(Doa bagi anakku Khal yang terbaring di
rumah sakit)
Tragis. Bidan di
dekat rumahku terkenal sangat telaten
dan hati-hati. Ia juga baik hati, suka menolong pasien yang tidak mampu. Suatu
sore anaknya yang berusia empat tahun demam. Sebagai bidan ia paham bagaimana
mengatasinya. Bukankah setiap hari ia mengobati anak-anak yang sakit?
Demam anaknya
tampaknya biasa saja, tidak sampai panas betul. Anaknya juga tidak rewel. Ia
obati dengan pengobatan standar. Dua hari berlalu, panas badannya tetap tidak
tinggi. Anaknya mulai rewel.
Hari ketiga
demamnya juga belum pergi. Sepulang kerja, ia kaget karena anaknya mulai
muntah-muntah. Segera di bawa ke rumah sakit. Pemeriksaan di UGD membuat dia
kaget. Anaknya kena demam berdarah dan trombositnya sangat rendah, langsung
dibawa ke ruang ICU. Apa boleh buat, menjelang dini hari anaknya meninggal.
Bidan itu sangat
schock dan pingsan berkali-kali. Ia sangat menyesal mengapa petaka ini bisa
terjadi padanya. Sudah ribuan anak sakit yang ia bantu pengobatannya. Mengapa
saat anaknya sakit ia tidak bisa membantunya. Bahkan ia pun tidak tahu anaknya
kena demam berdarah. Ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda demam berdarah
pada anaknya. Ia sangat menyesal karena tidak segera membawa anaknya ke rumah
sakit dan memeriksakan darahnya ke laboratorium. Tragisnya anak yang wafat ini
adalah anak yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya. Tiga anaknya lelaki, anak
bungsu ini satu-satunya perempuan. Inilah taqdir. Sungguh tak bisa ditebak.
Sangat misterius.
Sebagai makhluk hidup
kuman penyakit juga terus menerus melakukan penyesuaian diri dengan tantangan
di sekitarnya. Ketidakdisiplinan manusia menjaga lingkungan dan mengkonsumsi
obat, berbagai perubahan alam karena kejahatan manusia memang berpotensi membuat
kuman penyakit menyesuaikan diri dan semakin kuat. Di sini berlaku hukum, yang
dapat mengatasi tantangan akan semakin kuat dan menjadi jagoan.
Sudah lama
diketahui bahwa kuman TBC sudah berubah dan semakin perkasa. Yang paling
dahsyat adalah kuman flu yang semakin bringas dan jago membunuh. Bahkan banyak
kuman yang tadinya hanya menyerang hewan, sekarang bisa menghabisi manusia.
Jika manusia sering melakukan migrasi dan urbanisasi, kuman pinter melakukan
mutasi.
Beragam penyakit
yang sudah sangat dikenal berikut gejala spesifiknya, kini menunjukkan
perubahan mendasar, termasuk gejala spesifiknya. Karena itu kadang dibutuhkan
pemeriksaan darah berkali-kali, bahkan sampai ke pemeriksaan sum-sum.
Kadang karena
begitu sulitnya, hasil pemeriksaan laboratorium di satu rumah sakit, berbeda
dengan rumah sakit lain. Kalau sudah begini bingunglah orang yang sakit.
Keluarganya juga, termasuk tetangga dan teman-temannya. Gak tahu apa dokternya
juga ikut bingung.
Serangan demam
berdarah gaya baru ini tampaknya sudah memakan banyak korban. Seringkali saat
si sakit dibawa ke rumah sakit sudah tak bisa diselamatkan, karena trombositnya
sudah sangat anjlok.
Keluarga si sakit
pastilah kaget karena sama sekali tidak menyangka. Ada rasa penyesalan mengapa
tidak buru-buru dibawa ke rumah sakit. Karena gejala umum demam berdarah sama
sekali tak terlihat. Penyesalan tentu datang terlambat.
Inilah dunia kita.
Duniayang tidak hanya dihuni oleh manusia yang baik dan jahat. Hidup bersama
dan berdampingan dengan kita para kuman penyakit yang juga terus meningkatkan
kemampuan mengikuti usaha-usaha manusia memerangi mereka. Ini jadi peperangan
antar makhluk. Cilakanya para kuman itu tidak terlihat, ada di dalam tubuh dan di sekitar kita, bisa dipindahkan angin dan
masuk ke tubuh kita melalui banyak lubang yang jumlahnya mungkin milyaran pada
seluruh tubuh kita.
Kita sama sekali
tak pernah tahu, apakah kita benar-benar sehat dan bisa terbebas dari para
kuman yang sangat beragam itu. Ada yang memang bercokol dalam tubuh karena tertanam
dalam gen yang diturunkan dari orang tua kita. Ada pula yang masuk ke tubuh
kita tanpa sengaja. Betapa rentan manusia ini.
Kuman seringkali
secara tragis merenggut orang-orang yang kita cintai. Yang kehadirannya sangat
kita harapkan. Meski tragis, kehadiran para kuman, mungkin merupakan hukum alam
untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Manusia pasti mati. Mungkin akan terasa
aneh bila ada orang tiba-tiba meninggal tanpa sebab. Boleh jadi kuman itu
memberi semacam pembenaran mengapa seseorang harus pergi meninggalkan kita.
Kuman juga memberi
kesadaran mendalam pada kita bahwa hidup tidak bisa sepenuhnya kita kendalikan,
dan kuasai. Kitalah yang dikendalikan dan dikuasai.
Kuman yang super
kecil itu mestinya membuat kita selalu waspada dan sadar, bahwa manusia
sebenarnya rentan dan sangat tak berdaya. Karena itu tak ada alasan bagi
manusia, siapapun dia dan apapun jabatannya, untuk sombong dan merasa bisa
kuasai hidup dan orang lain. Mestinya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd