Kamis, 01 Mei 2014

RASA AMAN DALAM PENDIDIKAN

Sungguh mengerikan. Menteri Perhubungan yang juga petinggi Partai Demokrat menegaskan pihaknya dan STIP tidak dapat bertanggung jawab atas kekerasan senior yang menyebabkan tewasnya secara sangat mengenaskan Dimas. Karena kekerasan itu terjadi di luar STIP. Petinggi STIP juga menyatakan hal yang sama.

Inilah ciri pejabat tak berempati, mungkin juga tak memiliki kepekaan nurani. Belum lagi kering air mata duka keluarga Dimas dan air mata kita yang berempati. Belum lagi kering tanah kuburan Dimas. Pejabat yang mestinya menunjukkan empati malah menunjukkan kecenderungan cuci tangan.

Rasanya lebih manusiawi dan beretika bila dalam masa berkabung ini mereka memperlihatkan dukungan pada keluarga korban. Dan menunjukkan rasa prihatin. Bukan malah bersibuk membangun argumentasi untuk melepaskan diri dari tanggung jawab. Coba mereka bayangkan jika yang tewas itu adalah anak mereka, bagaimana rasanya?

Menjadi sangat wajar bila sejumlah orang tua mahasiswa mendatangi STIP untuk meminta jaminan tertulis terkait keamanan anak-anak mereka. Rasa khawatir ini sangat beralasan. Sebab orang tua korban yang cedera sangat sulit memperoleh informasi dari piminan STIP tentang anak-anak mereka. Tampaknya STIP benar-benar menutup diri.

Ibu Dimas yang ikut hadir dalam rombongan orang tua mahasiswa itu juga heran dan sedih. Karena STIP sangat tertutup. Sampai-sampai para mahasiswa pun tidak mau memberikan informasi. Bisalah diduga mengapa mahasiswa sampai tak berani bicara terbuka. Rasanya mekanisme pertahanan diri telah dilakukan secara berlebihan, sehingga mahasiswa takut bicara.

Dari  berbagai fakta ini patut diduga memang ada yang kurang atau tidak beres di STIP. Atas dasar telah terjadinya kekerasan berulang yang menyebabkan kematian, dan sikap sangat tertutup para pimpinan pada semua tingkatan, menjadi keniscayaan dilakukannya pemeriksaan mendalam terhadap STIP.

Pemerintah harus berani "membongkar" STIP agar ditemukan apa yang sesungguhnya telah terjadi di dalamnya. Sebab prarekonstruksi yang dilakukan Polisi menunjukkan bahwa kekerasan berujung kematian itu dimulai di kantin sekolah.

Fakta ini dan pengakuan pengelola STIP bahwa mereka telah memasang cctv di banyak tempat, termasuk di kantin, menimbulkan tanya, seperti apa sistem pengawasan di situ sampai tidak dapat mendeteksi apa yang sedang terjadi di kantin yang berujung kematian di tempat kos. Mengapa mahasiswa junior yang diintimidasi senior di lingkungan sekolah sampai tidak berani melapor ke pihak sekolah?
Mengapa para senior memiliki keberanian untuk memberi perintah dan mengintimidasi junior sejak dalam lingkungan sekolah? Semua ini harus diungkap. Harus dibentuk tim independen pencari fakta.
Dengan demikian menjadi jelas duduk soalnya.

Bila tidak, jangan salahkan para orang tua yang terus menuntut jaminan keamanan bagi anaknya. Tanpa adanya keterbukaan dan kejelasan, percayalah bukan hanya orang tua yang khawatir. Para mahasiswa yang sedang menjalani proses pembelajaran juga akan berada di bawah tekanan dan tidak merasa aman dan nyaman.

Berbagai penelitian yang dilakukan di banyak negara menegaskan, para pelajar akan meningkat kinerja dan prestasinya bila diberikan tantangan yang terukur. Tetapi akan mengalami kesulitan dan gangguan jika merasa tidak aman dan tidak nyaman. Gangguan yang ditimbulkan bisa akut dan berjangka panjang, bila rasa tidak aman dan tidak nyaman itu berkepanjangan.

Bisa kita bayangkan bagaimana suasana emosional para taruna STIP setelah tahu ada rekannya yang tewas dan cedera oleh perilaku biadab para seniornya. Dalam situasi tertekan, mereka menjadi sangat tertutup. Suasana ini pastilah membuat tekanan bertambah-tambah dan berlapis-lapis. Bisa jadi, kini mereka tidak mengalami kekerasan fisik. Namun patut diduga ada kekerasan psikologis yang membuat mereka serentak kompak untuk menjadi tertutup.

Keengganan para orang tua segera pulang ke kampung halaman, dan meminta kepastian tertulis dari pengelola STIP menunjukkan rasa tidak aman dan tidak nyaman itu sudah akut. Mestinya ada pertemuan besar antara pengelola, para orang tua, dan mahasiswa. Dalam pertemuan itu beri kebebasan para mahasiswa berbicara. Dengan demikian bukan saja orang tua mengetahui masalah, juga bisa bersama-sama mencari solusi. Inilah saatnya untuk secara brani menunjukkan apa yang sesungguhnya terjadi selama ini di STIP. Ingat, ini bukan kematian pertama akibat kebiadaban senior!

Kita semua sama tahu bahwa dalam proses pendidikan pada tingkat apapun, ada saja pembelajar atau peserta didik yang perlu mendapat perhatian lebih karena beberapa sifat, sikap atau perilakunya tidak pada tempatnya. Itu terjadi di seluruh dunia. Wajar bila lembaga pendidikan kemudian menegakkan aturan untuk memastikan proses pembelajaran tetap dapat dilaksanakn dengan sebaik-baiknya. Ketegasan dalam melaksanakan aturan menjadi penting. Namun, rasa aman dan nyaman peserta didik selama dalam proses pembelajaran adalah yang utama. Dan makin penting rasa aman dan nyaman itu dibangun bila para peserta didiknya berada di asrama seperti STIP. Bila kini para orang tua menunutut jaminan rasa aman dan tidak mendapatkan respon yang bermakna, layaklah pimpinan STIP segera diganti, untuk masa dua tahun tidak menerima peserta baru, dan dilakukan penyelidikan mendalam.

TANPA RASA AMAN, PROSE PENDIDIKAN AKAN MENGALAMI GANGGUAN DAN BERUJUNG KEGAGALAN.

63 komentar:

  1. Dunia pendidikan bukanlah penjara fisik dan psikis,namun dunia pendidikan dalam lembaga sekolah adalah tempat dimana proses belajar mengajar yang memberikan ilmu baru untuk semua masyarakat baik di Indonesia maupun negara lain. kasus di atas yang disampaikan oleh bapak Nusa, memang merupakan kejadian yang tidak asing, kejadian yang bukan sekali dua kali terjadi di Indonesia. STIP mungkin adalah salah satu lembaga pendidikan yang memiliki kejadian memilukan atas tindakan-tindakan senioritas. STIP merupakan sekolah tinggi yang harusnya memberikan pendidikan kepada para mahasiswanya bukan malah menjadi ajang senioritas atau ajang jabatan saja, disayangkan para pejabat dan para petinggi di STIP menutup telinga dan mata atas kejadian ini, wajar saja bila para orang tua hawatir dengan keadaan anak-anaknya, kekerasan bukan hanya saja fisik namun sikologisnya pun akan terguncang dahsyat dan malah bisa merusak dunia pendidikan.
    ada beberapa masalah yang harus di pecahkan dalam kasus tersebut:
    1. mengapa para pejabat di Indonesia dan para petinggi di STIP seolah menutup diri atas kasus tersebut?
    2. apakah kasus kematian dimas didasari hanya karena tindakan senioritas atau memang tindakan biasa yang pasti terjadi di setiap para mahasiswa junior?
    3. bagaimana cara agar pendidikan di indonesia tidak di kotori oleh tindakan kekerasan baik fisik maupun psikis?
    4. apa yang diberikan para petinggi STIP dalam menyelesaikan kasus ini, dan bagai mana sikap mereka menghadapi para orang tua yang hawatir akan keadaan anak nya?
    5. dan sikap apa yang harus dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam menyikapi kekerasan di dunia pendidikan?

    BalasHapus
  2. Nama : Aminah Pertiwi
    NIM : 4915127038
    Pendidikan IPS Non Reguler 2012

    Saya setuju dengan tulisan bapak, diberbagai tingkat pendidikan apapun diperlukan rasa aman karena tanpa rasa aman, proses pendidikan akan mengalami gangguan dan berujung kegagalan. Peristiwa yang menimpa Dimas salah satu mahasiswa STIP sudah seharusnya perlu diselidiki lebih lanjut dan diperlukan peran pemerintah yang tegas dan berani untuk mengungkap dengan sebenar-benarnya bagaimana kejadian tersebut terjadi. Tidak adanya para para mahasiwa STIP yang berani berbicara mengenai kejadian tersebut sudah dapat dijadikan sebuah kunci, bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Dan sangatlah miris mendengar para petinggi negara serta STIP itu sendiri justru mengatakan tidak dapat bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi. Setidaknya mereka seharusnya berani mengambil langkah untuk menyelidi peristiwa tersebut, karena hilangnya nyawa seseorang bukanlah sesuatu yang dapat diabaikan begitu saja
    Dapat kah dibayangkan bagaimana proses kegiatan pembelajaran di STIP setelah peristiwa tersebut terjadi? Tentu akan ada rasa yang tidak aman dari para orangtua,mahasiswa itu sendiri dan juga bahkan para pengajar tersebut.

    Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanya :
    1. Pada kasus kejadian di sekolah JIS, pemerintah mengambil langkah untuk menutup sekolah tersebut, karena ternyata sekolah JIS tidak memiliki ijin. Apakah dalam peristiwa di STIP ini langkah tersebut perlu dilakukan dengan alasan hilangnya nyawa seseorang tanpa ada tindakan dari petinggi STIP?
    2. Mungkinkah tindakan kekerasan yang terjadi di STIP juga bahkan sudah diketahui dan ada dukungan dari para petinggi STIP ?

    BalasHapus
  3. Nama : Ayatusyifa Wulandari
    Kelas : P. IPS A 2013
    NIM : 4915131390
    Menurut saya mengenai tulisan bapak yang berjudul “ Rasa Aman Dalam Pendidikan “ mencerminkan begitu pentingnya rasa aman. Rasa aman dalam pendidikan sering kali banyak yang tak memperdulikannya padahal rasa aman berkaitan dengan kenyamanan yang bermuara pada prestasi yang akan dihasilkan oleh peserta didik. Begitu pentingnya rasa aman sampai – sampai di dunia pendidikan pun dibutuhkan rasa aman demi terciptanya keselarasan dan kenyamanan dalam suasana belajar. Karena tak mungkin seorang peserta didik akan berhasil dalam menempuh pendidikan apabila belajar dalam keadaan tertekan, takut dan tidak aman. Tertekan, takut dan rasa tidak aman seringkali diakibatkan karena adanya tindak kekerasan baik yang terlihat atau secara fisik atau yang tidak terlihat yang tentu melibatkan psikologis seseorang. Untuk kekerasan yang terlihat atau secara fisik memang seringkali memakan korban, tetapi tak menutup kemungkinan untuk mereka yang psikologisnya terganggu juga akan menimbulkan korban – korban sebab seseorang yang keadaan psikologisnya terganggu dapat menimbulkan banyak hal diantaranya stress dan berujung pada kematian. Seperti yang dirumuskan dalam world report on violence and health (WRVH), menyebutkan kekerasan sebagai penggunaan kekuatan fisik atau ancaman secara sengaja kepada diri sendiri, orang lain, maupun kelompok yang mengakibatkan cedera, kematian, gangguan psikis atau trauma, gangguan perkembangan, ataupun deprivasi. Dan sungguh tragis seringkali kekerasan yang dialami seseorang itu terjadi di dunia pendidikan atau lingkungan sekolah, tindak kekerasan dapat dilakukan oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun bahkan tak menutup kemungkinan banyak guru dan para senior yang melakukan hal keji semacam itu. Mereka yang harusnya memberikan contoh teladan yang baik justru melakukan hal menyimpang dengan berbagai alasan. Harusnya mereka yang melakukan hal kekerasan dengan alasan yang terkadang tak masuk diakal itu diberi hukuman yang setimpal dengan kelakuannya karena tak sedikit dari mereka yang merasa dirugikan akan hal kekerasan. Dan kepada mereka yang memiliki wewenang untuk mengurusi mereka yang melakukan kekerasan terutama di lingkungan sekolah, seharusnya mampu menyelesaikan secara tegas dan di hancurkan tindak kekerasan itu hingga ke akarnya, agar kedepannya tidak ada masalah atau kasus lagi yang memberitakan mengenai masalah atau kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan.
    Pertanyaan :
    1. Metode apakah yang paling tepat untuk menyelesaikan suatu kasus agar tidak menjadi kasus yang berkepanjangan ?
    2. Bagaimana filsafat ilmu menjelaskan mengenai keterkaitan antara rasa aman dan kekerasan yang berpengruh kepada mental si anak ?
    3. Bagaimana cara terbaik untuk memberantas kekerasan di dunia pendidikan ?

    BalasHapus
  4. Nama : Pathurochmah
    Kelas : P.IPS Reguler B 2013
    kekerasan anatara senior trhadap juniornya memang bukan hanya terjadi di STIP, hampir disetiap sekolah senioritas seperti ini memang kerap kali terjadi. Pradigma yang dibangun selama ini adalah bahwa junior itu perlu ditatar atau dilatih agar kelak mereka tidak menjadi melunjak atau songong terhadap para seniornya, namun yang terjadi kini ini menjadi sebuah ajang untuk melakukan pembullyan terhadap para juniornya, menjadi semacam tradisi yang turun temurun dan rutin dilakukan. entah dari mana asalanya kebiasaan ini, tetapi prilaku ini menjamur dimana-mana. Hanya berbeda tingkat pembulllyan yang dilakukannya, ini menjadi permasalahan kita bersama mengapa hal seperti ini dibiarkan berlarut-larut dan memakan banyak korban. InI perlu tindakan yang melibatkan semua pihak, karena benar ketika kita tidak mendapatkan rasa keamanan dalam pendidikan maka kecil kemungkinan apa yang dipelajari akan dapat dimengerti.
    pertanyaan
    1. Bagaimana cara mengugkap peristiwa STIP?
    2. Apa yang bisa dilakukan oleh penelitian R&D dalam kasus ini?
    3. Mengapa stigmatisasi kekerasan dalam sekolah-sekolah kedinasan sangat lekat?

    BalasHapus
  5. Assalamu'alaikum wr.wb
    Shaiba Ayu Widyawati
    4915133437
    P.IPS B 2013
    Pendidikan adalah suatu proses dimana terjadinya interaksi atau komunikasi secara sadar dan terencana yang di lakukan oleh orang dewasa kepada orang di bawahnya atau dalam artian peserta didik.
    Itu lah arti pendidikan secara umum yang terangkum dari beberapa ahli.
    Sadar dan terencana adalah kata kunci dalam sebuah pendidikan itu, jika dalam dunia pendidikan saja terjadi kekerasan seperti itu bagaimana upaya sekolah itu merencanakan secara sadar proses pendidikan itu?
    Secara hukum alam memang pada dasarnya di sekolah mana pun dengan tingkat apa pun senioritas memang sangat dipentingkan, karena apa mereka selalu mengikuti adat isitiadat secar turun temurun dari para seniornya terdahulu. Inilah yang selalu salah dipahami oleh para senior yang tidak bertanggung jawab itu. Mereka cenderung untuk membalaskan dendamnya pada junior baru yang baru masuk dan tidak mengetahui apa-apa, bahkan sampai berakhir pada kematian. Sungguh miris dunia pendidikan saat ini, di dalam lingkungan sekolah saja rasa aman dan nyaman itu tidak di dapatkan padahal seharusnya kita dapat menjadikan sekolah sebagai rumah kedua kita seperti rumah sendiri. Sebenarnya masa-masa sekolah itu dapat dijadikan kenangan indah karena memiliki banyak teman pengalaman-pengalaman baru dan tentunya ilmu-ilmu pengetahuan baru.
    Namun apabila dalam dunia pendidikan saja kita tidak mendapatkan itu semua, mau seperti apa kita ke depannya dalam menjalankan proses pendidikan itu?
    Pertanyaannya:
    1. Kita ketahui akhir-akhir ini tidak hanya kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan, namun pelecehan seksual pun telah marak terjadi. Bagaimana hal itu dapat terjadi?
    2. Apakah pendidikan di indonesia sudah berubah fungsi dan tujuannya menjadi fungsi dan tujuan pihak-pihak tertentu yang mengutamakan kepentingannya?
    3. Di dalam dunia pendidikan saja rasa tidak aman itu dapat di rasakan, lantas dimanakah sesungguhnya rasa nyaman yang sesungguhnya dapat didapatkan?
    4. Haruskah kita semua menghapuskan sekolah formal untuk mendapatkan keamanan yang pasti hanya dari orang tua kita?
    5. Lantas siapa yang bertanggung jawab atas kasus-kasus yang terjadi dalam dunia pendidikan indonesia ini? Sistem pendidikan pemerintah atau sekolah tersebut?
    Makasih pak, wassalamu'alaikum

    BalasHapus
  6. NAMA : FANNY FITRIYANI
    NIM : 4915131376
    P.IPS A 2013

    Saya sangat setuju dengan tulisan yang berjudul “Rasa Aman Dalam Pendidikan” ini, karena memang pada dasarnya setiap orang memiliki hak untuk memperoleh pendidikan yang layak, aman, nyaman dan juga tentram. Proses pendidikan merupakan suatu proses di mana seseorang mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan serta menuju proses pendewasaan diri, bukan justru disalahgunakan untuk siapa yang ingin berkuasa dan yang akan dikuasai. Dalam proses pendidikan pasti tujuan utama kita adalah untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan yang nantinya kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jika kita ingin mencapai tujuan pendidikan tersebut tentu saja lingkungan di sekitar kita pun harus mendukung yaitu harus memberikan rasa aman dan nyaman kepada kita agar kita dapat focus serta merasa nyaman berda di lingkungan tersebut. Kejadian seperti tewasnya Dimas pelajar di STIP tersebut tidak hanya sekali dua kali tetapi sudah banyak kasus-kasus sebelumnya dan juga di sekolah-sekolah lain yang memakan korban karena kebiadaban sang senior. Senior yang baik itu seharusnya dapat memberikan bimbingan yang baik kepada juniornya agar para junior dapat melanjutkan prestasi-prestasi yang gelah diperoleh oleh para seniornya, bukan justru menjadi senior yang “gila hormat” arogan dan semena-mena terhadap junior. Peran pihak-pihak sekolah serta peran para orang tua pun seharusnya lebih ditanamkan dalam membimbing serta mengawasi tingkah laku para peserta didiknya agar tidak terulang kembali kejadian-kejadian yang yang seperti itu.
    • Orang yang berpendidikan seringkali disebut orang yang cerdas, namun mengapa masih terjadi kasus pembunuhan yang dilakukan oleh orang yang berpendidikan? Yang seharusnya ia pasti telah mengetahui bahwa hal itu merupakan perbuatan yang tidak benar.
    • Adakah kelainan pada psikologis seseorang ketika ia berani melakukan hal-hal yang biadab seperti menganiaya atau menbunuh?
    • Bagaimana seharusnya pihak sekolah menyikapi kasus tersebut agar tidak terulang kasus yang sama?

    BalasHapus
  7. Nisrina Haniah
    Pendidikan IPS NR 2012
    4915127060

    Sekolah diibaratkan sebagai rumah kedua bagi anak didik. Enam sampai delapan jam perhari dapat dihabiskan di sekolah. Akan tetapi, bagaimana rasanya jika kita sendiri tidak merasa nyaman dan aman di rumah? Mungkin akan mempengaruhi proses belajar mengajar dan tentu menurunkan hasil belajar siswa.

    Sekolah adalah tempat untuk menuntut ilmu bukan sebagai ajang balas dendam dan senioritas. Banyak sekali peserta didik yang merasakan dirinya sebagai senior sehingga merasa bahwa ia dapat melakukan apa saja yang ia mau. Sehingga tidak jarang terjadi pembunuhan sebagai ajang balas dendam.

    Tentu kita sebagai peserta didik sebaiknya tidak melakukan hal demikian karena bagaimanapun setiap orang berhak memiliki hak asasi manusia, seperti merasa aman, nyaman dan tentram. Pihak sekolah juga sebaiknya tidak menutup-nutupi apa yang terjadi di sekolah tersebut. Walau bagaimanapun orangtua perlu mengetahui bagaimana kondisi anaknya di sekolah dan setiap orangtua juga berhak untuk menuntut jika terjadi pelanggaran HAM pada peserta didik.

    BalasHapus
  8. Indah Wardatussa'idah
    p.ips reg 2012
    4915122547

    Rasa aman dan nyaman menjadi barang mahal yang sulit sekali didapatkan di negara kita sendiri . begitu juga dengan proses pendidikan yang ada di Indonesia saat ini seharusnya anak di didik sedemikian rupa bukan malah menjadi bahan saling adu jotos , jika dengan kasus ini saja pikahh STIP tutup mulut dan seakan akan membiarkan masalah ini terjadi lalu bagaimana dengan masalah dalam pendiidkan yang lainnya ? dimana letak moral dan hati nurani manusia saat ini ? apakah semuanya harus diselesaikan dengan kekerasan dan juga adu otot ? sungguh sangat mengenaskan bagaimana hati orang tua Dimas tersebut mendapati anak kebangaannya terbujur kaku dan tidak ada yang mau bertanggung jawab . hati Ibu mana yang tega dan mengikhlaskan kjadian tersebut ? bukan hanay di STIP namun juga di sekolah sekolah seperti SMK juga sering terjadi kasus tawuran antar pelajar . dimana dedikasi nilai nilai pancasila dan pendidikan moral ini . apakah hanya sebuah wacana bagaimana pendidikan Indonesia kedepannya jika sudah sangat bobrok kalitasnya .

    1. Apa yang melatar belakangi penyelesaian dengan kekerasan dalam dunia pendidikan saat inni ?
    2. Apakah ada solusi dalam masalah senioritas saat ini ?
    3. Bagaimana tugas pendidik jika mendapati muridnya yang mudah main tangan dalam dunia pendidikan ?

    BalasHapus
  9. Nama : Akhmad Rayhan Aditya
    NIM/Kelas : 4915131399/ PIPS 2013 A

    Assalamualaikum wr.wb
    Kejadian kekerasan ulah senior kembali muncul ke permukaan, sebelumnya pernah terjadi di institut pemerintahan dengan hal yang hampir sama, menurut saya setiap kekerasan itu identik dengan ketegasan namun dalam persoalan kali ini kekerasan sudah melampaui batas manusiawi hingga merenggut nyawa terhadap juniornya.
    kenyataan ini memang tidak dapat dipungkiri dalam pendidikan ala "rambut 2cm" yang mengutamakan fisik dan mental, budaya ini (kekerasan) akan terus tumbuh subur di setiap angkatannya jika tidak ada pengusutan tuntas sampai ke akar - akarnya dari pihak yang berwenang. dalam hal ini dimanakah peran tegas dari petinggi - petinggi negara yang mengayomi dunia pendidikan?? mereka memiliki posisi penting kok diatas sana untuk mengusut tuntas, demi kebenaran dan keadilan.

    pertanyaan :
    1. Dalam persoalan ini apakah tidak ada tindakan koperatif dari STIP dengan tim penyidik kekerasan??
    2. bagaimana bisa jika di lingkungan belajar telah terjadi hal semacam kekerasan seperti ini untuk menciptakan suasana nyaman dan aman untuk pesertanya jika dilanda trauma mendalam akibat perbuatan seniornya??
    3. langkah konkrit seperti apa bagi pihak yang mengusut tuntas kekerasan ini??

    BalasHapus
  10. Titin Watini
    4915133443
    P.IPS B 2013

    Memiliki rasa aman dan nyaman dalam hal apapun sangat penting tidak hanya pada pendidikan saja, namun belakangan ini begitu banyak permasalahan yang timbul dalam pendidikan dari mulai tingkat TK pada kasus JIS, pada tingkat SD yaitu kasus kekerasan antara adik kelas dengan kakak kelas yang terjadi menimpa salah satu siswa SDN 09 Makassar kemudian pada tingkat perkuliahan contohnya seperti di jelaskan pada tulisan tersebut STIP senioritas yang melakukan kekerasan kepada junior. Begitu banyak permasalahan dalam pendidikan, namun pada kasus STIP ini sangat tidak berperikemanusiaan karena senior melakukan kekerasan kepada junior dan sekolah yang seperti STIP ini lebih mengutamakan fisik dan tertutup seperti halnya STTD, mahasiswa hanya bisa di jenguk oleh orang tuanya beberapa bulan sekali saja. Namun ketertutupan ini mengakibatkan ketidaknyamanan kepada orang tua yang membuat resah apa lagi dengan timbulnya kasus STIP ini. Mirisnya, pihak STIP tidak dapat bertanggung jawab dalam kekerasan ini di karenakan kekerasan tersebut terjadi di luar STIP, sangat prihatin mengapa tidak melakukan evaluasi dan perubahan dalam proses pendidikan tersebut malah hanya lepas tangan begitu saja.
    1. Berbagai kasus yang timbul dalam pendidikan ini apakah faktor utama yang salah dalam pendidikan ?
    2. dengan timbulnya berbagai kasus kekerasan antara senior kepada junior dalam pendidikan apakan di karenakan kurangnya pelajaran tentang moral ?
    3. bagaimana cara mengatasi agar pemasalahan kasus kekerasan senior kepada junior dalam pendidikan ini bisa berkurang bahkan tidak terulang kembali ?
    4. Apakah ada hubungan antara proses pendidikan pada STIP yang lebih mengutamakan fisik dengan kekerasan yang dilakukan oleh senior kepada junior ?

    BalasHapus
  11. Devy Novianti
    4915133402
    P.IPS B 2013
    Rasa aman dalam proses pendidikan perlu adanya untuk membangun suatu kepercayaan antara pihak sekolah dengan orangtua. Orangtua tidak sertamerta menyekolahkan anaknya dimana saja, tetapi orangtua juga melihat keamanan dari sekolah tersebut. Keamanan dijadikan jaminan bagi orangtua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Oleh karena itu, rasa aman menjadi pertimbangan yang sangat besar.
    Untuk kasus yang sudah diuraikan diatas. Jika sekolah telah memberikan rasa tidak aman terhadap para mahasiswanya, maka timbulah rasa gelisah dan rasa tidak nyaman yang dalam mengganggu jalannya suatu proses pendidikan. Para mahasiswa disekoalah tersebut merasa takut, terbebani psikologinya.
    Banyak sekali kasus yang sama terjadi disekolah-sekolah, apakah sekolah yang melakukan hal tersebut (senior menyiksa junior) mendapatkan penegakan hukum dari pemerintah dengan hukuman seberat-beratnya?
    Apa salah satu pemicu banyaknya sekolah yang melakukan hal tersebut karena banyaknya tayangan tentang hal demikian di media elektronik ?
    Apakah kita dapat memberentikan penyiksaan anatara senior dengan junior aga tidak terulang kesalahan yang sama? Bagaimana caranya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAMA : RENI NURJANAH
      NIM : 4915131388
      KELAS : P. IPS A 2013

      Rasa aman memang sangat dibutuhkan bagi siapa saja. Bukan hanya dalam hal pendidikan tetapi juga dalam segala bidang yang menaungi semua masyarakat dalam berbagai macam kejahatan. Mengenai rasa aman dalam pendidikan, rasanya semua peserta didik mempunyai hak yang sama dalam menuntut ilmu. Tidak ada yang berkuasa diantara senior dan tidak ada yang lemah diantara junior. Semuanya sama dan seimbang dalam kacamata pendidikan. Namun beda halnya dengan STIP. Bukan hanya sekali perguruan tinggi ini menelan korban akibat para senior yang merasa berkuasa terhadap juniornya. Patut dipertanyakan ada apa sebenarnya di dalam sistem pendidikan yang diterapkan oleh STIP. Memang tidak ada yang salah dari sistem pendidikan, yang salah adalah bagaimana para pendidik mentransfer ilmu-ilmu kepada para murid atau mahasiswanya. Tidak cukup sampai disitu, seorang pendidik dituntut untuk bagaimana mencotohkan perilaku yang baik serta sopan santun di dalam mengajar. Dengan begitu peserta didik diharapkan mampu menilai mana pendidik yang baik serta sopan santun maupun pendidik yang senaknya saja di dalam mengajar. Dengan demikian peserta didikpun dapat menarik kesimpulan mana yang seharusnya dijadikan panutan di dalam pendidikan khusunya antara senior dengan junior.
      Dengan kejadian seperti ini bukan tidak mungkin akan menyeret banyak korban lagi. Agaknya sekarang orang beranggapan bahwa nyawa seseorang itu tidak ada harganya. Bayangkan saja setiap kali terjadi perkelahian antar pelajar maupun siapa saja, semuanya diselesaikan dengan cara membunuh atau menghabisikan nyawa seseorang. Sehingga bisa dibilang hukum yang berlaku di negara ini tidak menimbulkan efek jera bagi para pelanggarnya. Kalau sudah seperti ini mau dibawa kemana sistem pendidikan di Indonesia ini?.

      Pertanyaan :
      1. Adakah upaya pemerintah dalam mengatasi hal tersebut?
      2. Apakah ada peraturan di dalam UUD yang mengatur tentang rasa aman di dalam pendidikan? Kalau ada UUD nomer berapakah dan tahun berapa?
      3. Pelanggaran terhadap dunia pendidikan semakin merajalela, khususnya tindak kekerasan yang dilakukan antara senior dengan junior. Faktanya sudah banyak kasus-kasus sebelumnya yang menyeret tersangka kasus tindak kekerasan di dalam dunia pendidikan, tetapi tidak menimbulkan efek jera bagi pelanggarnya. Apakah ada yang salah dengan sistem hukum kita? Sehingga jarang menimbulkan efek jera bagi pelakunya.

      Hapus
    2. NAMA : RENI NURJANAH
      NIM : 4915131388
      KELAS : P. IPS A 2013

      Rasa aman memang sangat dibutuhkan bagi siapa saja. Bukan hanya dalam hal pendidikan tetapi juga dalam segala bidang yang menaungi semua masyarakat dalam berbagai macam kejahatan. Mengenai rasa aman dalam pendidikan, rasanya semua peserta didik mempunyai hak yang sama dalam menuntut ilmu. Tidak ada yang berkuasa diantara senior dan tidak ada yang lemah diantara junior. Semuanya sama dan seimbang dalam kacamata pendidikan. Namun beda halnya dengan STIP. Bukan hanya sekali perguruan tinggi ini menelan korban akibat para senior yang merasa berkuasa terhadap juniornya. Patut dipertanyakan ada apa sebenarnya di dalam sistem pendidikan yang diterapkan oleh STIP. Memang tidak ada yang salah dari sistem pendidikan, yang salah adalah bagaimana para pendidik mentransfer ilmu-ilmu kepada para murid atau mahasiswanya. Tidak cukup sampai disitu, seorang pendidik dituntut untuk bagaimana mencotohkan perilaku yang baik serta sopan santun di dalam mengajar. Dengan begitu peserta didik diharapkan mampu menilai mana pendidik yang baik serta sopan santun maupun pendidik yang senaknya saja di dalam mengajar. Dengan demikian peserta didikpun dapat menarik kesimpulan mana yang seharusnya dijadikan panutan di dalam pendidikan khusunya antara senior dengan junior.
      Dengan kejadian seperti ini bukan tidak mungkin akan menyeret banyak korban lagi. Agaknya sekarang orang beranggapan bahwa nyawa seseorang itu tidak ada harganya. Bayangkan saja setiap kali terjadi perkelahian antar pelajar maupun siapa saja, semuanya diselesaikan dengan cara membunuh atau menghabisikan nyawa seseorang. Sehingga bisa dibilang hukum yang berlaku di negara ini tidak menimbulkan efek jera bagi para pelanggarnya. Kalau sudah seperti ini mau dibawa kemana sistem pendidikan di Indonesia ini?.

      Pertanyaan :
      1. Adakah upaya pemerintah dalam mengatasi hal tersebut?
      2. Apakah ada peraturan di dalam UUD yang mengatur tentang rasa aman di dalam pendidikan? Kalau ada UUD nomer berapakah dan tahun berapa?
      3. Pelanggaran terhadap dunia pendidikan semakin merajalela, khususnya tindak kekerasan yang dilakukan antara senior dengan junior. Faktanya sudah banyak kasus-kasus sebelumnya yang menyeret tersangka kasus tindak kekerasan di dalam dunia pendidikan, tetapi tidak menimbulkan efek jera bagi pelanggarnya. Apakah ada yang salah dengan sistem hukum kita? Sehingga jarang menimbulkan efek jera bagi pelakunya.

      Hapus
  12. Annisa Ekafenty Ramadhania (4915131407)
    Pendidikan IPS A 2013

    Kasus kekerasan di STIP yang mengakibatkan kematian pada seorang junior STIP yang bernama Dimas bukanlah pertama kali dalam suatu konteks pendidikan di Indonesia. Mengapa demikian? Mengapa kekerasan tersebut dilakukan oleh para senior di STIP? Entahlah. Mungkin mereka melakukan kekerasan tersebut karena mempunyai maksud lain ataupun dendam yang tak berujung antar angkatan. Kekerasan tersebut adalah kekerasan fisik dan psikologis. Dengan adanya kejadian tersebut, kita dapat berkaca pada pendidikan kita yang gagal dalam membina siswanya agar mempunyai moral yang baik. Pendidikan Indonesia memerlukan sosok yang bertanggung jawab, bukanlah sosok yang biasa lari dari tanggung jawab. Karena pendidikan diutamakan agar siswa merasa nyaman dan aman selama proses pembelajaran. Bagaimana mereka merasa nyaman jika penuh dengan tekanan yang berpengaruh pada psikologis mereka. Pendidikan tanpa disertai rasa aman akan mengakibatkan gangguan dan kegagalan. Mengapa demikian? Karena rasa tidak nyaman tidak akan menciptakan pendidikan yang aman dan bermanfaaat. Tidak akan berhasil karena dari aspek psikologis berpengaruh pada peserta didik tersebut.
    1. Alasan apakah yang sangat mendasari adanya perselisihan antar senior dan junior dan apakah mereka tidak dibimbing selama pelatihannya menjadi taruna?
    2. Mengapa selalu terjadi kekerasan dan pembunuhan disetiap konteks pendidikan di Indonesia? Apakah pendidikan di Indonesia erat kaitannya dengan kekerasan?
    3. Apakah kekerasan pada anak berpengaruh pada lingkungan keluarganya?

    BalasHapus
  13. Luthfiyani Nadia (4915133432)
    PIPS B 2013

    Sebagai lembaga yang menciptakan generasi yang berpendidikan alangkah baiknya menciptakan keamanan dan kenyamanan untuk melaksanakan proses pembelajaran. Sehingga orangtua merasa tidak khawatir untuk menitipkan anaknya. Namun kelihatannya kekerasan senioritas telah menjadi tradisi untuk menyambut kedatangan murid baru. Alasannya untuk melatih mental. Tetapi melakukan kekerasan sampai merenggut nyawa junior sama sekali bukan melatih mental. Akibatnya berdampak pada mahasiswa lainnya. Dan seharusnya pihak STIP mengambil langkah untuk menangani hal itu. Mengapa lembaga pendidikan melakukan hal yang tidak berpendidikan? Apakah ada kesalahan dalam pembelajaran di STIP tersebut? Manakah metode penelitian yang tepat untuk menangani kasus ini?

    BalasHapus
  14. FASSA FARHATUSSHOLIHAH PUTRI / 4915131374
    P.IPS A 2013
    Mungkin banyak orang bahkan orang tua yang menganggap bahwa dalam dunia pendidikan sangat aman bagi terbentuknya pola perilaku dan pola fikir sang anak. Pendidikan yang di anggap bagus dan mahal pasti akan membentuk pola yang baik bagi sang anak. Dan akan menjadikan sang anak berprestasi. Padahal seharusnya janganlah menilai sesuatu itu dari luar nya saja. Sebuah perguruan yang baik, terpercaya, dan mahal tidak menjamin sebuah prestasi dan keselamatan sang anak. Contohnya saja JIS, sekolah yang berlatarbelakang International yang memang sangat terkenal mahal sekali biaya perbulannya. Apakah sekolah mahal itu menjajikan keselamatan sang anak? Tentu tidak. Berita dimana-mana menciratakan betapa memalukannya sekolah JIS itu. Dimana sekolah yang mencetak lulusan-lulusan yang baik dan pintar, malah membuat sang anak menjadi gagal dalam proses menuai pendidikan di JIS itu. Kita tahu pastinya, tidak mudah menajadi bagian mahasiswa STIP. Harus menjalani proses yang panjang dan sulit. Memang jika berhasil menjadi mahasiswa STIP itu akan menuai keberhasilan yang tentunya akan membanggakan diri sendiri dan keluarga apalagi orang tua. Seharusnya jika pada awalnya sangat susah menjadi mahasiswa STIP yang membutuhkan banyak proses, cukup hanya pada penerimaan mahasiswa baru saja, dan tidak ada embel-embel senioritas pada proses pembelajaran. Mungkin adanya senioritas karena untuk menjadikan mahasiswa menjadi tegas dan disiplin. Tetapi apakah itu semua harus dilakukan dengan cara memukuli dan sampai menyiksa para junior di STIP?. Mungkin jika tidak ada Dimas yang menjadi korban sampai ia meninggal, kelakuan senioritas di STIP itu tidaka akan terkuak. Dan tentunya akan menjadi rahasia pribadi antara senior dan junior. Disinilah ketegasan para petinggi STIP dilakukan, yang seharusnya lebih ikut campur tangan dan lebih ketat pada semua mahasiswa STIP. Jika dari awal saja sudah memakan korban dan dilakukan dengan cara kekerasan. Apakah pantas STIP masih berdiri sampai sekarang? Apakah pantas STIP menerima mahasiswa baru untuk ajaran baru nanti? Apakah masih ada orang tua yang ingin memasuki anaknya ke STIP?. Tentu semua masalah itu harus segera di selesaikan. STIP harus mencetak lulusan terbaik yang membanggakan tanpa adanya kekerasan!
    • Apakah masalah senioritas yang ada di STIP ini karena masalah psiokologi?
    • Apakah yang menjadi landasan utama bisa terjadinya masalah kekerasan yang di alami para junior yang dilakukan oleh para senior?
    • Apakah kekerasan yang terjadi karena senior ingin di hormati oleh para junior?

    BalasHapus
  15. FASSA FARHATUSSHOLIHAH PUTRI / 4915131374
    P.IPS A 2013
    Mungkin banyak orang bahkan orang tua yang menganggap bahwa dalam dunia pendidikan sangat aman bagi terbentuknya pola perilaku dan pola fikir sang anak. Pendidikan yang di anggap bagus dan mahal pasti akan membentuk pola yang baik bagi sang anak. Dan akan menjadikan sang anak berprestasi. Padahal seharusnya janganlah menilai sesuatu itu dari luar nya saja. Sebuah perguruan yang baik, terpercaya, dan mahal tidak menjamin sebuah prestasi dan keselamatan sang anak. Contohnya saja JIS, sekolah yang berlatarbelakang International yang memang sangat terkenal mahal sekali biaya perbulannya. Apakah sekolah mahal itu menjajikan keselamatan sang anak? Tentu tidak. Berita dimana-mana menciratakan betapa memalukannya sekolah JIS itu. Dimana sekolah yang mencetak lulusan-lulusan yang baik dan pintar, malah membuat sang anak menjadi gagal dalam proses menuai pendidikan di JIS itu. Kita tahu pastinya, tidak mudah menajadi bagian mahasiswa STIP. Harus menjalani proses yang panjang dan sulit. Memang jika berhasil menjadi mahasiswa STIP itu akan menuai keberhasilan yang tentunya akan membanggakan diri sendiri dan keluarga apalagi orang tua. Seharusnya jika pada awalnya sangat susah menjadi mahasiswa STIP yang membutuhkan banyak proses, cukup hanya pada penerimaan mahasiswa baru saja, dan tidak ada embel-embel senioritas pada proses pembelajaran. Mungkin adanya senioritas karena untuk menjadikan mahasiswa menjadi tegas dan disiplin. Tetapi apakah itu semua harus dilakukan dengan cara memukuli dan sampai menyiksa para junior di STIP?. Mungkin jika tidak ada Dimas yang menjadi korban sampai ia meninggal, kelakuan senioritas di STIP itu tidaka akan terkuak. Dan tentunya akan menjadi rahasia pribadi antara senior dan junior. Disinilah ketegasan para petinggi STIP dilakukan, yang seharusnya lebih ikut campur tangan dan lebih ketat pada semua mahasiswa STIP. Jika dari awal saja sudah memakan korban dan dilakukan dengan cara kekerasan. Apakah pantas STIP masih berdiri sampai sekarang? Apakah pantas STIP menerima mahasiswa baru untuk ajaran baru nanti? Apakah masih ada orang tua yang ingin memasuki anaknya ke STIP?. Tentu semua masalah itu harus segera di selesaikan. STIP harus mencetak lulusan terbaik yang membanggakan tanpa adanya kekerasan!
    • Apakah masalah senioritas yang ada di STIP ini karena masalah psiokologi?
    • Apakah yang menjadi landasan utama bisa terjadinya masalah kekerasan yang di alami para junior yang dilakukan oleh para senior?
    • Apakah kekerasan yang terjadi karena senior ingin di hormati oleh para junior?

    BalasHapus
  16. Nama : Rizky Rachmawati (4915131381)
    Kelas : P.IPS A 2013
    Sudah banyak sekali kejadian yang berujung kematian pada dunia pendidikan di Indonesia ini. Penyebab-penyebabnya banyak dan terkadang tidak jelas sama sekali. Pendidikan seharusnya mengajarkan tentang moral yang baik agar dapat diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari nantinya. Kalau dipikir kejadian seperti itu akan terus berlanjut tanpa ada ujungnya. Adanya ajang balas dendam teman-teman korban terhadap para senior semakin mempersulit keadaan untuk distabilkan. Jika nantinya yang junior ini aka menjadi senior, takutnya mereka akan membalaskan dendamnya kepada adik kelasnya. Kalau terjadi kekerasan terus menerus seperti itu, apa mungkin ada peserta didik baru yang ingin masuk dan mengikuti pembelajaran di tempat itu? rasanya sangat mustahil bila ada peserta didik baru yang berminat mendaftar di sekolah tinggi itu. Sebelum mereka mendaftar, mereka pasti akan berpikir dan takut kalau mereka yang akan menjadi korban selanjutnya. Karena yang diperlukan dalam pendidikan itu rasa nyaman dan tentram dalam proses menuntut ilmu. Dan kehidupan yang saling menghormati hak dan kewajiban orang lain sangat dibutuhkan untuk mencapai kehidupan yang tentram dan damai tidak ada lagi kekerasan yang menimbulkan kematian.
    Pertanyaan :
    1. Apa yang harus dilakukan apabila dari sekolah yang bersangkutan tidak betanggung jawab terhadap kejadian ini?
    2. Hukuman apa yang pantas diberikan kepada pelaku tindakan kekeraasan yang berujung kematian ini?dan mengapa tindakan seperti ini bisa terjadi, apa penyebab utamanya?
    3. Bagaimana bisa tindakan seperti ini terjadi?alat keamanan yang ada bahkan sudah canggih, apakah yang perlu ditegaskan lagi pada pendidikan seperti ini?

    BalasHapus
  17. Rikky Leander
    4915133427
    PIPS REG B 2013

    Rasa aman pastilah dibutuhkan oleh setiap manusia. Rasa aman sangatlah perlu dan penting untuk diri setiap masing-masing orang. Rasa aman juga sangat penting dibutuhkan oleh sebuah lembaga instansi pendidikan. Dalam proses pembelajaran, kita sebagai pelajar pasti membutuhkan sebuah perlindungan dan rasa aman dari segala hal yang dapat mengancam,mengganggu keamanan dan kenyamanan diri kita. Ketika kita tidak mendapatkan suatu jaminan keamanan, maka di dalam hati kita dan orangtua kita pastilah ada suatu perasaan yang boleh jadi timbul rasa ketakutan. Ketika pihak lembaga instansi pendidikan tak mampu memberikan jaminan pendidikan kepada setiap murid atau peserta didiknya, disinilah muncul kesewenang-wenangan para senior yang telah lebih dahulu masuk di sebuah instansi pendidikan tersebut. Boleh jadi para korban di sekolah STIP tersebut adalah karena kekejaman yang ia terima dari seniornya. Memang sebuah konsep “senioritas” dalam sebuah pendidikan pastilah ada dan tak dapat di tolak. Namun, ketika pemerintah dan orang yang berkuasa dalam instansi pendidikan tidak mampu untuk memberikan peringatan keras bagi para senior yang berlaku sewenang-wenangnya kepada junior, boleh jadi para senior akan terus memberikan korban-korban baru bagi peserta didik yang tak tahan fisik, mental, dan spiritualitas. Tak luput juga sebuah kasus kecil ini telah merajut dan merana kedalam pemikiran setiap orang tua. Itulah yang membuat mereka selalu terus menuntut kepastian jaminan keselamatan dan rasa aman. Mungkin tak hanya Dimas saja yang tak mau berbagi tentang hal apa saja yang diterimanya di STIP, melainkan menurut saya teman-teman Dimas pun juga sama seperti dia. Tak mau buka mulut, tak mau memberikan sebuah rahasia pahit.
    apa yang membuat hal ini bisa terjadi ?
    mungkin bila kita sedikit berpsekulasi, maka kita akan mendapatkan jawabannya yaitu: (“ADANYA KECAMAN DAN ANCAMAN DARI PARA SENIOR BAJINGAN”) apabila hal tersebut disebarluaskan dan diberitahu kepada orangtua ataupun pejabat tinggi sekolah mereka tak segan-segan untuk memberikan hukuman atau bahkan membunuhnya. Dan juga ironis sekali, para petinggi sekolah dan pemerintah terkesan hanya diam saja serta lepas tangan dari kasus ini. Mereka tak mampu mengungkapkan misteri dari kematian saudara Dimas ini. Mereka pun tak mampu memberikan jaminan keselamatan bagi setiap orang tua siswa-siswa lainnya. Mungkinkah pendidikan di negeri kita ini akan maju jika jaminan keselamatan saja tak mampu untuk terpenuhi ?
    ~terimakasih.

    Pertanyaan :
    1.Bagaimana cara untuk megungkap misteri kematian Dimas yang terjadi di dalam lembaga pendidikan STIP ?
    2.Mengapa pemerintah dan para pejabat tinggi STIP tak mampu mengungkap, dan memberikan keselamatan kepada setiap siswa nya ? apa penyebabnya ?
    3.Apakah cara yang harus dilakukan agar hal tersebut tidak lagi terjadi di dalam pendidikan kita ?
    4.Mengapa rasa aman dalam pendidikan, sangatlah mempengaruhi tingkat konsentrasi siswa dalam belajar ?
    5.bagaimana cara merubah pola pemikiran konsep “senioritas” yang buruk menjadi yang baik dalam sebuah kampus ataupun sekolah-sekolah ?

    BalasHapus
  18. Ayu Anggraeni
    P.IPS A / 2013

    Saya setuju dengan bapak seharusnya lembaga pendidikan itu dapat memberikan keamanan dan kenyamanan bagi peserta didik bukan malah menjadi ajang balas dendam antara senior kepada juniornya. Paradigma semacam ini harusnya sudah hilang dan tinggalkan sejak dulu oleh para peserta didik karena tujuan dari penyelenggaraan pendidikan adalah menyiapkan para peserta didiknya agar mampu beradaptasi dengan lingkungan.
    Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
    Dari defenisi itu saja telah menunujukan bahwa lembaga pendidikan harusnya dapat menjadi sarana pembelajaran yang tepat untuk peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya, lemabaga pendidikan juga sudah sepatutnya memberi jaminan keamanan dan kenyamanan baik bagi orang tua yang menitipkan anak-anaknya maupun bagi peserta didik yang menuntut ilmu di lembaga pendidikan.
    Lembaga pendidikan yang baik memang perlu adanya kedisiplinan namun kedisplinan dan ketegasan yang diterapkan agaknya perlu diimbangi dengan rasa kemanusian karena secara psikologis anak yang dididik dilingkungan yang keras dan hidup dengan penuh tekanan dan ketakutan maka akan mencetak anak- anak didik dengan karakter dan sifat yang pendendam, keras, tidak memiliki rasa empati dan simpati seperti kebanyakan anak yang lain. Kalau sudah seperti ini lantas apa bedanya anak yang didik di lembaga pendidikan dengan anak –anak yang hidup di jalanan yang bermental Preman. Agar peristiwa ini tidak terjadi kembali dalam dunia pendidikan maka sepatutnya lembaga pendidikan yang terkait dapat bekerja sama untuk menuntaskan kasus-kasus seperti ini bukan malah menutup-nutupi segala ketidak wajaran yang ada dilembaga pendidikan terkait. Selain itu pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap kasus ini jangan lepas tangan dan bertindak seolah- olah tidak terjadi apapun.
    1. Mangapa pihak STIP terkesan acuh dan menutup-nutupi kasus kematian dari sisiwanya?
    2. Adakan upaya yang tegas dari lembaga pemerintah untuk mengatasi kasus kekerasan ini?
    3. Apakah tidak ada peraturan yang nyata daan transparansi dari lembega pendidikan terhadap orang tua peserta didik yang menjelaskan bagaimana pelaksanaan pendidikan di STIP?



    BalasHapus
  19. NAMA: NUR ANISA ATMAJA
    PRODI: P.IPS.A.2013
    NIM : 4915131383

    Jika kita berkata istilah pendidikan, yang ada difikiran kita adalah
    sesuatu yang positif. Namun berbeda sekali pada kenyataan-kenyataan
    yang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia saat ini. Beberapa
    tahun yang lalu kita dikagetkan dengan berita mengenai kekerasan dan
    ajang bully membully yang dilakukan senior kepada juniornya di STPDN
    yang sekarang bernama IPDN. Kasus tersebut telah diusut, dan sekarang
    tidak terulang kembali di IPDN. Lantas apakah kasus seperti itu sudah
    selesai hanya di IPDN saja? Tidak, kali ini terjadi kembali di STIP.
    Sekolah pemerintahan yang juga hampir sama dengan IPDN. Dan lagi, di
    salah satu sekolah SD di jakarta timur siswa kelas 5 SD tewas akibat
    dibully seniornya. Mengapa dalam dunia pendidikan yang justeru para
    peserta didiknya bisa menjadi teladan, malah menjadi seorang yang
    temperamental, brutal, dan bersifat premanisme? Ada yang tidak beres
    dalam sistem pendidikan kita. Pengembangan nilai moral, agama, dan
    mental yang baik sudah di diusahakan para pendidik terhadap peserta
    didik. Tapi mengapa masih saja ada kejadian yang mencoreng makna baik
    sebuah pendidikan. Menurut saya, banyak pengaruh dari luar konteks
    pendidikan dalam diri peserta didik. Meskipun tak dipungkiri bahwa
    perilaku peserta didik bisa dipengaruhi dari dalam tubuh pendidikan
    sendiri. Pengaruh dari luar pendidikan bisa dipengaruhi karena konflik
    pribadi dalam keluarga, tayangan-tayangan yang tidak mendidik, dan
    pergaulan diluar sekolah. Sedangkan pengaruh yang bisa saja terjadi
    karena pendidikan itu sendiri yaitu, terkadang seorang guru (pendidik)
    sering berlaku kasar terhadap muridnya, suasan belajar mengajar yang
    membuat tidak nyaman dan tertekan. Akhirnya, bully dan kekerasan
    menjadi sarana untuk melampiaskan rasa kecewa dan marah mereka , tanpa
    berpikir panjang. Hal ini membuat para orang tua khawatir terhadap
    anaknya yang bersekolah. Jika sudah ada kejadian seperti ini,
    hendaknya dari pihak sekolah dan keluarga juga dapat mencegahnya.
    Keamanan harus lebih diperketat, salah satunya penggunaan cctv
    disetiap ruangan. Para pendidik harus lebih peka dan empati terhadap
    siswanya. Begitu juga orang tua, harus memperhatikan pola perilaku
    anaknya.
    Pertanyaan:
    1. Bagaimana agar mental anak bangsa ini tidak premanisme?
    2. Bagaimana peran seorang guru untuk bisa peka dan empati terhadap siswanya?
    3. Apakah orang tua merupakan alat terpenting untuk keberhasilan dalam
    pendidikan anaknya?

    BalasHapus
  20. Hamdan yusra
    P.IPS B 2013

    Kekerasan, seharusnya hanya terjadi di ring tinju. pendidikan bukan sebuah arena saling adu "jotos", apalagi oleh orang - orang yang ber-kepala "plontos". tak hanya STIP, IPDN saja yang terdapat kekerasan dalam proses belajarnya, hampir di setiap sekolah, melalui ajang yang di"atasnama"kan. masa pengenalan kampus atau sekolah, malah akhirnya berujung tumpah darah. yang tadinya hanya sekedar bertujuan baik tapi membuat bulu kuduk menggelidik, yang tadinya hanya bertujuan agar murid atau mahasiswa baru menjadi terbiasa malah membuat si MABA tergeletak tak bernyawa, sungguh ironis, kemana para rektor?, jajarannya, bagian kemahasiswaan?. jangan hanya ingin menarik uang mahasiswa tapi malah membuat mereka tak bernyawa. Perlu adanya pengawasan yang lebih ketat. Memang di kampus-kampus itu telah ada yang namanya TPM,DPM yang bertugas sebagai tempat keluh kesah, tapi ternyata tak begitu memuaskan. Adanya rasa ego dari para senior dan ketakutan dari para mahasiswa baru yang membuat ini tak dapat di antisipasi. saya rasa perlu uluran tangan semua pihak dalam menyelesaikan mata rantai kekerasan ini.

    1. siapa yang berwenag dalam mengantisipasi hal-hal seperti ini?
    2. Bisakah dinas pendidikan melakukan intervensi dalam kasus ini?, sepertiapa?
    3. apa yang dapat kita lakukan untuk memutus mata rantai kekerasan dalam lingkungan pendidikan ini?

    BalasHapus
  21. Nama: Marsella Dwi Rahmah
    NIM: 4915131394
    Tindak kekerasan yang berujung kematian sudah terjadi 2kali di STIP ini, yang pertama terjadi didalam kampus dan yang kedua ini terjadi diluar kampus. Walaupun begitu seharusnya petinggi STIP setidaknya jangan masa bodo dengan kasus yang terjadi, jika ini sudah terjadi berulang-ulang tentu orangtua dan masyarakat tidak akan mempercayai anak-anaknya untuk melanjutkan sekolah disitu dan juga membuat nama baik STIP menjadi jelek. Wajar bila para orangtua merasa cemas mungkin takut bila kekerasan yang berujung kematian itu terjadi kepada anaknya. Menurut saya sudah tidak jamannya lagi senioritas/perpeloncoan disekolah. Kedinasan itu boleh-boleh saja, yang tidak boleh itu kekerasannya. Lagipula diadakannya kedinasan itu kan untuk memperkenalkan dalam lingkungan belajar yang baru kepada mahasiswa yang ingin sekolah disitu bukan ajang untuk menunjukkan senioritas. Jika kekerasan seperti ini terjadi, gangguan fisik dan psikis pada anak sudah pasti terganggu, anak mungkin mendapat ancaman dan ia merasa tertekan. Gangguan seperti ini tidak mungkin dapat menghasilkan anak didik yang berhasil karena ia belajar dibawah tekanan dan merasa dirinya tidak aman. Rasa aman dalam pendidikan itu sangat diperlukan agar anak didik bisa belajar dengan nyaman dan fokus. Entah itu rasa aman dari segi lingkungan ataupun dalam proses pendidikan itu tersebut. Sudah sepatutnya Kemendikbud dan Kemenhub menyelidiki kasus ini dan kasus-kasus kekerasan yang terjadi di lembaga sekolah manapun serta memperbaiki metode pembinaan disekolah tersebut.
    1. Apa yang harusnya dilakukan agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi?
    2. Bagaimana kedinasan itu seharusnya dilakukan? Apakah ada batasan-batasan yang bersifat tertulis yang diberikan petinggi STIP tersebut kepada para senior disitu?
    3. Tindakan apa yang harus dilakukan agar pelaku yang terkait kasus kekerasan ini jera dan tidak akan mengulanginya lagi?

    BalasHapus
  22. Nama: Marsella Dwi Rahmah
    NIM: 4915131394
    Tindak kekerasan yang berujung kematian sudah terjadi 2kali di STIP ini, yang pertama terjadi didalam kampus dan yang kedua ini terjadi diluar kampus. Walaupun begitu seharusnya petinggi STIP setidaknya jangan masa bodo dengan kasus yang terjadi, jika ini sudah terjadi berulang-ulang tentu orangtua dan masyarakat tidak akan mempercayai anak-anaknya untuk melanjutkan sekolah disitu dan juga membuat nama baik STIP menjadi jelek. Wajar bila para orangtua merasa cemas mungkin takut bila kekerasan yang berujung kematian itu terjadi kepada anaknya. Menurut saya sudah tidak jamannya lagi senioritas/perpeloncoan disekolah. Kedinasan itu boleh-boleh saja, yang tidak boleh itu kekerasannya. Lagipula diadakannya kedinasan itu kan untuk memperkenalkan dalam lingkungan belajar yang baru kepada mahasiswa yang ingin sekolah disitu bukan ajang untuk menunjukkan senioritas. Jika kekerasan seperti ini terjadi, gangguan fisik dan psikis pada anak sudah pasti terganggu, anak mungkin mendapat ancaman dan ia merasa tertekan. Gangguan seperti ini tidak mungkin dapat menghasilkan anak didik yang berhasil karena ia belajar dibawah tekanan dan merasa dirinya tidak aman. Rasa aman dalam pendidikan itu sangat diperlukan agar anak didik bisa belajar dengan nyaman dan fokus. Entah itu rasa aman dari segi lingkungan ataupun dalam proses pendidikan itu tersebut. Sudah sepatutnya Kemendikbud dan Kemenhub menyelidiki kasus ini dan kasus-kasus kekerasan yang terjadi di lembaga sekolah manapun serta memperbaiki metode pembinaan disekolah tersebut.
    1. Apa yang harusnya dilakukan agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi?
    2. Bagaimana kedinasan itu seharusnya dilakukan? Apakah ada batasan-batasan yang bersifat tertulis yang diberikan petinggi STIP tersebut kepada para senior disitu?
    3. Tindakan apa yang harus dilakukan agar pelaku yang terkait kasus kekerasan ini jera dan tidak akan mengulanginya lagi?

    BalasHapus
  23. Nama : Vivich Husnul Khotimah
    NIM : 4915131387
    Jurusan : Pendidikan IPS A 2013
    Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
    Menurut saya seharusnya para pendidik Indonesia mempunyai kemampuan sosial atau kepekaan terhadap anak didiknya, ini merupakan suatu bentuk perhatian kepada peserta didik. Kepekaan itu perlu ditumbuhkan pada setiap para pendidik agar mengetahui keadaan personal peserta didik dan bisa memperhatikan pertumbuhan anak didik. Peserta didik bukan hanya mempunyai tanggung jawab sebagai pentransfer ilmu dikelas tetapi juga mempunyai tanggung jawab moral ataupun sosial terhadap peserta didik.
    Pendidik (Guru) adalah orang yang memiliki moral, penuh dengan dedikasi, dan mampu menumbuhkan kemampuan berfikir kritis terhadap peserta didik (siswa). Tetapi berdasarkan kasus yang terjadi di STIP, sepertinya pendidikan di Indonesia sungguh telah berubah menjadi dunia yang menyeramkan, tidak memberikan kebebasan kepada anak, tidak memberikan rasa kenyamanan dan keamanan kepada anak. Jika warna pendidikan di Indonesia seperti itu, tidak memungkinkan cetakan yang dihasilkan akan mengalami kecacatan. Maksudnya adalah pendidikan kita bukannya melahirkan generasi yang bebas berekspresi, berfikir kritis dan cerdas tetapi melahirkan generasi yang penuh dengan ketertekanan, gangguan dan kegagalan.
    Peradaban manusia semakin maju berkembang mengikuti perkembangan zaman, pendidikan Indonesia pun semestinya semakin maju dan belajar dari pengalaman-pengalaman yang penuh dengan kepahitan. Pemikiran masyarakat Indonesia tetunya semakin terdidik dan meninggalkan pemikiran-pemikiran terbelakang yang sangat tidak manusiawi seperti senioritas. Seiring dengan perkembangan pendidikan Indonesia, senioritas semestinya sudah ditiadakan karena hanya akan meninggalkan coreng hitam pendidikan dengan perbuatan yang tidak manusiawi seperti itu. Dalam pendidikan anak-anak kita butuh kebebasan berekspresi, kenyamanan dan keamanan dalam belajar untuk mendukung keberhasilan anak dalam proses pendidikan.
    Pertanyaan :
    1. Mengapa bisa terjadinya senioritas?
    2. Bagaimana memberikan rasa aman kepada peserta didik?
    3. Kapan pertama kali kekerasan terjadi di ranah pendiidkan?

    BalasHapus
  24. Syifa Wulandari (4915133405)
    P.IPS B 2013
    Lembaga pendidikan merupaka lembaga yang menyelenggarakan pendidikan dengan secara sadar dan terencana. Lembaga pendidikan tidak hanya kegiatan belajar mengajar didalamnya seperti memberikan atau mentransfer ilmu dan mengasah kemampuan dan keterampilan namun tempat melatih kedisiplinan, menghargai, menghormati guru dan sesama teman. Dengan begitu pentingnya lembaga pendidikan maka sungguh sangat memalukan dan memprihatinkan kejadian-kejadian yang menimpa peserta didik seperti yang sudah-sudah terjadi, kini kekerasan didalam lembaga pendidikan terulang lagi yaitu di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Lagi-lagi yang menjadi persoalan adalah tindakan sewenang-wenang senior terhadap juniornya yang menyebabkan satu mahasiswa harus meninggal dunia dan beberapa mahasiswa lain mengalami cedera. Kasus kekerasan dalam pendidikan haruslah menjadi masalah penting yang harus diselesaika oleh segenap lembaga-lembaga lain yang bersangkutan. Saya sangat setuju dengan bapak bahwa lembaga pendidikan harus tegas dalam peraturan dan tak kalah penting adalah menjamin rasa aman dan nyaman peserta didik juga orang tua peserta didik. Rasa aman dan nyaman memang memengaruhi proses pendidikan yaitu prestasi akademik peserta didik. Jika ada jaminan rasa aman dan nyaman maka perserta didik pun dengan seratus persen menikmati proses belajar mereka di sekolah atau perguruan tinggi yang sedang mereka jalani tanpa harus ada rasa takut atau terintimidasi oleh senior-senior mereka.
    Pertanyaan:
    1. Metode penelitian seperti apakah yang harus digunakan dalam untuk mendalami kasus ini?
    2. Apakah sangat diperlukan membentuk tim independen untuk menuntaskan dan mengatahui akar dari kasus kekerasa ini?
    3. Apa faktor apa yang menyebabakan tindakan senioritas yang sering melakukan pembully-an terhadap juniornya?
    Terima kasih.

    BalasHapus
  25. INTAN BAHRIANI KHAER
    4915131391
    PIPS A 2013

    Benar apa yang dikatakan oleh Bapak. Rasa tertekan dan merasa tidak aman sangat mengganggu proses pendidikan. Hal ini lebih cenderung kepada penekanan psikis peserta didik, hanya beberapa tempat pendidikan yang menekankan psikis dan juga fisik anak. Ada beberapa tempat mencari ilmu alias sekolah atau perguruan tinggi yang menyalahi prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Ini juga seharusnya menjadi pekerjaan rumah yang harus diusut tuntas oleh pemerintah. Kebanyakan tindakan tegas akan dilakukan apabila telah ada korban dan telah ada yang menuntut, bukan mencegah tapi mengobati. Seperti kasus pelecehan seksual anak usia dini di Jakarta Internasional School yang kini sedang merajai berita di media massa. Sekolah Internasional yang katanya tidak memiliki izin? Bagaimana bisa? Sekolah seluarbiasa ketat dalam keamanan ini mempekerjakan guru dan pegawai yang tidak bersih alias cabul. Banayk anak kecil yang masih dalam proses pertumbuhan menjadi korbannya. Ini membuat orangtua menjadi sangat bingung dan khawatir. Mengapa di dalam lembaga pendidikan saja terjadi hal yang sangat biadab, apalagi di lingkungan bebas. Sungguh tak beradab pendidikan di Indonesia. TK dicabuli, SD dianiaya kaka kelasnya sampai mati, SMP dan SMA tawuran dan menggunakan obat terlarang, hingga perguruan tinggi pun dianiaya senior hingga tewas.

    Pertanyaan:
    1. Sebagai masyarakat, kita harus meminta tanggung jawab kepada siapa apabila pemerintah dan pemimpin tempat pendidikan menutup diri dari berbagai tuduhan?
    2. Apakah sudah tidak ada tempat mencari ilmu yang aman dan nyaman?
    3. Apa saja dampak dari proses pendidikan yang biadab seperti ini?

    BalasHapus
  26. Eka Ma’rifah
    P.IPS A 2013
    4915131384
    Nyaman dan aman. Itulah sesungguhnya yang sangat dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani kehidupan. Jika manusia telah merasakan nyaman dan aman itu, manusia akan dapat mengeksplor kemampuan dirinya dengan rasa ikhlas dan senang hati, bukan karena tekanan dan paksaan. Dalam pendidikan, kenyamanan dan keamanan itu mutlak diperlukan, peserta didik harus merasa nyaman dengan lingkugan belajarnya, termasuk teman kelas, pelajaran yang didapat, pendidik, dan tak terkecuali adalah senior. Namun senioritas selama ini memang masih menghiasi pendidikan di negeri ini, terutama senioritas di lingkungan kampus. Hal ini tentu membuat mereka yang berstatus junior merasa tidak nyaman. Mereka merasa takut, apalagi telah banyak beredar kasus kekerasan oleh senior, yang bahkan sampai memakan korban jiwa. Ini tentu akan mengganggu kegiatan belajar mereka. Melihat fenomena yang semakin marak ini, pemerintah sebagai penguasa negara seharusnya bertidak tegas, bukan malah melepas tanggungjawab begitu saja, karena ini menyangkut generasi muda kita, generasi penerus bangsa.
    1. Faktor apakah yang mendorong “senioritas” itu ?
    2. Mengapa pemerintah terkesan lepas tanggungjawab begitu saja, padahal ini masalah serius yang harus dicari solusinya?
    3. Bagaimanakah peran orang tua seharusnya?

    BalasHapus
  27. Irma Lutfiana (4915131378)
    P.IPS A 2013

    Sebagai lembagai pendidikan, seharusnya STIP menjadi tempat yang aman juga nyaman bagi mahasiswanya. Baik dari lingkungan, fasilitas, maupun pengelola di dalamnya. Suasana belajar yang aman dan nyaman memang tergantung pada kondisi psikologis mahasiswanya. STIP memang merupakan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, yang sudah pasti kebanyakan mahasiswa pria yang ada di sana. Namun, tidak sepantasnya seorang senior memukul bahkan sampai menghabisi nyawa junior. Hak Asasi Manusia seakan tak berguna bahkan tak dimiliki oleh para junior ini. Sebagai seorang senior, dapat dikatakan sudah lama menjadi mahasiswa di sana sudah seharusnya membimbing dan menjadi teladan bagi juniornya bukan untuk menganaiaya apalagi sampai membunuhnya. Dalam lingkungan belajar memang diperlukan rasa aman dan nyaman untuk dapat menjalani proses belajar mengajar yang kondusif. Apabila tak ada rasa aman dan nyaman tentu suasana belajar akan kacau bahkan akan terjadi kegagalan.
    1. Apa yang menjadi pemicu kekerasan itu dan mengapa selalu terjadi?
    2. Mengapa STIP menutupi kasus pembunuhan yang dilakukan di luar STIP?
    3. Bagaimana upaya mendikbud mengatasi masalah ini?

    BalasHapus
  28. Nama : Raras Elvinza
    No. Reg : 4915131395
    Jurusan : P.IPS Reg A

    Saya setuju dengan tulisan Bapak diatas. Diberbagai tingkat pendidikan apapun diperlukan rasa aman, karena tanpa rasa aman proses pendidikan akan mengalami gangguan dan berujung kegagalan. Kekerasan antara senior terhadap juniornya memang kerap terjadi, bukan hanya terjadi di STIP tetapi hampir disetiap sekolah yang memang memiliki senioritas yang tinggi. Rasa aman dalam pendidikan sering kali banyak yang tak memperdulikannya, padahal rasa aman berkaitan dengan kenyamanan yang akan berdampak pada prestasi yang akan dihasilkan oleh peserta didik itu sendiri. Begitu pentingnya rasa aman sampai-sampai di dunia pendidikan pun dibutuhkan rasa aman demi terciptanya keselarasan dan kenyamanan dalam suasana belajar. Dalam proses pendidikan pasti tujuan utama kita adalah untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan yang nantinya akan kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jika kita ingin mencapai tujuan pendidikan tersebut tentu saja lingkungan di sekitar kita pun harus mendukung yaitu harus memberikan rasa aman dan nyaman kepada kita agar kita dapat fokus serta merasa nyaman berada di lingkungan tersebut.
    1. Bagaimana peran sekolah agar kekerasan tidak akan terjadi lagi?
    2. Apa yang melatar belakangi sebuah penyelesaian dengan tindakan kekerasan?
    3. Apa upaya pemerintah dalam mengatasi hal tersebut?

    BalasHapus
  29. Siti Mastoah
    P.IPS A 2013

    Saya sangat setuju dengan tulisan bapak yang berjudul "Rasa Aman dalam Pandidikan" ini. karena memang benar rasa aman dalam pendidikan sangat diperlukan bagi para pelajar maupun mahasiswa. seharusnya dalam dunia pendidikan, keamanan sangat di utamakan agar tidak terjadi kepada hal-hal yang negatif. seperti yang telah bapak kemukakan di atas, tanpa rasa aman, proses pendidikan akan mengalami gangguan. baik itu gangguan fisik maupun psikologis pada si anak yang mengalami kekerasan tersebut. namun, rasa aman tidak hanya pada dunia pendidikan saja, melainkan dalam segala aspek kehidupan juga. manusia sangat memerlukan adanya kenyamanan dan keamanan dalam hidupnya.
    kemudian, menurut saya mengenai kasus STIP yang terjadi pada junior yang bernama Dimas akibat ulah dari para seniornya yang tidak berprikemanusiaan tersebut merupakan kasus yang tidak asing lagi. banyak kasus yang sering terjadi di sekolah-sekolah lainnya. ini menandakan bahwa pendidikan yang ada di indonesia keamanannya sangat kurang dan banyak mengalami kegagalan. bahkan sangat tragis sekali jika mendengar bahwa pimipinan-pimpinan yang ada d negara kita ini tidak berempati sama sekali. mereka sangat tidak memikirkan nasib para korban yang mengalami kekerasan tersebut padahal kekerasan tersebut berujung pada kematian. hal ini akan menimbulkan gangguan psikologis terhadap anak didik yang lainnya. mereka merasa hidupnya terjajah akibat ulah para senior dan pimpinan yang tidak memiliki rasa tanggung jawab.
    1. adakah peran pemerintah dalam mengatasi kasus STIP diatas ???
    2. apa yang melatarbelakangi terjadinya banyak kekerasan dalam dunia pendidikan ???
    3. mengapa para pimpinan yang ada di negara kita ini sangat kurang untuk mengutamakan keamanan dalam pendidikan ???

    BalasHapus
  30. Anzani Mutiara
    4915131398
    P.IPS A 2013

    Menurut saya kenyamanan memang sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan, karena dengan adanya rasa nyaman yang dimiliki oleh peserta didik, maka tujuan dari pendidikan itu akan tercapai, namun sebaliknya bila tidak adanya rasa nyaman dalam proses belajar maka tidak akan berhasil tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Seperti tulisan yang Bapak jelaskan mengenai tindak kekerasan yang dilakukan senior terhadap juniornya di STIP, pastilah rasa takut akan menyelimuti para peserta didik di sekolah tinggi tersebut, begitu mengetahui bahwa salah satu rekan mereka ada yang meninggal. Ini merupakan kasus yang begitu mengerikan, karena hilangnya rasa kemanusiawian mereka, hingga berani melakukan tindakan yang menghilangkan nyawa seseorang. Tentulah dengan adanya kasus seperti ini, para taruna STIP merasa tidak nyaman dan takut. Pendidikan bukan hanya bertujuan untuk mencerdaskan otak kita, namun juga bertujuan untuk mencerdaskan perilaku seseorang. Moral yang yang baik merupakan salah satu cerminan dari pendidikannya yang baik pula. Keberhasilan pendidikan dapat kita lihat dalam perilaku peserta didik di dalam kesehariannya. Dalam mewujudkan keberhasilan itu, perlu adanya rasa nyaman, sehingga para peserta didik tidak merasa tertekan.
    1. Mengapa tindakan kekerasan di STIP dapat terjadi hingga menewaskan nyawa seseorang ?
    2. Apa yang harus dilakukan agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi ?
    3. Apa yang harus dilakukan para pendidik agar dapat membentuk moral yang baik bagi para peserta didiknya ?

    BalasHapus
  31. SITI ALAWIYAH
    491513135

    Kekerasan yang terjadi di STIP yang menyebabkan salahsatu mahasiswanya meninggal karena dipukuli oleh kakak seniornya sangatlah memprihatinkan. Bagaimana bisa dalam sebuah lembaga pendidikan dapat terjadi hal seperti itu bukannya lembaga pendidikan berfungsi sebagai tempat menuntut ilmu yang diperlukan kenyaman dan keamanan di dalamnya. Bisa saya rasakan bagaimana perasaan mahasiswa yang kuliah disana. Pastilah mereka sangat tertekan kuliah disana. Mereka harus tunduk dengan kakak senior bila tidak mereka dapat dipukuli. Kebebasan dalam bertindak dan berpendapat sepertinya juga tidak ada sama sekali di sana. Padahal setiap manusia mempunyai hak untuk melakukan apapun dan berpendapat yang telah ditulis dalam UU.
    Dunia pendidikan sangat memerlukan rasa nyaman dan aman di dalamnya. Karena kenyaman dan keamanan dapat membuat siswa yang belajar disana dapat lebih berani dalam mengeluarkan pendapat-pendapat mereka tanpa perlu takut akan ada tekanan didalamnya. Membuat siswa dapat mengeluarkan semua bakat yang mereka memiliki dan dapat mereka pakai kelak setelah lulus dalam dunia pendidikan. Membuat mereka menjadi senang dalam mencari ilmu yang mereka belum ketahui sebelumnya dan mereka dapat membuat presatasi-prestasi baru karena mereka merasa nyaman bersekolah disana tanpa adanya kekerasan didalam sekolah mereka.
    Oleh karena itu pemerintah harus bertindak tegas terhadap mereka yang melakukan kekerasan dan penindasan di dalam dunia pendidikan dengan membuat UU tentang larangan terjadi kekerasan dan penindasan di dalam dunia pendidikan. Agar anak-anak Indonesia dapat menjadi anak yang kritis yang berani mengeluarkan pemikiran-pemikiran mereka dan berakhir dengan prestasi-prestasi yang dapat membanggakan Indonesia yang akan mereka dapatkan tanpa takut adanya kekerasan dan penindasan di dalam sekolah.
    1. Bagaimana menghilangkan secara total kekerasan dan penindasan dalam dunia pendidikan di Indonesia maupun di dunia?
    2. Siapa saja yang harus berperan agar kekerasan dalam dunia pendidikan tidak terus terjadi?
    3. Apa yang membuat kekerasan dan penindasan dapat terjadi di dunia pendidikan?

    BalasHapus
  32. Aulia Komala
    4915133428
    P.Ips reg B 2013

    Lembaga pendidikan adalah sebuah lembaga yang didirikan untuk membuat seseorang didalamnya mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan orang yang tidak mengikuti lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan ada yang bersifat formal dan informal. Lembaga pendidikan formal contohnya seperti sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta. Sedangkan lembaga pendidikan informal adalah lembaga swasta seperti bimbingan belajar selain disekolah-sekolah. Keduanya memiliki tujuan dan fungsi yang sama yaitu menciptakan seseorang mampu memahami ilmu dan pengetahuan yang lebih. Kedua lembaga pendidikan tersebut juga harus menjaga hak dan kewajiban dari peserta didik seperti menjaga rasa aman dan nyaman dalam proses belajar berlangsung. Tetapi hal seperti ini tidak terjadi dalam beberapa kasus seperti yang baru terjadi ini adalah kematian seorang mahasiswa STIP karna di bully oleh seniornya. Pihak lembaga seharusnya bisa memelihara keamanan dilingkungannya sehingga hal-hal semacam ini tidak akan terjadi. Namun hal bully ini tidak hanya bisa terjadi oleh senior kepasa junior. Guru kepada murid pun bisa berlaku bully. Contohnya seperti kata-kata dengan nada yang cukup keras dan mengakibatkan murid tersebut ketakutan kepada guru itu. Hal-hal seperti ini seharusnya tidak terjadi jika pihak lembaga dapat memenuhi hak dan kewajibannya begitu pun dengan peserta didik. Dalam kasus yang diangkat oleh Pak Nusa hanya ada satu solusi yaitu pemenuhan hak dan kewajiban dari pihak STIP kepada peserta didik dan orang tuanya.

    Pertanyaan:
    1. Mengapa banyak terjadi kendala-kendala dalam dunia pendidikan di Indonesia?
    2. Apakah pemerintah bisa disalahkan atas banyaknya kasus yang membuat pandangan masyarakat terhadap dunia pendidikan buruk?
    3. Bagaimana seharusnya sikap peserta didik kepada pihak lembaga agar hak dan kewajibannya terpenuhi?

    BalasHapus
  33. Nama : Nazia Maulia Amini
    Nim : 4915131373
    P.IPS Reg A 2013
    Mungkin kejadian diatas hanya segeintir kisah dari sekolah-sekolah yang berasrama. Kita tenggok STPDN banyak sekali kisah memilukan seperti itu. Setelah terungkap tewasnya praja asal Sulawesi. Para praja mengungkapkan keseharian mereka, keseharian yang selalu tertekan dan tersiksa akibat perbuatan keji para senior. Namun, anehnya pihak pengelola seolah-olah tidak tahu atas apa yang diakukan oleh para senior setiap harinya. Para ppengelola sering sekali berdalih bahwa perbuatan yang dilakukan oleh para senior masih dalam batas wajar, itu semua demi kepentingan pendidikan juga. Supaya anak murid tidak manja. Emang tidak ada lagi pembelajaran supaya anak murid mandiri? Apa memandirikan murid dengan cara kekerasan? Bukan kah dengan cara kekerasan membuat tekanan batin dan akan meluka di para junior dan akan terus menerus berulang hingga bawah.
    1. Apa kewenangan pemerintah dalam mengambil kebijakan sekolah-sekolah yang berikatan dinas? Jika ada terjadi kekerasan seperti ini?
    2. Mengapa sekolah yang selalu berikatan dinas selalu ada tindakan kekerasannya? Apakah itu sudah mendarah daging dari zaman Belanda?
    3. Bagaimana menghilangkan kekerasan dalam pendidikan? Dan menimbulkan rasa nyaman dalam belajar?

    BalasHapus
  34. Nama : Aginda Nabila Putri Yudia
    NIM : 4915131408
    P.IPS A 2013

    Proses pembelajaran seharusnya dibuat senyaman mungkin dan seaman mungkin. Bukannya malah membuat kita merasa tertekan dengan itu semua. Seharusnya pejabat dan pengelolah STIP turun tangan dengan masalah seperti ini, bukannya membiarkan saja begitu. Kalau begitu sama saja mereka melindungi tersangka pembunuh Dimas (mahasiswa STIP), kalau begini sama saja merusak moral pendidikan Indonesia. Ini sungguh tidak adil, bagaimana mungkin seorang pembunuh dibiarkan begitu saja berkeliaran dalam STIP, sedangkan orang yang mencuri ayam di beri sanksi yang tegas. Kalau ini terjadi bergitu saja, tanpa adanya penyelidikan, mau seperti apakah pendidikan kita kedepannya? Dan apa kata dunia mengenai pendidikan Indonesia? Sungguh ini membuat pendidikan di Indonesia jelek, dan mencoreng pendidikan telah yang ada.

    Pertanyaan:
    1. Apa yang membuat pejabat dan pengelola tidak mau menyelidiki masalah ini?
    2. Bagaimana dampak kedepannya dengan adanya masalah seperti ini?
    3. Kenapa rasa tidak aman dan tidak nyaman dapat menggangu pisikologis kita?

    BalasHapus
  35. Tria maulida agustiar
    p.ips a 2013
    4915131404

    Seharusnya dalam proses pendidikan dan lingkungan pendidikan merupakan sebuah pengalaman yang baik dan memberikan rasa aman serta nyaman untuk peserta didik. Bukan malah sebaliknya dalam lingkungan pendidikan membuat peserta didik merasa takut dan tertekan berada di dalam lingkungan pendidikannya yang membuat peserta didik tidak fokus terhadap pembelajaran yang diberikan dan hanya dihantui ketekutan. Lingkungan pendidikan seperti ini tidak akan menciptakan anak-anak yang pintar dan cerdas malah membuat psikinya terganggung dan membuatnya tidak ingin pergi bersekolah ataupun bertemu dengan teman-temannya dan berakibatkan peserta didik menjadi pendiam dan menyendiri. Sekolah yang seharusnya memberikan ilmu pengetahuan sekarang ini menjadi tempat kekerasan fisik dan seksual yang membuat orang tua murid diselimuti rasa takut yang tinggi kepada anaknya apakah mereka aman dan merasakan aman. Ditambah lagi dengan pemimpin seperti STIP dan JIS yang tidak sama sekali berempati dengan kejadian yang dirasakan oleh korban dan mereka malah mencari-cari argumen untuk melawan ibu dari para korban. Yang saya bingungkan sekarang apakah pendidikan seperti ini harus tetap di pertahankan? Karena tidak sangat bertanggungjawab atas apa yang terjadi di tempat pendidikan tersebut. Bagaimana mencari tempat pendidikan yang baik, aman, dan nyaman untuk peserta didik? Agar tidak terjadi kekerasan serta kematian dilingkungan sekolah.

    BalasHapus
  36. Nama : Rina Listaiawati
    NIM : 4915131410
    Kelas : P.IPS A 2013
    Pendidikan merupakan sarana untuk mengembangkan ilmu, keterampilan, dan wawasan untuk membuka cakrawala pengetahuan dari peserta didik. Dalam dunia pendidikan harus ada jaminan berupa rasa aman, agar para peserta didik merasa nyaman dengan lembaga pendidikan tempat mereka menimba ilmu. Toh kenyamanan dan keamanan sangat dibutuhkan, lembaga pendidikanlah yang berperan dalam menciptakan dan membuat rasa aman dan nyaman tersebut. Semua kegiatan dan tujuan pembelajaran harus bersifat terbuka, agar semuanya dapat diketahui oleh semua pihak yang berkaitan. Dalam kasus STIP diatas, jelas terlihat bahwa pejabat baik itu menteri bahkan para petinggi di STIP saling angkat tangan, seolah tidak mau bertanggung jawab atas kasus yang sedang terjadi. Bagi mereka, pencitraan dan nama baik menjadi point utama. Padahal jika hal tersebut berani diusut dan para pihak yang terkait mau dimintai keterangan, sudah pasti hal tersebut dapat diketahui apa penyebab dan solusi terbaik untuk menanganinya. Keterbukaan dan kejelasan dari pihak yang terkait sangat dibutuhkan dalam hal ini, jika semuanya hanya ditutup-tutupi bagaimana kita akan tahu. Dan apabila rasa aman itu hilang dalam perolehannya untuk peserta didik, maka yakinlah semua proses dan tujuan dari kegiatan pembelajaran akan mengalami kegagalan karena terjadi gangguan-gangguan yang menyertai perjalanannya. Kenapa bisa begitu? Karena peserta didik merasa tertekan, sehingga semua yang dilaksanakan tidak akan berjalan optimal.
    Pertanyaan :
    1. Bagaimana caranya agar sikap keterbukaan dapat dikembangkan dalam dunia pendidikan?
    2. Bagaimana rasa aman itu dapat dengan mudah diperoleh?
    3. Apa yang semestinya dilakukan oleh para pendidik agar dapat menumbuhkan moral yang baik dari peserta didik yang dididik dan diajarnya?

    BalasHapus
  37. Arlietha Nofeliza (4915131392) PIPS A 2013
    Rasa aman dalam pendidikan merupakan suatu hal yang harus ada di dalam pendidikan. Jika hal tersebut tidak ada, tentulah akan terjadi hal-hal di luar dugaan. Rasa aman merupakan suatu kebutuhan yang diperlukan bagi manusia. Manusia dapat beraktifitas, bekerja dengan baik dan maksimal jika di dalamnya terdapat rasa aman yang nantinya akan menimbulkan sebuah kenyamanan. Jika rasa aman saja sudah tidak ada bagaimana bisa proses pendidikan tersebut dapat berjalan dengan baik. Dan saya sangat setuju dengan pak nusa, bahwa sudah seharusnya adanya keterbukaan antara pihak sekolah, orang tua, dan mahasiswanya mengenai hal ini. Karena jika dibiarkan saja tentulah kasus ini pasti akan dapat terulang kembali.
    Pertanyaannya adalah
    Apa yang sebenarnya menyebabkan seorang senior berani melakukan kekerasan kepada junior? Mungkinkah kasus ini tidak dapat diusut secara tuntas karena pada dasarnya para pihak pengelola juga pernah mengalami hal yang sama?

    BalasHapus
  38. Rismawati Fadillah
    4915131412
    Kasus kekerasan yang terjadi di STIP bukanlah satu-satunya kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan. Sebelumnya telah terjadi banyak kasus kekerasan yang muncul di dunia pendidikan. Mengapa demikian? Pendidikan yang seharusnya dijadikan sebagai wadah untuk menuntut ilmu, memunculkan bibit-bibit baru untuk penerus bangsa malah dijadikan sebagai wahana kekerasan bagi kalangan-kalangan tertentu.mengapa senior STIP melakukan tinndak kekerasan kepada juniornya mungkin mereka mempunyai dendam pribadi antar angkatan sehingga mereka melampiaskannya kepada junior. Pendidikan indonesia masih jauh dari kata aman. Oleh karena itu pendidikan indonesia membutuhkan perubahan agar pendidikan diindonesia mempunyai rasa yang aman.

    BalasHapus
  39. Dessy Permata Sari
    4915131417
    P.IPS REG A

    Rasa aman penting dan menjadi hak bagi tiap orang. Bahkan undang-undang pun menjamin dan menjelaskan didalam pasalnya. Rasa aman dalam pendidikan menjadi prioritas utama, karena jika di dalam pendidikan tidak memberikan rasa aman, bagaimana cara murid untuk mengembangkan dan menggali pengetahuan, bagaimana cara murid untuk melahirkan prestasi dan lain sebagainya. Kejadian yang terjadi di STIP bukan pertama kali terjadi, sudah banyak kejadian-kejadian seperti ini yang mewarnai lembaga pendidikan kita. Kasus perpeloncoan dan pembullyan senior kepada juniornya hampir tejadi di setiap sekolah. Baik dari tingkat dasar sampai ketingkat tertinggi. Kejadian yang memilukan dan baru saja terjadi contohnya anak SD yang duduk di kelas 5 meninggal dunia akibat perpeloncoan yang dilakukan oleh kaka kelasnya. Biasanya pembullyan antara senior dan junior didorong karena hal sepele. Budaya kekerasan seperti ini sudah seharusnya dan sepatutnya diusut oleh pihak yang berwenang sampai ke akar-akarnya. Agar kejadian yang seperti ini tidak terjadi lagi di dunia pendidikan kita.
    1. Bagaimana langkah konkret yang seharusnya diambil pemerintah dalam menanggapi hal tersebut?
    2. Apakah ada yang salah dalam sistem pendidikan kita? Mengapa hal ini terus terjadi dalam dunia pendidikan?
    3. Apakah sinetron atau tayangan televisi dapat mendorong terjadinya pembullyan dan perpeloncoan yang terjadi saat ini?

    BalasHapus
  40. Ajeng Nur Aryani
    4915131416
    P.IPS A

    Lagi-lagi kekerasan bayak sekali kekrasan di masa sekarag ini, adalagi kekrasan yang erjadi antarasenior dan adik kelasnya. Menurut saya, ini sudah tidak jaman lagi adanya kekerasan dalam senioritas tidak baik bagi indiviu yang mengalami ini tertekan dan tidak bebas, jadilah senior yang baik dan berikan contoh yang benar bukannya setiap tahun malah semakin rusak dan jelek dan bahkan melayangkan nyawa orang lagi. Sekarang saatnya membangun tali persaudaraan yang baik dan benar jangan adanya rasa keinginan gila hormat untuk dihormati adik kelasnya, mendterti pendidikan seharusnya melihat peristiwa yang seperti ini dan menyelidiki penelitian dengan penelitian kualitatif agar dapat memahami dan tahu penyebab masalahnya dimana. Oke STIP memang seklah kedisiplinan dan harus patuh dengan perintah komanda yang memimpin perintahnya tetapi cara yangseperti ini salah sekali sebaiknya angan seperti ini dilihat dari film yang saya qqqqqtonton kalau sekolah yang seperti itu harusnya banyak praktek dan latihan fisik sperti berolahraga bukannya dengan kekerasan.

    Pertanyaan :
    1. Apakah senior di STIP menjalin hubungan dengan petugas yang berada disana ?
    2. apakah tidak ada tindakan jerqa untuk senior yang melakukan tindakan yang seperti itu ?
    3. Apakah cara yang seperti itu melatih agar kita bisa kuat ?

    BalasHapus
  41. Ade Nika Oktavia
    4915131402
    P. Ips Reg A 2013

    Menurut saya proses pendidikan yang diceritakan diatas sangat tidak sesuai prosedur dan banyak melanggar aturan-aturan dalam pendidikan. Tentu saja kenyamanan adalah hal yang utama bagi para peserta didik dalam menjalani proses pembelajaran. Dimana kekerasan terjadi di wilayah kampus atau sanggar itu sangat tidak diperbolehkan karena dapat mengakibatkan gangguan mental maupun fisik peserta didik kemudian dapat merugikan diri peserta didik maupun keluarganya. Suatu pendidikan yang bagus dan berkualitas itu benar-benar harus sesuai prosedur pendidikan. Selain mahasiswa harus mengenyam pendidikan yang layak juga harus mendapatkan kenyamanan dalam diri mahasiswa agar proses belajar bisa berjalan dengan lancar, itu adalah tugas seorang pembimbing dan senior. Mungkin kenyamanan mahasiswa terganggu tidak hanya pada kekerasan yang dilakukan oleh pembimbing atau senior saja tetapi bisa juga karena faktor lingkungan yang kurang memberi kenyamanan terhadap mahasiswanya. Seorang senior atau pembimbing tidak hanya sebagai fasilitator dan membimbing para juniornya saja tetapi ada peran yang lebih penting adalah mendidik dengan cara yang benar sesuai prosedur dan berkarakter yang benar agar patut dicontoh juniornya. Mungkin pendidikan di Indonesia masih sangat rendah sehingga masih banyak sekali kekerasan dalam pendidikan itu terjadi dimana-mana karena banyak faktornya, misalnya saja di STIP tersebut.

    Bagaimana peran lembaga pendidikan di Indonesia? Mengapa belum terealisasi dengan baik sehingga terjadi kasus bunuh membunuh dalam pendidikan di STIP ? kemudian bagaimana sikap kita sebagai mahasiswa dan calon pembimbing dalam menganalisa kasus yang terjadi di STIP tersebut ?

    BalasHapus
  42. Agustina Rahmawati
    P.IPS Reg B 2013



    Sekolah adalah tempat menuntut ilmu untuk menggapai masa depan. Sekolah merupakan tempat yang dapat mengantarkan seseorang untuk mencapai cita-citanya. Sekolah yaitu tempat utuk belajar, menambah pengetahuan, dan mengembangkan potensi individu. Dengan adanya kasus STIP, apakah masih bisa para murid berkembang dan belajar. Orang tua korban mempunyai hak untuk menindak sekolah tersebut, dan para orang tua yang lain juga perlu menuntut adanya jaminan keselamatan untuk anak-anak mereka. Diperlukan adanya kerja sama untuk membuat STIP menjadi lebih terbuka. Perlu adanya pembenahan agar STIP menjadi sekolah yang lebih baik, tidak ada lagi intimidasi, senioritas, dan hal-hal negatif lainnya. Pembenahan itu bisa dengan penggantian pemimpin, pergantian sistem pembelajaran, perlakuan yang sama terhadap semua murid di setiap tingkatan, dan membangun rasa kekeluargaan. Sekolah harus bersikap transparan, tidak ada yang harus ditutupi, karena sekolah bukan tempat untuk individu. Sekolah adalah tempat untu semua orang menimba ilmu. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan bagi peserta didik. Dengan adanya kasus ini, diharapkan sekolah lain lebih mengawasi sikap peserta didik agar tidak terjadi senioritas dan intimidasi. Jika memang sekolah itu tidak digunakan untuk mencapai tujuannya yaitu pengembangkan pendidikan, sebaiknya sekolah itu dibubarkan saja. Artinya sekolah itu tidak bisa dikatakan sebagai sekolah dan tidak layak untuk dibuka sebagai sekolah.
    1. Jika diadakan penelitian, penelitian apa yang cocok digunakan untuk membuka kejadian yang sebenarnya terjadi di STIP ?
    2. Apakah kasus ini bisa terjadi di SMP?
    3. Apakah setiap orang yang membunuh orang lain dapat dikatakan sebagai psikopat?

    BalasHapus
  43. SITI MARIA ULPAH
    4915131401
    P.IPS A 2013
    Well… setelah saya membaca tulisan Bapak dengan judul ‘Rasa Aman dalam Pendidikan’. Rupanya kasus yang terjadi di STIP sangat menarik perhatian karena melibatkan elemen-elemen yang ada. Di lingkup keluarga, pendidikan, pemerintahan. Kenapa hal itu bisa terjadi? Mengapa bisa sampai terjadi? Rupanya pemerintah dan para penanggung jawab yang berada di lingkungan STIP terkesan menutup diri dan merahasiakannya. Kenapa bisa ada kekerasan dalam lingkungan pendidikan? Kurangnya rasa empati dari pemerintah dan pemimpin STIP terhadap korban dan keluarga korban kiranya perlu dipertanyakan? Ada apa dibalik ini semua? Mengapa mereka tidak bisa saja sedikit merasakan apa yang keluarga korban rasakan? Bagaimana jika itu terjadi pada anak atau keluarga mereka? Anak yang dititipkan di pendidikan yang baik, tetapi malah tewas dengan mengenaskan. Tidak ada yang mau bertanggung jawab. Kalau seperti ini rasanya pendidikan kita sudah tidak ada rasa amannya sama sekali. Belum selesai kasus yang terjadi pada anak JIS. Sekarang malah timbul kasus baru di sekolah yang sudah sangat terkenal baik. Sebenarnya ada apa dengan pendidikan kita? Ingin menempuh pendidikan tinggi kok malah mengurangi rasa aman bagi para peserta didiknya? Seharusnya pihak sekolah dan swasta bersikap terbuka terhadap apapun agar tidak terjadi kesalahpahaman.
    Pertanyaan
    1. Mengapa terkesan ada unsur yang ditutup-tutupi terhadap kasus STIP ini? Ada apakah dibalik ini semua?
    2. Jika rasa aman dalam pendidikan sudah sulit untuk didapat, dimana lagi kita bisa memperoleh rasa aman selain dalam bidang pendidikan?
    3. Mengapa bisa terjadi kekerasan dalam pendidikan? Bukankah dalam pendidikan kita diajarkan yang baik dan yang buruk?

    BalasHapus
  44. Suci Ramadhaniyati (4915133404)
    P.IPS B 2013

    Rasa aman dan nyaman dalam pendidikan adalah hal yang mutlak, dan tak dapat dikekang. Sebab setiap orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, ironinya, kini banyak sekali kasus kejahatan yang marak terjadi di sekolah, seperti JIS dan kasus senioritas dalam STIP ini. Kekerasaan yang dilakukan secara tidak bertanggung jawab ini menimbulkan banyak kontra dalam masyarakat. Menuntut agar kasus ini segera terselesaikan. Akan tetapi pihak sekolah justru menutup diri dan tidak mengindahkan tuntutan yang diminta orang tua. Lantas, bagaimana pendidikan di Indonesia jika ada sekolah macam ini? apakah itu layak disebut sekolah? TIDAK! itu sama sekali tidak layak. Sekolah adalah tempat untuk mengemban ilmu dan mendapatkan pendidikan layak, bukan sebaliknya yang justru mendapatkan kekerasan di dalamnya. Maka dari itu, di sini peran pemerintah dalam mengawasi dan mengontrol jalannya pendidikan harus cepat dan ekstra keras dalam menertibkan pendidikan yang layak bagi peserta didik.
    1. Bagaimana penelitian tindakan menyikapi kasus kekerasan di sekolah ini?
    2. Dalam kasus ini, apakah korban dapat menuntut haknya di depan pengadilan?
    3. Bagaimana caranya agar kasus kejahatan di sekolah tidak terjadi lagi?

    BalasHapus
  45. Anggi Ratna Furi
    P.IPS REG B 2013
    Bukan lagi hal baru ketika kita mendengar adanya kekerasan dalam ruang lingkup pendidikan. Salah satunya seperti yang dijelaskan pada tulisan diatas adanya kekerasan yang dilakukan senior kepada junior. Seperti yang kita ketahui dalam sekolah sekolah dari SD sampai pergurun tinggi selalu ada pihak yang disebut senior dan ada pihak yang disebut junior. Tidak sedikit orang berparadigma bahwa senior selalu bersikap menguasa dan junior dikuasai. Paradigma seperti ini menimbukan statmen bahwa junior harus menuruti setiap perintah dari seniornya tanpa ada keberanian untuk melawan dan paradigma seperti ini dimanfaatkan oleh senior untuk sewenang-wenang. Dalam keadaan seperti ini tentu saja tidak sedikit junior merasa takut dan merasa tidak nyaman, ketidaknyamanan ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap proses belajar dan hasil belajar. Kejadian seperti ini tidak bisa dianggap remeh, karena ada hak yang tidak terlindungi bahkan seperti hak merasakan kenyamanan dan perlindungan tidak bisa mereka rasakan. Dalam pemecahan masalah ini dibutuhkan peran dari semua pihak agar ada keterbukaan dan tidak ada yang ditutup tutupi.
    pertanyaan :
    1. Penelitian apa saja yang telah dilakukan guna menyelesaikan masalah ini ? Mampukah penelitian tindakan menyelesaikan masalah yang ada di STIP sendiri ?
    2. Ketika orang beperan menjadi senior mereka merasa lebih percaya diri dan merasa dirinya paling benar . Apa yang membuat paradigma seperti ini muncul ?
    3. Bagaimana cara membuat pemimpin atau atasan dari STIP berempati dan mempunyai keinginan menyelesaikan masalah ,agar tidak terulang kembali masalah seperti ini ?

    BalasHapus
  46. Institusi pendidikan merupakan wadah penting dalam mencerdaskan anak bangsa. Perannya terbilang krusial dan sakral karena mampu melahirkan generasi cerdas, berkualitas serta berintegritas. Kini dihadapkan dengan krisis kepercayaan. Dengan kata lain, ada keraguan terhadap reputasi tempat menimba ilmu.
    Sehingga Sekolah yang ramah dan aman bagi anak tentu harus memiliki sistem yang baik, dan selalu memperbaiki kinerja. Bukan saja soal fasilitas dan peraturan, tetapi juga manajemen serta supervisi yang terjadwal. Artinya fasilitas dan peraturan yang dibangun bersifat melindungi kepentingan anak, kemudian menempatkan profesional seperti pekerja sosial dan psikolog untuk mendampingi aktivitas anak. Selain itu transparansi dan perbaikan manajemen, baik perekrutan karyawan, guru dan petugas lainnya dengan supervisi yang ketat. Supervisi penting untuk dilaksanakan, hal ini dapat dilakukan oleh pekerja sosial, psikolog bersama dengan komite sekolah atau pihak ketiga lainnya.
    Maka untuk meminimalisir kekerasan yang ada di STIP, Selain itu harus membangun iklim dan budaya sekolah dengan pendekatan komprehensif melalui ruang dengar pendapat (mengajukan keluhan) secara formal sehingga valid. Kemudian menentukan jadwal dan mewadahi pembentukan komunitas orang tua aktif, sehingga sekolah terus terjaga karena dikontrol bersama.
    Pertanyaan:
    1. Bagaimana kinerja mentri pendidikan untuk menangani masalah yang ada di STIP?
    2. Kenpa terjadi kekrasan yang di alami mahasiswa baru tersebut?/
    3. Apakah setiap senior sifat nya Kasar terhadap junior nya?

    BalasHapus
  47. sering orang beanggapan bahwa dengan kekerasan seseorang lebih dapat menerapkan sikap disiplin dibandingkan seseorang yang didik dengan cara yang sewajarnya. msalah antara senior yang yang membully junior bukanlah hal baru dalam tragedi pendidikan di Indonesia. bahkan tak terhitung lagi korban yang meninggal akibat adanya penganiayaan senior atas junior. tak satu pun yang meninggalkan efek jera di hati generasi berikiutnya. malah masalah ini semakin meningkat dan keadaan ini di perparah dengan pihak internal yang tidak mau bertanggung jawab.
    kekerasan seperti ini pastinya akan meninggalkan efek psikis terhadap keluarga korban. kasus ini harus di tumpas ke akarnya-akarnya. tentu saja peran pemerintah sangat di perlukan. bagaimna kita akan melahirkan tuns bangsa yang menawan jika prosesi nya saja di warnai denga kekerasan. tidak kah kita takut akan kemungkinan lahirnya Hitler-Hitler baru di abad 20 ini ??
    Sejarah telah mencatat bagaimana buruknya efek psikologis terhadap orang yang di siplin dengan kekerasan. ia akan menularkannya kekerasannya terhadap orang lain.
    membaca tulisan " rasa aman dalam pendidikan ", kita memang harus menuntut adanya rasa itu dalam pendidikan. karena sejatinya pendidikan itu hanya sebuah proses bagaimana mengubah pola pikir dan prilaku kita agar lebih baik lagi. bukan dengan kekerasan. sekalipun itu di lakukan di luaran instansi pendidikan.

    1. metode apa yang cocok untuk menkaji masalah di atas ?
    2. bagaimana kita seharusnya bersikap terhadap tersangka ?

    BalasHapus
  48. Yurida Adlani
    4915133397
    P.IPS B 2013

    Komentar :
    Sekolah bukan sekedar tempat menimba ilmu yang bersifat umum, namun juga untuk menimba ilmu yang berhubungan dengan pendidikan. Entah itu pendidikan agama maupun pendidikan moral.
    Kasus STIP di atas telah menunjukkan betapa miskinnya pendidikan moral yang dimiliki oleh para Mahasiswa, terutama Mahasiswa senior STIP yang tega melukai hingga menimbulkan kematian pada juniornya Dimas.
    Seharusnya mereka para senior sadar bagaimana posisi mereka di dalam ranah pendidikan. Mereka sebagai generasi muda yang memiliki intelektual tinggi seharusnya berperilaku yang baik dan mampu memberi contoh pada mereka yang tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi.
    Kasus ini juga tidak mungkin lepas dari adanya pengawasan pengelola STIP. Semestinya para pengelola STIP mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada wilayahnya. namun, entah mengapa mereka malah justru menutup diri dengan adanya kasus ini.

    pertanyaan :
    1. Atas dasar apakah para senior bertindak seperti itu pada juniornya ?
    2. Mengapa pihak STIP menutup diri dengan adanya kasus tersebut ?
    3. Apakah pihak STIP tidak khawatir nama baik STIP menjadi buruk dengan adanya kasus ini ?
    4. Bagaimana tindak lanjut kasus ini ?

    BalasHapus
  49. Nama : Septi Dwi Ambarwati
    NIM : 4915131371 (P.IPS A 2013)
    Pendidikan tinggi tidak lagi tempat yang aman bagi mahasiswa. Ini merupakan bukti dari lemahnya pengawasan dari pihak STIP itu sendiri terhadap mahasiswa di dalam aktivitas Kegiatan Belajar Mengajar. Pendidikan adalah alat untuk memperbaiki keadaan sekarang, serta untuk mempersiapkan keadaan yang akan datang menjadi lebih baik tetapi lingkungan pendidikan justru menjadi lingkungan yang menakutkan bagi mahasiswa, seperti kekerasan yang dilakukan oleh antarindividu atau antarkelompok. Maka sangat penting peran pemerintah yang memiliki kekuasaan agar mengubah citra pendidikan sebagai tempat yang menyenangkan serta aman dan nyaman bagi peserta didiknya.


    Pertanyaan :
    1. Apakah kekerasan yang terjadi di STIP sudah menjadi tradisi? Jika memang sudah menjadi tradisi, mengapa tidak ada tindak lanjutnya?
    2. Apa tanggapan pihak STIP dalam mengatasi kekerasan yang sudah terjadi?
    3. Bagaimana cara mengubah citra nama baik STIP itu sendiri?

    BalasHapus
  50. Selvi indriani
    P.IPS A 2013
    Menuru saya kekerasan yang dialami oleh Dimas sangat tidak lazim bayangkan saja kekerasan yang dilakukan oleh senior sampai berakibat sangat fatal. Nyawa manusia menjadi permainan para senior di STIP tersebut. Ketua pimpinan seharusnya bisa menindak tegas dan mengusut tuntas kekerasan yang dilakukan oleh para senior tersebut. Bagaimana biasa calon penegak hukum tidak bisa menegakkan hukum secara adil. Rasa aman dalam pendidikan itu sangat penting perannya. Ketika kita merasa aman dalam menuntut ilmu atau dalam pendidikan, seseorang akan merasakan kenyamanan dalam pendidikan,
    1. Bagaimana bisa seorang penegak hukum tidak bisa menegakkan hukum secara adil?
    2. Apakah ketua STIP tidak mempunyai hati nurani atau moral?
    3. Apa pemicu semua mahasiswa STIP menjadi tertutup ?

    BalasHapus
  51. Teguh aji putra ( 4915133436 )
    P.IPS B 2013

    Memang bukan hal yang baru lagi jika banyak terjadi kasus kekerasan yang mengakibatkan kematian yang terjadi pada instansi pendidikan yang melibatkan antara senior dan junior, bahkan hal tersebut bukan saja terjadi pada sekolah kedinasan seperti STIP, melainkan kasus tersebut juga terjadi pada tingkat sekolah dasar juga yang mengakibatkan seorang junior tewas oleh seniornya sendiri untuk hal yang bisa dikatakan sepele. Seharusnya yang namanya sekolah itu bisa memberikan kenyamanan bagi para siswa/mahasiswanya dalam menuntut ilmu, tetapi sayangnya kini sekolah justru menjadi tempat yang menyeramkan bagi para junior terutama pada masa ospek. Anehnya ketika sudah banyak kasus kekerasan yang terjadi pada instansi pendidikan bahkan berujung pada kematian pemerintah seperti tutup mata pada kasus tersebut. Seharusnya mereka mencari solusi agar bagaimana kasus tersebut tidak terulang lagi dimasa mendatang bukan malah menutup mata seperti ini dimana pemerintah saling menyalahkan antar satu sama lain dan tidak mau tahu sebab mereka tidak mau ikut campur dalam masalah kekerasan dalam dunia pendidikan ini.

    1. Mengapa akhir-akhir ini banyak terjadi kekerasan pada dunia pendidikan ?
    2, Apa solusi yang dapat kita lakukan sebagai calon guru agar hal tersebut tidak terjadi pada anak didik kita kelak ?
    3. Penelitian apa yang cocok digunakan untuk memecahkan kasus tersebut ? apakah penelitian tindakan atau R&D ?

    BalasHapus
  52. Himawan Wiguna
    p.ips b 2013

    wajar saja jika para orang tua murid mengkhawatirkan keselamatan anaknya setelah kejadian pada STIP. hilangnya nyawa seorang mahasiswa STIP yang bernama dimas menjadi sorotan bagi pendidikan kita. berawal dari ospek yang menimbulkan rasa balas dendam bisa berakibat negatif. meskipun sekarang kekerasan dalam ospek sudah dihapuskan tetap saja kekerasan tersebut bisa terjadi karena luputnya pengawasan guru atau pihak yang berwenang mengawasi. menurut saya tidak hanya pada kasus STIP saja yang menimbulkan pertanyaan rasa aman dalam pendidikan tetapi kasus - kasus lain seperti JIS, dan lain - lain.
    pertanyaan :
    1.bagaimana cara menangani masalah - masalah kekerasan yang terjadi dalam pendidikan kita?
    2.apakah harus senior yang melakukan pentataran kepada adik - adik kelasnya?
    3.bagaimana cara menciptakan rasa aman jika kekerasan tesebut sudah menjadi sifat yang turun temurun?

    BalasHapus
  53. Di dunia pendidikan Rasa aman dan nyaman adalah hal yang mutlak. sehingga dilihat dari kasus ini terlihat dengan adnya korban jiwa hilang, tentu ini menjadi catatan penting di dunia pendidikan , khususnya di Indonesia. dilihat dari jenis sekolah , sekolah ini semacam berthapan semi militer, yang memang dipersiapkan fisik,mental secara mapan. akan tetapi dilihat dari kejadian ini entah sistem oknum ataupun pengawasan yang salah.......

    BalasHapus
  54. WINDI MELANDINI
    4915131379
    P.IPS A 2013
    Saya sependapat dengan tulisan bapak, bahwa harus ada rasa aman dalam proses pendidikan. Kejadian di STIP ini terjadi lagi untuk kedua kalinya, dimana seorang mahasiswa dianiaya oleh seniornya hingga terbunuh. Saya sendiri heran, apakah para senior tersebut tidak memiliki hati dan otak? Atau memang tidak pernah belajar PPKN? Bukankah sedari SD kita sudah diberi pelajaran PPKN tentang bagaimana bersikap terhadap orang lain, menghargai orang lain, bertoleransi, dan lain-lain, tetapi tetap saja kebanyakan generasi sekarang tidak menerapkan pelajaran tersebut didalam kehidupan sehari-hari, dan hanya dipelajari saja tidak sampai diterapkan. Attitude yang jelek, krisis moral hal itu disebabkan karena dikesampingkannya nilai-nilai pancasila . Kasus kekerasan di STIP ini mungkin bukan untuk terakhir kalinya, dan bisa saja akan bermunculan kasus-kasus kekerasan yang lainnya, oleh karena itu pemerintah harus segera mengantisipasi hal tersebut.
    1. Bagaimana cara mencegah kasus kekerasan dalam dunia pendidikan?
    2. Apa yang menyebabkan kasus kekerasan dalam dunia pendidikan terjadi?
    3. Apakah pemerintah sudah berupaya untuk memberantas kasus kekerasan dalam dunia pendidikan?

    BalasHapus
  55. Lucy Santa Katarina
    P.IPS REGULAR A 2013
    4915131377

    Para pelajar akan meningkatkan kinerja dan prestasinya bila diberikan tantangan yang terukur. Tetapi akan mengalami kesulitan dan gangguan jika merasa tidak aman dan tidak nyaman. Gangguan yang ditimbulkan bisa akut dan berjangka panjang, bila rasa tidak aman dan tidak nyaman itu berkepanjangan. Kalimat diatas bertolak belakang sekali dengan kasus yang tertera diatas. Kejadian seperti ini perlu perhatian khusus dari pihak sekolah maupun pihak pemerintah. Terlebih lagi kasus ini terjadi di kalangan remaja yang berpendidikan. Ini sangat bertolak belakang dengan asaz pendidikan.
    Pertanyaan :
    1. Apa yang melatar belakangi senior bisa mengintimidasi para juniornya ?
    2. Apa masalah atau penyebab atas kematian Dimas ?
    3. Bagaimana ketegasan atau peran sekolah terhadap kasus seperti ini ?

    BalasHapus
  56. Siti Chadijah
    P.IPS B 2013

    Dunia pendidikan seharusnya memberi rasa aman dan nyaman kepada para peserta didik. Dalam dunia pendidikan seharusnya juga tidak ada senior yang sok berkuasa dan bisa melakukan semena-mena terhadap juniornya, dimana seharuanya seorang senior memberikan contoh perilaku baik kepada juniornya dan membantu para junior yang kesulitan dalam mengenal tempat pendidikan tersebut.

    1. metode penelitian apa yang cocok untuk masalah STIP tersebut?
    2. faktor apa yang menyebabkan para petinggi STIP tersebut malah berargumentasi untuk melepaskan tanggung jawab?
    3. faktor apa yang mungkin terjadi pada sikap mahasiswa STIP yang tutup mulut?

    BalasHapus
  57. Firman Surahman
    Pendidikan IPS B 2013

    Kasus kekerasan seperti ini sudah sering terjadi. Masih ingat kasus IPDN ? Bahkan lebih tragis ditingkat sekolah dasar akhir-akhir ini. Semua spele, kakak senior yang merasa memiliki wewenang dan kekuasaan menganggap kalian hanya adik kelas dan kalian harus merasakan apa yang PERNAH kami rasakan. Kenapa kata PERNAH ini saya capslock ? Ini menandakan karena sebagai sebuah turunan atau bisa dibilang ini pernah dialami pelaku. Berarti kasus ini harus diungkap secara terbuka bukan malah ditutup-tutupi. Dimas adalah satu dari sekian kasus, ingatkan OSPEK ITN malang ? Hanya sebuah OSPEK bisa membunuh. Dampaknya sangat besar, anak-anak yang memiliki mimpi seiring akan dihadang orang tuanya yang memiliki kekhawatiran takut tragedi mengerikan itu terulang dan terjadi kepada anaknya. Sekolah atau tempat pendidikan adalah rumah kedua bagi semua pelajar. Seharusnya rasa nyaman dan aman di rumah sendiri harus ada juga di tempat mereka menimba ilmu. Kemana kah perhatian pihak sekolah ? Kemana kah pengawasan pihak sekolah ? dan kemana kah sekolah yang harusnya menaungi ? Ini harus diusut tuntas, semua Institut, Universitas, dan Sekolah dari dasar hingga atas harus diawasi secara ketat. Ini berbicara moral, etika dan akhlak. Semua harus bersinergi, dan menyadari bahwa pendidikan tak hanya membutuhkan buku, pulpen dan pensil. Tapi membutuhkan pula rasa aman dan nyaman.

    1. Cara ampuh apa yang harus dilakukan pemerintah untuk memberantas kasus-kasus ini ?
    2. Tanggung jawab seperti apa yang harus diujudkan pemerintah, kementrian, dinas pendidikan, sekolah dan orang tua ?
    3. Secara sadar ini semua tragedi dan fenomena, bagaimana kita sebagai calon pendidikan menyikapi tragedi dan fenomena sosial ini ?

    BalasHapus
  58. Lina Wati
    P.IPS B 2013
    Banyak terjadi kasus-kasus kekerasan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah kasus kekerasan mahasiswa STIP yang telah disebutkan diatas. Kasus-kasus kekerasan ini hampir semuanya dilakukan oleh senior kepada juniornya, yang sering didengar adalah terjadi saat masa ospek berlangsung, salah satu contohnya adalah yang menimpa mahasiswa di ITN Malang. Peristiwa semacam ini terjadi karena ada istilah "balas dendam". Mereka menularkan kekerasan yang dialaminya saat ospek kepada adik kelasnya nanti. Seharusnya pihak sekolah maupun perguruan tinggi mengawasi dan memberi aturan ketat agar tidak terjadi kekerasan dalam masa ospek. Dan juga harus ada jaminan rasa keamanan selama ospek maupun proses belajar mengajar berlangsung. Pendidikan di Indonesia lebih menonjolkan pendidikan kognitif dibanding pendidikan karakter. Padahal keduanya sangat penting guna mencetak generasi muda yang cerdas bukan saja dalam ilmu pengetahuan tetapi juga dalam hal sikap dan perilaku yang humanis, sehingga bisa mencegah anak didiknya melakukan kasus kekerasan.
    Pertanyaan :
    1. Bagaimana caranya menghilangkan kasus kekerasan dalam dunia pendidikan di Indonesia?
    2. Banyak kasus kekerasan yang terjadi selama ospek, lalu apakah sebaiknya ospek perlu ditiadakan ?
    3. Bagaimana menciptakan dunia pendidikan yang aman?

    BalasHapus
  59. Yulinda Indah P
    4915133440
    PIPS B 2013

    Kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan memang sangat mengganggu dalam proses pembelajaran. Kekerasan yang terjadi pada dunia pendidikan seakan menunjukan sikap tidak ramah terhadap perasaan dan nurani para siswa. Salah satu tujuan diselenggarakannya pendidikan sebagai sarana pemerdekaan dan pembebasan, hanya akan berada di awang-awang. Dampak nyata yang dirasakan murid akibat kekerasan senioritas ini adalah rasa tidak aman tersebut. Merasa tidak aman dan nyaman dalam lingkungan sekolah. Yang menjadi miris disini adalah ketika pihak sekolah seolah cuci tangan mengenai masalah tindak kekerasan ini. Seharusnya, guru, orangtua, dan siswa harus bekerja sama menciptakan lingkungan yang aman dalam lembaga pendidikan.Rasanya, pendidikan di Indonesia sangat perlu diadakannya reformasi pendidikan untuk menjadikan para penerus bangsa ini beserta para pendidiknya menjadi seorang yang berkepribadian yang baik dan mempunyai jiwa pancasilaisme.
    Pertanyaan:
    1. Kenapa dunia pendidikan di Indonesia itu tidak luput dari kekerasan?
    2. Pendidikan anti kekerasan, bisakah itu diterapkan di Indonesia???
    3. Penelitian dengan metode apakah yang cocok untuk menangani kasus seperti ini?

    BalasHapus
  60. Nama : Ulfa Suci Yanthi
    NIM : 4915127079
    Kita tahu bahwa penyebab dari kekerasan yang terjadi di STIP ini bukan hanya senior yang menjadi pelaku kekerasan saja, tapi juga sampai pada pemimpin dari STIP yang seolah-olah membiarkan kasus kekerasan tersebut dilakukan oleh para mahasiswanya bahkan sampai menjadi tradisi. Para petinggi STIP juga sampai hati, tega menutup-nutupi kasus tersebut agar nama baiknya dan STIP tidak tercoreng. Tapi tetap saja sepandai pandainya orang menyembunyikan bangkai pasti akan tercium baunya. Sepandai pandainya STIP menutupi kasus tersebut tetap saja kebenaran pasti akan terungkap. Seharusnya para pemimpin itu sadar bahwa mereka adalah bagian dari institusi pendidikan yang tidak selayaknya membiarkan kasus kekerasn tersebut terjadi di perguruan tingginya bahkan sampai menjadi tradisi. Ada beberapa pertanyaan yang mengganjal dihati saya mengenai kasus ini.
    1. Bagaimanakah tindak lanjut dari pemerintah mengenai kasus kekerasan yang terjadi di STIP ini ? apakah para pelaku sudah dihukum dengan selayak layaknya ?
    2. apakah disekolah tersebut tidak diajarkan pendidikan moral kewarganegaraan atau keagamaan sehingga para seniornya bebas melakukan kekerasan terhadap junior juniornya? Kemana peran dosen / guru didalam kasus ini ?

    BalasHapus
  61. Sella Alferaria / 4915131419
    P.IPS A 2013
    Siapapun pasti menginginkan rasa aman. karena rasa aman akan mengantarkan ke rasa nyaman, kemudian tenang sampai ke kesejahteraan. Menurut Potter & Perry, 2006, keamanan adalah keadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis atau bisa juga keadaan aman dan tentram. Menurut saya rasa aman adalah sebuah rasa dimana kita bisa melakukan segala hal tanpa adanya gangguan dan usikan dari orang lain. Dengan begitu kita bisa merasakan kenyaman dan ketenangan.
    Rasa aman harus dibangun terutama dalam dunia pendidikan. Apabila rasa aman dalam pendidikan dapat dibangun, maka para peserta didik akan memiliki kegairahan dalam belajar. Bayangkan saja, jika seseorang merasa aman, maka ada rasa semangat didalam dirinya untuk berekpresi dalam melakukan aktivitas. Apabila aktivitas itu dianggap mengasyikkan, maka seseorang akan menerima dan mempelajarinya. Namun, berdasarkan kasus yang ada pada cerita tulisan Bapak ini, tentunya merupakan hal yang sangat serius. Kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan memberikan efek buruk terhadap murid. Efek buruk atau dampak negatif dapat berupa fisik, misalkan organ-organ tubuh siswa mengalami kerusakan, seperti memar, luka-luka, dan lain sebagainya. Kemudian dapat berupa psikologis, seperti rasa takut, rasa tidak aman, dendam, menurunnya semangat belajar, daya konsentrasi, kreativitas menurun, hilang inisiatif, menurunnya daya tahan atau mental, stress, depresi, dan lain sebagainya. Selanjutnya dapat berupa sosial, yaitu siswa yang mengalami tindakan kekerasan tanpa ada penanggulangan, bisa saja menarik diri dari lingkungan pergaulan, karena merasa takut, merasa terancam dan merasa tidak bahagia. Oleh karena itu, rasa aman harus dibangun dan ditingkatkan dalam dunia pendidikan. Namun kenyataannya, di Indonesia, masih adanya tindakan kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan, contohnya STIP. Biasanya kekerasan terjadi antara guru terhadap muridnya. Tetapi, di dalam STIP, kekerasan tersebut dilakukan oleh senior terhadap junior sampai berujung kematian terhadap junior itu sendiri. ditambah lagi pihak sekolah itu tidak bertanggung jawab atas kasus tersebut dan belum ada kepastian atau keberanian untuk memberikan jaminan tentang anak-anak yang disekolahkan disana terhadap para orang tua murid. Sungguh menyedihkan.
    Menurut saya, kasus kematian Dimas yang terjadi di STIP ini harus ada perhatian dari pemerintah. Sehingga pemerintah dapat membuat kebijakan dengan sanksi yang tegas terkait kekerasan didalam pendidikan. Selain itu dari pihak sekolah harus memberikan pengawasan lebih terhadap kegiatan-kegiatan di lingkungan sekolah itu sendiri. hal demikian bertujuan untuk meminimalisir tindakan kekerasan. Jika hal demikian tidak segera diatasi, maka akan semakin meluasnya tindakan kriminal.
    Pertanyaan
    1. Metode apa yang harus digunakan dalam mengatasi kekerasan didalam pendidikan menurut sudut pandang filsafat ilmu ?
    2. Mengapa pemerintahan di Indonesia cenderung bergerak lamban dalam menindaklanjuti tindakan kekerasan ?
    3. Bagaimana cara meningkatkan penalaran induktif dan deduktif dalam membangun rasa aman dalam pendidikan ?

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd