Kamis, 15 Mei 2014

GANDUL

Gunung Slamet mulai mengancam keslametan penduduk di sekitarnya. Ia batuk-batuk. Dikhawatirkan akan segera muntah-muntah. Bila muntah, muntahannya bergerak sampai jauh, meluluhlantakkan apa saja, tanpa kecuali. Pastilah sangat mengerikan dampaknya. Orang-orang dipaksa bedol desa ke pengungsian, rumah, tanaman hancur dan ternak pada mati. Sungguh mengerikan.

Menghadapi kemungkinan buruk itu, penduduk di sejumlah tempat di sekitar gunung Slamet memiliki kebiasaan memasak gandul (pepaya muda) dijadikan sayur, dan telur dadar. Perbuatan ini tentulah bersifat sangat simbolik yang didasarkan pada sejumlah keyakinan.

Keyakinan itu berakar pada pandangan terdapat hubungan yang erat antara alam dan manusia. Hubungan itu harus terus dipelihara agar keduanya saling memberikan manfaat. Manusia menjaga alam. Alam akan memberikan apapun yang dapat dimanfaatkan manusia bagi hidupnya. Sangat disadari manusia dan alam bersaudara.

Bila Gunung Slamet batuk, itu adalah pertanda bahwa telah terjadi ketidakseimbangan. Manusia harus mengambil langkah-langkah yang secara nyata menunjukkan ia berkehendak untuk mengembalikan keseimbangan itu.

Atas dasar itulah gandul disayur agar mengganduli Gunung Slamet dan tidak jadi meledak atau erupsi. Semakin banyak yang menyayur gandul diyakini makin kuat Gunung Slamet diganduli dan mudah-mudahan tidak jadi meletus.

Adapun telur dadar merupakan upaya simbolis agar lahar yang keluar dari Gunung Slamet membeku bagai telur dadar di dalam atau di atas gunung sehingga tidak sampai merusak sawah, kebun dan pemukiman penduduk. Semua kegiatan ini tentulah merupakan sebentuk doa dan upaya yang sepenuhnya simbolik.

Bagi kebanyakan orang moderen yang rasional, semua upaya tersebut pastilah dianggap berlebihan dan tak ada guna sama sekali. Bagaimana mungkin memengaruhi gunung yang mau erupsi dengan masak sayur gandul dan dadar telur.

Sebenarnya apa yang terjadi di sekitar Gunung Slamet bukanlah satu-satunya upaya simbolik yang memang berkembang dalam masyrakat kita.  Di banyak tempat, kebiasaan seperti itu memang masih sangat sering terjadi. Sejumlah petani melakukan upacara dan memberi sesembahan sebelum menanam. Banyak nelayan melakukan upacara arung laut sebagai ungkapan rasa syukur. Di Merapi, Dieng, Bromo dilakukan upacara-upacara sejenis.

Beragam pendapat menyikapi fakta ini. Sejumlah orang atau kelompok dari agama tertentu secara tajam menyerang habis tradisi dan upaca ini dan menyebutnya sebagai perbuatan sesat menyesatkan yang harus diperangi habis. Sementara itu sejumlah pemerintah daerah malah membuat tradisi dan upacara seperti ini menjadi kalender tahunan sebagai pesta budaya dalam kerangka pariwisata untuk menarik para turis. Mereka berpendapat semua upacara dan tradisi ini sepenuhnya merupakan peristiwa budaya yang sama sekali tidak terkait dengan agama tertentu.

Sebenarnya semua tingkai pangkai dalam soal ini tidak perlu terjadi bila semua masalahnya ditempatkan dalam konteks dan kerangka fikir yang proporsional. Terutama terkait dengan hubungan agama dan kebudayaan. Akarnya adalah bagaimana seharusnya hubungan itu dimengerti.

Sejumlah penganut agama sepenuhnya percaya bahwa agama dan budaya itu harus tegas dipisahkan bukan sekadar dibedakan. Agama ya agama, budaya ya budaya. Keduanya bagai air dan minyak, agama tak boleh dicampuri oleh unsur budaya apapun. Ibarat jus buah, mereka ini adalah jus murni yang hanya berisi buah, tanpa gula. Orang dengan keyakinan ini bahkan berpakaian dan berpenampilan pun mengikuti model tertentu yang diyakini berasal dari agama tersebut. Mereka rupanya juga tidak 'ngeh' bahwa yang disebut berasal dari agama dimaksud sebenarnya berakar dari budaya tempat agama itu muncul pertama sekali.  Dalam konteks agama Islam, kadang ada orang yang susah membedakan mana Islam dan mana Arab. Yang Arab kan belum tentu Islam.

Di samping orang dan kelompok jus buah murni, ada pula orang dan kelompok jus buah campur sari. Semua buah, apa saja dicampur. Mereka berkeyakinan meskipun setiap agama memiliki ajaran pokok yang tertulis dalam kitab suci. Namun, dalam pengejawantahan ajaran itu selalu ada aroma budaya. Bahkan warna budaya di mana agama itu muncul tampak dengan sangat jelas dalam ajaran pokoknya. Ambil contoh gambaran syurga di Al Quran. Syurga  digambarkan dengan hutan yang hijau dan sungai mengalir. Suasana yang teduh, nyaman dan menyenangkan. Gambaran syurga seperti itu pastilah ada kaitannya dengan konteks tempat turunnya Al Quran yaitu suasana padang pasir yang gersang. Dalam kegersangan padang pasir yang panas itu, pastilah gambaran hutan hijau penuh air mengalir sangat menyenangkan. Apakah gambaran syurga akan tetap seperti itu bila Al Quran turun di pedalaman Kalimantan? Gambaran syurga ternyata terkait juga dengan konteks tempat turunnya Al Quran. Itulah cintoh aroma budaya.

Dengan demikian bukan hal yang mengherankan bila agama Hindu di India tidak sama persis dengan di Bali dan berbeda pula dengan di Bromo. Budha di China benyak berbeda dengan di Jepang. Tradisi dan perujudan Islam tidaklah sama antara Saudi, Mesir! indonesia dan sejumlah negara Eropa. Bahkan banyak perbedaan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah, NU dan Muhammadiyah pun berbeda. Itulah faktanya.

Para pendukung keyakinan campur sari ini selalu melihat hubungan agama dan budaya bersifat dialogis dan dialektis. Ajaran pokok agama biasanya memang sulit untuk dirasuki unsur budaya. Tetapi beragam praktik atau pengejawantahan ajaran tersebut banyak diwarnai unsur budaya.

Dalam kondisi seperti ini memang dibutuhkan kearifan untuk memaknai keberbedaan dan keberagaman dengan cara yang baik dan damai. Sikap reaktif menghadapi keberagaman apalagi sampai menghujat, menyerang, dan mencederai orang harus dihindari.

Kita hidup dalam keberbedaan dan keberagaman. Ini sebuah keniscayaan. Persoalannya adalah bagaimana mengembangkan kemampuan hidup secara damai dalam keberagaman dan keberagaman.

HIDUP DAMAI DALAM KEBERBEDAAN DAN KEBERAGAMAN ADALAH KENISCAYAAN.

1 komentar:

  1. NAMA : NATALIA
    NIM : 4915122536
    JURUSAN : PENDIDIKAN IPS

    Indonesia ini adalah negara yang majemuk, Terdapat berbagai ras, agama, budaya, serta suku. Hal inilah yang membuat hidup menjadi berwarna. Mengpa berwarna? Sebab, kita unik. Tidak ada orang yang sepenuhnya seperti diri kita.
    Ketika terjadi sesuatu di tempat tinggal atau lingkungan, pasti yang dilakukan yautu sesuai dengan budaya di lingkungan itu sendiri.

    Terima Kasih

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd