Rabu, 19 November 2014

PEMAHAMAN EMPATIS: DUA

Jokowi tampaknya merasa asyik dengan angka dua. Dulu saat pilpres ia merupakan calon nomor dua, tetapi jadi pemenang nomor satu. Kini ia naikkan BBM sebesar dua ribu. Mungkin ini hanya kebetulan.

Menanggapi kenaikan BBM, masyarakat secara garis besar juga terbagi dua, setuju dan tidak setuju. Partai politik juga sama. Pendukung Jokowi-JK setuju, sedangkan koalisi bukan pendukung Jokowi-JK, menolak. Ada yang berada di tengah, menerima dengan macam-macam persyaratan.

Kenaikan BBM pastilah akan menimbulkan dampak bagi rakyat miskin. Karena setiap kali terjadi kenaikan BBM semua harga jadi meroket, tak terkendali. Apalagi pemerintahan baru ini juga belum tentu memiliki kekuatan seperti era Suharto yang mampu kendalikan harga. Dulu, Suharto dengan kekuatan intelijen yang solid dan tersebar bisa kendalikan harga. Dengan jaringan intelijen itu, Suharto tahu berapa harga cabe di semua pasar induk setiap hari. Intelijen bekerja keras menjaga jangan sampai ada kenaikan harga yang meroket. Saat menjelang kejatuhannya, kala kekuatannya mulai terpecah belah, begitupun kekuatan intelijen, pemerintahan Suharto kehilangan kendali dan harga-harta meroket melangit. Siapa pun mahfum, bahwa ada kekuatan, boleh jadi mirip mafia, di belakang permainan harga-harga. Harga apa pun. Bukan hanya harga cabe, juga cabe-cabean.

Memang, Pemerintahan Jokowi-JK sudah mempersiapkan "bantalan" untuk mengurangi dampak buruk kenaikan harga BBM bagi rakyat miskin. Namun, persoalannya adalah, apakah "bantalan" itu akan segera bisa diwujudnyatakan, dan apakah memadai?

Artinya, paling kurang tiga bulan, rakyat kecil akan mengalami kesulitan sampai semuanya menjadi normal kembali. Sungguh pastilah sangat berat rasanya bagi mereka.

Oleh karena itu, bagi para pendukung kenaikan harga BBM sebagai akibat dari pengurangan subsidi, sebaiknya menyediakan waktu untuk tinggal bersama dengan rakyat miskin dan merasakan secara langsung penderitaan mereka. Membangun pemahaman empatis atas keyataan hidup yang mereka jalani. Semoga dengan cara itu bisa mencarikan solusi yang tepat akurat untuk mengatasi penderitaan rakyat miskin yang menjadi korban.

Jangan hanya berargumentasi di depan publik dengan memainkan angka-angka statistik. Turunlah, blusukan ke pemukiman kumuh dan rumuskan solusi segera untuk mengatasi penderitaan mereka. Blusukan gaya Jokowi itu sangat potensial membangun pemahaman empatis karena melihat dan merasakan langsung apa, mengapa, dan bagaimana masalah yang dihadapi dan dirasakan rakyat.

Sangat berbeda rasanya, juga pemahamannya, bila bertemu rakyat di ruang pertemuan yang dipersiapkan dengan di tempat tinggal mereka yang kekumuhannya bisa dirasakan, bukan sekadar dilihat. Karena itu blusukan itu perlu dan penting. Tentu saja bila ada langkah dan program nyata setelah blusukan itu. Jika tidak, blusukan itu hanyalah pencitraan. Pencitraan yang tidak dibarengi solusi nyata yang dirasakan rakyat merupakan pengkhianatan terhadap amanah yang diberikan rakyat.

Sudah lama kita ketahui, bila menerima laporan dari pejabat tentang rakyat, kebanyakan merupakan laporan asal bapak senang (ABS). Bukan laporan yang sesungguhnya. Blusukan membuat kita mengetahui langsung dari sumbernya tentang keadaan yang sesungguhnya. Kebenarannya pasti.

Karena itu, bagi yang menolak kenaikan harga BBM sebaiknya juga punya waktu untuk nongkrong di SPBU. Jika tidak sempat satu jam, boleh setengah jam saja. Perhatikan dengan seksama dan catat, siapa yang menggunakan BBM bersubsidi. Orang miskin atau orang kaya? Mobil-mobil apa saja yang menggunakan BBM bersubsidi? Tanyakan kepada penjaga SPBU, mobil apa saja yang menggunakan BBM bersubsidi?

Dengan cara seperti ini kita jadi tahu dan memahami apa yang sebenarnya terjadi dengn subsidi BBM, siapa yang menikmatinya. Saat ini jangan percaya pada pemberitaan yang sudah tidak lagi netral dan objektif. Lihat dan cari sendiri faktanya. Inilah gunanya pemahaman empatis. Memberi kita pemahaman memdalam berdasar penyusuran sendiri dan langsung ke pelakunya. Bukan melalui orang atau sumber lain.

Dengan pemahaman empatis ini, kita bisa memahami kejadian dengan cara yang lebih bijak dan mendengarkan beragam pandangan. Tidak seperti kuda yang diberi kaca mata atau kerbau yang ditusuk hidungnya. Hanya punya satu pandangan dan cuma menurut. Tak ada kekritisan dan alternatif. Pastilah ini cara hidup yang buruk.

Melalui pemahaman empatis ini kita bisa berfikir tentang beragam kemungkinan dan solusi. Terbiasa dengan kekritisan dan alternatif. Karena tidak asyik dengan diri sendiri dan kepentingan sendiri. Kita selalu menempatkan diri dalam jejaring pemahaman. Pemahaman yang mendalam, luas, dan kontekstual.

Dalam kerangka itulah kita bisa bertanya secara kritis. Apakah penarikan subsidi BBM itu seperti alkohol yang disiramkan pada luka atau seperti meminum jamu? Terasa sakit dan pahit pada mulanya, tetapi menyembuhkan dan menguatkan pada akhirnya?

Apakah bukan kewajiban negara membantu dan menyelamatkan rakyat, terutama rakyat kecil? Bukankah penarikan subsidi BBM itu semakin menyulitkan rakyat yang selama ini hidupnya sudah sangat sulit? Apakah memang tidak ada alternatif selain menarik subsidi BBM? Apakah pemerintah sudah memiliki rencana jangka panjang untuk mengatasi persoalan BBM agar kita terbebas dari masalah yang berulang-ulang ini? Apakah kenaikan BBM ini tidak bertentangan dengan janji Jokowi-JK untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat? Apakah ada jaminan dan kepastian bahwa dalam jangka panjang, kenaikkan BBM ini akan meningkatkan kesejahteraan rakyat?

Apakah keinginan untuk memberantas mafia migas dan pertanian hanya wacana pengalihan masalah, atau keinginan kuat agar persoalan migas dan pertanian yang sangat menentukan kesejahteraan rakyat benar-banar bisa dicarikan solusinya. Dengan demikian rakyat sungguh menjadi lebih sejahtera.

Pemerintahan baru inj sudah memulai dengan blusukan yang merupakan salah satu kiat untuk menumbuhkan pemahaman empatis. Semoga didapatkan solusi yang benar-benar menyejahterakan rakyat dan memajukan Indonesia.

PEMAHAMAN EMPATIS ADALAH KIAT UNTUK MERUMUSKAN DAN MEWUJUDKAN SOLUSI FUNGSIONAL DAN BERMAKNA.

6 komentar:

  1. Maya Yulia Dwi Putri Maranatha
    4915122540
    Pendidikan IPS A 2012

    Menurut saya keputusan bapak Jokowi dalam menaikkan harga BBM adalah benar mengingat beliau telah memikirkan segala resikonya secara matang. Ditambah lagi cara memimpinnya yang menggunakan Blusukan sebagai pendekatan yang digunakan untuk mengerti hati rakyat yang sebenarnya telah menunjukkan bahwa beliau adalah pemimpin yag mengerti rayat. bahkan dengan cara blusukannya tersebut beliau bisa lebih memahami hati rakyat, karna secara tidak langsung beliau menggunakan pendekatan Empatis untuk mengetahui masalah yang dada dalam lingkungan masyarakat, dan bukan malah menunggu laporan anak buah yang memberi laporan lapangan.

    pertanyaan:
    1. dengan cara blusukan atau datang langsung ke tempat yang ingin diteliti tentu bisa menimbulkan empati pada diri si peneliti. namun bisakah seorang yang meneliti justru tidak memiliki pemahaman empatis sama sekali ketika meneliti langsung ke tempat yang diteliti?
    2. bagaimana cara membangun pemahaman empati dalam diri seorang peneliti?

    BalasHapus
  2. Maya Yulia Dwi Putri Maranatha
    4915122540
    Pendidikan IPS A 2012

    Menurut saya keputusan bapak Jokowi dalam menaikkan harga BBM adalah benar mengingat beliau telah memikirkan segala resikonya secara matang. Ditambah lagi cara memimpinnya yang menggunakan Blusukan sebagai pendekatan yang digunakan untuk mengerti hati rakyat yang sebenarnya telah menunjukkan bahwa beliau adalah pemimpin yag mengerti rayat. bahkan dengan cara blusukannya tersebut beliau bisa lebih memahami hati rakyat, karna secara tidak langsung beliau menggunakan pendekatan Empatis untuk mengetahui masalah yang dada dalam lingkungan masyarakat, dan bukan malah menunggu laporan anak buah yang memberi laporan lapangan.

    pertanyaan:
    1. dengan cara blusukan atau datang langsung ke tempat yang ingin diteliti tentu bisa menimbulkan empati pada diri si peneliti. namun bisakah seorang yang meneliti justru tidak memiliki pemahaman empatis sama sekali ketika meneliti langsung ke tempat yang diteliti?
    2. bagaimana cara membangun pemahaman empati dalam diri seorang peneliti?

    BalasHapus
  3. assalamualaikum, wr. wb..
    selamat malam pak, saya Titis Sari Metsun dari PIPS 2012 ingin berkomentar mengenai tulisan bapak..
    saya sangat setuju dengan apa yang bapak tulis, media sudah tidak dapat kita percayai mengenai pemberitaan - pemberitaannya dan banyak orang yang hanya dapat berkomentar tanpa melakukan aksi sepadan untuk mengatasinya.
    kenaikan bbm memang membawa dampak begitu besar bagi kehidupan, khususnya bagi kehidupan rakyat kecil. selama ini yang saya ketahui, cara satu -satunya untuk mengutarakan rasa tidak setuju dengan kebijakan pemerintah hanyalah dengan berdemo (turun aksi) tanpa pernah ada pembaharuan dalam hal tersebut dari era soeharto dulu. sedangkan pihak pemerintah telah melakukan pembaruan - pembaruan dalam menangani demonstrasi. intinya demonstrasi nggak bisa ngerubah apa apa, alhasil banyak yang gak minat untuk ikut turun aksi dengan alasan "mau demo terus - terusan juga gak bakal berubah itu keputusan" setelah membaca isi tulisan bapak, kini saya memahami, ada cara lain yang dapat saya, mahasiswa maupun orang - orang lain diluar sana cara untuk mengatasi bbm, mempelajari mengenai bbm dengan cara yang sebenarnya bukan hanya melewati penerawangan. ya cara tersebut merupakan melalui pemahaman empatis. terimakasih atas ilmunya pak :)

    wasssalamualaikum. wr. wb

    BalasHapus
  4. Nama : Aminah Pertiwi
    NIM : 4915127038
    Pendidikan IPS B 2012

    Kenaikan harga bbm yang sudah berlangsung hampir seminggu kemarin, membuat timbulnya pro dan kontra, dimana yang pro dengan naiknya bbm berusaha menampilkan angka-angka statistik yang menurut pemerintah dan kubu tersebut sudah cukup menggambarkan bahwa harga bbm memanglah sudah pantas untuk naik. Sedangkan kubu yang kontra dengan keputusan tersebut menyatakan bahwa kenaikan harga bbm malah akan membuat rakyat kecil semakin kecil dan tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tentunya juga akan semakin meningkat akibat dari naiknya bbm.

    Saya setuju dengan tulisan bapak diatas. Yang bisa dimaknai seharusnya sebelum membuat keputusan menaikkan harga bbm ini diperlukan pemahaman empatis dari pemerintah. Sehingga dengan pemahamam empatis tersebut dapat lebih memahami kejadian dengan cara yang lebih bijak dan lebih dalam dari hanya sekedar simpati.
    Dengan pemahaman empatis tersebut, kita dapat melihatnya dengan turun langsung ke masyarakat, melihat langsung dampak dari adanya kenaikan harga bbm, karena dengan melihat langsung tentunya kita dapat lebih merasakan bagaimana dampak langsung naiknya harga bbm bagi rakyat kecil, sehingga tidak hanya menjadikan hitung-hitungan statistik menjadi dasar.
    Dan diharapkan dengan adanya pemahaman empatis ini dapat menghadirkan solusi yang memang berfungsi untuk menyelesaikan suatu masalah atau sebuah keputusan.

    BalasHapus
  5. Ulfa suci yanthi
    Pips B 2012

    Saya setuju dengan tulisan pak nusa bahwa pemahaman empatis dapat memberi kita pemahaman mendalam, berdasarkan penyusuran sendiri dan langsung ke pelakunya. Pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Jokowi sekarang menurut saya sebenarnya sudah cukup bagus dengan mengadakan program blusukan tersebut. Meski banyak media yang mengatakan bahwa blusukan tersebut hanyalah pencitraan. Tetapi blusukan yang dilakukan oleh presiden jokowi masih lebih baik dibandingkan hanya duduk saja menerima laporan dari anak buah. Karena, blusukan dengan datang langsung ketempat lokasi akan dapat menumbuhkan pemahaman empatis.
    Mengenai subsidi BBM, saya memang agak menyayangkan. Mengapa presiden jokowi menaikkan harga BBM sangat cepat setelah pengangkatan dirinya menjadi presiden. Apakah memang tidak ada cara lain untuk mengatasi masalah BBM ini? Bukankah yang harus dibenahi itu adalah mafia migas yang bermain dibelakang layar. Bukan justru membebani rakyat dengan menaikkan harga BBM. Kenaikan BBM pasti berdampak pada rakyat kecil meskipun rakyat kecil tidak mempunyai kendaraan bermotor. Kita lihat saja, jika BBM naik, semua harga pasti melonjak naik. Sebelum BBM naik saja hidup mereka sudah susah. Apalagi jika ditambah dengan kenaikan BBM yang akan berdampak pada kenaikan harga. Mereka akan semakin tercekik.
    Walaupun kenaikan bbm ini merupakan bentuk pengalihan subsidi dan nantinya subsidi bbm akan diganti dengan pemberian subsidi dalam bentuk lain. Namun apakah hal ini akan membantu rakyat? Pasti nantinya subsidi yang akan diberikan kepada rakyat sebagai pengganti dari subsidi bbm itu tidak akan sampai sepenuhnya ke tangan rakyat kecil.
    Pemerintah, tidak hanya presiden jokowi seharusnya lebih menanamkan pemahaman empatis agar benar benar dapat merumuskan solusi yang tepat untuk masalah sosial yang dihadapi oleh rakyat kecil.

    BalasHapus
  6. Rizky Marlina
    4915141034
    P. IPS A 2014
    Tulisan Bapak yang berjudul “PEMAHAMAN EMPATIS: DUA” sangat bagus dan menarik. Seharusnya presiden dan orang yang setuju dengan dinaikkannya BBM membaca tulisan Bapak ini, agar mereka sadar dan tahu. Bagaimana rakyat kecil menderita akibat dinaikkannya BBM.
    Mereka tidak mengerti bagaimana kalau mereka ada di posisi orang kecil. Coba saja mereka turun langsung dan merasakan menjadi orang kecil. Contohnya supir metro mini. Metro mini kan pakai solar, nah solar itu harganya naik. Jadi supir mau tidak mau harus mengikuti kenaikkan solar tersebut. Kalau penumpangnya sedikit, jadi dia tidak mendapat keuntungan yang banyak. Yang ada rugi karena naiknya harga solar tersebut. Jadi tidak sebanding dengan kenaikkan harga solar.
    Kasihan juga orang yang bekerja tetapi selalu naik angkutan umum. Karena BBM naik tarif angkutan umum juga naik. Orang yang bekerja naik angkutan umum mau tidak mau harus membayar tarif yang baru dan naik walaupun 1000. Belum tentu gajinya dia juga naik. Yang ada dia tekor. Karena harus membiayai anaknya dan mengeluarkan ongkos lebih banyak dari sebelumnya.

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd