Terkesima? Memang
banyak orang terkesima tatkala KPK menyita baju batik milik mantan ketua umum
Partai Demokrat, Anas. Bahkan ada yang dengan sinis bilang, baju batik aja koq
disita. Mereka tentu membandingkannya dengan penyitaan terhadap harta benda
Djoko Susilo, Wawan adiknya Atut dan Akil Mochtar. Memang, baju batik itu
tampak sangat kurang berharga dibandingkan mobil mewah Wawan, rumah mewah dan
tanah luas Djoko Susilo, dan milyaran aset Akil.
Namun, jangan
salah. Ada yang menarik dari penyitaan baju batik mantan ketua umum Partai
Demokrat ini. Baju batik itu bukan sembarang batik, harganya tak terfikirkan
oleh rakyat kecil yang sangat sulit mengais sejumput rezeki. Tentulah bukan
hanya Anas yang mengenakan baju batik dengan harga mahal itu. Paling tidak
melalui penyitaan ini, rakyat jadi tahu betapa mahal biaya hidup para pejabat.
Tak kalah menarik
adalah, bahwa jadi pejabat itu enak bener. Bajunya aja dibeliin orang lain. Pastilah yang
membelikan baju ada maunya. Ada udang di balik udang tu. Kita boleh
mengira-ngira, sebenarnya apa saja yang biasa diterima oleh para pejabat dari
para rekanan. Jangan-jangan ada pejabat yang kolor atau celana dalamnya juga
dibeliin rekanan. Pastilah bukan yang murahan.
Penyitaan KPK
terhadap baju batik mantan ketua umum Partai Demokrat dan mantan ketua umum HMI
itu menegaskan adanya sebuah pola korupsi yang telah berkembang di negeri ini.
Pola itu dengan jelas menunjukkan bahwa memang ada pejabat yang memanfaatkan
kekuasaannya untuk memperoleh apa saja yang diinginkannya. Jadi, jangan hanya
dilihat bahwa baju batik Anas itu tidak semewah dan semahal mobil Wawan dan
rumah Djoko Susilo. Yang harus menjadi perhatian adalah betapa rakus dan tak
tahu malunya para pejabat yang diduga menerima suap itu. Apapun mereka lahap,
tak peduli besar atau kecil.
Dalam konteks itu
kita jadi paham, mengapa berkembang politik uang setiap kali ada pemilu. Tidak
sedikit orang yang menjadikan jabatan layaknya sebagai komoditi yang
dipejualbelikan. Mereka mengeluarkan
uang seberapa pun untuk mendapatkan jabatan apa saja, karena sepenuhnya tahu
dan sadar bahwa jabatan dan
kekuasaan itu bisa dimanfaatkan untuk
menghasilkan apa saja.
Dari kasus Djoko
Susilo, Wawan, Atut, dan Akil, kita mengetahui jabatan dan kuasa bisa hasilkan
duit dan harta benda yang sangat fantastis. Melampaui kemampuan kita
menghitungnya secara manual. Dari penyitaan baju batik Anas kita makin paham,
bahkan baju pun diterima sebagai suap.
Maknanya tradisi
menjadikan jabatan dan kuasa sebagai komoditi transaksi semakin terbukti.
Selama ini sebenarnya kita rasakan itu. Tetapi sangat sulit membuktikannya.
Kita suka terperangah saat seseorang baru saja memegang jabatan, tiba-tiba ia
memiliki segalanya. Kita tahu ada yang tidak masuk akal di situ, tetapi kita
tak dapat buktikan karena para pejabat itu biasanya memang lihay menyembunyikan
kejahatannya.
Tiba-tiba kita
dengar khabar pejabat itu dapat warisan atau hibah dari orang tuanya, meski
kita tahu orang tuanya tak punya apa-apa. Ada lagi yang bilang mereka punya
usaha. Tak pernah jelas usaha apa. Semuanya terjadi secara sangat mendadak
sontak. Bila KPK menangkap mereka, barulah terbuka semuanya. Bahwa mereka
adalah koruptor, perompak uang rakyat.
Kita berharap
berbagai temuan KPK ini membangun kesadaran masyarakat untuk mencermati dan
memelototi harta para pejabat. Bila memang terjadi sesuatu yang tidak masuk
akal atau mencurigakan, kumpulkan bukti dan laporkan. Masyarakat harus berpartisipasi secara aktif
memerangi korupsi. Jangan mengambil tindakan sendiri. Sebab negara ini negara
hukum.
Bila para pejabat
terus dibiarkan melakukan tindak pidana korupsi dalam segala bentuknya,
percayalah negara bangsa ini akan tenggelam dalam kesengsaraan akut dari rezim
ke rezim. Rakyat akan semakin menderita. Saatnya bangkit lawan korupsi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd