Apa yang paling memuakkan di negeri ini? Politik! Apa yang paling menjijikkan? Korupsi politik!
Sungguh sangat memuakkan. Sejak pileg, dan terutama saat pilpres, kita terus menerus menyaksikan dagelan yang sama sekali sangat memuakkan. Pelakunya adalah para politisi.
Saat pileg kita menyaksikan para politisi, terutama yang partainya saat itu berkuasa atau berada dalam kekuasaan terus menerus bicara tentang keberhasilan yang spektakuler dalam menciptakan kesejahteraan rakyat. Sedangkan lembaga resmi yang mengurusi statitistik mengeluarkan pengumuman resmi bahwa angka kesenjangan di Indonesia meningkat, artinya tingkat kesenjangan semakin parah.
Para politisi dari partai yang berkuasa bersibuk diri meyakinkan rakyat bahwa mereka berhasil memberantas korupsi, padahal tiga menteri aktif ditetapkan menjadi tersangka kasus korupsi, bahkan yang satu sudah divonis. Pimpinan partai yang berkuasa yaitu presiden PKS, ketua umum Partai Demokrat dan PPP dijadikan tersangka korupsi. Para petinggi Partai Demokrat juga banyak yang jadi tersangka kasus korupsi. Kader Partai Golkar yang jadi pejabat juga sama, PDIP juga tak ketinggalan. Sungguh dagelan yang sama sekali tidak lucu. Malah tragis.
Selama pilpres, episode dagelan memasuki babak baru. Berkembang fitnah, kampenye hitam, dan pernyataan-pernytaan yang bertentangan dengan nalar terdengar setiap hari. Banyak masyarakat yang terlibat melalui media sosial. Dagelan sungguh mengikutsertakan banyak sekali orang yang saling serang, saling hina dan hujat. Seakan-akan kita ini bukan saudara sebangsa setanah air.
Dagelan mulai memuncak dengan munculnya dagelan hitung cepat dari sejumlah lembaga survei. Saling mengumumkan kemenangan. Benar-benar tidak siap untuk kalah. Dagelan semakin memunculkan rasa pengen muntah secara mental saat KPU akan menyelesaikan hitungan hasil pilpres, ada pihak yang menyatakan menarik diri dan tidak mengakui hasil perhitungan. Tragisnya, keputusan mundur diumumkan karena sudah pasti kalah. Mestinya jika tidak percaya pada KPU, jangan ikut pemilihan sejak mula. Lucunya, sudah pasti kalah baru menyatakan tidak percaya.
Gawatnya, setelah menyatakan menarik diri dan tidak percaya, serta menyatakan tidak akan melanjutkan proses, tiba-tiba mengajukan gugatan ke MK. Sungguh sangat kekanak-kanakan. Semakin tampak kekanak-kanakan dan tidak nalar saat bicara pada sidang pembukaan di MK. Tuding kiri-kanan dengan argumentasi yang sama sekali tak nalar. Dagelan berubah dari memuakkan menjadi menjijikkan.
Selanjutnya dagelan pindah ke gedung DPR-MPR di Senayan. Kini giliran yang di pilpres menang menjadi pecundang. Sekali lagi kita menyaksikan dagelan yang menunjukkan bahwa apa yang dikatakan Gus Dur dulu, benar adanya. Bahwa kualitas politisi kita memang di bawah taman kanak-kanak.
Mereka selalu mengatasnamakan kepentingan rakyat, kepentingan negara dan bangsa. Namun perilaku dan dagelan yang mereka sajikan membuktitegaskan bahwa mereka hanya membela kepentingan kelompok sendiri. Rakyat sudah muak, bahkan jijik menyaksikan dagelan yang mereka tunjukkan
POLITIK ADALAH RACUN JIKA DIGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN GOLONGAN SENDIRI.
Nama : Firaas Azizah
BalasHapusKelas : P.Ips A
Kode : 4915141031
Politisi Indonesia merupakan ancaman bagi rakyat Indonesia, karena jatuhnya harga diri rakyat Indonesia dikarenakan kasus-kasus yang membelenggu para politisi Indonesia. Sehingga banyak para politisi Indonesia, merasakan duduk dibangku kesakitan dan masuk kedalam jeruji besi. Ketika kampanye menjelang, para politisi saling saut-menyaut untuk meyakinkan rakyat bahwa ia adalah orang yang pantas untuk dipilih. Mondar-mandir dari satu wilayah ke wilayah lain hanya untuk megngumbar janji agar rakyat yakin terhadap omongannya. Bahkan ada salah politisi yang pernah membintangi salah satu iklan anti korupsi, tetapi kenyataannya ia malah tersandung kasus korupsi. Dengan kejadian seperti itu, maka rakyat tidak salah jika mengatakan bahwa politisi Indonesia hanya mengngumbar janji palsu . Tidak hanya mengumbar janji palsu, para politisi saling menjatuhkan satu sama lain antar kandidat politik, saling memfitnah, dan melakukan kampanye hitam. Berarti sangat jelas, politisi Indonesia saat ini tidak murni dan sama sekali tidak mencerminkan sikap bangsa Indonesia yang sesungguhnya.
Para politisi saling berlomba-lomba hanya untuk mendapatkan kekuasaan tertinggi tetapi sama sekali tidak menunjukkan hasil kinerja. Tujuan politisi hanya untuk menaikkan derajat harga diri mereka dan untuk mempertahankan popularitas partai yang mereka pimpin. Padahal Politik bukan ajang untuk menaikkan derajat seseorang, ,melainkan politik adalah tujuan bangsa untuk ajang pencarian pemimpin yang rasional, bijaksana, dan tegas untuk memimpin bangsa Indonesia ke arah yang lebih maju.
Nadea Uzmah
BalasHapusP.IPS B 2014
Jika berbicara tentang politik memang tidak ada habisnya. Para politisi hanya menginginkan kekuasaan, kepopularitasan, dan kekayaan. Tak heran jika para politisi saling berebut untuk mendapatkan posisi tertinggi di dalam dunia politik. Saya pribadi juga sangat muak dengan kegiatan politik yang ada di negara ini. Mereka berlagak suci di depan rakyat, tapi nyatanya mereka melahap habis uang yang seharusnya digunakan untuk pembangunan negara ini.
Saya sendiri juga sudah terlalu muak dengan dagelan politik para politisi yang begitu kotor dan menjijikan. Itu semua seolah sudah mengakar dan menjadi kebiasaan dalam perpolitikan bangsa Indonesia saat ini. Kita sudah disuguhi dagelan politik yang begitu membosankan, mulai dari pemilu legislatif, pemilu presiden, sampai yang sekarang ini kisruh DPR tandingan, dan juga kasus korupsi yang tak lekang menghiasi wajah media massa. Rakyat Indonesia sudah lelah menunggu satu hal : kapan ini semua akan berakhir?
BalasHapusSudah saatnya dunia poltik Indonesia membutuhkan para elite politik yang benar-benar bisa menahan godaan untuk mementingkan dirinya sendiri serta mau mengabdi dalam menyelesaikan persoalan bangsa.
Tri Arung Wirayudha
4915141048
P.IPS A 2014
Politik di negeri ini memang kacau, Kenapa saya bilang kacau? Karena politik di negeri ini pada main belakang. Sogok-menyogok, tidak terima bila ia tidak menang, dan ada kubu antara kubu ini dan kubu itu.
BalasHapusPara parstisipan seperti rakyat pun bisa berkelahi gara-gara politik. Misalkan orang ini membela partai politik A yang satu memilih partai politik B lalu mereka saling melemparkan kata-kata yang begini-begitu tentang pilihan mereka, sehingga terjadilah pertikaian hanya gara-gara politik.
Satu pertanyaan saya selamana ini, mau dibawa kemana politik negara kita?
Triyani Ambar Sari P,IPS B 2014
semua partai politik itu penghasil koruptor. mayoritas partai yg ada di indonesia itu terlibat kasus korupsi. kita semua jadi bingung mau pilih yang mana sebenarnya, serba salah. Kenapa gak ada hukuman mati aja ya buat para koruptor...?
BalasHapusricky kurnia. ips b 2014
Menarik sekali. Ini lelucon paling buruk. Lelucon tragis negeri ini. Mungkin para founder-parents kita menangis disana. Kecewa. Entahlah.
BalasHapusSaya muak. Muak terhadap pemberitaan media massa yang berlebihan. Apalagi saat musim pilpres waktu lalu. Kita bingung,karena terlalu banyak bahkan hampir semua media massa yang “over’. Bisa saja mereka menyiarkan berita palsu, atau tambah-tambahan dari berita yang aslinya. Ah saya ingin meledak rasanya.
Kadang jika kita membicarakan atau mendiskusikan isu-isu politik terkini bersama teman sepermainan, kita sering dianggap idealis, kaku, dan kolot. Padahal dibalik maksud itu semua adalah supaya kita, bangsa Indonesia memiliki kadar sensitifitas yang tinggi terhadap politik praktis wakil-wakil rakyat saat ini. Perlu lebih banyak lagi mencari. Mencari lawan bicara yang sepemikiran.
TITA NURMALA – P.IPS B 2014
4915144096
Asyifa Laely
BalasHapusP.IPS B 2014
berbicara mengenai politik, orang akan berpikir tentang kekuasaan. Ya, Politik memang sangat identik dengan kekuasaan namun disisi lain politik juga identik dengan korupsi.
Korupsi banyak terjadi dalam politik, begitu pula dengan pelaku politik itu sendiri. Ia ingin berkuasa namun tak ingin mengambil resiko sebagai politisi yang harus mengurus negara dan aspek-aspek dalam negara, ia seakan tak peduli dengan suara rakyat. Awalnya mereka mengiklankan diri untuk meyakinkan rakyat namun ketika jabatan sudah dipegang mereka hanya duduk santai dan tidur dalam ruang sidang.
Sungguh tragis negeri ini ketika banyak negara begitu iri dengan sumber daya alam dan budaya yang beraneka ragam serta unik disini, tetapi masih banyak pemimpin yang hanya mementingkan sebagian golongan untuk kepentingan mereka sendiri.
Sungguh miris kondisi politik di indonesia. Orang-orang di sana bagaikan penjilat. Mengumbar janji-janji yang membuat masyarakat awalnya percaya , namun pada akhirnya mengecewakan.. kepentingan rakyat hanya dilirik sedikit dari pada kepentingan pribadi dan kelompok.
BalasHapusNama : taufik hidayatulloh
BalasHapusKelas : P.IPS
NIM : 4915145638
Kata-kata “rakyat” adalah kata yang paling laku dalam blantika politik Indonesia. Terutama pasca reformasi yang tak jelas ujung pangkalnya ini. Setiap orang begitu mudahnya mengucapkan dan mengatas namakan rakyat demi tujuan dan kepentingannya. Bahkan sekedar menjadi bumbu penyedap retorika politik adalah hal yang biasa. Nampaknya rakyat selalu menjadi kuda tunggangan dan obyek penderita.
Partai-partai politik pun tidak ketinggalan mengatas namakan rakyat dalam perjuangannya walaupun dalam kenyataannya banyak yg bertolak belakang. Penderitaan yang diderita rakyat jelata bukannya menggugah mereka untuk memperbaiki keadaan dengan tulus tetapi justru hal itu mereka gunakan untuk menjatuhkan lawan politiknya. Begitu tujuan dicapai rakyat pun diabaikan. Belum lagi demo-demo yang marak dalam kehidupan politik kita semuanya hampir dapat dipastikan menggunakan nama rakyat. Entah rakyat yang mana.
"Kalau dibiarkan akan mencederai dan merusak demokrasi yang bermartabat. Hati-hati, ini racun"
Miftahul Falah
BalasHapusP.ips B
Pendapat Gus Dur tentang politisi indonesia dibawah taman kanak-kanak benar sekali. Hal ini terjadi disaat kericuhan pemilihan anggota DPR. Banyak partai-partai yang mengajukan pendapatnya tetapi tidak bermoral. Padahal mereka itu adalah orang-orang yang berpendidikan dengan gelar profesor dan doktor. Tetapi sayangnya, sifat dan perilakunya itu tidak mencerminkan apa yang seharusnya dilakukan,seperti anak-anak ditaman kanak-kanak.
Menurut saya para politisi yang kekanak-kanakan itu tidak di ajarkan jujur, adil, dan tentram. Akan tetapi, mereka hanya di ajarkan kalah menang itu harus menjatuhkan lawan. Prabowo yang sudah menerima kekalahannya dalam pilpres sangat percaya, sedangkan kader-kader prabowo tidak ingin kalah. Kemudian melakukan orasi saat penghitungan berlangsung.
BalasHapusSejak inilah anak-anak diterapkan jujur, adil, dan makmur untuk kehidupannya. Dengan begitu, pada saat menerima kekalahan tidak seperti kader prabowo.
jangam hanya motto jagalah kebersihan sebagian dari iman di pampangkan, tetapi harus di terapkan dalam kehidupan.
Iya bnyak politisi saat ini hanya mementingkan kepentingan parpol saja, mereka menduakan kewajiban mereka sebagai wakil rakyat yang mewakili suara rakyat di DPR sana. Sungguh miris prilaku politisi negeri ini, yang hanya mementingkan diri sendiri di banding rakyatnya. Semoga di era jokowi saat ini para anggotan dewan lebih baik kinerjanya.
BalasHapusAmbari Enggar S S
4915141021
P.IPS A 2014
Melihat dari arti kata dagelan sendiri adalah sebuah lawakan,lelucon, atau melucu. Ya ini semua merupakan lelucon para tokoh politik yang tidak lucu sama sekali bahkan sangat memuakan, benar kata bapak.
BalasHapusSepertinya tulisan bapak yang ini sangat mengarah kepada salah satu tokoh politik yang tidak terima akan kekalahannya. Hidup memang penuh resiko, dimana ada kemenangan pasti ada pihak lain yang harus menerima kekalahan karena tidak mungkin semuanya menang.
Banyak sekali tokoh politik yang menyalahgunakan wewenangnya dalam memimpin, mereka hanya mementingkan golongannya sendiri tanpa memikirkan rakyatnya. Itulah permainan politik.
Reza Priyantama
P.IPS B 2014
Chairul Saleh
BalasHapusP.IPS B 2014
Menurut saya para politisi ini hanya bisa omong kosong dan tidak pantas untuk dipercaya,karena mereka bicara seolah-olah hanya untuk kepentingan rakyat dan negara.Tapi buktinya sama sekali tidak ada,yang ada hanyalah untuk mementingkan kepentingan individu atau kelompok mereka sendiri.Padahal mereka adalah orang yang berpendidikan,namun sayangnya perilaku mereka tidak mencerminkan dengan gelar pendidikan yang mereka miliki.Ini adalah merupakan salah satu permasalahan politik di Indonesia yang harus segera ditangani,agar politik di Indonesia dapat berjalan dengan baik.
Noviana Winarsih P.IPS B 2014
BalasHapusSaat ini, politik menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk dipahami. Politik tidak lagi menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai bahasan utamanya, melainkan kesejahteraan golongan diatas segalanya. Kesejahteraan rakyat terkesan sebagai kamuflase belaka untuk menutupi pencucian uang yang sesungguhnya sedang mereka kerjakan. Sungguh miris memang jika ketamakkan sudah merasuki jiwa manusia, maka segala cara ditempuh tanpa memikirkan nasib orang lain.
Saya setuju dengan tulisan bapak, menurut saya politik itu untuk kepentingan bersama bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Memang benar para politisi saat ini seperti anak-anak yang jika bermain tidak akan mau kalah, padahal dalam sebuah permainan pasti ada yang menang dan ada yang kalah dan seharusnya yang kalah menerima konsekuensinya atau resikonya.Bukannya menuntut yang menang karena kekalahan tersebut.
BalasHapusEka Yuliyanti
P.IPS B 2014
4915142817
Nama : Yulia Citra
BalasHapusKelas : P.IPS B 2014
Di Indonesia, kasus korupsi menjadi rantai berkepanjangan yang tiada usai. Badan pemberantas korupsi telah dibentuk, namun tetap saja korupsi masih melalang buana di Negara ini. Bicara soal pemberantasan korupsi, di Indonesia sendiri penanganan terhadap kasus korupsi telah berjalan cukup lama namun hasil yang diperoleh belum dapat dikatakan memuaskan. Rata-rata dari sekian banyaknya kasus korupsi yang diadili di negeri ini tidaklah sesuai dengan hati nurani rayat. Tidak heran jika kasus korupsi berlarut-larut tanpa titik temu dan lambat laun akan menghilang begitu saja dari buah pembicaraan. Kalaupun kasus tersebut dibawa hingga pengadilan, hukumannya pun sangat tidak sesuai. Hal demikian sangat berbanding terbalik dengan penegakan hukum dalam kasus-kasus selain korupsi di negeri ini.
Contoh nyatanya dapat kita lihat dari bagaimana sikap para penegak hukum menyelesaikan kasus-kasus yang dapat kita golongkan sebagai kasus ringan atau sedang. Mereka terlihat sangat tegas dalam menegakkan hukuman bagi para pelakunya. Namun sangat disayangkan ketegasan mereka tidak berlaku dalam penanganan kasus korupsi yang menjamur di negeri ini. Penanganan terhadap kasus korupsi dinilai sangat lamban dan bertele-tele. Terlihat sekali betapa bobroknya keadilan di negeri ini. Mencari keadilan di negeri ini bagikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Diskriminasi dalam penegakan keadilan di Indonesia ini tak terelakan. Bermodal uang banyak kita dapat membeli separuh masa tahanan. Bagaimana tidak, kasus korupsi makin melalang buana bila keadilan berpihak pada orang-orang beruang.
Mhammad ilham tachril p.ips a 2014 4915141040
BalasHapusPolitik adalah wadah dan cara untuk meraih kekuasaan. Sayangnya wadah ini di lukai dengan korupsi kolusi dan nepotisme,politik adalah sebuah kesucian dan kemurnian kepemimpinan. Kini konten dr politik seakab hilang oleh kejelekan masing2 dg sifat ketamakan dan keserakahan. Ingat bahwa politik adalah kemurnian dan kepalsuan adalah di manusianya sendiri dg keinginan meraih kekuasaan tanpa memandang kawan.
memang politik indonesia sudah tidak bersih lagi karena dari dpr dan mpr yg mengatasnamakan suara rakyat saja berani berbuat korupsi. mereka tidak takut melakukan hal2 itu karena tidak ada hukum yang membuat jera. politik hanyalah penghalusan kata dari 'menggrogoti harta rakyat'
BalasHapusrayi asyhada
p.ips b 2014
4915144090
Nama: Kun Khaerina Hapsari
BalasHapusKelas: P. IPS A 2014
NIM: 4915141047
pernyataan Gus Dur memang benar adanya. Bahkan kita bs lihat sendiri, akhir akhir ini persidangan selalu diwarnai dengan 'ambekan' bahkan hingga merubuhkan meja. Dunia politik kita saat ini memang sangat memalukan dengan keberadaan oknum-oknum tsb. Mereka selalu mengatasnamakan rakyat utk menjadi yg terdepan di lembaga tsb. Tetapi, tingkah mereka tidak seperti rakyat inginkan. Mereka hanya mementingkan golongan mereka saja, tidak sprti janji yg dikatakan sblm terpilih menjadi anggota dewan. Hal yg seperti ini akan membuat rakyat tdk percaya lg kpd mereka yg duduk di lembaga terhormat itu.
Saya setuju dengan artikel bapak,Menurut saya politik di era zaman sekarang ini sudah sangat rusak oleh oknum-oknum yang hanya mementingkan kepentingan politik bukan untuk kepentingan rakyat. Semua ingin mendapatkan kekuasaan yang sebesar-besarnya untuk menguasai negeri ini di tangan para pelaku politik tersebut. Rasa saling benci pun terjadi karena tidak ada yang mau mengakui kekalahan yang terjadi diantara para politisi tersebut,semua ingin menang. Seharusnya tetap ada rasa profesional dalam kegiatan politik itu,jika kalah ya harus menerima kekalahan tetapi jika kita menang kita harus tetap rendah hati dan tetap menjalin silahturahmi yang baik antara partai politik. Terima Kasih (Mega Sukmawati P.IPS A 2014)
BalasHapusSaya setuju dengan artikel bapak,Menurut saya politik di era zaman sekarang ini sudah sangat rusak oleh oknum-oknum yang hanya mementingkan kepentingan politik bukan untuk kepentingan rakyat. Semua ingin mendapatkan kekuasaan yang sebesar-besarnya untuk menguasai negeri ini di tangan para pelaku politik tersebut. Rasa saling benci pun terjadi karena tidak ada yang mau mengakui kekalahan yang terjadi diantara para politisi tersebut,semua ingin menang. Seharusnya tetap ada rasa profesional dalam kegiatan politik itu,jika kalah ya harus menerima kekalahan tetapi jika kita menang kita harus tetap rendah hati dan tetap menjalin silahturahmi yang baik antara partai politik. Terima Kasih (Mega Sukmawati P.IPS A 2014)
BalasHapusSikap politisi yang saling tuduh dan fitnah sungguh kekanak kanakan. Bagaimana Indonesia bisa maju jika pemerintahnya berperilaku seperti itu. Generasi muda harus belajar dari pengalaman dan dilatih sikap dan mentalnya agar jika di masa mendatang menjadi politisi, tidak sama buruknya sikap dan perilakunya dengan politisi kekanakan seperti sekarang sehingga bisa memajukan Indonesia. Pungki Kusdwi P.IPS A 2014
BalasHapusAssalamialaikum.
BalasHapusSangat benar jika di bilang seperti kanan-kanank politik indonesia ini. Politik di indonesia itu tidak ada habisnya, gimana mau maju negara ini kalau sesama bangsanya memperebutkan kekuasaan di politik. Dewasalah dalam politik kalau tidak ingin di bilang seperti kanak-kanak.
Terimakasih.
Wasaalamualaikum..
Fardani Ghina H.
BalasHapusP.IPS B 2014
Saya setuju dengan tulisan yang bapak buat.mayoritas politisi di indonesia hanya mementingkan kepentingannya masing". mereka menjadi politisi bukan karna ingin memajukan bangsa dan membangun indonesia tetapi semata-mata hanya menginginkan kekuasaan, harta dan kesenangan pribadi. apalagi dengan adanya dua koalisi yang saling menyerang membuat pemerintahan menjadi pecah belah. jika keadaan politik terus menerus seperti ini dan tidak ada kesadaran masing", saya yakin pemerintahan akan hancur, politik akan memanas dan semakin banyak kesenjangan serta kemiskinan yang terjadi di indonesia. "Indonesia dijajah oleh bangsa sendiri"
Fardani Ghina H.
BalasHapusP.IPS B 2014
Saya setuju dengan tulisan yang bapak buat.mayoritas politisi di indonesia hanya mementingkan kepentingannya masing". mereka menjadi politisi bukan karna ingin memajukan bangsa dan membangun indonesia tetapi semata-mata hanya menginginkan kekuasaan, harta dan kesenangan pribadi. apalagi dengan adanya dua koalisi yang saling menyerang membuat pemerintahan menjadi pecah belah. jika keadaan politik terus menerus seperti ini dan tidak ada kesadaran masing", saya yakin pemerintahan akan hancur, politik akan memanas dan semakin banyak kesenjangan serta kemiskinan yang terjadi di indonesia. "Indonesia dijajah oleh bangsa sendiri"
sebenarnya saya tidak mengerti arti kata dagelan. tapi saya coba untuk mengeeri meskupun tetap tidak mengerti. namun disini saya tidak membahas tentang ketidak mengertian itu. saya melihat tentang pemilu kemarin dan kondisi indonesia saat ini. sebenarnya memang belum ada yang baik bahkan pilpres kemarin menjadikan indonesia menjadi dua kubu yang saling serang menyerang. pemilihan kemarin menurut saya kurang efektip karna tidak menganut azas LUBER JURDIL yang tertera dalam pasal 22E. dan berbicara tentang partai yang berkuasa dan mengaku sudah cukup mengatasi kemiskinan, saya lebih setuju pendapat bapa. karna hingga saat ini indonesia kondisinya masih seperti ini dan semakin memburuk. mungkin karna uqng negara masuk ke dalam kantong pribadi mereka atau untuk mengembalikan modal, sehingga mereka lupa kepada rakyat kecil.
BalasHapusNama Ade Nur Hasanah.
BalasHapusJurusan P.IPS B
No registrasi 4915142814
setelah saya membaca tulisan bapak di atas saya setuju dengan apa yang bapak sampaikan mengenai wajah-wajah politisi kita yang semakin lama seperti memberi tontonan yang sangat menjijikan untuk ditonton rakyat. Tontonan yang menjijikan ini sebaiknya tidak patut dilakukan bagi manusia yang menganggap dirinya wakil rakyat. Masyarakat hanya butuh mereka menetapati janji mereka bukan melakukan perilaku korupsi,saling fitnah,tidak terima kalah bahkan sampai bertengkar dirumah rakyat ini memang seperti yang sering dikatakan mantan presiden Gus Dur kalau DPR sama dengan taman kanak-kanak.
saya setuju dengan tulisan ini. Di zaman sekarang rakyat Indonesia sulit memilih pemimpin yang benar- benar bisa menjaga amanah rakyat salah satu penyebabnya adalah banyaknya parpol
BalasHapusYUNIARSIH
P.IPS A 2014
Assalamualaikum wr wb.
BalasHapusPilitik di Indonesia bukannya lebih baik malah lebih buruk. Para politisi seolah sedang bermain drama. Mereka hanya baik dan mengumbar janji manis saat kampanye. Tetapi pada faktanya, apa yang mereka janjikan hanya omong kosong belaka. Seperti contoh, mereka menjanjikan mendirikan jembatan padahal disana tak ada sungai. Ya, tujuan awal mereka menjadi "Wakil Rakyat" hanya untuk kepentingan mereka dan Partai Politik yang menaungi mereka. Sebagian mereka berotak picik dan ingin mencari kekayaan dengan mudah serta cepat.
Wassalamualaikum wr wb.
Yetty Imayanti. PIPS A. 4915141036
Nama : Andayani
BalasHapusKelas : P.IPS B 2014
No.reg : 4915144097
Berbicara tentang politik memang tidak terlepas dari kepentingan diri sendiri, kebanyakan partai membuat kebijakan hanya untuk kesejahteraan golongannya saja. Pergeseran nilai-nilai sudah sangat terlihat , semua yang dibangun dalam pancasila sepertinya tidak termakna dalam diri mereka. apalagi kasus korupsi yang yang dilakukan para petinggi politik , menunjukan kemunduran bangsa yang luar biasa, mencoreng nama baik lembaga tinggi dan lainnya. Mungkin dalam kebijakannya terlihat seperti merakyat, mengayomi serta berada diposisi para rakyat , namun pada prosesnya itu semua tidak berjalan seperti apa yang diharapkan .
Sangat sulit menerapkan politik yang sehat di Indonesia karena selalu saja ada yang kurang, Entah itu ketika suatu politik yang pemimpinnya bersih namun para anggotanya malah mencorengnya dan sebagainya. jika selalu saja seperti ini apa yang harus bangsa lakukan dan bagaimana cara mengatasi penyimpangan seperti ini . apa rakyat harus membuat huru-hara agar politik lebih bisa berfikir lebih keras dan memahami kesalahan mereka dari pada harus memikirkan resiko atas segala sesuatu yang mereka lakukan.