Kamis, 01 Mei 2014

MANUSIA PALING MULIA, YANG BERTAQWA, BUKAN YANG BERKUASA

Kemuliaan adalah cita-cita tertinggi. Semua kebudayaan sejak zaman kuno hingga kini mencita-citakan lahir dan tumbuh kembangnya manusia mulia. Manusia seperti apakah yang disebut manusia mulia? Setiap kebudayaan memiliki rumusan yang berbeda. Perbedaan itu disebabkan setiap kebudayaan mengembangkan keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, prinsip-prinsip dan tujuan atau pencapaian yang tidak sama.

Kemuliaan biasanya tidak dikaitkan dengan  aspek fisik seperti keperkasaan dan kecantikan. Namun, ditautkan dengan sejumlah nilai yang mengandung kebaikan. Sebagai contoh seorang raja disebut mulia bila ia tidak kejam dan zhalim, berlaku adil, mendahulukan kepentingan dan kesejahteraan rakyat banyak, hidup sederhana, tidak bermewah-mewahan.

Jadi kemuliaan seorang raja tidak dikaitkan dengan seberapa besar kekuasaannya, seberapa luas wilayah yang dikuasainya, seberapa banyak istri, selir, dan hartanya, seberapa banyak anaknya,  seberapa besar dan kuat pasukan tentaranya. Semua ini hanya menunjukkan kehebatan seorang raja, bukan kemuliaanya.

Kemuliaan kurang bertautan dengan kehebatan, juga dengan tingkat kecerdasan. Mengapa? Karena banyak orang yang memiliki kecerdasan sangat tinggi, malah sangat jahat. Dalam sejarah tercatat banyak raja zhalim ternyata sangat cerdas dan memiliki para pembantu yang juga sangat cerdas. Di dunia moderen juga begitu. Lenin, Hitler, Mao adalah beberapa contoh.

Banyak manusia dikategorikan sebagai manusia mulia justru karena mereka dihinakan, dihujat, diusir dan mau dibunuh. Para nabi dan rasul adalah teladan terbaik. Mereka adalah orang-orang yang tak punya kuasa dan seringkali justru dimusuhi oleh penguasa. Musa, Isa, dan Muhammad adalah nabi dan rasul yang dimusuhi penguasa dan terus menerus dimusuhi, difitnah dan diganggu sampai mau dibunuh oleh penguasa zhalim.

Apa yang membuat para nabi dan rasul itu mulia? Mereka membawa kebenaran, hidup selaras dengan kebenaran , konsisten dalam kebenaran meski dengan resiko mati. Konsistensi untuk tetap berada di jalan kebenaran pastilah sangat tidah mudah dan amat beresiko. Namun, mereka terus melakoninya, apapun tidak dapat menggoda dan membelokkannya.
Mereka tidak berorientasi keduniaan, dan tidak menjadikan kuasa sebagai kiblat dan tujuan. Mereka adalah raja tanpa mahkota, raja bagi hati manusia.

Kekuasaan tak pernah bisa memesona dan menggoda mereka. Menggemakan dan menegakkan kebenaranlah yang menjadi isi fikiran dan hidup mereka. Inilah jalan ketaqwaan yang membuat mereka mulia, di mata Tuhan, sesama, dan semesta.

Memang ada nabi yang jadi penguasa dan berada di lingkar dalam kekuasaan yaitu Daud dan Yusuf. Mereka sepenuhnya menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk berbuat kebaikan bagi sebanyak mungkin orang. Tak pernah mereka gunakan kuasa untuk kepentingan dan tujuan-tujuan pribadi, keluarga dan golongan. Kuasa digunakan dalam jalan taqwa. Inilah yang menyebabkan manusia mulia adalah yang bertaqwa bukan yang berkuasa.

Agar bisa bertaqwa, manusia harus konsisten dalam jalan kebenaran apapun resikonya. Pastilah ini bukan jalan yang mudah. Hanya sedikit manusia yang mau sungguh-sungguh menapakinya. Banyak yang tersungkur dan terlempar dari jalan kebenaran ini.

Bersebalikan dengan jalan ketaqwaan adalah jalan kekuasaan. Agar bisa berkuasa, manusia sering menghalalkan segala cara. Memfitnah, menyogok, memutarbalikkan fakta dan kebenaran, menipu dan berbohong, memanipulasi dan mengkhianati, mengancam bahkan membunuh. Mengapa bisa seperti itu? Karena mereka menjadikan kuasa sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi yang sangat duniawi. Orientasinya materi dan gengsi. Sangat mudah mengukurnya. Hidup mereka penuh kemewahan. Mendahulukan kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan. Hanya baik pada orang yang loyal pada mereka. Tidak bisa bersikap adil dan objektif. Rakus dan kemaruk. Sama sekali tak punya rasa malu, dan tak peduli.  Itulah sebabnya seringkali berakhir dengan tragis dan dihinakan.

Manusia bermental bebek yang cuma bisa jadi pengekor. Manusia tipe tikus comberan yang hanya bisa mencari keuntungan mesti dengan cara yang kotor dan penuh tipu-tipu. Para penjilat yang tak punya apapun kecuali loyalitas buta. Biasanya menjadi jemaah penguasa berorientasi duniawi ini. Mereka mau lakukan apapun agar mendapat remah remeh kekuasaan.

Itulah sebabnya mengapa manusia mulia hanya bisa dicapai oleh mereka yang bertaqwa. Karena ketaqwaan mengarahkan mereka untuk berbuat yang terbaik bagi sesama, dengan semangat empati dan kesediaan berbagi demi menegakkan keadilan. Mereka tidak pernah berkutat dengan kepentingan pribadi dan jangka pendek dengan nalar kuasa. Mereka selalu memperhitungkan akibat perbuatan dan perilakunya dalam jangka panjang  melampaui ukuran-ukuran duniawi. Semua yang bersifat materi dan duniawi tidak pernah bisa menghalangi mereka untuk terus berbuat baik bagi sesama. Kuasa dan jabatan bagi mereka bukanlah tujuan yang perlu dicari dan diusahakan. Apalagi dengan menghalalkan segala cara. Jika mereka akhirnya berkuasa dan berjabatan, sama sekali sebagai imbalan karena keamanahan dan prestasi yang mereka telah tunjukkan. Karena itu mereka tidak pernah berambisi dan mencari mengejar jabatan. Jabatan adalah kepercayaan yang diamanahkan bagi mereka. Sangat jelaskan beda jalan taqwa dan jalan kuasa.

TETAPLAH PADA JALAN TAQWA DAN JANGAN TAKUT PADA PENGUASA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd