Kurikulum 2013 dinyatakan sebagai pembaharuan dan perbaikan terhadap kurikulum sebelumnya. Salah satu kebaruan yang paling banyak dibincangkan oleh para guru adalah pendekatan pembelajaran saintifik. Apakah pendekatan pembelajaran saintifik itu?
Kurikulum 2013 sebenarnya bukan hanya memperkenalkan pendekatan yang dirasa baru oleh sebagian orang. Lebih dari sekadar memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang dirasa baru. Kurikulum 2013 secara keseluruhan memberikan orientasi atau paradigma baru dalam pembelajaran dan menempatkan pendekatan saintifik atau ilmiah sebagai salah satunya. Untuk memahami seluruh orientasi baru itu, pearaturan berikut ini menjelaskannya.
Di dalam Permendikbud No 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah diuraikan,
Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi maka prinsip pembelajaran yang digunakan:
1. dari pesertadidik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
2. dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumberbelajar;
3. dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;
4. dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
5. dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
6. dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju
pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
7. dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
8. peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
9. pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10. pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan(ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
11.pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
12. pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.
Keempat belas prinsip di atas harus dipahami sebagai satu kesatuan. Prinsip yang satu mendukung mendukung prinsip yang lainnya. Dengan demikian pendekatan ilmiah yang disebutkan dalam butir tiga, didasarkan pada prinsip dalam butir lainnya, dan diimplementasikan atau diterapkan sesuai dengan prinsip pada butir-butir yang lain yang secara langsung mendukung pelaksanaannya.
Dalam pembelajaran IPS misalnya, pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah membolehkan siswa mengeksplorasi realitas sosial yang berkembang dalam masyarakat. Karena pada dasarnya masyarakat adalah bagian dari kelas atau tempat belajar.
Dengan demikian guru bisa merancang bersama siswa berbagai aktivitas luar ruang yang memungkinkan siswa berinteraksi dan melakukan eksplorasi. Dengan cara itulah siswa diharapkan memahami konsep, prinsip, dan hukum-hukum dalam dunia sosial yang menjadi materi atau konten dalam pembelajaran IPS.
Agar mendapatkan gambaran yang kengkap tentang pendekatan saintifik dalam pembelajaran, berikut uraiannya berdasarkan sumber utamanya.
Dalam Permendikbud Nomor 81 A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum dijelaskan,
Untuk mencapai kualitas yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum, kegiatan pembelajaran perlu menggunakan prinsip yang: (1) berpusat pada peserta didik, (2) mengembangkan kreativitas peserta didik, (3) menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang, (4) bermuatan nilai, etika, estetika, logika, dan kinestetika, dan (5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna.
Proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu:
a. mengamati;
b. menanya;
c. mengumpulkan informasi;
d. mengasosiasi; dan
e. mengkomunikasikan.
Kelima pembelajaran pokok tersebut dapat dirinci dalam berbagai kegiatan belajar sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:
Tabel 1: Keterkaitan antara Langkah Pembelajaran dengan Kegiatan Belajar dan Maknanya.
Ada tabel
Berikutnya adalah contoh aplikasi dari kelima kegiatan belajar (learning event) yang diuraikan dalam tabel 1 di atas.
a. Mengamati
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.
b. Menanya
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Dari situasi di mana peserta didik dilatih menggunakan pertanyaan dari guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di mana peserta didik mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri.
Dari kegiatan kedua dihasilkan sejumlah pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu peserta didik. Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin tahu semakin dapat dikembangkan.
Pertanyaan terebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta didik, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam.
c. Mengumpulkan dan mengasosiasikan
Tindak lanjut dari bertanya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi.
Informasi tersebut menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya yaitu memeroses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.
d. Mengkomunikasikan hasil
Kegiatan berikutnya adalah menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut.
Penjelasan rinci di atas menegaskan bahwa Kurikulum 2013 menekankan serangkaian aktivitas yang harus dilalui siswa di bawah bimbingan guru. Serangkaian aktivitas tersebut adalah cara kerja yang biasa digunakan para ilmuwan untuk memcaridapatkan temuan baru berupa prinsip, hukum dan teori. Itulah sebabnya pendekatan ini disebut pendekatan saintifik atau ilmiah. Pendekatan yang didasarkan pada langkah atau strategi para ilmuwan.
Kelima aktivitas yang dijelaskan di atas bersifat bertahap berkelanjutan. Artinya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Harus dilakukan secara berurutan, sistematis, terstruktur dan terukur.
Dengan demikian pelaksanaan pendekatan saintifik ini mengharuskan guru mengubah total cara mengajarnya yang sekarang telah berjalan. Kini guru harus merancang serangkaian aktivitas yang memungkinkan dan mendorong siswa mencari dan menemukan sendiri prinsip, aturan, hukum yang menjadi inti pembelajaran. Bukan diceramahkan oleh guru seperti yang selama ini berjalan. Dalam kaitan inilah pendekatan saintifik ini disebut beorientasi siswa bukan guru. Artinya siswa didorong dan diberi kesempatan menjadi peserta aktif yang terlibat secara utuh penuh, jiwa raga sebagai pencari kebenaran.
Jika dikaitkan dengan kebiasaan guru mengajar selama ini yang didominasi oleh ceramah, maka pendekatan saintifik ini bisa disebut bersifat revolusioner. Guru kini hanya menjadi salah satu sumber, bersanding dan bertanding dengan sumber-sumber lain. Guru tidak lagi menjadi otoritas utama yang berdiri di depan kelas, tetapi menjadi "rekan" siswa dalam mencaritemukan kebenaran.
Itu berarti guru harus merancang sejumlah aktivitas yang mengharuskan para siswa terlibat dalam serangkaian proses pencarian. Di sinilah pentingnya keterampilan proses. Bila dikaji dari sudut proses, sebenarnya pendekatan saintifik ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru.
Kurikulum 1986 dengan Pendekatan Keterampilan Proses dan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) telah membuat rancangan yang lebih baik dan rinci dibandingkan pendekatan saintifik yang lagi trend sekarang ini.
Aisyah (staff.uny.ac.id) menguraikan apa itu pendekatan keterampilan proses dalam tulisan di bawah ini,
Pendekatan keterampilan proses pada hakikatnya adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar (Conny, 1992) . Pendekatan keterampilan proses ini dipandang sebagai pendekatan yang oleh banyak pakar paling sesuai dengan pelaksaksanaan pembelajaran di sekolah dalam rangka menghadapi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat dewasa ini. Dalam pembelajaran matematika pun, pendekatan keterampilan proses ini sangat cocok digunakan. Struktur matematika yang berpola deduktif kadang-kadang memerlukan proses kreatif yang induktif. Untuk sampai pada suatu kesimpulan, kadang-kadang dapat digunakan pengamatan, pengukuran, intuisi, imajinasi, penerkaan, observasi, induksi bahkan mungkin dengan mencoba-coba. Pemikiran yang demikian bukanlah kontradiksi, karena banyak objek matematika yang dikembangkan secara intuitif atau induktif.
Lebih lanjut Aisyah menjelaskan,
keunggulan pendekatan keterampilan proses di dalam proses pembelajaran, antara lain adalah :
1. siswa terlibat langsung dengan objek nyata sehingga dapat mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran,
2. siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari,
3. melatih siswa untuk berpikir lebih kritis,
4. melatih siswa untuk bertanya dan terlibat lebih aktif dalam pembelajaran,
5. mendorong siswa untuk menemukan konsep-konsep baru,
6. memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menggunakan metode ilmiah.
Penjelasan di atas menegaskan bahwa Pendekatan Keterampilan Proses dengan CBSA mempraktikkan cara kerja ilmiah dalam pembelajaran yang mendorong siswa untuk mencaritemukan jawaban atas berbagai pertanyaan yang dirumuskannya sendiri berdasarkan pengamatan atas berbagai fenomena.
Pendekatan induktif yang beranjak dari fakta dan kejadian merupakan startegi yang paling populer dalam Pendekatan Keterampilan Proses. Strategi ini mendorong siswa untuk melakukan pengamatan, merumuskan sejumlah pertanyaan dan mencari jawaban atau menguji sendiri jawabannya sampai membuat kesimpulan.
Namun pada saat itu, pendekatan ini belum dapat dilaksanakan olrh guru dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi semangat utama pendekatan tersebut tetap dipertahankan dalam kurikulum yang dirancang sebagai perbaikannya. Semangat tersebut adalah menjadikan siswa sebagai prmbelajar aktif yang didorong untuk mencaritemukan sendiri berbagai jawaban yang dirumuskannya.
Agar mendapatkan gambaran yang kebih lengkap tentang pendejatan saintifik, berikut ini dikemukakan pendapat para akademisi dan praktisi. Perspektif mereka perlu dikemukakan untuk melengkapi penjelasan yang terdapat dalam kebijakan pemerintah yang dituangkan dalam Permendikbud di atas.
Abidin (2014:125) secara panjang menguraikan,
Model pembelajaran proses saintifik merupakan model pembelajaran yang menuntut siswa beraktivitas sebagaimana seorang ahli sains. Dalam praktinya siswa diharuskan melakukan serangkaian aktivitas selayaknya langkah-langkah penerapan metode ilmiah ( Kuhlthau, Maniotes, dan Caspari, 2007). Serangkaian aktivitas dimaksud meliputi (1) merumuskan masalah, (2) mengajukan hipotesis, (3) mengumpulkan data, (4) mengolah dan menganalisis data, dan (5) membuat kesimpulan.
Model pembelajaran proses saintifik dapat dikatakan sebagai proses pembelajaran yang memandu siswa untuk memecahkan masalah melalui kegiatan perencanaan yang matang, pengumpulan data yang cermat, dan analisis data yang teliti untuk menghasilkan sebuah kesimpulan. Guna mampu melaksanakan kegiatan ini, siswa harus dibina kepekaannya terhadap fenomena, ditingkatkan kemampuannya dalam mengajukan pertanyaan, dilatih ketelitiannya dalam mengumpulkan data untuk menjawab pertanyaan, serta dipandu dalam membuat simpulan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukannnya.
Uraian di atas sangat jelas menekankan bahwa pendekatan saintifik dalam pembelajaran merupakan upaya sistematis untuk mempraktikkan cara kerja ilmiah atau cara kerja keilmuan untuk memahami konsep, prinsip, dan hukum yang selama ini disampaikan oleh guru dengan metode ceramah.
Sebagai sebuah cara kerja, pendekatan saintifik memiliki sejumlah keunggulan bila diterapkan sebagai proses pembelajaran. Keunggulan tersebut adalah:
1) memberikan kesempatan yang sangat luas kepada siswa untuk terlibat dalam kemanusiaannya yang utuh penuh, bukan hanya kognitif intelektual dengan masalah-masalah nyata yang ada di sekitarnya. Kesempatan ini akan melahirkan pemahaman empatis, tidak sekadar pemahaman intelektual
2) membangun kesadaran siswa akan kapasitas dirinya secara jujur dan objektif, karena ia dihadapkan pada kondisi yang mengharuskannya mengambil keputusan, kesimpulan dari apa yang dialaminya. Dengan demikian akan terbangun sikap jujur dan objektif
3) memberi kesempatan bagi siswa untuk menguji apa pun yang diketahui dan diyakininya secara langsung dengan cara melakukan pengecekan terhadap fakta dan data dalam realitas yang sesungguhnya
4) menjadikan pembelajaran menjadi proses yang menantang dan menyenangkan karena melibatkan siswa secara aktif.
Secara keseluruhan pendekatan saintifik dalam pembelajaran memberikan keuntungan luar biasa bagi tumbuh kembang siswa. Memberinya sekaligus pengetahuan dan keterampilan dan menumbuhkan sikap-sikap positif seperti jujur dan objektif.
Fadillah (2014:175-176) menguraikan,
Pendekatan scientific ialah pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran tersebut dilakukan melalui proses ilmiah. Apa yang dipelajari dan diperoleh peserta dilakukan dengan indra dan akal sendiri sehingga mereka mengalami secara langsung dalam proses mendapatkan ilmu pengetahuan. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik mampu menghadapi dan memecahkan masalah yang dihadapi dengan baik.
Pendekatan scientific ialah pendekatan pembelajaran yang dilakukan melalui proses mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba (experimenting), menalar (associating), dan mengomunikasikan (communicating). Pembelajaran seperti ini dapat membentuk sikap, keterampilan dan pengetahuan peserta didik secara maksimal. Kelima proses belajar secara scientific tersebut diimplementasikan pada saat kegiatan inti pembelajaran.
Rangkaian kegiatan yang harus dijalani dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik mendorong bahkan "memaksa" siswa yang paling malas untuk melakukan aktivitas yang terstruktur dan terukur. Kondisi ini sangat berbeda dengan pendekatan pembelajaran tradisional, terutama yang menggunakan metode ceramah. Metode ceramah seringkali membuat siswa yang malas dan yang kurang fokus tidak terlibat secara mental dalam proses pembelajaran, meskipun secara fisik ia hadir di kelas.
Sebaliknya dengan pendekatan saintifik. Karena pendekatan saintifik berupa serangkaian aktivitas yang harus diikuti siswa dengan cara berpartisipasi secara aktif, maka para siswa harus berperas serta.
Cara inilah yang digunakan untuk membuat siswa mampu mencari dan merumuskan berbagai konsep yang harus dipahaminya. Jadi, siswa tidak mendapatkannya dengan mendengarkan guru, tetapi melalui sejumlah aktivitas. Cara ini membuat apa yang didapatkan siswa bukan saja akan lebih lama untuk diingat, juga membuat pemahamannya lengkap dan rinci.
Aktivitas mencari dan menemukan yang menjadi ciri utama pendekatan sains, memberi peluang pada siswa untuk meningkatkan kreativitasnya. Membuka kesemoatan baginya untuk melahirkan inovasi.
Hosnan (2014:32) menguraikan,
Langkah pembelajaran pada scientific approach menggamit beberapa ranah pencapaian hasil belajar yang tertuang pada kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Ada gambar
Sejumlah sikap positif yang dapat ditumbuhkan melalui pendekatan saintifik seperti yang dijelaskan dan digambarkan di atas karena siswa secara langsung dihadapkan pada realitas dan masalah. Penghadapan langsung ini sungguh membuka peluang bagi para siswa melakukan eksplorasi, mencari berbagai kemungkinan yang tidak dapat dilakukannya melalui metode tradisional.
Pendekatan saintifik juga menungkinkan keseluruhan sikap itu dapat ditumbuhkan sekaligus. Karena siswa mengalami sendiri semua proses pencarian tersebut.
Lebih lanjut Hosnan (2014:34-35) menjelaskan,
Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses, seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi, bantuan guru tersebut harus semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya siswa atau semakin tingginya kelas siswa.
Dari uraian di atas, tampak sangat jelas bahwa pendekatan saintifik memang mengharuskan siswa untuk melakukan serangkaian aktivitas yang membuatnya terbiasa untuk menghadapi masalah dan mencari solusi. Siswa tidak sekadar menghitung secara kognitif, juga mengukur yang melibatkan tubuhnya.
Bila menggunakan model kecerdasan majemuk dari Gardner dapat ditegaskan bahwa pendekatan saintifik menumbuhkan beragam kecerdasan sekaligus. Penumbuhan kecerdasan itu terjadi melalui proses yang sunguh-sungguh melibatkan keutuhan kemanusiaan siswa, jiwa raga. Bukan hanya kognitif.
Berdasarkan Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum 2013, di dalam buku Hosnan (2013:36) terdapat gambar yang meringkas pendekatan saintifik sebagai berikut ini,
Ada gambar hlm 36
Gambar di atas menunjukkan bahwa para guru sebagai pelaksana kurikulum diberi kebebasan memilih sejumlah metode pembelajaran yang merupakan penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Semua meode itu berisi sejumlah aktivitas yang biasa digunakan para ilmuwan untuk memecahkan masalah, merumuskan solusi dan melakukan inovasi, serta mencaritemukan teori-teori baru.
Tentu saja setiap metode itu memiliki tekanan dan fokus yang tidak sama persis. Namun, setiap metode melaksanakan langkah-langkah yang menegaskan bagaimana penemuan itu dilakukan. Para guru harus memilih sesuai dengan tujuan spesifik setiap kompetensi yang akan dilatihkan dan sifat pencarian yang harus dilakukan.
Gambar di atas menegaskan bahwa pendekatan saintifik dalam pembelajaran tidak bersifat tunggal dalam pelaksanaannya. Tersedia sejumlah metode yang dapat digunakan para guru. Dengan demikian guru memilki banyak kebebasan untuk memilih.
Para guru harus dengan cermat menentukan pilihan. Harus melakukan anaisis terhadap kompetensi yang hendak ditumbuhkembangkan. Baru kemudian menentukan metode mana yang paling tepat untuk dipilih. Guru juga harus mempertimbangkan waktu yang tersedia serta kemampuan dasar murid dan sarana serta prasarana yang tersedia.
Bila guru memutuskan akan melakukan aktivitas luar ruang seperti melakukan pengamatan pada situasi sosial yang sesungguhnya seperti pasar, terminal, perkantoran, harus mempersiapkan segala sesuatu agar aktivitas yang direncanakan dapat berlangsung dengan baik. Begitupun bila guru ingin melakukan pengamatan tidak langsung seperti melakukan observasi situasi sosial secara tidakmlangsung melalui hasil pemotretan atau video/film, semua peralatan yang dibutuhkan harus tersedia.
Majid (2014: 97) menguraikan esensi pendekatan ilmiah sebagai berikut,
Pendekatan pembelajaran ilmiah menekankan pada pentingnya kolaborasi dan kerjasama diantara peserta didik dalam menyelesaikan setiap permasalahan dalam pembelajaran. Oleh karena itu guru sedapat mungkin menciptakan pembelajaran selain dengan tetap mengacu pada Standar Proses dimana pembelajarannya diciptakan suasana yang memuat Eksplorasi, Elaborasi dan Konfirmasi, juga mengedepankan kondisi peserta didik yang berperilaku ilmiah dengan bersama-sama diajak mengamati, menanya, menalar, merumuskan, meyimpulkan dan mengkomunikasikan. Sehingga peserta didik akan dapat dengan benar menguasai materi yang dipalajari dengan baik.
Kutipan di atas menunjukkan sisi lain dari pendekatan saintifik dalam pembelajaran yaitu koleborasi antarsiswa. Meskipun pendekatan saintifik memungkinkan siswa bekerja sendiri, fokus mencarirumuskan masalah dan mencoba menemukan solusinya layaknya seorang saintis yang asyik dalam eksplorasi mencari obat bagi ebola, atau menciptakan beras yang aman untuk penderita diabet. Namun, pendekatan saintifik juga sangat baik bagi siswa untuk bekerja bersama dalam tim.
Dalam pembelajaran IPS misalnya, siswa bisa diminta membuat kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang untuk mengamati proses transaksi di berbagai tempat seperti pasar tradisional, super market mini, dan mall yang besar. Mereka diminta mencari sikap dan pola orang-orang yang bertransaksi.
Pastilah tiap kelompok harus membangun kerjasama agar hasil pekerjaannya optimal. Inilah sisi lain dari pendekatan saintifik yang menguntungkan para siswa.
Uraian di atas juga menegaskan bahwa melalui pendekatan sanitifik, pemahaman siswa terhadap materi tidak didapatkan secara sepihak hanya sebagai pendengar yang menerima informasi dan pengetahuan yang telah jadi. Tetapi ikut serta dalam sebuah proses. Dengan demikian pemahamannya bukan saja lengkap, juga akan bertahan kama dan lebih bermakna. Karena pemahaman yang didapatkan karena mengalami, terlibat dalam proses secara langsung.
Terkait dengan pentingnya mengalami, keterlibatn langsung, Sibelman dalam Handbook Experiential Learning: Strategi Pembelajaran dari Dunia Nyata (2014:10) menjelaskan,
Pembelajaran eksperensial, seperti yang akan saya definisikan, mengacu pada (a) keterlibatan peserta didik dalam kegiatan konkret yang membuat mereka mampu untuk "mengalami" apa yang tengah mereka pelajari dan (b) kesempatan untuk merefleksikan kegiatan tersebut. Pembelajran ekperensial bisa didasarkan baik atas pengalaman kerja/hidup yang nyata (mis., pengerjaan sebuah proyek saat ini) dan pengalaman terstruktur yang mensimulasikan atau mendekati pengalaman kerja/hidup yang sebenarnya(mis., menggunakan simulator penerbangan atau terlibat dalam latihan pelecehan seksual, melibatkan penyalahgunaan dalam kartu bermain). Rentang cakupannya sangat luas. Ia berlaku untuk muatan yang bersifat teknis/keras (mis., peralatan operasi/perkakas kerja) atau nonteknis/lunak (mis., keterampilan menjual).
Penjelasan Sibelman semakin memantapkan betapa pendekatan saintifik merupakan upaya terencana dan sistematis untuk mendorong para siswa mengalami sendiri secara langsung atau tidak kangsung melalui simulasi bagaimana membangun pemahaman mendalam melalui proses bertahap berkelanjutan dengan serangkaian aktivitas yang bermakna. Bermakna bagi pembentukan pemahaman, sikap dan keterampilan sekaligus.
Dengan mengalami, para siswa terlibat dengan kemanusiaanya yang utuh. Tentulah proses ini lebih menjamin tercapainya tujuan menjadikan mereka orang dewasa yang pintar, matang, dan memiliki sejumlah kompetensi yang fungsional dan bermakna.
Daryanto (2014:51) secara panjang menguraikan,
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang "ditemukan". Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui observasi, bukan hanya diberi tahu.
Pendapat di atas menegaskan bahwa pendekatan saintifik bertentangan dengan pendekatan tradisional yang menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber dan siswa adalah penerima yang pasif. Pendekatan saintifik secara sistematis mengharuskan para siswa menjalani serangkaian aktivitas untuk membangun pemahaman melalui proses pencarian. Aktivitas yang dilakukan membuat para siswa berhadapan dengan berbagai fenomena, fakta, data, peristiwa, dan masalah yang harus dipilah, dipilih, dan diolah oleh para siswa.
Perubahan orientasi pembelajaran ini pastilah tidak mudah. Para guru dan juga murid telah terbiasa dengan pembelajaran searah. Guru menjadi sumber utama dan satu-satunya. Oleh karena itu, pendekatan saintifik ini akan berhasil bila para guru merubah cara pandangannya tentang pembelajaran dan menyusun rencana pembelajaran yang berbeda sama sekali dibandingkan rencana pembelajaran yang dibuat dan dilaksanakannya selama ini.
Guru harus menjabarkan kompetensi yang telah dirumuskan menjadi serangkaian aktivitas, bukan serangkaian materi. Melalui aktivitas itulah materi dipahami, tentu saja bukan dengan cara diceramahkan. Tetapi melalui pencarian yang dilakukan sendiri oleh oara siswa. Baik secara individual maupun kelompok.
Pentingnya aktivitas itu dijelaskan oleh Wawrzyniak dalam Stone, Cara-cara Terbaik untuk Mengajar Sains yang Dilakukan oleh Guru-guru Peraih Penghargaan (2013:5-6),
Saya memodifikasi aktivitas untuk menekankan pengamatan, pengumpulan data, analisis data, kesimpulan, dukungan terhadap kesimpulan, dan penerapan~pekerjaan yang dilakukan ilmuwan. Tujuan saya adalah menemukan aktivitas untuk setiap konsep utama yang perlu dipelajari para siswa. Saya ingin aktivitas yang melibatkan praktik, bukan kuliah kelompok, makin sering menjadi cara utama dalam belajar.
Penjelasan di atas, yang berasal dari guru yang berpengalaman dan lmendapatkan penghargaan internasional menegaskan batapa pentingnya melibatkan para siswa dalam aktivitas yang biasa oleh para ilmuwan. Aktivitas ini terbukti mampu membangun pemahaman yang mendalam terhadap konsep yang harus dikuasai dan membangkitkan kreativitas dan inovasi untuk mencaritemukan kebaruan. Itulah sebabnya pendekatan saintifik dalam pembelajaran makin populer di seluruh dunia.
Popularitas pendekatan ini dapat ditemukan dalam banyak buku yang menjelaskan apa itu pendekatan saintifik dalam pembejaran dan bagaimana melaksanakannya. Salah satunya adalah buku berikut ini.
Miller dalam Wheeler- Toppen ed. Cara Menulis Sains (2014:15) menjelaskan kecakapan penyelidikan sains yang terdiri dari enam langkah yaitu: 1) prediksi, 2) pengamatan, 3) bertanya, 4) perencanaan, 5) mengulas, menganalisis dan menginterpretasi data, 6) menjelaskan dan menyampaikan.
Keenam langkah yang dijelaskan di atas merupakan cara kerja para ilmuwan yang memungkin mereka terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan melahirkan berbagai inovasi. Oleh karena itu penerapannya dalam proses pembelajaran diharapkan dapat membantu dan mendorong para siswa untuk menjadi pembelajar aktif yang selalu mencari dan menemukan. Bukan siswa pasif yang hanya menerima.
Pendekatan pembelajaran saintifik seperti digambarkan di atas tidak tunggal. Ada banyak metode yang bisa digunakan dalam penerapannya. Semua metode yang digunakan memang mengandung serangkaian aktivitas pencarian dan penemuan. Beberapa di antaranya dijelaskan di bawah ini.
Sanjaya dalam Perencanaan & Desain Sistem Pembelajaran menguraikan pendekatan inkuiri. Ia menjelaskan (2013:191-193) pendekatan inkuiri terdiri dari enam langkah yaitu 1) orientasi, 2) merumuskan masalah, 3) merumuskan hipotesis, 4) mengumpulkan data, 5) menguji hipotesis, 6) merumuskan kesimpulan.
Dari langkah-langkah yang ditunjukkan di atas, terpapar jelas bahwa pendekatan inkuiri ini memiliki kemiripan dengan pendekatan saintifik. Sebenarnya prndekatan inkuiri adalah penerapan cara kerja sains dalam pembelajaran.
Selain inkuiri dikenal pula discovery. Daryanto dalam Pembelajaran Tematik, Terpadu, Terintegrasi (Kurikulum 2013) menjelaskan discovery dan inquiry. Ia (2014: 161) menguraikan,
Suatu kegiatan "discovery" adalah suatu kegiatan atau pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Pengajaran "discovery" harus meliputi pengalaman belajar seperti mengamati, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan menarik suatu kesimpulan.
"Inquiry" dibentuk dan meliputi "discovery", karena siswa harus menggunakan "discovery". Dengan kata lain "inquiry" adalah suatu perluasan proses-proses "discovery". Sebagai tambahan pada proses-proses "discovery", "inquiry" mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, seperti merumuskan masalah, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan data, dan mengalisa data, menarik kesimpulan, mempunyai sifat objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka.
Penjelasan di atas semakin menegaskan bahwa discovery dan inkuiri itu merupakan penerapan metode keilmuan atau saintifik dakam pembelajaran. Inkuiri memiliki tingkat yang lebih tinggi. Itu berarti keduanya dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Guru yangbharus memilih, kapan menggunakan discovery, dan bila memanfaatkan inkuiry.
Tingkat kesulitan materi dan kompetensi harus menjadi bahan pertimbangan saat memilih metode mana yang akan digunakan. Itu berarti guru benar-benar memiliki kebebasan untuk memilih metode dan mengembangkan pembelajaran.
Tampaknya pendekatan sains dalam pembelajaran semakin dirasakan kepentingannya. Pembelajaran yang bermakna harus mengintegrasikan aktivitas saintifik ke dalamnya.
Marzano dalam Seni dan Ilmu Pengajaran: Sebuah Kerangka Kerja Komprehensif untuk Menghasilkan Metode Penjelasan yang Efektif, mengemukakan 10 pertanyaan (2013:7), tiga di antaranya adalah,
1. Apa yang akan saya lakukan untuk membantu siswa berinteraksi secara efektif dengan ilmu pengetahuan baru?
2. Apa yang saya lakukan untuk membantu siswa mempraktikkan dan memperdalam pemahaman mereka tentang ilmu penfetahuan baru?
3. Apa yang akan saya lakukan untuk membantu siswa menghasilkan dan menguji hipotesis tentang pengetahuan baru?
Tiga pertanyaan yang dikemukakan di atas menegaskan bahwa pendekatan sains dalam pembelajaran memang sedang menjadi trend atau populer di seluruh dunia. Pembelajaran apapun menjadikannya bagian yang fundamental.
Amir dalam Inovasi Pendidikan melalui Problem Based Learning: Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan, memperkenalakan model pembelajaran (2013:9) dari Sale seperti digambarkan di bawah ini,
Ada gambar
Gambar di atas menegaskan bahwa kompetensi merupakan paduan dari pengetahuan, proses berfikir, dan melakukan atau mengalami. Pengetahuan dan berfikir tak akan pernah menjadi kompetensi bila tidak diikuti dengan mengalami, melakukan, mempraktikkan pengetahuan tersebut.
Ketiganya dapat dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan. Pengeatuan yang relevan sebagai dasar, proses berfikir untuk memperdalam dan mempertajam pemahaman, dan melakukan atau mempraktikkan pengetahuan dan pemahaman tersebut merupakan rangkaian yang akan menumbuhkembangkan komtetensi.
Pendekatan saintifik dalam pembelajaran dengan sangat tegas menerapakan cara berfikir atau paradigma inincalam proses pembelajaran, yaitu merancang serangkaian aktivitas yang lazim digunakan oleh para ahli sains.
Banyak ahli yang mengakui bahwa rangkaian aktivitas ini akan dapat meningkatkan pengetahuan baru dan keterampilan. Jensen dan Nickelsen dalam Deeper Learning: 7 Strategi Luar Biasa untuk Pembelajaran yang Mendalam dan Tak Terlupakan, menjelaskan salah satu langkah (2011:16) yaitu, menggali dan melakukan pra-pemaparan; mengajukan pertanyaan, penemuan dan diskusi; dan menciptakan koneksi. Langkah selanjutnya adalah memperoleh pengetahuan baru.
Penjelasan di atas semakin menegaskan bahwa pendekatan saintifik dalam pembelajaran akan memicu meningkatnya pemahaman dan kompetensi. Dengan demikian penerapan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi para siswa untuk menghadapi masa deoan yang semakin sulit, tidak pasti, dan kompetitif.
Khusus untuk pembelajaran IPS, pendekatan saintifik ini akan sangat membantu para siswa memahami berbagai persoalan masyarakat yang sesungguhnya dan dapat membantu mereka untuk bukan saja memahaminya, juga menyiapkan mereka untuk memasukinya dan hidup dengan fungsional dan bermakna di dalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd