Selasa, 28 Oktober 2014

MAJLIS PENGAJIAN DAN PREMAN JALANAN



Jalanan macet total, sudah hampir satu jam. Penyebabnya sungguh bikin kesal. Banyak orang jadi marah. Serombongan orang, jumlahnya ratusan,  mengendarai motor berada pada jalan yang bukan jalan mereka, jalan yang seharusnya hak pengendara dari arah sebaliknya. Ratusan motor ini melawan arah. Menutup jalanan.

Mereka terdiri dari perempuan dan lelaki. Para perempuan menggunakan jilbab. Sementara yang lelaki menggunakan kopiah dan songkok yang biasa digunakan pak haji, menggunakan semacam jas berwarna hitam, di bagian belakang jas itu ada tulisan berwarna emas yang menunjukkan mereka anggota sebuah majlis. Dari nama majlisnya seharusnya orang-orang ini berlaku sopan, tidak melanggar aturan. Karena nama majlis itu membawa nama manusia yang sangat dicintai Allah.

Mereka malah dengan sengaja ngegas motornya bareng-bareng, sehingga benar-benar menjadi sangat mengganggu. Pakai teriak-teriak pula. Mereka memaki pengendara yang ada di depan mereka, yang justru hak jalannya telah mereka rampas. Gaya orang-orang ini sungguh arogan. Memuakkan dan menjijikkan!

Supir taksi yang kutumpangi tampak marah. Ia mulai mengomel, jamaah pengajian koq kayak setan, keluhnya. Apa bedanya mereka dengan geng motor? Tanya sang sopir. Sementara jamaah atau majlis pengajian itu makin keras suara motornya. Mereka memainkan gas dan klakson motor.

Sopir taksi itu bercerita. Ia dan banyak supir taksi lain sudah hafal dengan kelakuan majlis ini. Mereka ini sama sekali tidak tertib, pelanggar aturan. Mereka tidak pernah menggunakan helm. Biasanya menaiki motor bertiga, bahkan berempat. Suka melawan arus dan tak peduli pada lampu lalu lintas.

Di daerah Tanah Abang, ada taksi yang terkena macet karena ulah majlis ini, dipecahkan kaca spionnya, dan ditendang pintu belakangnya sampai peot karena supirnya membunyikan klakson mobil. Ditambah lagi dengan bonus makian dan ancaman.

Sopir taksi ini, yang juga seorang muslim, bingung dan heran. Mereka kan mau pergi mengikuti pengajian, mengapa selalu berulah merugikan pengguna jalan lainnya? Kelakuannya beda-beda tipis dengan suporter sepak bola yang merusak apa saja, pun saat kesebelasan yang didukungnya menang. Apa guna rajin ikut pengajian, kalo kelakuannya kayak setan?, tegas pak sopir taksi.

Kemarahan orang yang tekena macet muali meningkat. Beberapa keluar dari mobil dan meminta anggota majlis pengajian itu mundur untuk memberi jalan bagi pengendara di depannya agar kemacetan bisa terurai. Anggota majlis pengajian itu malah ngotot.

Entah dari mana, muncul puluhan preman jalanan. Penampilan dan gaya berpakainnya menegaskan bahwa mereka memang preman. Dengan gaya preman, mereka memaksa barisan motor paling belakang dari majlis pengajian itu berbalik arah. Ada anggota majlis itu yang ngotot. Oleh preman-preman itu motornya ditarik paksa.

Para preman itu memaksa anggota majlis itu mengosongkan jalanan. Beberapa dari mereka membawa potongan besi panjang. Mungkin untuk jaga-jaga jika anggota majlis pengajian yang jumlahnya lebih banyak itu melawan. Memang ada yang ngotot, tetapi para preman itu memaksa mereka kosongkan jalanan.

Berkat usaha para preman itu akhirnya macet teratasi. Preman jalanan rupanya lebih paham kepentingan umum daripada anggota majlis pengajian. Para preman itu berani mengambil tindakan membela kepentingan orang banyak. Kejadian kecil ini menegaskan,

AGAMA ITU BUKAN ATRIBUT, TETAPI PERILAKU YANG HIDUP.

44 komentar:

  1. Fitri Rizka Maulia 4915141028
    P.IPS A 2014.

    Terkadang saya berpikir, banyak orang yang membuat citra agama mereka menjadi rusak akibat perilakunya, contohnya seperti yang dilakukan rombongan majlis yang diceritakan di atas,sikap mereka tersebut membuat orang menganggap bahwa itulah perilaku orang yang beragama islam, banyak orang terkena imbas, dan membuat orang menjadi emosi sehingga mengeluarkan cacian, padahal mencaci bukanlah sikap yang baik.
    Seharusnya ilmu yang didapatkan dari pengajian majlis tersebut dapat di aplikasi kan di dunia nyata, sekecil apapun ilmu yang di perolehnya.

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum wr wb Pak Nusa.

    menurut saya pemicu kemarahan seseorang bisa disebabkan banyak faktor salah satunya yang sudah dicontohkan diatas. banyak orang yang dijalan marah marah karena terjebak macet dijalan itu sudah menjadi hal biasa karena saya juga kalo mengalami hal seperti itu pasti akan gondok sendiri dalam hati. tetapi perilaku seperti itu tidaklah baik dan agama bukan hanya menjadi identitas atau istilahnya 'Islam KTP' dan harus menunjukkan bahwa kita memiliki perilaku yang baik sebagai mahluk yang memiliki agama.

    Wassalamualaikum wr wb.

    Yetty Imayanti. PIPS A. 4915141036

    BalasHapus
  3. Edward kurnadi
    Pips a
    4915145637
    Saya setuju dengan dengaan kesimpulan bapak bahwa agama itu bukan atribut tapi prilaku yang hidup karna orang dikatakan beragama apalagi beriman dan bertaqwa bukan karna mereka menggunakan atribut keagamaan tapi jika mereka bersikap baik dan menjalan kan perintah agama ,jadi prilaku seperti itu tidak menunjukan bahwa mereka orang yang beragama karena hal tersebut merugikan orang banyak dan hukumnya dosa berbeda dengan preman tersebut yang berhati malaikat tau mana yang benar dan salah
    seharusnya sosok muslim yang baik bila iya berprilaku seperti yang diperintahNYAdan menjauhi larangaNYA seperti yang tersurat di al quran

    BalasHapus
  4. Peristiwa seperti yang bapak ceritakan yang terkadang membuat orang berfikir negatif dengan orang yang taat beragama karena sudah banyak peristiwa negatif yang membawa-bawa agama seperti kasus bom bali yang mengatas namakan jihad.

    Haryani
    4915141015
    Pendidikan IPS A 2014

    BalasHapus
  5. Peristiwa seperti yang bapak ceritakan yang terkadang membuat orang berfikir negatif dengan orang yang taat beragama karena sudah banyak peristiwa negatif yang membawa-bawa agama seperti kasus bom bali yang mengatas namakan jihad.

    Haryani
    4915141015
    Pendidikan IPS A 2014

    BalasHapus
  6. Assalamu'alaikum pak.
    Dari fakta yang sudah kita ketahui bahwa agama yang dianut seseorang belum tentu mencerminkan perilakunya. Dapat diambil kesimpulan bahwa, orang yang tidak berperilaku sesuai dengan agama dan aturan mereka tidak mempunyai kesadaran dan tanggungjawab dengan kepercayaan yang telah mereka teguhkan. Mereka tidak memiliki rasa malu sedikitpun. Secara tidak langsung perilaku yang ditunjukkan sudah mencoreng agamanya sendiri. Bagi mereka agama hanya status.

    Pertanyaan :

    Bagaimana tanggapan bapak pada perilaku orang yang seperti bapak ceritakan pada tulisan bapak ? Faktor apa sajakah yang membuat mereka berperilaku liar seperti itu ?
    Terimakasih

    BalasHapus
  7. Memang beberapa majelis pengajian yang kita jumpai seperti itu, padahal kita ketahui bahwa agama itu memberikan contoh yang baik bukannya contoh yang buruk seperti melanggar aturan lalu lintas. Namun, tidak semua majelis seperti itu karena tidak pantas majelis pengajian yang membawa nama agama mempunyai kelakuan seperti itu. Berbeda dengan preman, banyak yang menganggap preman itu hanya mementingkan diri sendiri dan selalu berbuat kejahatan, tapi justru preman-preman itu yang mengatur agar para rombongan majelis tersebut tidak membuat macet. Tidak semua preman mempunyai sifat negatif namun ada sebagian preman yang justru mempunyai sifat positif dan memikirkan kepentingan orang banyak.

    Eka Yuliyanti
    P.IPS B
    4915142817

    BalasHapus
  8. tidak asing lagi, banyak organisasi-organisasi yang mengatasnamakan agama ya hasilnya begitu. kalau kelakuan mereka seperti itu sudah jelas landasannya bukan syariat agama. kalau saja mereka tidak mengatasnamakan agama mungkin pemerintah sudah membubarkan, sayang sekali sesuatu yg buruk mendompleng agama agar tidak tergusur, itu yang menyebabkan munculnya cemoohan antar agama yaaa karena mengatasnamakan agama untuk organisasi anarkis

    rayi asyhada
    p.ips a 2014
    4915144090

    BalasHapus
  9. Nama : Firaas Azizah
    Kelas : P.Ips A
    Kode : 4915141031

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Saya setuju dengan ungkapan bapak bahwa “ AGAMA BUKAN ATRIBUT, TETAPI PERILAKU YANG HIDUP”. Orang yang mempunya agama adalah orang yang tahu mana yang benar dan mana yang salah, sebagian umat manusia banyak yang mengaku dirinya islam tapi sikap dan perilakunya tidak mencerminkan dirinya sebagai umat islam. Contohnya, para pemabuk dan perempuan-perempuan jalang, kalo kita tanya agamanya apa pasti mereka memiliki agama tapi hanya lewat mulut dan status di KTP bukan dari hati mereka dan sikap mereka yang mencerminkan kalo mereka tidak mempunya agama.
    Ungkapan bapak sama halnya nya dengan perempuan yang berjilbab, tak jarang dari mereka mengenakan jilbab hanya sebagai atribut alias cuma sekedar fashion bukan dari hati. Banyak kok perempuan kaum muda zaman sekarang yng alasan memaki jilbab karena rambutnya rusak lah, atau karena dia ikut-ikutan. Padahal jilbab itu adalah kewajiban bagi perempuan yang beragama islam, dan jilbab itu sebagai identitas bahwa kita umat muslim. Tapi kenyataannya, banyak yang berhijab tapi akhlaknya tidak mencerminkan sebagai muslimah yang sholehah. Kalo jaman sekarang bilangnya ‘”jilboobs” memakai jilbab tapi bentuk lekungan tubuhnya terbentuk.
    Intinya buat apa kita mengikuti majelis dan memakai jilbab, kalo apa yang telah kita lakukan tidak mencerminkan kebaikkan yang telah diajarkan dan ilmu yang telah kita pelajari tidak bermanfaat buat diri kita, karena kita tahu bahwa itu salah tapi kita tetap mengikuti kesalahan yang telah kita perbuat.
    Sekian dan terima kasih,

    BalasHapus
  10. sebenarnya saya juga suka ikut pengajian majelis ini tetapi memang perlakuan majelis ini tidak sesuai dengan apa yang di anjurkan rasuallah , saya amat suka dengan selogan terakhir bapak bahwa agama bukanlah atribut tetapi prilaku yang hidup.

    BalasHapus
  11. Assalamu’alaikum wr.wb

    Nama : Yuni Shofarani
    Kelas : Pendidikan IPS B
    Nomor Registrasi : 4915142798

    Orang yang ikut andil dalam mengikuti majelis-majelis pegajian merupakan hal yang baik. Mereka sudah benar caranya yaitu mengikuti pengajian, tapi tindakan mereka yang salah, seharusnya mereka tidak perlu berbondong-bondong bersepeda motor bahkan kebut-kebutan dijalan yang membuat khalayak umum menjadi terjebak macet karena ulah mereka, harusnya mereka bisa menyesuaikan, walaupun mereka niatnya baik untuk mengikuti pengajian, tetapi membuat orang lain susah, itu sama saja menambahh pahala dan mengurangi pahala mereka. Harusnya mereka bisa menempatkan diri, namanya peraturan tetap saja harus di taati, karena ini menyangkut khalayak banyak orang, walapun sedesak apapun kita, harus saling menghargai antar sesama pengguna jalan.

    Wassalamu’alaikum wr.wb

    BalasHapus
  12. Assalamualaikum pak
    Saya Ma'mun Raka Arief
    P.IPS A'14

    Setuju pak, kadang pakaian atau kostum mereka cuma kedok doang. Ngaku islami tapi kelakuannya tidak manusiawi. Mereka kadang membuat kekacauan sampe-sampe masyarakat biasa jadi korban ketidakmanusiawiannya. Naudzubillahimindzalik.
    Terimakasih pak, wassalam.

    BalasHapus
  13. Sungguh aneh dan memalukan kelakuan anggota anggota majlis tersebut. Seharusnya mereka lebih mengerti mana yang baik dan buruk daripada preman preman itu. Apalah guna menjadi anggota majlis jika tidak bisa menerapkan nilai nilai baik ke kehidupan sehari hari. Sungguh tidak menyangka yang berhasil menyelesaikan keributan di jalan itu adalah preman preman. Pungki Kusdwi P.IPS A 2014

    BalasHapus
  14. duh kalau bicara majlis agak gimana gitu. saya memang pernah mendengar seorang ulama besar yang hadir di masjid deket sekolah SMP saya. beliau bilang, "ngaji tu harus punya kitab, di pisah antara yang perempuan dan laki-laki. ngaji jangan cuma pengen jalan-jalan doang." saya tau maksud ustadz ini dengan bapak, saya juga memang tidak setuju dengan mereka. mereka mencemarkan nama baik islam. padahal majlis ta'lim saya yang hingga kini saya disana tidak seperti itu. terkadang saya bingung dengan apa yang mereka dapat dari pengajian itu jika sikapnya memalukan umat islam. bahkan sampai dimuat dalam artikel ini.

    BalasHapus
  15. Fasubkhanali
    P.IPS B 2014
    4915142808

    Banyak orang mengaku beragama, namun tidak mengamalkan dengan baik agama yang dianutnya. Agama hanya dijadikan atribut, bukan perilaku kehidupan yang baik. Hanya dijadikan penampilan, bukan sebagai sesuatu yang memberikan dampak baik untuk orang lain. Orang-orang yang terlihat galak sekalipun terkadang lebih mengerti orang lain ketimbang orang-orang yang mengaku memahami dan mendalami sebuah agama. Orang-orang bertato seringkali lebih menghargai orang lain ketimbang orang-orang berpeci. Begitulah, sebaiknya kita menilai seseorang bukan berdasarkan penampilan tapi berdasarkan tingkah lakunya.

    BalasHapus
  16. NAMA Fardani Ghina Hayati.
    JURUSAN P.IPS B 2014

    memang perbuatan itu sangat memalukan dan sangat mencemarkan nama baik agama islam.Mereka seperti manusia manusia yang tidak memiliki akhlak. Setiap aktivitas yang dilakukan mereka di jalanan sangat menggangu ketertiban dan selalu melanggar peraturan yang ada. Biasanya polisi juga takut untuk melerai mereka karna jumlah polisi yang biasa berjaga kalah jauh dengan anggota majelis itu, seharusnya ada perundang-undangan tentang ketertiban berkendara atau syarat konfoi. dan apabila dilanggar harus di hukum seberat-beratnya.

    BalasHapus
  17. Titis Pamulasari A.P
    4915141035
    P.IPS A 2014

    Ketika saya melihat kejadian seperti itu saya juga kaget,binggung,kesal.Bagaimana tidak,mereka beragama islam tapi perilakunya tidak menunjukan islam.Saya juga sempat bertanya mereka melakukan hal seperti itu di dasari hal apa? Padahal ketika mereka melakukan perbuatan seperti bukan orang orang menghormatinya malah membuat jengkel dan marah.
    Seharusnya mereka lebih baik membaca al-qur’an di mesjid secara jama’ah atau mendengarkan ceramah dari pada mereka ngebut ngebut gak jelas dan malah membuat penggangu jalan.Sungguh,piiran manusia sulit kita tebak.

    BalasHapus
  18. Nama: Fakhri Rizqi Ekaputera
    Kelas: P.IPS 2014 B
    No reg: 4915144088

    Sangat menarik hal yang dibahas oleh anda pada tulisan diatas. Saya juga pernah mengalami kemacetan yang disebabkan oleh suatu majelis yang menggunakan jalan raya tanpa mematuhi peraturan lalu lintas. Hal tersebut mencemarkan majelis itu sendiri, padahal melakukan kegiatan yang bersifat ibadah tidak perlu membuat berantakan lalu lintas.

    Preman yang berada disekitar lokasi dari cerita yang anda bahas menunjukan bahwa preman yang selama ini kita anggap seseorang yang negatif bisa membawa perubahan di lalu lintas demi membantu kepentingan bersama, yaitu kelancaran dalam lalu lintas.

    BalasHapus
  19. Noviana Winarsih / P.IPS B 2014
    Menurut saya, percuma saja bila sekumpulan anggota pengajian itu mengikuti suatu perkumpulan agama namun perilaku dan ucapannya tak menggambarkan ajaran yang baik. Justru membuat malu suatu agama karena perilakunya. Saya setuju dengan kalimat Bapak yang menyatakan bahwa "AGAMA ITU BUKAN ATRIBUT, TETAPI PERILAKU YANG HIDUP"
    Agama bukan sekadar aksesoris belaka, namun merupakan perilaku yang terealisasi dengan nyata sesuai dengan ajaran agama.

    BalasHapus
  20. Atika Purwandari P.IPS B 2014
    Rasanya sungguh memalukan ketika membaca postingan bapak diatas.Kelakuan mereka sama sekali tidak mencerminkan apa yang seharusnya mereka lakukan.Lebih baik berdiam dirumah dari pada ikut-ikutan hal tersebut yang menggunakan embel-embel majlis.Secara tidak langsung,mereka malah membuat pandangan orang berubah terhadap islam.

    BalasHapus
  21. Salwa salsabila p.ips B
    banyak zaman sekarang yang tidak mempunyai sopan santun dan berprilaku tidak baik, orang islam iya tapi itu hanya islam di ktp saja,mrk bukan melakukan prilaku yang baik yang diajarkan di islam tp mereka malah sebaiknya. Itu tidak boleh ditiru, agama itu bukan atribut bener kata bapak, saya setuju tetapi prilaku hidup manusia yang dijalankan dimasyarakat. Trimakasih

    BalasHapus
  22. Yumna Adzillah
    P.IPS B 2014
    4915144089

    Penyalahgunaan agama di Indonesia ini sangat marak terjadi. Dari golongan paling atas sampai golongan-golongan kecil banyak menyalahgunakan agama. Atas nama agama mereka melakukan sesuatu untuk kepentingan pribadi bahkan merugikan orang lain. Dengan ilmu yang mereka miliki, mereka menganggap bisa melakukan apa saja seolah-olah mereka benar. Orang-orang yang lebih mengerti agama harusnya menunjukkan perilaku yang pantas dan sesuai dengan ilmu yang dia miliki.

    BalasHapus
  23. Miftahul Falah
    P.IPS B 2014
    4915142807

    Setuju dengan kesimpulan bapak, bahwa agama itu bukan atribut. tetapi perilaku yang hhidup. Tingkat keagamaan seseorang bukan dilihat dari pakaian atau atribut yang digunakan tetapi perilaku dalam kesehariannya yang mencirikan dia itu orang yang beragama atau bukan.

    BalasHapus
  24. Memang pak zaman sekarang sudah kacau. Banyak orang tidak tau harus menempatkan diri. Dengan baju seperti iturasa malu mereka bahkan tidak ada, faktanya mereka malah melanggar norma norma yang ada. Memang Indonesia kurang beradab.

    BalasHapus
  25. Menarik sekali tema yang Bapak angkat dalam tulisan kali ini. Tak bisa dibayangkan bahwa mereka yang “ngakunya” agamis, rajin mengikuti pengajian malah kelakuannya melebihi preman. Ketika di jalan menuju ataupun pulang dari kampus tanpa sengaja saya sering menjumpai mereka. Ambil contoh, ketika setelah saya mengantarkan bibi saya ke Jln. Pangkalan Asem di daerah Cempaka Putih. Disana ada razia kendaraan bermotor. Lalu saya melambatkan laju kendaraan saya. Tiba-tiba dari arah belakang ada segerombolan pemuda mengendarai motor dengan knalpot yang cukup bising, tentunya dengan memainkan gas motor mereka. Saya kesal. Di tengah siang hari yang terik ini ada saja manusia-manusia seperti itu. Ketika diperhatikan, pakaian yang mereka pakai menandakan bahwa mereka merupakan anggota dari suatu majelis persis seperti yang Bapak deskripsikan. Segerombolan anggota majelis itu berada di jalur yang sama dengan saya. Di jalur lambat. Saya merasa kelengkapan berkendara saya sudah cukup baik. Tak ada alasan polisi untuk menilang saya,terkecuali kalau sampai polisi menanyakan kepemilikan SIM. Maklum, saya belum sempat untuk membuatnya.
    Lalu saya tetap memacu kendaraan saya semakin lambat karena gerombolan majelis itu berada tepat di depan saya dan radius menuju lokasi razia kendaraan semakin dekat. Polisi-polisi mulai melakukan razia kepada pengendara sepeda motor satu persatu. Saya pikir, “sudahlah pasti gue kena tilang kalo semuanya emang diberentiin”. Benar saja, ada satu polisi memberhentikan saya dan menanyakan kelengkapan surat. Saya pikir apa salah saya sehingga harus diberhentikan? Saya memakai helm,jaket,sarung tangan, dan sepatu. Lampu serta klakson pun berfungsi dengan baik. Ini mungkin akal-akalan mereka saja karena sudan di akhir bulan. Mencari tambahan, mungkin. Cari-cari kesalahan.
    Dengan sekejap STNK saya di tahan karena saya tak memiliki SIM. Yang jadi pusat perhatian saya waktu itu bukanlah soal diri saya yang ditilang, melainkan sikap para polisi terhadap anggota majelis yang berada tepat didepan saya. Polisi meloloskan mereka begitu saja. Padahal jelas sekali, mereka melanggar hampir semua peraturan dalam berlalu lintas. Tak pakai helm, sepatu, berkendara sampai 3 orang dalam satu motor, dan lampu kendaraan mereka mati. Saya pikir, diskriminasi polisi terhadap pengendara perlu ditindak oleh yang berwenang. Ini menyalahi peraturan. Dan itu jelas.
    Apakah polisi itu takut pada mereka yang bermodal kopiah putih seperti yang dipakai para jemaah haji? Atau ada kepentingan dan kongkalikong dibalik itu? Entahlah.
    Pertanyaan :
    Kenapa bapak tidak berani menuliskan nama majelis tersebut secara terbuka di tulisan ini? Padahal sudah jelas, deskripsi yang bapak berikan kuat dan mengacu pada Majelis Rasulullah.

    TITA NURMALA – P.IPS B 2014

    BalasHapus
  26. Khilva Aini Humaedi
    P.IPS 2014
    4915142822
    sungguh disayangkan sekarang ini orang-orang yang mengatasnamakan anak "majlis pengajian" bertindak lebih parah dari preman-preman yang ada. walaupun tidak semuanya orang majelis bertindak seperti itu, masyarakat pasti bisa langsung berfikiran bahwa orang-orang yang mengikuti majelis bertindakseperti itu emua. karena mereka bisa melihat fakta itu sendiri.
    ada pepatah yang mengatakan jangan melihat buku hanya dari sampulnya da ternyata itu benar, kita tidak boleh menjudge seseorang hanya dari penampilannya saja.

    BalasHapus
  27. Ghaffar Radithio P
    P.ips b 2014
    4915142801
    Saya lebih setuju jika majelis taklim itu dibubarkan saya sangat paham kenapa mereka berperilaku begitu, karena jumlah mereka banyak dan mereka menganggap dirinya selalu benar. Dan juga majelis ini sudah mencoreng agama islam dengan kelakuannya jadi pandangan orang akan islam berubah dari agamais menjadi anarkis, lebih baik jadi preman merugikan hanya 1-2 dari pada menjadi majelis merugikan orang banyak.

    BalasHapus
  28. "Rahmatan Lil Alamin" itulah prinsip orang islam yang sesungguhnya dan islam itu mengajarkan kedamaian. jikalau saja kelakuan nya seperti pak nusa tulis itu maka sesungguhnya mereka menjelekkan agama mereka sendiri. saya pernah melihat majlis talim yang masih muda pria dan wanita dan saya yakin mereka sebaya dengan saya, namun yang terjadi ialah mereka berdua berpeluk mesra diatas motor. sungguh malu saya melihatnya padahal menggunakan peci dan almamater majlis ta'lim, tidak heran jika agama lain menjelekkan agama islam. tidak usah bawa agama kalau mau berkelakuan barbar dan banyak zaman sekarang orang yang MENGEKPLOITASI AGAMA hanya untuk kesenangan dan ketenaran belaka.
    Achmad Sunandar P.IPS 2014 B

    BalasHapus
  29. Ilham Mahardhika W.
    P.IPS B 4915144092
    ya memang anggota majlis ta'lim tertentu yng berbuat sperti itu. memang tidk semua preman itu bengis dan kejam. bahkan ad preman yang menjadi ulama-ulama trkenal. kita sebut itu almarhum UJ.

    BalasHapus
  30. Nama : Tiara Rida (4915142800)
    Kelas : P.IPS B (2014)
    Setelah mambaca tulisan ini, sangat mengejutkan bahwa anggota majelis pengajian berperilaku seperti orang tidak sekolah yang tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, berbuat semaunya saja dan tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Sungguh menyedihkan dan memalukakan perbuatan mereka itu, perbuatan melanggar aturan dan bersifat arogan yang sepantasnya tidak nampak dari anggota majelis pengajian.
    Agama itu bukan atribut, tetapi perilaku yang hidup, merupakan kata-kata penuh makna yang mampu dihayati. Sudah selayaknya kita sebagai umat yang beragama, agama apapun itu melakukan hal-hal yang sewajarnya dan berbuat kebaikan, karena seluruh agama pasti menyeru pada kebaikan, baik Entah itu Islam, Keristen, Budha, Hindu maupun Konghucu. Bukan hanya menggunakan atribut keagamaan, tetapi juga perilaku yang sesuai dengan agama itu yang penting. Karena agama dan ajaran tersebut harus diyakini oleh hati, diucap dengan lisan dan diterapkan lewat perbuatan.

    BalasHapus
  31. Ini sungguh memalukan, dari rumah niat pergi mengaji untuk mendapatkan pahala tetapi pas diperjalanan malah bikin rusuh dan membuat lalu lintas menjadi terganggu. Bukan pahala yang diperoleh malah bisa jadi dosa yang didapat.
    Dizaman sekarang
    memang orang susah ditebak, yang berpenampilan baik tetapi memiliki hati seperti preman begitupun sebaliknya, yang berpenampilan preman tetapi hatinya baik. Makanya ada pepatah yang mengatakan "don’t judge
    the book by it’s cover"

    Reza Priyantama
    P.IPS B 2014

    BalasHapus
  32. Nama ade nur hasanah
    Jurusan p.ips b
    No registrasi 4915142814

    Menurut saya apapun yang mengerti tentang agama seharusnya bisa menjaga sikapnya dalam berperilaku. Tidak hanya menyebut dari majlis mana, namun sikap dan perilakunya tidak mencerminkan beragama. Preman jalanan saja lebih mengetahui aturan dan mengerti orang lain. Seharusnya majlis pengajian pun bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan preman jalanan dalam menaati aturan. Benar kata bapak, AGAMA bukanlah ATRIBUT namun PERILAKU YANG HIDUP.
    Terimakasih

    BalasHapus
  33. Memang sudah hal yang lumrah jika ada suatu majelis ta'lim di jakarta yang mengadakan pengajian di tempat-tempat umum.meskipun mereka tau tempat yang mereka pakai itu adalah tempat/jalan protokol yang sering dilewati oleh masyarakat.Terkadang mereka mengadakan pengajian di jalan-jalan utama agar menarik massa yang lebih banyak tetepi dampak yang di timbulkan adalah kemacetan yang makin parah.Jakarta sudah macet di tambah macet lagi,,,lengkaplah sudah. Seharusnya pemerintah bisa menegur atau tidak memberika izin kepada majelis ta'lim tersebut agar tidak mengadakan pengajian di temat-tempat umum tersebut agar tidak mengganggu kenyamanan warga jakarta Nabila Chairina 4915141046 Pendidikan IPS A 2014

    BalasHapus
  34. Memang sudah hal yang lumrah jika ada suatu majelis ta'lim di jakarta yang mengadakan pengajian di tempat-tempat umum.meskipun mereka tau tempat yang mereka pakai itu adalah tempat/jalan protokol yang sering dilewati oleh masyarakat.Terkadang mereka mengadakan pengajian di jalan-jalan utama agar menarik massa yang lebih banyak tetepi dampak yang di timbulkan adalah kemacetan yang makin parah.Jakarta sudah macet di tambah macet lagi,,,lengkaplah sudah. Seharusnya pemerintah bisa menegur atau tidak memberika izin kepada majelis ta'lim tersebut agar tidak mengadakan pengajian di temat-tempat umum tersebut agar tidak mengganggu kenyamanan warga jakarta Nabila Chairina 4915141046 Pendidikan IPS A 2014

    BalasHapus
  35. Sungguh memalukan majlis yang mengatasnamakan islam berbuat seperti itu. Mereka malah mencerminkan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan. Jelas-jelas mereka salah menutup jalan dengan melawan arah, tetapi justru mereka yang marah-marah dan mengancam. Hal yang sama sekali tidak mencerminkan orang beragama. Tidak habis pikir ke mana pikiran mereka berbuat seperti itu, mungkin banyak orang yang beragama islam malu dengan tingkah mereka, justru melabel tidak baik tingkah laku orang yang beragama islam. Bahkan kalah dengan pemikiran preman yang justru memberi kesan jahat atau tidak bermoral. Para preman mementingkan kepentingan umum, akan tetapi anggota majelis tersebut mementingkan golongan sendiri yang kita pun tidak tahu apa maksud tindakan majelis ini.

    BalasHapus
  36. Viddyaningsih
    P.IPS A 2014

    Ass pak nusa .

    Tulisan yang pak nusa buat sungguh hal yang menarik dan fenomena tersebut memang sudah nyatanya terbukti seperti itu. Banyak diluar sana yang mengatas namakan agama namun perilakunya tak sesuai dengan pedoman agama, hal itu menjadi sebuah fenomena yang miris, karena apa ? ya karena agama dijadikan alasan untuk bertindak yang tidak benar. sungguh memalukan majelis pengajian tersebut yang tidak mempunyai etika dan moral, dengan gampangnya mereka berperilaku seperti itu padahal mereka memakai atribut yang beragama dan pergi untuk sebuah acara pengajian, hal itu pun harus dijadikan sebuah contoh kesadaran agar kita memahami bahwa agama itu bukan atribut, tetapi perilaku hidup.

    BalasHapus
  37. Sungguh tidak disangka seorang kelompok majelis berperilaku seperti itu. Apa mereka merasa paling berkuasa sehingga semau mereka melakukan apapun. Sungguh perilaku yang tidak pantas untuk dicontoh. Preman yang dianggap selalu membuat kerusuhan dan melakukan tindakan kriminalitas, tetapi lebih mengerti kepentingan umum daripada kelompok majelis. Sehingga dengan tegas dan brani preman ini menertibkan kelompok majelis yang sangat melanggar peraturan jalan. Sikap seseorang tidak bisa dilihat dari segi penampilannya saja.
    Sri Rahayu P.IPS A 2014

    BalasHapus
  38. Rijalul Fahmi
    4915145529
    P.IPS B 2014
    Assalamualaikum wr wb
    seharusnya meraka yang mengaku pengikut majlis ta'lim tak sepantasnya seperti itu, mereka bagaikan pereman jalanan yang seenaknya dijalan seakan-akan jalanan itu punya majlis ta'lim mereka, pendapat saya mungkin mereka datang ke majlis ta'lim bukan senang ikut pengajian tapi hanya senang konfoi-konfoi saja dijalan raya, apakah mereka tidak diberikan nasehat dari para habib, ustad, atau pemimpin majlis pengajian mereka, agar tertib berlalu lintas dijalan raya, atau para pengikut majlisnya itu sendiri yang seperti preman,
    majlis-majlis adalah tempat kita mempelajari dan memperdalam keislaman kita ini adalah cerminan dari agama kita, kalau orang muslim pun menganggab majlis ta’lim seperti ini buruk apa lagi orang non muslim, pasti agama kita diangga agama yang buruk agama yang arogan bila perilaku buruk seperti itu tidak diubah, dari tulisan bapa saya bisa belajar bahwa agama itu buakan atribut, orang dinilai beragama bukan orang yang selalu menggunakan pakain putih sarung peci, namun dari perilakunya sehari-hari bukan dari apa yang dia pakai.
    Wasalamualaikum wr wb

    BalasHapus
  39. Salwa salsabila
    4915144083
    Masih banyak di majelis-majelis yang tidak diajari sopan santun, bahkan perilaku yang tidak seharusnya dikeluarkan malah dikeluarkan menjadi orang yang lebih dewasa greget buat menasihati mereka yang berprilaku tidak baik.
    Terkadang malah lebih baikan preman dari pada majlis-majelis dari prilakunya. Tapi tergantung dari premannya juga karna preman ada yang galak da nada yang baik, biasanya preman yang baik itu diajarkan sopan santun sama teman-teman dekatnya.

    BalasHapus
  40. Chairul Saleh
    P.IPS B 2014
    Majlis ta'lim adalah tempat dimana kita dapat berkumpul dan belajar untuk memahami lebih jauh tentang sejarah dan juga ajaran-ajaran didalam agama islam.Akan tetapi,para anggota didalam majlis itu sendiri berprilaku arogan,karena mereka melanggar aturan dalam berkendara,sehingga dapat mengganggu bahkan membahayakan pengendara lain.Perilaku seperti ini sangat tidak dibenarkan oleh agama islam,karena didalam agama islam dianjurkan untuk berprilaku sopan terhadap sesama.Namun tanpa disadari,mereka yang membuat majlis itu dinilai masyarakat,sebagai majlis yang anarkis,karena para anggota majlis itu cuma hanya berkedok islam.Dengan memakai berbagai atribut seperti kopiah,dan lain sebagainya bukan semata-mata untuk mencari ilmu,tetapi hanya untuk mencari kesenangan dijalanan dengan cara membahayakan orang lain.

    BalasHapus
  41. Rovida Amalia Mazid
    P.IPS.A.2014
    4915141032

    lagi-lagi saya katakan miris sekali kehidupan ini, dari tulisan bapa yang saca baca bahwa kedok seorang anggota majlis yang identik dengan kereligiusannya tetapi hal itu hanya menjadi sebuah status dari luar ternya kedok prilaku didalamnya sangatlah menyimpang dan bertolak jauh dari yang kita bayangkan, prilaku mereka lebih hina dimata semua orang dibandingkan dengan pereman yang namanya saja terdengar seseorang yang brutal.

    BalasHapus
  42. Assalamualaikum.


    Ternyata niat preman itu sangat baik untuk membantu kepentingan umum. Dia tau karena 1 masalah yang bisa bikin kemacetan tak teratasi, maka dari itu preman tak takut untuk memaksa majlis untuk pergi dan tidak bikin kemacetan yang merugikan orang banyak. Walaupun preman itu tak berarti buat mereka yang terkena macet, tetapi preman itu mempunyai sisi baik, moral yang bagus untuk membantu yang sedang kemacetan. Itu yang dinamakan agama islam yang menunjukkan perilaku yang hidup.

    Terimakasih.

    Wassalamualaikum.

    BalasHapus
  43. Memang benar sekali para majlis itu sangat tidak tau aturan. Mereka berkonvoi tetapi tidak beraturan, tidak tertib. Mereka memang beramai-ramai tetapi haruslah mereka tertib agar tidak memakan semua jalan sehingga jalanan menjadi macet karena ulah mereka. Mereka mengikuti majlis itu pastilah di pandang sebagai orang yang mengerti ajaran agama dan majlis itu sebagaimana manusia yang dicintai oleh Allah tetapi tingkah lakunya sungguh tidak mencerminkan apa yang diajarkan oleh agama. Mereka malah merugikan orang banyak. ( Siti Nur Rosdiana , P.IPS A 2014)

    BalasHapus
  44. Nama : Andayani
    Kelas : P.IPS B
    No.reg : 4915144097

    Dari artikel tersebut saya menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan para anggota majelis tersebut hanyalah ulah sebagian oknum yang kemudian menular keanggota yang lain, dan tidak semua anggota dalam majelis tersebut berkelakuan anarkis. Dalam sebuah komunitas atau perkumpulan kita pasti mengenal istilah anggota serius dan ikut-ikutan. Mereka yang berkelakuan anarkis adalah oknum yang mengikuti majelis tersebut atas dasar ikut-ikutan tanpa pengawasan, karena pemimpin mereka tidak pernah mengajarkan keburukan. Biasanya mereka yang ikut-ikutan tidak menyerap semua kajian-kajian serta ilmu yang mereka dapatkan di majelis tersebut. Mereka hanya mengutamakan perkumpulan dari pada tujuan dari majelis tersebut.
    Banyak nilai-nilai kehidupan yang dapat kita ambil dari artikel diatas, persepsi antara preman dan anggota majelis yang tindakannya diluar nalar kita. Preman adalah suatu perkumpulan orang-orang yang tidak memiliki tujuan yang pasti tentang hidup, pembuat kegaduhan dilingkungan dan yang lebih kasar bisa disebut dengan sampah masyarakat. Sedangkan anggota majelis adalah sebuah perkumpulan yang diharapkan mampu untuk menjadi teladan bagi masyarakat, tetapi kenyataannya seiring bertambahnya jamaah malah menimbulkan regress dari makna kata majelis tersebut. Apa yang dipaparkan diartikel tersebut menyatakan sang preman lah yang melerai kegaduhan yang disebabkan oleh anggota majelis dan memperbaiki kelancaran arus jalan. Jadi kesimpulannya adalah semua yang baik belum tentu baik dan semua yang buruk belum tentu buruk.

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd