Kekerasan bercucu cicit kekerasan. Polisi berhasil mengungkap ada pelaku kekerasan seksual di JIS yang merupakan korban kekerasan seksual seorang pedofil yang berhasil mengajar 10 tahun di JIS. Sungguh fakta ini menegaskan bahwa patut diduga sejumlah oknum telah dengan canggih memanfaatkan ketatnya pengamanan JIS untuk menjalankan aksi jahatnya. Bagi mereka keamanan JIS adalah syurga bagi aksi jahat biadab mereka. Benar-benar tragedi ironis. Keamanan sangat ketat bagi orang luar, tetapi menjadi jaminan bagi orang dalam untuk lakukan kejahatan sistematis yang mengerikan.
Temuan ini menguak lebih lebar bahwa JIS telah dimanfaatkan oleh sejumlah orang menjadi tempat mengembangbiakkan kejahatan seksual. Pertanyaan besarnya adalah, apakah para pimpinan dan pengelola JIS sungguh tidak tahu dan tidak terlibat? Mengapa sampai bisa terjadi seorang pedofil yang sedang buron diterima di JIS dan menjadi guru dalam waktu panjang yaitu 10 tahun? Begitu burukkah sistem rekrutmen dan pengawasan di JIS?
Apakah korban si pedofil bajingan keparat biadab itu hanya satu orang? Perlu penyelidikan yang sangat mendalam dan melibatkan tim independen. Mengapa? Korbannya yang mengalami kekerasan seksual pada usia sekitar 14 tahun, kini telah pula menjadi pelaku kekerasan seksual pada anak berusia lebih muda. Kekerasan seksual dilakukan oleh sejumlah orang dan korbannya yang baru ketahuan dua orang. Tampaknya kekerasan seksual itu dilakukan di tempat yang biasa digunakan, dan waktunya juga tertentu, tidak sembarang waktu. Ini artinya ada pola yang konsisten. Konsistensi ini pastilah bukan kebetulan. Inilah yang menjadi sejumlah alasan kuat mengapa penelitian mendalam perlu dilakukan di JIS.
Kejadian di JIS menunjuktegaskan bahwa kekerasan sungguh beranak cucu kekerasan. Penting dilakukan pemeriksaan khusus terhadap pelaku yang dulu menjadi korban. Agar diketahui bagaimana proses terjadinya kekerasan terhadap dirinya pada masa lalu. Bagaimana ia kemudian berubah menjadi pelaku, dan bagaimana kejahatan seksual yang kini terjadi, dilakukannya beramai-ramai.
Pemeriksaan khusus ini mudah-mudahan bisa jadi jalan masuk untuk menemukan pola dan bentuk-bentuk kejahatan yang pernah terjadi di JIS, dan juga mendapatkan informasi yang akurat tentang sistem pengelolaan serta sikap pimpinan JIS terkait dengan berbagai tindakan kejahatan yang ternyata sudah mentradisi sejak lama. Jangan-jangan pelakunya lebih banyak, juga korbannya. Karena sudah berlangsung sangat lama. Mana tahu ada orang tua korban yang malu mengungkapkan kejahatan ini, padahal anaknya adalah korban juga.
Para relawan yang menangani anak-anak marjinal yaitu anak-anak jalanan, anak pasar, dan anak daerah kumuh sudah sangat terbiasa menangangi kasus kejahatan seksual terutama sodomi yang dijalanan biasa disebut dibo'olin. Kekerapannya sangat tinggi. Sebagian korban, akhirnya jadi pelaku. Sejauh ini sangat sulit memutus rantai siklus korban-pelaku ini.
Padahal mereka yang jadi korban biasanya sangat terpukul, sedih, menderita sampai membenci tubuhnya sendiri. Pada waktu menjadi korban, tidak sedikit di antara mereka yang ingin bunuh diri, karena trauma dan merasa dirinya kotor, menjijikkan dan sudah lagi tak berguna, serta bermakna. Tidak sedikit yang masih mengalami gangguan, meski kejadiannya sudah lama dilampaui. Seakan waktu tak dapat sembuhkan tuntas luka jiwa sang korban.
Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membebaskan mereka dari trauma dan rasa jijik terhadap tubuh sendiri. Namun, kita selalu dibuat kaget saat tahu bahwa ada di antara korban telah menjadi pelaku. Seakan lupa bahwa dulu pernah jadi korban dan mau bunuh diri.
Rupanya kekerasan seksual itu meninggalkan luka menganga dalam sistem otak, borok bernanah yang tak gampang sembuh. Bila si korban terus menerus berada dalam lingkungan kekerasan seksual itu terjadi, maka ada keinginan untuk balas dendam. Selama ini terbukti, semua korbannya adalah anak-anak yang lemah, yang tak berani melakukan perlawanan. Tampaknya ada semacam kelegaan bila bisa membalas perbuatan jahat itu pada orang lain yang lebih lemah. Biasanya menimbulkan ketagihan.
Di jalanan polanya telah terbentuk dan sulit dibongkar. Si pelaku dan korban biasanya malah tetap berteman baik, dan mencari korban baru. Malah ada upaya-upaya untuk mengajak korban mencari korban baru dan menjahatinya bersama-sama. Itulah yang menyebabkan mengapa mereka secara bersama-sama bisa membentuk komunitas yang biasanya sangat solid dan saling menjaga rahasia. Mereka menggunakan prinsip para ksatria untuk melakukan kejahatan biadab itu yaitu semua untuk satu, satu untuk semua.
Agaknya ada kesejajaran pola antara penjahat jalanan dan kejahatan yang terjadi di JIS. Korban berhasil membangun komunitas dan mencari korban baru. Mereka merasa aman karena tempat kejadiannya justru sangat terjaga dari orang luar, dan anak-anaknya tersedia dalam jumlah besar. Bisa diduga bahwa telah terjadi juga bentuk-bentuk kejahatan seksual yang lain, yang tidak separah sodomi. Selama ini di jalanan pola yang ditemukan seperti itu.
Percayalah, apa yang kini terungkap di JIS merupakan puncak gunung es. Pantas diduga kasusnya tidak sekecil yang kini sudah diungkap. Harus digunakan beragam strategi untuk mengeksplorasi lebih dalam dari pelaku dan korban yang sudah ketahuan, jejaring pelaku-korban yang bisa jadi sudah sangat berkembang. Bila salah seorang pelaku benar bunuh diri, ini mengindikasikan memang ada perasaan bersalah yang mendalam dan akut. Maknanya, ada sesuatu yang lebih mengerikan dibanding apa yang sekarang terungkap.
Kita tak pernah tahu isi kepala manusia. Apalagi bila sistem di dalam tempurung kepala itu sudah pula dilukai melalui kejahatan seksual. Apapun bisa terjadi. Masih ingat si penjagal Ryan? Ia tega membantai belasan orang dengan keji. Semuanya berakar pada pengalaman dengan dan dalam kekerasan.
Kekerasan, apalagi kekerasan seksual, tidak pernah hanya meninggalkan luka pada tubuh. Lebih parah dari itu. Pun mewariskan luka pada sistem otak, borok pada jiwa yang seringkali merubah total si korban, dan memengaruhinya dalam menjalani sisa hidupnya.
Kita sungguh berharap, kasus JIS dibongkar tuntas. Semua pelaku langsung dan yang membiarkan peristiwa itu terjadi harus mendapatkan hukuman. Serta harus ada jaminan kepastian, kekerasan seksual yang biadab itu tidak terjadi lagi.
Mengapa penting menegaskan jaminan kepastian agar tidak terjadi lagi? Karena kita tak bisa lupakan apa yang terjadi di STPDN dan STIP. Siklus kekerasan berulang balik. Terjadi berkali-kali. Bahkan adanya korban yang tewas tidak membuat para penjahat itu berhenti berbuat jahat.
Kekerasan tak boleh menjadi bagian dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak kita. Karena kekerasan terbukti menghancurkan si anak dan masa depannya.
KEKERASAN DALAM PENGASUHAN DAN PENDIDIKAN ADALAH RACUN YANG SANGAT BERBAHAYA.
Nama : Aminah Pertiwi
BalasHapusNIM : 4915127038
Pendidikan IPS Non Reguler 2012
Seperti tulisan bapak diatas terungkapnya kejadian kejahatan seksual di sekolah JIS merupakan puncak gunung es. Dari mulanya satu korban yang melapor kini juga berkembang ada laporan lainnya yang serupa. Bahkan berita-berita di televisi juga melaporkan banyak kejadian serupa di tempat lain.
Ada perasaan menggerikan, miris dan sedih saat mendengar berita kejadian peristiwa di sekolah JIS tersebut. Menggerikan mengapa kejadian tersebut dapat menimpa seorang anak kecil yang bahkan belum tahu apa itu kejahatan seksual, dan miris mengapa kejadian seperti itu dapat terjadi di lingkungan sebuah sekolah bahkan sekolah yang bertaraf internasional dengan pengamanan yang super ketat tersebut. Dan menurut saya memang perlu diselidiki lebih lanjut adakah keterlibahan pihak sekolah pada kejadian tersebut, mengingat kejadian yang terjadi di sekolah tersebut tidak hanya terjadi sekali.
Dan seperti yang telah diungkapkan bapak dalam tulisan diatas, sulit untuk memulihkan para korban pelaku kejahatan tersebut. Dimana para korban akan memiliki rasa takut yang mendalam serta akan menimbulkan efek trauma.
Dari tulisan diatas ada yang ingin saya tanyakan :
1. Setelah terungkapnya kejadian ini, menurut bapak bagaimana dengan pendapat yang mengatakan bahwa pendidikan seks memang diperlukan bahkan pada anak-anak?
2. Bagaimana cara yang tepat untuk pemulihan untuk para korban kejahatan seksual?
Rizki Achmad Husaeni - Pendidikan IPS
BalasHapusSaya sangat setuju dengan tulisan bapak mengenai siklus kekerasan ini, karena pada kenyataannya banyak sekali kekerasan yang terjadi di masyarakat merupakan pengulangan dari apa yang pernah mereka alami sebelumnya, kemudian kekerasan tersebut terus diturunkan ke generasi berikutnya secara terus menerus dan menciptakan sebuah lingkaran kekerasan yang sangat sulit untuk dihapuskan.
Namun sangat disayangkan, seperti yang bapak tulis di atas, bahwa lingkaran kekerasan sudah masuk ke dalam dunia pendidikan, sehingga telah tercipta siklus kekerasan di dalam dunia pendidikan. Dunia yang seharusnya penuh dengan kesenangan, rasa sayang, dan rasa saling perduli antara satu sama lain. Sehingga pada saat ini sudah tercipta generasi generasi yang meyebabkan terjadinya kekerasan pada calon-calon generasi masa depan, baik seperti yang ada di dalam STPDN maupun kasus kekerasan seksual yang ada di JIS. Apabila hal ini terus terjadi, maka dapat diperkirakan bahwa hal ini akan menyebabkan dampak yang sangat luar biasa. Karena biasanya akan timbul rasa dendam dalam diri korban, sehingga korban akan melampiaskan kembali hal yang dirasakan olehnya kepada junior ataupun murid mereka kelak. Generasi penerus bangsa ini akan menjadi generasi yang mewariskan kekerasan, baik kekerasan fisik ataupun seksual. Sehingga ini akan menjadi sebuah racun bagi bangsa kita, bangsa Indonesia.
Untuk menghentikan hal tersebut, Apakah terdapat cara untuk memutuskan rantai kekerasan ini? Apabila ada, bagaimana caranya pak?
Apa hal yang seharusnya kita lakukan sebagai seorang pendidik kelak, apabila terdapat rekan sesama pendidik yang masih menggunakan cara kekerasan dalam mengajar?
Terimakasih pak Nusa
Nama: Novi Nisa Rahmawati
BalasHapusNIM: 4915116869
Kelas: P.IPS B 2011
Saya sangat setuju dengan tulisan bapak, bahwa memang terjadi siklus kekerasan di dalam dunia pendidikan seperti yang terjadi di dalam kasus kekerasan seksual terhadap murid tk di JIS. Banyak anak anak yang menjadi korban dari kekerasan seksual yang dilakukan oleh pihak OB yang diduga merupakan mantan korban kekerasan seksual dari seorang guru yang telah mengajar selama 10 tahun di JIS.
Pertanyaan:
1. Bagaimana caranya agar siklus kekerasan tersebut dapat berhenti atau dihentikan? Dan apa yang harus dilakukan agar para korban dapat sembuh dari trauma?
2. Apakah selalu korban kejahatan seksual akan berubah menjadi pelakunya nanti?
3. Menurut Bapak, siapa yang patut disalahkan ketika pelaku pedofil ternyata ialah korban kejahatan seksual di masa lalunya?
Nisrina Haniah
BalasHapusPendidikan IPS NR 2012
4915127060
Sungguh ironi, sekolah sebagai tempat untuk menjunjung tinggi ilmu dijadikan sebagai lahan untuk melakukan kekerasan. Kekerasan yang dimaksud adalah pelecehan seksual yang biasanya dilakukan oleh tenaga kependidikan pada peserta didik. Bahkan sekolah bertaraf internasional pun dapat dijadikan sebagai lahan untuk melakukan hal tersebut.
Di Indonesia khususnya kota-kota besar banyak menjadikan sekolah sebagai ajang pelecehan seksual, seperti kejahatan yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap anak didiknya di salah satu sekolah favorit di Jakarta. Namun, tidak ada tindak lanjut dari berita tersebut karena telah tertutup dengan berita ter-update lainnya.
Tidak ada yang salah dengan pendidikan di negeri ini. Akan tetapi kesalahannya terhadap pelaku kejahatan tersebut yang terus mencari mangsa dan korban yang tidak mau melapor kepada pihak sekolah.
Nama : Yuli Nurfitria
BalasHapusNIM : 4915116865
Kelas : Pendidikan IPS 2011 B
Saya sangat tertarik dengan tulisan bapak mengenai siklus kekerasan. Menurut saya siklus kekerasan ini harus dapat dihentikan agar tidak ada korban-korban kekerasan lainnya. Menurut saya kekerasan yang terjadi di JIS sungguh membuat saya kaget dan miris mendengarnya. Hal ini dikarenakan JIS merupakan salah satu sekolah internasional yang ada di Indonesia. Akan tetapi sekolah internasional seperti JIS ini belum menjamin keamanan bagi siswanya. Peristiwa kekerasan JIS ini dapat menjadi pelajaran buat kita untuk dapat peka terhadap keadaan sosial di lingkungan sekitar. Saya juga mengharapkan agar tidak adanya lagi siklus kekerasan terutama di lingkungan pendidikan seperti sekolah. Karena menurut saya seharusnya sekolah atau tempat pendidikan merupakan sebuah tempat yang menyenangkan, tempat untuk menuntut ilmu dan bukan merupakan tempat kekerasan. Saya juga mengharapkan adanya hukuman yang tegas bagi pelaku-pelaku kekerasan.
Pertanyaan :
1. Bagaimana cara agar korban kekerasan dapat berani melaporkan kepada pihak berwajib. Mengingat sekarang ini banyak korban kekerasan yang takut melaporkan ke pihak berwajib disebabkan takut adanya ancaman dan tekanan ?
2. Bagaimana cara seoarang pendidik untuk menghilangkan trauma bagi korban-korban kekerasan ?
3. Menurut bapak bagaimana cara untuk dapat memutuskan siklus kekerasan yang pada sekarang ini banyak terjadi di masyarakat ?
BalasHapusTERKADANG MANUSIA LEBIH KEJI KETIMBANG BINATANG itu salah satu pepatah yang pantas untuk seorang ayah seperti itu. Nafsu birahi manusia terkadang mengalahkan akal sehat asudah tidak selyaknnya digunakn sehingga kebutuhanb akan nafsu seksual malah diprioritaskan jadi kewajiban pertanyaan yang pantas adalah , apakah ada peran dari masyrakat sekitar terdekat dalam kasus tersebut ?