analitis kritis
mengapa kita jatuh cinta, pada dia dan bukan orang lain? Apakah orang yang kita
pilih memang merupakan orang terbaik menurut kriteria logis? Pun saat digerus
emosi kemarahan, kita juga mengabaikan akal. Hakikinya, ada saatnya akal memang
diabaikan. Dalam keindahan cinta, akal rasanya kurang bekerja.
Tanyakanlah pada
seniman dan ilmuwan yang sedang asyik masyuk dalam indahnya penciptaan,
nikmatnya pencarian dalam kreativitas yang mengalir deras. Apakah yang lebih
dominan bekerja akal atau intuisi? Mulanya memang akallah yang memicu dan
memacu, namun saat masuk dalam proses pencarian, penemuan, dan kreativitas
penciptaan, akal biasanya makin terabaikan. Intuisi dan emosilah yang lebih
dominan dan mengemuka.
Ini bermakna,
pengabaian akal bukanlah tindakan yang remeh dan rendah. Pengabaian akal
merupakan bagian dari cara berada yang spesifik, yang memungkinkan kita untuk
masuk lebih intens ke dalam hakikat segala sesuatu. Kita mengalir dan terhanyut
di dalamnya.
Artinya, bila manusia
lebih mendahulukan pentinngnya kesadaran iman tinimbang pemahaman akal,
tidaklah bermakna ia tidak mampu memanfaatkan akal secara maksimal. Tetapi
lebih pada pengakuan jujur bahwa akal memiliki sejumlah keterbatasan yang
melekat erat dalam keterbatasan manusia. Kesadaran iman dengan demikian memang
melampaui pemahaman akal.
Dalam semua agama,
akhirnya manusia lebih sering diuji kesadaran imannya. Pastilah ini ujian yang
berat. Dia harus memilih menerima dengan kesadaran iman yang tulus, atau berada
terus dalam keraguan karena akal meragukannya. Orang beriman memilih
menundukkan akalnya dan menegaktinggikan kesadaran iman.
Isra' Mi'raj
membawa pesan utama kewajiban shalat. Ternyata shalat juga merupakan cobaan
yang berat bagi kebanyakan manusia, sebagaimana peristiwa Isra' Mi' raj itu
sendiri. Karena itu di dalam Al Quran dikatakan bahwa shalat itu merupakan
kewajiban yang berat, kecuali bagi orang-orang yang ikhlas dan konsisten.
Mengapa?
Kewajiban shalat
yang tertata jelas aturan waktunya pastilah mengharuskan kita mengabaikan banyak hal. Saat terlelap tidur, kita harus segera bangun, mengabaikan rasa kantuk dan nikmatnya
kenyenyakan tidur. Saat asyik dalam pekerjaan atau aktivitas lain pada siang
dan sore hari, kita harus mengabaikan
semuanya untuk shalat zhuhur dan ashar. Pada kala masih fokus dengan sisa
pekerjaan atau bertemu orang atau sedang dalam perjalanan pulang kerja, apapun
keadaannya, kita harus mengabaikan segalanya
untuk shalat maghrib. Ketika asyik menonton televisi atau saat kantuk mulai
hadir, kita mesti mengabaikan
segalanya untuk laksanakan shalat isya. Shalat memang mengharuskan kita mengabaikan apapun bila waktunya telah
tiba. Ini sangat tidak mudah. Apalagi dalam hidup keseharian, kita sering
berada dalam situasi dilemmatis, mengerjakan sesuatu yang terbatas waktunya
atau segera lakukan shalat.
Selain
mengharuskan kita mengabaikan apapun
juga demi shalat, adalagi yang tak kalah penting. Yaitu gerakan simbolik
tentang penempatan kepala, tempat otak yaitu pusat kesadaran dan akal kita
berada.
Saat berdiri
kepala kita berada di atas. Saat tunduk yaitu rukuk, kepala kita berada sejajar
dengan hati dan pantat. Ketika menyembah yaitu sujud, kepala kita berada di
bawah hati dan pantat. Apakah gerakan ini tidak memiliki makna?
Gerakan shalat
menunjuktegaskan bagaimana kita seharusnya memberi tempat yang tepat bagi akal.
Ada kalanya akal kita dahulukan dan tinggikan. Ada saatnya pemahaman dan
pertimbangan akal juga mesti sangat memperhatikan sentuhan nurani. Dan ada
waktunya akal itu harus tunduk total. Yaitu saat kita tunduk patuh dalam posisi
sebagai makhluk yang sujud pada Allah. Ini bermakna pemahaman akal mesti tunduk
pada kesadaran iman. Perhatikan dengan seksama. Saat shalat
mana yang lebih
banyak jumlahnya, kepala di atas atau kepala di bawah pantat saat sujud? Jumlah
sujud pasti lebih banyak. Dalam tiap rakaat kita berdiri satu kali, rukuk satu
kali dan sujud dua kali. Jumlah sujud kita ternyata lebih banyak. Penjumlahan
berdiri tegak dan rukuk sama dengan jumlah sujud. Apa gerakan ini tidak bermakna
apa-apa?
KETUNDUKAN
PEMAHAMAN AKAL PADA KESADARAN IMAN, MERUPAKAN KENISCAYAAN.
Assalamualaikum, iya pak nusa saya sangat setuju dengan tulisan ini, yang pada intinya memberikan sebuah pertanyaan mendasar "apakah guna akal tanpa iman?"
BalasHapusmanusia sebagai makhluk yang wajar dengan segala ketidaksempurnaan, sudah seharusnya bersyukur kepada Sang Penciptanya karena telah diberikan dua hal tersebut "akal dan iman". dengan akal, manusia dapat menilai mana yang baik dan mana yang keliru. dengan iman, manusia dapat memaknai apakah yang ada dibalik nilai benar itu dan apakah yang ada dibalik nilai keliru itu. hanya tinggal bagaimana manusia itu sendiri mengelola akal dan imannya agar berjalan berimbang sesuai ajaran agamanya. jika akal mengalahkan iman, maka manusia akan berantakan. jika iman mengalahkan akal, maka manusia tidak akan berkembang. mungkin itu pak menurut saya hehe, makasih pak