Rabu, 21 Mei 2014

PANAS! PANAS! PANAS!

Tragis. Semasa masih kecil aku pernah nonton film Indonesia, film horor, tetapi kesannya malah jadi film lucu yang mengocok perut. Aku sama sekali lupa judulnya. Ada satu adegan yang tak bisa kulupakan. Saat itu malam Jumat, ada seseorang yang sedang membaca Al Qur'an. Pada saat yang sama lewat sejumlah orang berwajah seram. Sayup-sayup mereka mendengar Al Qur'an dibacakan. Mereka mencari sumber suara. Akhirnya mereka mendekati rumah dari mana suara lantunan bacaan Al Qur'an itu datang. Mendadak sontak mereka lari terburut-burut ketakutan sambil teriak, panas! Panas! Panas!

Setelah berlari sangat jauh dari rumah tersebut, orang-orang bermuka jelek dan seram itu berhenti. Mereka ngos-ngosan, ada yang jatuh dan terduduk karena keletihan dan lemas. Mereka kemudian menyalahkan dan memaki-maki orang yang membaca Al Qur'an. Mereka bahkan mengutuknya.

Apa salahnya orang membaca Al Quran. Bahkan malam Jumat memang dianjurkan membaca Al Quran. Bila ada orang yang lari ketakutan mendengar orang membaca Al Qur'an dan merasa badannya sangat panas seperti terbakar, mengapa pula mereka menyalahkan orang yang membaca Al Qur'an? Apa hak mereka untuk marah, menyalahkan dan mengutuknya? Mestinya mereka berani bertanya pada diri sendiri, mengapa mereka merasa terganggu sampai badannya serasa terbakar mendengar Al Qur'an dibacakan? Sedangkan orang yang membaca Al Qur"an dan orang-orang di sekitarnya bahkan merasa tenang dan nyaman mendengarkan Al Qur'an dilantunkan.

Ini mirip orang yang kulitnya tersiram alkohol. Bila kulit bersih dari luka, alkohol itu pastilah terasa adem dan nyaman. Sedangkan jika pada kulit  terdapat luka, sudah pasti alkohol itu terasa perih dan menyiksa. Apakah mau menyalahkan alkohol? Mestinya mau dan brani menyadari bahwa bukan alkohol yang salah, tetapi kulit luka itu yang menyebabkan rasa menyiksa.

Banyak orang memiliki sifat seperti digambarkan dua cerita di atas. Saat merasa tidak nyaman, atau terganggu, bukannya melihat dirinya secara jujur, jernih dan objektif. Dan mau serta brani mengakui berbagai kelemahannya. Tetapi malah menyalahkan orang lain sebagai penyebab rasa tak aman dan gangguan tersebut. Inilah model orang lemah kepribadian, tak punya pendirian, buruk muka cermin dibanting. Merasa paling benar sendiri.
Hakikinya manusia seperti ini menyimpan sakit jiwa akut dalam dirinya. Manusia yang menutupi kelemahan diri dengan cara bersibuk diri mencari-cari kesalahan orang lain. Ya, orang kayak gini memang pantas dikasihani.

Manusia dengan struktur jiwa kayak gini, bila punya kekuasaan biar hanya secuil upil akan digunakan untuk menekan, meneror dan mengancam orang yang dianggap sebagai biang bagi gundah hatinya sendiri. Mereka tak punya kemampuan untuk secara jernih menangkap makna kebenaran dalam rangkaian kata dan kalimat yang diucapkan dan ditulis oleh siapa pun yang meyuarakan kebenaran. Pastilah bukan mata mereka yang rabun, tetapi hatinya yang buta!

Apapun yang dikatakan dan ditulis orang tentang hakikat kebenaran dirasa sebagai sembilu yang menyayat lubuk hati mereka. Jangan pernah mengira mereka orang yang tidak cerdas. Boleh jadi otak mereka tajam dan mengkilat, tetapi hati mereka gelap gulita kelam dan berbulu. Hati yang dipenuhi lumut kebencian tak berujung.

Kasihan, merekalah jiwa-jiwa mati, vampir dan voodoo yang bertopeng sinterklas. Para pengemis kehidupan yang hidup bagai benalu di pohon bambu.

Tragisnya, mereka sangat bangga dengan berbagai pujian dan rasa hormat para pengikutnya yang sebenarnya hanya menghormati jabatannya, bukan dirinya. Saat jabatannya sirna, mereka akan diperlakukan tak lebih bagai kecoa jamban, dijauhi dan ditinggalkan sebagai seonggok kejijikan.

Generasi yang datang setelah mereka akan  memahat prasati yang bertuliskan:

DI SINI PERNAH BERKUASA PARA TIRAN, HATINYA BATU, OTAKNYA LUMPUR, DAN NAFASNYA KEBENCIAN!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd