Warga negara Indonesia dimutilasi dan direbus di Australia. Beritanya sungguh bikin heboh. Semakin heboh kala terjadi semacam keraguan siapa korban itu sebenarnya. Karena keterangan tentang dirinya simpang siur. Dia wanita, namun identitasnya sekaligus lelaki dan wanita. Akhirnya diketahui ia adalah seorang transjender. Lelaki yang menjadi wanita melalui operasi. Wanita rekayasa.
Berita terus bersambung bagai cerita dalam sinetron. Sayangnya yang dieksplorasi dan dieksploitasi adalah cerita miring tentang profesinya. Begitu hebat cara pemberitaan tentang profesinya, sampai-sampai kebanyakan kita begitu terkesima dan alpa bahwa ia adalah warga negara Indonesia yang menjadi korban kekejaman yang sangat biadab.
Kupasan tentang transjendernya juga dibuat rinci dengan cara yang sangat menghujat, lengkap dengan semua spekulasi tentang perilaku negatif manusia yang melakukan transjender serta pendapat yang seakan-akan ilmiah terkait dengan sejumlah karakter mereka yang sama sekali buruk. Sungguh sang korban diperlakukan layaknya bangkai binatang yang teronggok di jalanan dan hanya menimbulkan bau busuk menyengat yang memicu muntah.
Cara bagaimana beritanya ditulis, dan pemilihan foto-foto korban yang ditampilkan sungguh sama sekali tak menghargai bahwa ia sama seperti kita semua, manusia yang pantas dan harus dihormati. Benar-benar tidak memperhitungkan bahwa ia memiliki keluarga, kerabat dan teman-teman yang juga layak dihargai, dijaga hati dan kehormatannya.
Seandainya semua cerita tentang profesi dan perilakunya benar adanya, apakah ia memang pantas dihinakan dengan cara seperti itu? Apakah tak adakah sedikit saja celah untuk tunjukkan bahwa ia adalah manusia sebagaimana kita semua? Manusia darah daging yang bisa tergelincir terjerembab dalam kesalahan, sebagaimana kita semua bisa mengalaminya? Apakah bila seorang manusia tergelincir terjerembab seperti itu, memang layak dan pantas untuk diluluhlantakkan sehingga tak ada yang tersisa kecuali kehinaan?
Coba bayangkan dan rasakan bila yang mengalami itu adalah adik kita, anak kita, atau ponakan kita. Jangan katakan tak mungkin? Apa pun mungkin dalam hidup manusia. Bagaimana rasanya jika ia diberitakan dengan cara seperti itu? Ia telah menjadi korban kebiadaban yang mengerikan, kemudian diadili pula secara in absentia di media, dimanakah nurani kita?
Apakah pantas, untuk menarik pembaca, meningkatkan jumlah penjualan dan mendapatkan iklan lebih banyak, kisah tragis seorang manusia yang diberi cap tak normal, aneh, tidak biasa, hanya karena dia seorang transjender, dibesar-besarkan dengan cara yang menghinakan manusia dan kemanusiaan?
Apakah karena ia seorang transjender maka memang tak ada lagi sisa kebaikan dalam dirinya? Apakah karena ia seorang transjender, maka ia hanyalah gumpalan dosa tak terampuni? Apakah ia sudah dianggap bukan manusia lagi?
Manusia, siapa pun dia, apapun warna kulitnya, tak perduli bagaimana bentuk dan jenis kelaminnya, ia secara hakiki tetaplah manusia. Karena itu ia memiliki hak untuk dihormati. Sejatinya,
SEMUA MANUSIA ADALAH MAKHLUK YANG BERMARTABAT.
Nama : Khairun Nikmal Baiti
BalasHapusNim : 4915144082
Prodi : P.IPS B 2014
Assalamu'alaikum wr. wb.
Saya setuju dengan Bapak, media memang seperti bukan manusia yang bisa terjerumus ke dalam kesalahan. Namun jika dikaitkan dengan agama islam, mungkin saja ini sebuah peringatan untuk para transgender lainnya agar bertobat ke jalan yang benar? Wallahu a'lam.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Nama : Sandra Puspita Sari
BalasHapusKelas : P.IPS B 2014
No.reg : 4915144094
Assalamu’alaikum wr.wb
Dari tulisan bapak diatas, menurut saya sangat tidak adil jikalau seorang transjender mendapat hujatan dan cacian, baik secara langsung dan tidak langsung. Seorang transjender mempunyai hak yang sama dengan kita semua. Hak untuk dihargai bukan malah dihujat, dicaci, dan dihina. Mereka yang menghujat dan mencaci seorang transjender seharusnya bercermin, apakah diri mereka sudah lebih baik dibandingkan dengan seorang transjender ?
Kita ini diciptakan bukan untuk membeda-bedakan. Tetapi kita diciptakan untuk saling berbuat baik dengan sesama. Namun, kenyataannya masih ada orang yang sampai menghujat dan mencaci seorang transjender yang telah menjadi korban kebiadaban.
Wassalamu’alaikum wr.wb,
Nama : Sandra Puspita Sari
BalasHapusKelas : P.IPS B 2014
No.reg : 4915144094
Assalamu’alaikum wr.wb
Dari tulisan bapak diatas, menurut saya sangat tidak adil jikalau seorang transjender mendapat hujatan dan cacian, baik secara langsung dan tidak langsung. Seorang transjender mempunyai hak yang sama dengan kita semua. Hak untuk dihargai bukan malah dihujat, dicaci, dan dihina. Mereka yang menghujat dan mencaci seorang transjender seharusnya bercermin, apakah diri mereka sudah lebih baik dibandingkan dengan seorang transjender ?
Kita ini diciptakan bukan untuk membeda-bedakan. Tetapi kita diciptakan untuk saling berbuat baik dengan sesama. Namun, kenyataannya masih ada orang yang sampai menghujat dan mencaci seorang transjender yang telah menjadi korban kebiadaban.
Wassalamu’alaikum wr.wb,
Memang manusia kebanyakan melihat orang dari sisi luarnya saja. Bahkan keburukannya. Dari kasus transgender di atas lebih fokus membahas kehidupan pribadinya, bukan kasus yang dialaminya. Faktanya, hal-hal buruk lebih menarik untuk di bahas dan mudah diingat beda dengan kebaikan yang orang malas membahasnya. Banyak orang hanya menjudge dengan apa yang dilihat.
BalasHapusNama : Andayani
BalasHapusKelas : P.IPS B 2014
No.reg : 4915144097
Membaca artikel tersebut saya menyimpulkan bahwa Indonesia adalah negara yang tidak mempunyai sikap solidaritas yang tinggi.Sebaik atau seburuk apapun kasus dan masalah yang dialami WNI yang berada diluar negeri seharusnya rakyat Indonesia harus tetap berada dikubu Indonesia yang membela dan menuntut pelaku atas kasus pembunuhan tersebut. Sangat disayangkan jika kenyataannya Indonesia malah menguak identitasnya, bukan kasus yang dialaminya. Ditambah lagi berita yang diungkap media sangat fatal, terfokus pada transjender saja. Sehingga melahirkan asumsi-asumsi negatif dari pihak Indonesia sendiri. Manusia adalah makhluk kontroversi, semua aksinya mengundang pro dan kontra. Sikap manusia lebih banyak mengkritik dari pada mencontohkan.
Kasus ini memberi pelajaran untuk kita semua, khususnya bangsa Indonesia untuk tetap konsisten dalam membela negara serta unsur-unsurnya. Kasus pembunuhan memang kasus yang biasa, namun akan menjadi tidak biasa jika terjadi di luar negara itu sendiri. Apalagi ditambah identitas pelaku transjender, memang itu tidak masalah, karena transjender adalah hak masyarakat namun bagi budaya Indonesia transjender adalah perbuatan yang menyimpang dari nilai-nilai yang tumbuh dari budaya Indonesia.
Nama : Firaas Azizah
BalasHapusKelas : P.Ips A
Kode : 4915141031
Kenyataannya, kebanyakkan manusia menilai seseorang hanya dari satu sisi. Itulah yang membuat seseorang sering berpikiran negatif terhadap orang lain. Manusia memang makhluk Hidup yang diciptakan sempurna oleh Tuhan, berbeda dengan makhluk Tuhan lainnya. Bukan berarti manusia tidak pernah membuat keselahan, malah manusia adalah makhluk yang tak pernah luput dari perbuatan dosa.
Setiap orang mempunyai hak untuk menentukkan pilihan hidupnya. Lalu, apa salah jika seorang lelaki memilih menjadi wanita? Memang salah dalam pandangan agama, tetapi bukan berarti kita menyalahkan orang tersebut karena perubahannya. Ada alasan yang membuat seseorang memilih menjadi waria, tetapi kita tidak pernah bisa menerima alasannya. Itulah yang membuat kita jadi membenci dengan yang namanya waria. Padahal ia manusia, sama seperti kita. Ia pun punyahak dan kewajiban sebagai warga negara Indonesia dan ia pun pantas mendapat perlindungan sebagai warga negara. Tetapi masyarakat kini hanya memandang sebelah mata tentang waria dan menganggapnya sebagai benalu yangnumpang hidup.
Waria tetaplah manusia, walaupun di dunia ini banyak perbedaan tapi bagi Tuhan semua sama tidak ada yang berbeda.
Noviana Winarsih P.IPS B 2014
BalasHapusSaat ini, media memiliki peran yang sangat luar biasa. Media digunakan untuk berbagai hal yang dapat menguntungkan maupun merugikan seseorang. Media tampak bagai cairan pembasmi serangga yang mampu mempengaruhi apa saja, baik nyamuk, kecoak, rayap dan lain sebagainya.
Media dapat mempengaruhi siapa saja, baik rakyat kecil, menengah maupun tingkat atas seperti presiden. Karena fungsinya, media dijadikan santapan lezat untuk mempengaruhi siapa saja. Berita atau informasi di media, menjadi terkesan seperti dilebih-lebihkan (lebay) guna untuk menaikkan pamor serta rating . Tampil dengan informasi yang sangat rinci, namun terkadang tidak "nyambung" dengan konteksnya.
Kasus pembunuhan transgender seperti diatas, menjadi salah satu contohnya. Berita yang sangat rinci mengenai pekerjaan dan asal usul korban justru melenceng dari topik. Kasus pembunuhan yang menimpanya seakan diabaikan dan dikesampingkan, yang dijual adalah latar belakang serta pandangan negatif tentang korban. Inikah kenyataan pada saat ini ? dimana sebagai sesama manusia sudah saling menghujat, melupakan, dan menjatuhkan..
Dwi Putri Yulianti
BalasHapusP.IPS B 2014
4915145635
Membicarakan tentang transgender memang tidak ada habisnya. Pastilah ada sisi pro dan kontra. Sesuai bagaimana seseorang itu dapat melihat dan menilai seseorang yang transgender. Bagi masyarakat Indonesia kebanyakan masih kontra terhadap perubahan tersebut karena memang menyimpang dari nilai agama. Hal ini dapat dilihat dari pemberitaan yang terdapat di media sosial atau media televisi.
Terrkadang kita hanya bisa menghujat dan meremehkan seseorang transgender. Terkadang pun kita juga masih merasa takut kalau melihat seorang waria atau bencong yang sedang mengamen dijalan. Itu bentuk nyata masyarakat Indonesia terhadap seseorang yang merubah jenis kelaminnya.
Seorang transgender sama seperti kita, mereka manusia yang memiliki hati dan perasaan. Apakah pantas kita sebagai manusia saling menghujat sesama-Nya? Mereka juga memiliki hak untuk diakui negaranya. Kita masyarakat Indonesia seharusnya dapat bercermin oleh negara lain yang sudah mengakui adanya transgender seperti negara Thailand. Mungkin susah mengakui adanya tiga jenis kelamin disuatu negara karena itu sangat membutuhkan proses yang lama. Setidaknya, kita masyarakat Indonesia bisa menghargai dan menghormati seorang transgender karena yang mereka perlukan hanya dukungan dari orang-orang disekitarnya.