Minggu, 04 Mei 2014

MERAPI BATUK

Yogya mulai direpotin Merapi lagi. Merapi batuk. Debunya melayang sampai jauh. Untungnya segera datang hujan, kotoran debu segera bersih. Suara gemuruh dari perut Merapi mulai terdengar sampai jauh. Rasanya baru kemarin Merapi muntah-muntah. Sisa muntahnnya masih belepotan di mana-mana. Kini Merapi batuk-batuk, suatu pertanda kalau ia mau muntah lagi.

Merapi tidak batuk sendirian. Ada empat gunung api berstatus siaga dan dua puluhan waspada. Yang siaga dan waspada bukanlah gunung apinya, tetapi semua orang yang bisa terkena muntahannya.

Apakah mungkin bahwa gunung-gunung api ini sedang melakukan aksi yang sama dengan buruh pada 1 Mei kemarin? Aksi solidaritas untuk tunjukkan pada semua kita bahwa alam sudah terlalu letih dan terluka. Tangan-tangan jahat manusia sudah sangat keterlaluan merusak alam, sehingga dibutuhkan kemarahan besar alam untuk membuatnya kembali dalam keseimbangan sementara.

Keterbatasan utama manusia adalah hanya melihat apa yang tampak di permukaan. Secara kasat mata tampaknya gunung-gunung api itu tidak berhubungan. Apalagi jaraknya berjauhan. Manusia jarang menyadari, nun jauh di bawah permukaan, di dalam lapisan-lapisan tanah bumi, gunung-gunung api itu membangun hubungan-hubungan rahasia.

Alam semesta merupakan satu kesatuan yang organik. Benturan benda-benda  nun di langit yang sangat jauh, pada saatnya akan memberikan pengaruh ke bumi kita. Begitu pun bumi ini.

Bumi adalah kesatuan yang saling mendukung dan memengaruhi antarbagiannya. Kerusakan hutan, kemajuan industri yang memuntahkan polusi, penggunaan nuklir untuk berbagi keperluan, polusi kendaraan bermotor di seluruh dunia, dan pembangunan gedung-gedung jangkung penghalang awan menggunakan material kaca telah menimbulkan pertambahan panas. Salju mencair, air laut menjadi bertambah-tambah, keseluruhannya membawa dampak kekacauan cuaca.

Perubahan-perubahan yang dramatik dan mengerikan ini pastilah membawa dampak luar biasa pada bumi. Bukan hanya pada permukaannya, juga ke kedalamannya. Kita tak pernah tahu, apa yang terjadi di kekedalaman perut bumi. Apa yang bergejolak, bahan-bahan apa yang terus terbakar, dan kemana saja menjalar.
Semua gunung api itu meskipun berjauhan tetapi berdiri pada bumi yang sama, bumi yang terus bergejolak. Mirip jerawat yang tumbuh di wajah, ada yang di kening dan  di dekat dagu. Meskipun jaraknya agak berjauhan, jerawat-jerawat itu berada pada wajah yang sama, menyembulkan apa yang sedang terjadi pada semua bagian dalam wajah.

Jerawat tak pernah muncul hanya karena satu faktor penyebab. Selalu ada sejumlah faktor yang saling mendorong. Begitulah gunung api berproses. Semua kerusakan yang dibuat manusia, secara langsung atau tidak langsung memberi dampak pada gejolak dalam perut bumi. Konsekuensinya, gunung berapi bereaksi secara berbarengan.

Jangan pernah mengira bahwa kondisi gunung berapi sekarang ini adalah sebuah kebetulan. Alam terus bereaksi atas apa yang dilakukan manusia. Bila manusia terus menerus berbuat kerusakan, maka alam beraksi sangat keras.

Bila manusia di mana saja, dan kapan saja dan terus saja melakukan kerusakan. Maka alam akan menunjukkan reaksi yang terus menerus pula. Saat kejahatan manusia telah sangat merusak alam, sehingga cuaca jadi kacau, maka akan terjadi rentetan bencana mulai dari hujan terus-menerus, banjir, dan sampai longsor.

Sekarang kita melihat bagaimana rangkaian bencana itu terjadi terkait gunung berapi. Satu persatu gunung berapi menunjukkan gejala akan memuntahkan isi perutnya. Jarak waktu yang sangat berdekatan antara satu erupsi dengan erupsi lain jangan dikira tidak berkaitan.

Gunung berapi adalah jalan keluar bagi panas yang terus bergejolak dalam perut bumi sebagai sebuah proses yang memang terjadi terus menerus. Jika dibandingkan dengan rentang waktu dan kekerapan terjadinya erupsi pada masa lalu, dan masa kini, terlihat bahwa terjadi perubahan dahsyat. Kini gunung berapi lebih sering erupsi dan jarak waktu erupsi sangat dekat. Pastilah perubahan ini ada kaitannya dengan kejahatan manusia terhadap bumi.

Memang bumi ini telah tua, tetapi kejahatan manusia membuatnya renta. Kerentaan membuatnya jadi rentan. Dalam kerentaan dan kerentanan itu bumi mempercepat proses-proses adaptasi untuk menjaga keseimbangan diri. Erupsi gunung berapi hanyalah akibat yang tak terelakkan.

Manusia terlalu rakus, bumi terus diperkosa. Manusia jarang menyadari bahwa bumi bukan milik nenek moyangnya, dan bukan hanya untuk dirinya sendiri. Masih ada anak, cucu, cicit, dan buyutnya yang membutuhkan bumi ini untuk mempertahankan hidup.

KEJAHATAN MANUSIALAH YANG MEMICU BENCANA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd