Minggu, 18 Mei 2014

MARAH (4)

( Salut pada Roostien Ilyas)

Tak ada salahnya marah. Seorang ibu sangat marah saat sejumlah orang yang menyatakan diri penggiat HAM membela para pedofil yang disarankan untuk dikebiri. Mereka katakan hukuman kebiri itu melanggar HAM. Si ibu yang merupakan relawan khusus untuk anak-anak marginal dan sudah bekerja puluhan tahun sungguh sangat marah. Ia bilang, mengapa rasa kasihan hanya ditujukan pada si pelaku. Mengapa tidak memikirkan dan berempati pada korban yang pasti mengalami siksaan dan trauma sepanjang hidupnya?

Si ibu ini sudah lama menangani kasus kekerasan terhadap anak-anak. Ia penah dengan susah payah menyelamatkan seorang anak wanita yang dijual kakak kandungnya. Ia siang malam bekerja keras menolong dua anak wanita yang sungguh terpukul dan menderita karena dihamili ayah kandungnya.

Tidak sebentar ia berjuang di banyak tempat di sepanjang Pantura, menyelamatkan anak-anak wanita dari mafia perdagangan anak wanita. Mafia yang menghalalkan segala cara, bahkan sampai hati menculik anak-anak itu

Sejak tahun 90an ia mengurus dan mengusahakan bimbingan bagi banyak anak-anak jalanan yang disodomi atau dibo'olin preman dewasa. Ia sangat memahami luka jiwa anak-anak yang mengalami kekerasan seksual berupa sodomi itu. Sejumlah korban Pak De yang selamat atau tidak tewas ia yang ngurusi.

Ia adalah ibu bagi banyak anak marjinal yang menderita karena kejahatan seksual. Itulah sebabnya ia sangat marah saat orang-orang yang mengaku aktivis HAM, yang lebih memilih tampil di televisi daripada secara nyata mengurusi korban pelanggaran HAM, terutama anak-anak, membela pelaku kejahatan seksual atas nama HAM. Apa kejahatan seksual terhadap anak-anak itu bukan pelanggaran HAM berat?

Ia tidak hanya mengurusi anak marjinal di Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Ia juga berada di Ambon, Poso, Sampit, Aceh, Sampang, Merapi, Situ Gintung, dan banyak tempat lain yang mengalami konflik dan bencana. Ia bekerja keras untuk memulihkan luka jiwa anak-anak yang biasanya merupakan korban paling rentan pada saat terjadi konflik dan bencana. Ia tinggalkan keluarga dan hidup serba berlebihan di Jakarta untuk menolong anak-anak itu.

Ia sudah sangat terbiasa menghadapi berbagai kesedihan, penderitaan, dan luka jiwa anak-anak tersebut. Itu yang membuatnya sangat sensitif dan berempati pada anak-anak itu selaku korban. Ia selalu menatap wajah dan mata para korban. Bukankah kita harus memulai dari menatap wajah dan mata para korban? Karena merekalah yang terluka, merekalah yang merasa pedihnya derita.

Bertahun-tahun ia harus menenangkan anak-anak itu yang menjerit di tengah malam buta karena dihimpit mimpi yang teramat buruk dan mengerikan. Anak-anak itu merasakan hangat pelukannya, dan merasa tenang.

Ia mendengar apa yang diungkapkan anak-anak itu dalam igau malamnya. Igauan yang menyembulkan keperihan hati. Ketakutan yang amat sangat. Igauan yang menjelma dari hati yang paling dalam. Igauan itu adalah gambaran keperihan yang telah menjadi luka bernanah dalam sistem otak anak-anak itu.

Bika kini ia marah, marahnya lahir dari derita getir anak-anak yang menjadi korban itu. Ia memang harus marah. Marah pada ketidakadilan dan ketidakpedulian pada korban.

Ia sepenuhnya sadar, dalam alam demokrasi perbedaan pendapat adalah lumrah dan niscaya. Karena memang ada kebebasan berpendapat. Namun, jangalah kebebasan itu digunakan untuk membela yang bersalah dan mengabaikan penderitaan panjang sang korban.

Para korban itu akan mengalami trauma berkepanjangan. Bahkan ada yang tak mampu lagi sekadar menatap masa depan. Mereka bahkan jijik pada tubuhnya sendiri. Apalagi masyarakat justru mencemooh mereka.

Dalam kemarahan yang mendalam ia tegaskan sikapnya. Saya pun tidak setuju pada hukum kebiri itu. Karena terlalu ringan. Seharusnya kemaluan si pelaku itu dipotong, dan dikunyah mentah-mentah oleh si pelaku. Itulah hukuman yang adil dan setimpal!

KITA MEMANG HARUS MARAH PADA KETIDAKADILAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd