Rabu, 21 Mei 2014

DEMAM BERDARAH GAYA BARU



(Doa bagi anakku Khal yang terbaring di rumah sakit)

Tragis. Bidan di dekat rumahku  terkenal sangat telaten dan hati-hati. Ia juga baik hati, suka menolong pasien yang tidak mampu. Suatu sore anaknya yang berusia empat tahun demam. Sebagai bidan ia paham bagaimana mengatasinya. Bukankah setiap hari ia mengobati anak-anak yang sakit?

Demam anaknya tampaknya biasa saja, tidak sampai panas betul. Anaknya juga tidak rewel. Ia obati dengan pengobatan standar. Dua hari berlalu, panas badannya tetap tidak tinggi. Anaknya mulai rewel.

Hari ketiga demamnya juga belum pergi. Sepulang kerja, ia kaget karena anaknya mulai muntah-muntah. Segera di bawa ke rumah sakit. Pemeriksaan di UGD membuat dia kaget. Anaknya kena demam berdarah dan trombositnya sangat rendah, langsung dibawa ke ruang ICU. Apa boleh buat, menjelang dini hari anaknya meninggal.

Bidan itu sangat schock dan pingsan berkali-kali. Ia sangat menyesal mengapa petaka ini bisa terjadi padanya. Sudah ribuan anak sakit yang ia bantu pengobatannya. Mengapa saat anaknya sakit ia tidak bisa membantunya. Bahkan ia pun tidak tahu anaknya kena demam berdarah. Ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda demam berdarah pada anaknya. Ia sangat menyesal karena tidak segera membawa anaknya ke rumah sakit dan memeriksakan darahnya ke laboratorium. Tragisnya anak yang wafat ini adalah anak yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya. Tiga anaknya lelaki, anak bungsu ini satu-satunya perempuan. Inilah taqdir. Sungguh tak bisa ditebak. Sangat misterius.

Sebagai makhluk hidup kuman penyakit juga terus menerus melakukan penyesuaian diri dengan tantangan di sekitarnya. Ketidakdisiplinan manusia menjaga lingkungan dan mengkonsumsi obat, berbagai perubahan alam karena kejahatan manusia memang berpotensi membuat kuman penyakit menyesuaikan diri dan semakin kuat. Di sini berlaku hukum, yang dapat mengatasi tantangan akan semakin kuat dan menjadi jagoan.

Sudah lama diketahui bahwa kuman TBC sudah berubah dan semakin perkasa. Yang paling dahsyat adalah kuman flu yang semakin bringas dan jago membunuh. Bahkan banyak kuman yang tadinya hanya menyerang hewan, sekarang bisa menghabisi manusia. Jika manusia sering melakukan migrasi dan urbanisasi, kuman pinter melakukan mutasi.

Beragam penyakit yang sudah sangat dikenal berikut gejala spesifiknya, kini menunjukkan perubahan mendasar, termasuk gejala spesifiknya. Karena itu kadang dibutuhkan pemeriksaan darah berkali-kali, bahkan sampai ke pemeriksaan sum-sum.

Kadang karena begitu sulitnya, hasil pemeriksaan laboratorium di satu rumah sakit, berbeda dengan rumah sakit lain. Kalau sudah begini bingunglah orang yang sakit. Keluarganya juga, termasuk tetangga dan teman-temannya. Gak tahu apa dokternya juga ikut bingung.

Serangan demam berdarah gaya baru ini tampaknya sudah memakan banyak korban. Seringkali saat si sakit dibawa ke rumah sakit sudah tak bisa diselamatkan, karena trombositnya sudah sangat anjlok.

Keluarga si sakit pastilah kaget karena sama sekali tidak menyangka. Ada rasa penyesalan mengapa tidak buru-buru dibawa ke rumah sakit. Karena gejala umum demam berdarah sama sekali tak terlihat. Penyesalan tentu datang terlambat.

Inilah dunia kita. Duniayang tidak hanya dihuni oleh manusia yang baik dan jahat. Hidup bersama dan berdampingan dengan kita para kuman penyakit yang juga terus meningkatkan kemampuan mengikuti usaha-usaha manusia memerangi mereka. Ini jadi peperangan antar makhluk. Cilakanya para kuman itu tidak terlihat, ada di dalam tubuh dan  di sekitar kita, bisa dipindahkan angin dan masuk ke tubuh kita melalui banyak lubang yang jumlahnya mungkin milyaran pada seluruh tubuh kita.

Kita sama sekali tak pernah tahu, apakah kita benar-benar sehat dan bisa terbebas dari para kuman yang sangat beragam itu. Ada yang memang bercokol dalam tubuh karena tertanam dalam gen yang diturunkan dari orang tua kita. Ada pula yang masuk ke tubuh kita tanpa sengaja. Betapa rentan manusia ini.

Kuman seringkali secara tragis merenggut orang-orang yang kita cintai. Yang kehadirannya sangat kita harapkan. Meski tragis, kehadiran para kuman, mungkin merupakan hukum alam untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Manusia pasti mati. Mungkin akan terasa aneh bila ada orang tiba-tiba meninggal tanpa sebab. Boleh jadi kuman itu memberi semacam pembenaran mengapa seseorang harus pergi meninggalkan kita.

Kuman juga memberi kesadaran mendalam pada kita bahwa hidup tidak bisa sepenuhnya kita kendalikan, dan kuasai. Kitalah yang dikendalikan dan dikuasai.

Kuman yang super kecil itu mestinya membuat kita selalu waspada dan sadar, bahwa manusia sebenarnya rentan dan sangat tak berdaya. Karena itu tak ada alasan bagi manusia, siapapun dia dan apapun jabatannya, untuk sombong dan merasa bisa kuasai hidup dan orang lain. Mestinya

KEHADIRAN KUMAN DAN PENYAKIT MENYADARKAN KITA BAHWA MANUSIA TAK LEBIH SEONGGOK KERENTANAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd