Rabu, 05 November 2014

Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran IPS

Semua pembelajaran harus mengacu pada standar nasional pendidikan. Terkait dengan pembelajaran IPS, inilah beberapa standar yang harus diperhatikan,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013
TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH
NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

Penjelasan pasal 77 H ayat 1. Yang dimaksud dengan ”Pengembangan sikap personal dan sosial” mencakup perwujudan suasana untuk meletakkan dasar kematangan sikap personal dan sosial dalam konteks belajar dan berinteraksi sosial

Huruf f
Bahan kajian ilmu pengetahuan sosial, antara lain, ilmu bumi, sejarah, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis Peserta Didik terhadap kondisi sosial masyarakat.

Dari penjelasan di atas tegas disebutkan bahwa pembelajaran IPS bertujuan mencapai kematangan sikap personal dan sosial dalam konteks belajar dan interaksi sosial. Kematangan itu didapat melalui pengetahuan, pemahaman dan kemampuan menganalisis kondisi sosial masyarakat.

Dengan demikian pembelajaran IPS sama sekali tidak memadai dan tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan bila hanya memberi pengetahuan dan pemahaman kepada peserta didik. Harus lebih tinggi dari itu, sampai pada kemampuan melakukan analisis kondisi sosial masyarakat.

Tentu saja kemampuan tersebut dikaitkan dengan tingkat usia peserta didik. Sehingga para guru harus merancang pembelajaran yang memberi peluang bagi peserta didik untuk berlatih, membiasakan diri untuk melakukan analisis. Bukan sekadar menambah dan memperkaya informasi tentang kondisi sosial masyarakat.

Untuk itu pendekatan pembelajaran tradisional yang menempatkan paserta didik sebagai peserta  pasif dan hanya menerima materi, sama sekali tidak sesuai dan tidak akan memampukan peserta didik untuk melakukan analisis kondisi masyarakat. Pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik yang melibatkan mereka secara aktif pastilah lebih sesuai.
Pendekatan pembelajaran saintifik dengan berbagai jenis dan variannya sangat sesuai digunakan untuk mencapai standar yang telah ditetapkan. Karena pendekatan ini mendorong peserta didik untuk melakukan serangkaian aktivitas yang memberi kesempatan untuk melakukan eksplorasi secara langsung dan tidak langsung kondisi masyarakat melalui kegiatan mengamati, menanyakan dan mempertanyakan, menganalisis, merumuskan sejumlah pendapat atau jawaban sementara yang harus diuji, membuat kesimpulan dan mengkomunikasikannya.

Oleh karena itu, para guru harus membuat rancang bangun pembalajaran IPS menggunakan pendekatan saintifik dalam pembelajaran. Rancang bangun pembelajaran IPS harus diturunkan secara konsisten dari kompetensi inti dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Berdasarkan kompetensi-kompetensi tersebutlah pembelajaran IPS direncanakan dan dilaksanakan. Dalam Permendikbud No. 68 Tahun 2013 dijabarkan kompetensi inti dan kompetensi pembelajaran IPS untuk SMP. Berikut ini uraiannya,

KELAS: VII

KOMPETENSI INTI

1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya

KOMPETENSI DASAR

1.1 Menghargai karunia Tuhan YME yang telah menciptakan waktu dengan segala perubahannya

1.2 Menghargai ajaran agama dalam berfikir dan berperilaku sebagai penduduk Indonesia dengan mempertimbangkan kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat

1.3 Menghargai karunia Tuhan YME yang
telah menciptakan manusia dan lingkungannya

KOMPETENSI INTI

2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya

KOMPETENSI DASAR

2.1 Menunjukkan perilaku jujur, gotong royong, bertanggung jawab, toleran, dan percaya diri sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh-tokoh sejarah pada masa lalu.

2.2 Menunjukkan perilaku rasa ingin tahu, terbuka dan kritis terhadap permasalahan sosial sederhana.

2.3 Menunjukkan perilaku santun, peduli dan menghargai perbedaan pendapat dalam interaksi sosial dengan lingkungan dan teman sebaya

KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR

3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
3.1 Memahami aspek keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu dalam lingkup regional serta perubahan dan keberlanjutan kehidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan politik)

3.2 Memahami perubahan masyarakat Indonesia pada masa praaksara, masa hindu buddha dan masa Islam dalam aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik

3.3 Memahami jenis-jenis kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat

3.4 Memahami pengertian dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi

KOMPETENSI INTI

4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

KOMPETENSI DASAR

4.1 Menyajikan hasil pengamatan tentang hasil-hasil kebudayaan dan fikiran masyarakat Indonesia pada masa praaksara, masa hindu buddha dan masa Islam dalam aspek geografis, ekonomi, budaya dan politik yang masih hidup dalam masyarakat sekarang

4.2 Menghasilkan gagasan kreatif untuk memahamijenis-jenis kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik di lingkungan masyarakat sekitar

4.3 Mengobservasi dan menyajikan bentuk- bentuk dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi di lingkungan masyarakat sekitar

Beranjak dari kompetensi inti (KI) dan dan kompetensi dasar (KD), dirumuskan tema dan subtema. Untuk KI-1 di atas, tema dan subtemanya adalah seperti terlihat di bawah ini,

Ada tabel

Berdasar subtema yang telah ditetapkan tersebut, para guru merancang pembelajaran secara lengkap. Kurikulum 2013 telah menggariskan penggunaan pendekatan saintifik dalam pembelajaran.

Dalam buku petunujuk guru diuraikan,

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum, atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati, merumuskan pertanyaan, mengumpulkan informasi, mengolah informasi dan menarik kesimpulan serta mengomunikasikan kesimpulan (5M). Langkah-langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan mencipta. Dalam melaksanakan proses pembelajaran IPS, bantuan guru diperlukan, tetapi bantuan itu harus makin berkurang ketika peserta didik makin bertambah dewasa atau makin tinggi kelasnya.

Dalam buku petunjuk guru, beberapa model pembelajaran disarankan untuk digunakan.

Model-model Pembelajaran IPS
Model-model pembelajaran yang direkomendasikan di dalam standar proses adalah: Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP), dan Discovery-Inquiry (DI). Ketiga model tersebut diharapkan dapat memperkuat penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran.

Dalam buku petunjuk guru tersebut juga disarankan agar guru kreatif mengembangkan model-model pembelajaran yang mendukung pendekatan saintifik. Dalam penelitian ini ada tiga model yang coba dikembangkan yaitu studi kasus, studi perbandingan dan studi lapangan. Dalam tiga model ini serangkaian aktivitas yang disebut 5M dilakukan, karena ketiga model ini juga digunakan para saintis untuk mencaritemukan konsep dan teori sebagaimana model saintifik lain yang telah disebutkan di atas.

Sebagai contoh nyata penggunaan model studi kasus berikut uraiannya.

Sebagian subtema dari KI-1 yang telah ditetapkan adalah:

1) Letak Wilayah dan Pengaruhnya bagi keadaan Alam Indonesia

2) Keadaan Alam Indonesia.

Guru membagi para murid dalam kelompok kecil 2-3 orang. Pembagian jumlah siswa dalam kelompok tidak boleh terlalu banyak. Sebab jika lebih dari tiga orang biasanya mereka kurang fokus.

Guru harus menentukan tugas tiap anggota kelompok, misalnya ketua dan anggota. Rincikan tugas ketua dan anggota. Pembagian tugas ini penting karena ada kaitannya dengan penilaian sikap terkait dengan kerjasama, tanggungjawab, dan kepemimpinan. Namun, siapa yang menjadi ketua dan anggota biarkan murid yang tentukan.

Kelompok kecil tersebut diberikan tugas spesik dalam bentuk studi kasus. Misalkan, para siswa melakukan studi kasus terhadap letak astronomis dan letak geografis Indonesia, ada kelompok yang melakukan studi mendalam tentang daerah pantai, dan dataran tinggi. Tidak seperti yang terjadi selama ini, setiap kelompok diberi waktu yang sangat pendek dan mengkaji hal yang sama.

Mengapa studi kasus? Karena studi kasus mengharuskan siswa melakukan kajian yang mendalam dan rinci terhadap subjek yang dipelajari. Dengan demikian pendekatan terpadu yang menjadi ciri utama pembelajaran IPS dapat terlaksana.

Ciri utama studi kasus adalah kerincian dan kelengkapan. Sebuah subjek seperti daerah pantai bisa ditelaah dari sudut pandang geografis, ekonomi, lingkungan, sistem sosial dan berbagai bidang ilmu dalam IPS. Dengan demikian para siswa dibiasakan untuk memahami dengan sudut pandang keterpaduan. Oleh karena memang demikianlah IPS dikembangkan dan harus diajarkan.

Kelompok siswa yang melakukan studi kasus daerah pantai diminta mengamati dan mendiskusikan berbagai hal seperti:

a) ciri daerah pantai secara georafis
b) keadaan penduduk
c) kondisi ekonomi
d) sebaran flora dan fauna.

Kelompok yang ditugaskan melakukan studi kasus terhadap daerah pantai diminta merumuskan 20-30 pertanyaan dan menjawab seluruh pertanyaan tersebut dari berbagai sumber. Semua pekerjaan yaitu rumusan pertanyaan dan jawabannya harus dibuat secara tertulis.

Saat merumuskan pertanyaan itulah terjadi proses pengamatan dan berfikir sekaligus. Sebab pertanyaan mereka tidak diajukan dengan asal-asalan. Karena ada fokus kajiannya, yaitu daerah pantai, dan dibuat sejumlah kategori untuk dikaji, akan membuat siswa bisa melakukan kajian yang mendalam dan rinci.

Dalam pelaksanaannya siswa didorong untuk merumuskan sebanyak mungkin pertanyaan. Prinsipnya lebih banyak pertanyaan lebih baik. Selanjutnya para siswa di dalam kelompok melakukan proses memilah, memilih dan mengolah pertanyaan tersebut. Dipilih 20-30 pertanyaan terbaik untuk dijawab. Proses ini merupakan proses analisis permukaan atau yang pertama. Kemudian dikanjutkan dengan analisis kedua saat para siswa menjawab pertanyaan yang telah dipilih dan dirumuskan.

Sewaktu menjawab pertanyaan itu mereka harus melakukan proses analisis untuk mendapatkan jawaban yang paling tepat. Seluruh proses ini, yaitu merumuskan pertanyaan dan mencari jawabannya memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan eksplorasi terhadap semua sumber yang tersedia.

Sumber-sumber yang bisa digunakan murid sangat banyak. Sebab Kurikukum 2013 mendorong digunakannya teknologi informatika. Artinya para siswa dibiasakan untuk memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia dalam berbagai situs di internet. Salah satu ciri pembeda Kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya adalah penegasan pentingnya prmanfataan teknologi informasi sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Konsekuensinya adalah sekolah harus menyediakan fasilitas dan guru membiasakan diri memanfaatkan sumber-sumber yang berasal dari internet. Dengan demikian proses pembelajaran yang menggunakan model studi kasus ini akan lebih kaya sumbernya. Tentu saja kekayaan sumbet ini memberi kesempatan pada para siswa untuk melakukan kajian yang mendalam, rinci dan kengkap sebagai ciri studi kasus.

Guru berkewajiban membimbing para siswa agar selama proses eksplorasi ini siswa benar-benar terlibat secara aktif dan fokus. Sehingga dapat dijamin pemahaman siswa tentang konsep-konsep IPS benar-benar terjadi melalui proses mencarian sebagaimana yang menjadi tujuan penggunaan pendekatan saintifik dalam pembelajaran.

Peran guru memang masih besar karena sesuai dengan buku petunjuk guru, pendampingan kepada siswa akan lebih intensif pada kelas awal yaitu kelas tujuh, dan akan semakin berkurang pada kelas-kelas yang lebih tinggi. Ini berkaitan dengan tahap perkembangan siswa.

Pada kelas tujuh siswa berada pada tahap transisi dari siswa sekolah dasar menuju sekolah menengah pertama. Sudah barang tentu mereka harus dibimbing untuk melakukan banyak kebiasaan baru seperti melakukan analisis. Oleh karena itu pada tahap ini studi kasus dilakukan lebih sebagai latihan awal agar siswa terbiasa untuk melakukan analisis dan merasakan melalui pengalaman langsung bagaimana masalah diselesaikan dengan cara IPS.

Keterpaduan IPS memang harus dibiasakan sebagai sebuah cara pandang untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial kemasyarakatan sejak mereka duduk di SMP. Diharapkan cara pandang IPS dan kemampuan analisis menjadi kompetensi yang sungguh dimiliki siswa dan bersifat fungsional.

Seiring dengan perjalanan waktu, studi kasus bisa terus diperinci dan diperdalam. Lebih banyak cabang ilmu sosial yang bisa digunakan untuk analisis. Guru juga bisa memberikan kebebasan yang lebih besar pada para siswa. Artinya, siswa diberi kesempatan untuk melakukan eksplorasi. Guru lebih menjadi fasilitator yang menjadi mitra siswa untuk mencaritemukan kebenaran.

Proses yang mengharuskan siswa melakukan eksplorasi mendalam melalui studi kasus akan menumbuhkan sejumlah sikap positif seperti disiplin dalam berfikir, fokus, sabar, dan mampu bekerja dengan langkah-langkah yang sistematis. Oleh karena dilakukan secara berkelompok juga akan membangkitkan semangat kebersamaan dan saling menghormati serta berbagi.

Para siswa harus merumuskan jawabannya secara tertulis dalam bentuk rangkaian kalimat yang membentuk paragaraf. Ini dilakukan agar siswa terbiasa mengungkapkan fikirannya secara sistemastis, runtut dan teratur.

Bahan tertulis ini bisa dikembangkan menjadi bahan untuk majalah dinding. Sehingga merupakan suatu cara untuk mengkomunikasikan gagasan dan temuan. Juga bisa diringkas menjadi bahan untuk power point yang akan dipresentasikan di kelas.

Oleh karena kelompok siswa yang lain melakukan studi kasus pada tempat yang lain, yaitu daerah pegunungan, dataran tinggi, dataran rendah yang bukan pantai, maka saat setiap kelompok menyajikan atau menyampaikan hasil studi kasusnya terjadilah proses berbagi pengetahuan. Akan muncul sikap saling menghargai karena setiap kekompok menyajikan topik yang berbeda.

Melalui studi kasus, pembelajaran IPS menggunakan pendekatan saintifik sekaligus memenuhi beberapa tujuan sekaligus yaitu:

a) menjadikan siswa terlibat aktif terpenuhi karena melalui studi kasus siswa terlibat secara mendalam untuk melakukan eksplorasi

b) siswa diberi kesempatan untuk mencaritemukan dan merumuskan sejumlah masalah melalui proses eksplorasi terhadap beragam bahan yang dicari dan dikumpulkan sendiri

c) siswa dipicu untuk merumuskan sejumlah jawaban yang diungkapkan secara tertulis

d) siswa diberi kesempatan untuk berkreasi, menciptakan cara ungkap atas temuannya berupa laporan tertulis yang bisa dijadikan bahan untuk majalah dinding dan power point

e) berkembangnya sejumlah sikap positif yaitu objektivitas, ketekunan, disiplin, kepemimpinan, kerjasama, saling menghargai, kemapuan dan kemauan berbagi

f) terbukanya kesemoatan mempelajari IPS secara terpadu sebagaimana curi utama pembelajaran IPS.

Model studi kasus ini merupakan salah satu alternatif untuk menerapkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran IPS yang memungkinkan untuk melakukan eksplorasi sesuai dengan karakteristik pembelajaran IPS yang terdiri dari kumpulan sejumlah ilmu dalam kluster ilmu-ilmu sosial. Model alternatif lain adalah studi perbandingan.

Studi perbandingan ini merupakan kelanjutan dari studi kasus. Di dalam kelas siswa tetap dibagi dalam kelompok kecil. Kemudian mereka diberi tugas spesifik dengan cara kerja studi kasus. Tugas spesifik itu yang nantinya diperbandingkan.

Contohnya adalah ditentukan kelompok yang mengkaji daerah pentai di Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, dan Papua. Tiap kelompok harus menemukan ciri khas atau keunikan setiap daerah sesuai dengan rincian yang dieksplorasi yaitu:

a) ciri daerah pantai secara georafis
b) keadaan penduduk
c) kondisi ekonomi
d) sebaran flora dan fauna.

Setiap kelompok bukan saja harus merumuskan pertanyaan dan temuannya secara tertulis. Juga membuat atau mencari peta, gambar-gambar terkait dengan keadaan penduduk termasuk bentuk rumah, dan aktivitas ekonomi. Tidak ketinggalan gambar tumbuhan dan hewan yang ada di setiap tempat yang dikaji.

Ada persyaratan untuk melakukan studi perbandingan agar hasilnya optimal. Para siswa dibiasakan dulu dengan studi kasus, melakukan analisis yang relatif lebih terbatas dan sederhana dibandingkan dengan studi perbandingan. Dengan demikian para siswa sudah berpengalaman apa saja yang diananlisis dan bagaimana caranya melakukan analisis.

Persyaratan ini perlu dibuat dan ditaati karena pada hakikatnya studi perbandingan tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan studi kasus. Studi kasus merupakan cara yang digunakan dalam studi perbandingan dengan kerincian dan kedalaman yang lebih sukar.

Studi perbandingn memang dirancang lebih rinci dan lengkap analisis serta hasil-hasilnya. Oleh karena hasilnya akan diperbandingkan satu sama lain antarkelompok. Seyogiyanya, guru membuatkan rincian tugas yang lebih lengkap dan mendalam dibandingkan studi kasus yang tidak diperbandingkan.

Studi perbandingan memang mengharuskan siswa mencaritemukan berbagai keistimewaan atau keunikan dari apa yang dikajinya. Bila setiap kelompok berhasil menemukan keunikan tersebut, maka perbandingan yang dilakukan menjadi lebih bermakna.

Agar keunikan yang ditemukan bisa ditunjuktonjolkan, setiap kelompok siswa bukan saja diwajibkan untuk membuat laporan tertulis. Juga dilengkapi dengan gambar peta, gambar keadaan alam, tumbuhan dan hewan. Sehingga temuan benar-benar dapat diungkapkan dengan lengkap dan kaya makna.

Dengan semua bahan yang tersedia itu, setiap kelompok didorong untuk menampilkan kreasinya. Paling kurang membuat majalah dinding atau kolase. Juga bisa membuat semacam majalah kecil atau buletin. Semua ini merupakan varian atau alternatif untuk mengkomunikasikan temuan setiap kelompok.

Majalah dinding atau kolase yang diciptakan kemudian dipajang atau dioamerkan di kelas. Sementara itu, jika yang dibuat buletin harus disebarkan. Buletin itu dibuat sederhana dan difotocopy. Inti dari kegiatan ini adalah mendorong para siswa untuk mengkomunikasikan temuannya.

Mengkomunikasikan temuan tidak harus dan tidak selalu secara lisan melaui presentasi. Diusahakan ada variasi dengan cara tulisan. Tulisan yang dibuat ringkas dan menarik.

Melalui studi banding ini para siswa merasakan bahwa setiap siswa secara individual dan kelompok telah memberikan kontribusi pada seluruh kelas. Karena terjadi proses berbagi. Setiap siswa telah ikut secara aktif melakukan proses pencarian sesuai dengan yang ditugaskan padanya.

Penciptaan karya sebagai bentuk kreasi memang harus didorong agar dilakukan oleh para murid. Oleh karena dalam Kurikulum 2013 sebagaimana yang ditulis dalam buku petunjuk guru, guru harus selalu mengusahakan  agar siswa mengembangkan daya cipatnya. Dalam pembelajaran IPS, pengembangan daya cipta tersebut haruslah dikaitkan langsung dengan kajian yang telah dilakukan siswa menggunakan cara kerja dan cara pandang IPS.

Hasil studi kasus dan studi banding memang harus diolah lebih lanjut menjadi bentuk kreasi para siswa. Berbagai bentuk kreasi tersebut adalah:

a) laporan tertulis yang berisi
i)   daftar pertanyaan
ii)  daftar pertanyaan yang telah diseleksi
iii) temuan berupa hasil analisis untuk menjawab pertanyaan yang telah dipilih
iv) berbagai gambar, tabel, diagram yang digunakan untuk memperkuat analisis.

b) power point, sebagai bahan untuk presentasi

c) majalah dinding yang berisi temuan lengkap dengan semua gambar pendukung

d) buletin, berupa terbitan sederhana yang berisi temuan sebagai bentuk lain dari majalah dinding untuk disebarluaskan

e) buletin yang dibuat dalam blog di dunia maya agar penyebarannya lebih luas

f) kartu permainan yang berisi temuan spesifik, misalnya binatang tertentu atau pohon tertentu terdapat di daerah mana saja. Kartu itu berisi gambar dan keterangan yang melengkapinya.

Tentu saja, para guru dapat memotivasi agar siswa mengembangkan berbagai kreasinya terkait dengan temuan hasil kajian. Membuat berbagai kreasi dari hasil temuan memberi banyak keuntungan. Para siswa akan lebih mengingat hasil temuannya karena terus-menerus mengolahnya. Mereka juga akan merasa bangga atad hasil kerjanya. Hasil kerjanya dapat dinikmati oleh teman-temannya. Dengan demikian tujuan untuk mengaktifkan siswa dan mendorongnya untuk melakukan eksplorasi dan berkreasi terpenuhi.

Pastilah, suasana pembelajaran seperti ini sekaligus dapat memacu persaingan sehat dan kerjasama. Para siswa bekerja di dalam kelompok dan berkompetisi dengan kelompok lain. Kematangan personal dan sosial sungguh mendapat kesemoatan untuk diuji dan ditumbuhkembangkan.

Model ketiga adalah studi lapangan. Pada dasarnya studi lapangan merupakan pendekatan saintifik yang paling ideal. Sebab para siswa harus melakukan penelitian lapangan. Para siswa kini tidak lagi bertemu dengan berbagai sumber berupa benda mati seperti buku dan komputer. Tetapi bertemu dengan sesama manusia. Bagi pembelajaran IPS, studi lapangan ini harus dilakukan. Sebab paling baik untuk mengasah keterampilan sosial para siswa.
Oleh karena studi lapangan ini memiliki tingkat kesulitan tinggi, serta membutuhkan perencanaan yang cermat dan hati-hati, maka para guru harus mendiskusikan pada para siswa terkait pelaksanaannya. Guru IPS juga bisa bekerja sama dengan guru lain seperti guru Bahasa Indonesia. Sebab selama studi lapangan, para siswa melakukan dua kegiatan utama yaitu mengamati dan mewawancarai, kemudian membuat laporan. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia diajarkan keterampilan mewawancarai dan membuat laporan.

Tentu saja guru IPS bisa melakukannya tanpa bekerja sama dengan guru lain. Namun, bila bisa bekerja sama dengan guru lain, pastilah lebih menguntungkan karena sekaligus mencapai tujuan yang lebih banyak. Sebab ada lebih dari satu mata pelajaran yang dipraktikkan.

Guru bersama siswa merancang kegiatan ini bersama-sama. Pada kelas tujuh ada topik dan subtopik sebagai berikut:

Kegiatan Ekonomi dan Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Alam
Kegiatan Ekonomi
Kegiatan Produksi
Kegiatan Distribusi
Kegiatan Konsumsi.

Terdapat banyak pilihan untuk melakukan studi lapangan. Misalnya ada kelompok yang melakukan studi lapangan ke tempat yang berbeda yaitu pasar, pabrik, pasar moderen atau mal, ke pelelengan ikan, pasar induk, dan perkantoran.

Guru bersama siswa kemudian menetapkan bahan-bahan atau informasi apa saja yang hendak dicari dan didalami, siapa saja yang akan diwawancarai dan apa alasan mereka yang diwawancarai. Siapa dan proses apa saja yang harus diamati atau diobservasi.

Sebaiknya guru dan murid merumuskan dan membuat tabel atau lembar observasi dan sejumlah pertanyaan yang bisa dijadikan pedoman untuk melakukan studi lapangan. Tentu saja saat di lapangan semuanya bisa ditambahkan dan didalami melampaui apa yang telah dibuat.

Berikan tugas yang jelas pada setiap kelompok dan anggota kelompok. Siapa melakukan apa dan bertanggungjawab tentang apa. Berapa lama studi lapangan dilakukan dan apa yang harus dicapai.

Studi lapangan jika dirancang dengan baik dan cermat, serta dilaksanakan dengan baik dan tepat akan sangat bermakna bagi para siswa. Mereka tidak saja belajar tentang apa atau topik yang sedang digali. Juga mengalami secara langsung bagaimana berinteraksi dengan orang lain, bagaimana membangun komunikasi dan berhubungan dengan orang lain. Sungguh studi lapangan akan membangun pemahaman empatis, dan mengasahtajamkan kematangan personal dan kecerdasan sosial para siswa.

Sangat disarankan agar para siswa mengalami terlebih dahulu studi kasus, studi perbandingan, dan studi lapangan di lingkungan sekolah. Baru setelah itu melakukan studi lapangan ke masyarakat.

Studi lapangan di sekolah dilakukan sebagai latihan bagi para siswa agar mereka terbiasa melakukan pengamatan dan wawancara. Dimulai di sekolah pada orang-orang yang telah dikenal biasanya lebih mudah bagi para siswa. Latihan itu harus dievaluasi agar siswa mengerti bagaimana melakukan studi lapangan yang benar.

Bila sudah terlatih, mereka diberi kesempatan untuk melakukan studi lapangan yang sesungguhnya ke dalam lingkungan masyarakat yang sebenarnya, yang boleh jadi belum mereka kenal dengan baik. Studi lapangan ini sungguh akan memberi pada siswa pengalaman yang luar biasa, yang dapat membantu mereka menajamkan kecerdasan sosialnya.

Ketiga model yang ditawarkan ini merupakan alternatif yang semoga berguna untuk membantu meningkatkan kualitas pembelajaran IPS di SMP. Ketiga model ini merupakan penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran IPS yang memperhatikan tujuan dan karakteristik pembelajaran IPS sebagaimana dirumuskan dalam Peraturan Pemerintah.

1 komentar:

  1. Muhammad ilham tachril p.ips a 2014 4915141040
    Artikel ini bisa jadi dasar bagi kami calon guru alias cagur,hal ini sesuai dengan pengumpulan data,pengolahan data dan verifikasi data mengenai IPS ini. Sebab pendidikan IPS adalah cakupan umum mengenai IPS sehingga sebagai mahasiswa pendidikan IPS wajib hukumnya mempelajari,memahami dan mengaplikasikan metode metode yang telah dipelajari

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd