OM MANI PADME HUM. Semoga semua makhluk berbahagia. Pada bulan purnama pertama Mei, Waisak diperingati. Peringatan ini dikenal dengan Tri Suci Waisak. Sebab Waisak memperingati tiga kejadian penting dalam agama Budha yaitu kelahiran Pangeran Sidharta pada 623 SM, kala Sidharta mendapat pencerahan dan menjadi Budha saat berusia usia 35 tahun pada 588 SM, dan wafatnya Budha ketika berusia 80 tahun pada 543 SM.
Bulan purnama merupakan simbol pencerahan. Sidharta lahir saat purnama, memperoleh pencerahan kala purnama dan wafat juga diiringi bulan purnama. Keseluruhannya adalah simbol bahwa hakikinya Budha adalah pencerahan dan mencerahkan. Budha adalah bulan purnama bagi gulita malam kelam. Bulan purnama menerangi dalam keteduhan, bukan menyinari dan menyilaukan bagai matahari.
Pangeran Sidharta lahir sebagai pangeran. Sejak kecil ia hidup dalam kelimpahmewahan istana raja. Apapun yang ia mau, segera didapatkan. Ia didik untuk menjadi raja. Bergumul dengan pemikiran tentang tatakelola negara dan perang. Namun, nasib manusia memang tak pernah seperti matematika. Saat berkeliling di jalanan luar istana, sang pangeran dikagetkan oleh pemandangan tragis tentang kenyataan sangat mendasar tentang manusia.
Sang Pangeran Sidharta melihat orang sakit, orang tua dan orang mati. Sakit dan menjadi tua adalah penderitaan yang tak tertolak, mati adalah kepastian yang niscaya. Bagi seorang pangerang yang hidup dalam kelimpahmewahan, yang hidup dalam serba berlebihan, apa pun ada, segala punya dalam usia sangat muda belia tiba-tiba melihat orang sakit dan orang tua renta yang lemah tak berdaya tentulah suatu kejutan luar biasa. Kekagetan itu juga merupakan isyarat bahwa sang pangeran memiliki sensitivitas luar biasa.
Bukankah setiap hari kita juga melihat hal yang sama. Tetapi rasanya biasa-biasa saja. Kala hendak pergi ke kantor kita sering berpapasan dengan mobil ambulan yang membawa mayat, atau lewat di pemakaman ada penguburan mayat, apakah kita lantas menyadari tentang realitas terdalam manusia? Keterkejutan sang pangeran adalah pertanda, ia bukan pengeran biasa. Ia bukan manusia rata-rata atau sedang-sedang saja. Ia manusia dengan banyak kelebihan.
Sang pangeran mempersepsi apa yang kurang disadari banyak orang, meskipun setiap hari dilihat, bahwa di balik semua fenomena yang tampak yaitu orang sakit, menjadi tua, dan mati ada hakikat yang mendasari semuanya yaitu hidup adalah penderitaan, dukha lara. Tak usah membayangkan kanker darah, gagal ginjal atau stroke. Bayangkan saja cantengan di jari jempol kaki atau sakit gigi. Betapa penderitaan terasa di seluruh tubuh. Sangat terasa hidup menjadi tak nyaman dan tak bermakna. Bayangkan pula menjadi tua, kala mata rabun dan lidah tak lagi bisa rasakan kenikmatan makanan, dan mata tak bisa diajak istirah dalam damai tidur. Pada kala kaki dan tangan tak lagi bebas digerakkan, betapa mengerikan. Inilah derita yang tak terelakkan, niscaya.
Sang pangeran hidup dalam konteks kuatnya dominasi agama Hindu yang mengajarkan reinkarnasi, kelahiran kembali. Artinya manusia akan mengalami penderitaan itu tidak sekali, tetapi berkali-kali, sesuai karmanya, atau perbuatan baik dan buruknya.
Kenyataan mengerikan tentang kodrat manusia ini menghentak kesadaran pangeran. Ia putuskan tinggalkan kemegahan istana dan kenikmatan hidup duniawi. Ia mulai mencari hakikat di balik semua kenyataan yang menyakitkan dan sangat rumit ini. Ia ikuti tradisi yang berkembang saat itu, tinggalkan semua yang duniawi dan lakukan tapa samadi serta pendisiplinan diri yang sangat ketat. Ia seperti tenggelam dalam labirin tak bertepi.
Akhirnya melalui jalan tengah, cara yang lebih moderat mendisiplinkan diri dan fikiran, ia mencapai pencerahan tentang hakikat hidup dan keberadaan manusia. Budha menawarkan jalan dharma. Hakikinya setiap orang harus mencari pencerahan itu dengan usahanya sendiri. Karena ajaran ini ia diserang oleh para penganut tradisi lama. Dalam arti ini Budha adalah seorang tokoh revolusioner.
Dalam pencerahan itu Budha mendapatkan sejumlah ajaran yang menjadi prinsip pokok jalan yang ditawarkannya. Ajaran itu dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia, dan Delapan Jalan Mulia.
Empat Kebenaran Mulia itu adalah: 1). Hidup ini dukha. Dukha lebih dari sekadar penderitaan fisik seperti sakit dan menjadi tua. Sutan Bhatoegana kini pastilah dhuka, karena ditetapkan jadi tersangka oleh KPK meski belum masuk penjara. Dulu posisinya ngeri-ngeri sedap, sekarang jadi ngeri-ngeri azab. Jika dia dan keluarganya memiliki rasa malu, pastilah akan malu sekali sekarang ini. Sebab orang mulai menduga dari mana uang dia membangun rumah yang bagai istana. Mengapa ia punya banyak mobil mewah. Gajinya sebagai anggota DPR kan tidaklah memungkinkannya dalam waktu singkat bisa seperti itu. Jika ia orang yang baik, pastilah sekarang ini merasa tidak nyaman. Inilah contoh dukha. 2). Dukha muncul dari hasrat dan keinginan. Karena ingin cepat kaya, karena hasrat yang sangat besar untuk memperoleh kuasa, gengsi dan kehormatan, banyak orang menghalalkan segala cara seperti Sutan Bhatoegana, Anas, Nazaruddin, Anggie, Andi Malaranggeng yang semuanya kader Partai Demokrat. Hasrat dan keinginan itu yang sekarang ini membuat mereka menderita. Semuanya tampaknya akan berakhir di penjara. 3). Dukha bisa dihentikan dengan menghapus hasrat dan keinginan. Hasrat dan keinginan, apalagi hasrat dan keinginan jahat pastilah akan membawa pada dukha. Bahkan hasrat dan keinginan baik pun bisa membawa pada dhuka bila tak dikelola dengan baik. 4). Dukha bisa diatasi dan diakhiri dengan mengikuti Delapan Jalan Mulia. Apakah Delapan Jalan Mulia itu?
Delapan Jalan Mulia adalah serangkaian ajaran yang harus dipahami dalam keutuhannya, yang satu berkaitan dan memperkuat yang lainnya. Delapan Jalan Mulia itu adalah:
1). Pandangan Benar
Secara mendalam memahami dan meyakini Empat Kebenaran Mulia.
2). Pikiran Benar
Membiasakan berfikir positif, mengembagkan welas asih, dan pemikiran yang konstruktif bagi kebahagiaan manusia.
3). Ucapan Benar
Jangan berbohong, memfitnah. Ungkapkan kejujuran, kebaikan, dan kemanfaatan.
4). Perbuatan Benar
Jangan mencuri, berzinah, dan membunuh. Kembangkan kejujuran, cinta kasih, dan kebaikan.
5). Penghidupan Benar
Jangan memilih pekerjaan yang berkaitan dengan kejahatan, membunuh hewan dan manusia. Jangan terlibat dengan pekerjaan apapun yang melanggar etika, moral, dan hukum, serta merusak manusia dan lingkungan.
6). Usaha Benar
Mentradisikan kedisiplinan terutama disiplin mental agar tidak memiliki fikiran-fikiran jahat dan merusak.
7). Perhatian Benar
Memperhatikan kesehatan dan kebugaran tubuh, fikiran, perasaan dan emosi agar tetap fokus pada kebenaran.
8). Konsentrasi Benar
Membiasakan, mentradisikan praktik meditasi agar fikiran terlatih dan terpusat pada kebenaran, sehingga bisa memahami, menghayati, dan mempraktikkan kebijaksanaan.
Kedelapan Jalan Mulia ini tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Kedelapannya membantuk rangkaian ajaran dan praktik yang saling memperkuat. Sebagai contoh jika kita tidak mendisiplinkan diri menjaga makanan, pastilah akan mengganggu kesehatan tubuh dan mengganggu fikiran untuk fokus pada kebenaran. Itulah sebabnya dalam agama Budha ada aturan yang sangat jelas tentang makan dan makanan. Aturan ini ada kaitannya dengan pelaksanaan Delapan Jalan Mulia ini.
Bila Delapan Jalan Mulia ini dilaksanakan dengan benar dan konsisten, maka keinginan dan hasrta bisa dikendalikan dan dihilangkan, akibatnya dukha akan hilang. Manusia mendapatkan kebahagiaan sejati, lepas dari rantai kelahiran kembali.
Kerusakan dunia kini, apakah kerusakan lingkungan dan sosial semuanya berakar dari keinginan dan hasrat jahat manusia sendiri. Bila jalan pencerahan Budha ini dilaksanakan maka keinginan dan hasrat jahat itu akan pupus dan manusia mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian.
KEBAHAGIAAN DAN KEDAMAIAN BISA DIRASAKAN BILA SEMUA KEINGINAN DAN HASRAT JAHAT DIHAPUSTUNTASKAN DARI FIKIRAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd