Bagi Yetti dan Usman)
Cinta bukan produk pabrik yang jelas ukuran, warna, bahan, kegunaan dan harganya. Cinta adalah perasaan terdalam manusia yang tak pasti, terus berproses, bisa berubah setiap saat, tak mudah difahami, dan seringkali lebih licin dibandingkan belut.
Tidak mudah membedakan perasaan. Mungkin sekadar suka karena seseorang sangat baik. Dari luar, oleh orang lain bisa mengira itu cinta yang lagi mekar. Kita memberikan perhatian yang agak khusus, boleh jadi yang diberi perhatian merasa kita sedang pedekate atau pendekatan karena mulai digodai cinta.
Akrab dengan seorang lawan jenis karena satu tim dalam pekerjaan, dan sering terlihat bersama. Mulai nyebar gosip dan tuduhan sudah pacaran. Ada rasa kasihan pada seseorang yang lagi dapat masalah. Sebagai simpati dan bermaksud menolongnya, kemudian jadi dekat. Isunya mulai jatuh cinta.
Orang lain yang melihat dari luar memang sering salah menilai dan salah sangka. Tetapi apakah diri sendiri juga bisa dengan pasti memetakan rasa? Apakah bisa kendalikan rasa? Kita tidak bisa kendalikan rasa semudah kendalikan motor di jalan raya. Bahkan seringkali rasalah yang kendalikan kita.
Saat dekat bahkan benci pada seseorang, bisa saja kita jatuh cinta. Dalam lagu pop dilantunkan bahwa benci itu sejatinya adalah benar-benar cinta. Ada saatnya sangat susah membedakan apakah kita sekadar perhatian atau sebenarnya sudah kepincut cinta.
Cinta memang abstrak. Kita tak pernah bisa memahaminya seperti memahami matematika atau rumus statistik yang rumit dan canggih. Matematika dan statistik memiliki kepastian dan langkah-langkah pemahaman yang jelas, alurnya tidak dapat di bolak-balik seenaknya. Cinta tidak begitu. Cinta lebih mirip cuaca, bisa berubah tanpa diduga.
Terdapat banyak faktor penentu cuaca. Tidak hanya kisaran angin. Begitupun cinta. Cinta kadang tidak hanya ditentukan oleh rasa suka. Banyak cinta mekar justru karena ketidaksukaan yang terlalu, benci yang berlebih, sebel yang mengganjel, dan dendam kesumat yang melumat.
Al Ghazali bilang pada tingkat kesadaran ammarah yaitu tingkat kesadaran terendah, cinta dan benci itu masih berbaur campur, malah sering bersatu, sulit dibedakan apalagi dipisahkan. Karena itu benci bisa berbalik menjadi cinta, dan cinta bisa jungkir balik berubah benci. Dalam tingkat kesadaran itulah bisa terjadi seorang kekasih membunuh dengan keji pasangannya karena diledakkan peluru cemburu.
Pada tingkat yang lebih tinggi yaitu lawwamah, cinta dan benci mulai bisa dibedakan, tetapi masih sulit dipisahkan. Cinta dan benci bisa tarik menarik atau tolak menolak. Cinta dan benci seperti menempati ujung kiri dan kanan sebuah garis lurus. Terbedakan, tetapi tak terpisahkan.
Pada tingkat kesadaran tertinggi yaitu mutmainnah, cinta dan benci berbeda dan terpisah. Dalam tingkat inilah harus difahami doa Rabbiah al Adawwiyah yang berucap, ya Allah bila aku beribadah karena takut nerakaMu masukkan aku ke situ, jika aku beribadah karena inginkan surgaMu usir aku dari situ, tapi biarkanlah aku beribadah karena cintaku padaMu. Cinta tanpa pamrih apapun.
Sigmund Freud menyakini bahwa manusia tidak sepenuhnya bertindak secara sadar. Karena ada pengaruh alam bawah sadar pada dirinya. Cinta yang abstrak dan aneh-aneh biasanya lebih banyak dipengaruhi alam bawah sadar.
Bilangnya gak suka, gak ada apa-apa, padahal curi-curi pandang, dan cari-cari alasan supaya bisa ketemu. Reaksinya seperti menolak dan tidak suka, aslinya demen bangets. Cinta kayak beginilah yang melahirkan orang dengan tipe jinak-jinak angsa. Selalu menunjukkan sikap menghindar dan bilang tidak, padahal bila ada kesempatan malah nyosor. Kura-kura minum cuka, makan bapau anget. Pura-pura tidak suka, padahal mau banget.
Gayanya ngunjukin pada orang-orang bahwa ia tidak peduli, diam-diam memperhatikan. Cari-cari perhatian. Inilah gambaran dari susahnya memetakan perasaan sendiri. Mengapa bisa begitu?
Karena cinta tidak mau tunduk pada logika. Cinta mendahulukan dan manut pada rasa. Lagu dangdut bilang, rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa. Karena itu tak usahlah diingkari.
Mungkin saat ini belum begitu jelas bentuk dan arahnya. Tak mengapa. Cinta sejati memang tidak bisa mekar secara instan seperti balon yang gampang mengembang dan mudah pecah. Cinta sejati butuh waktu untuk tumbuh mekar.
Cinta memang tidak pernah jelas pada mulanya. Cinta itu seperti batu di alam. Butuh sentuhan tangan, perlu dibentuk dan diasah agar menjadi batu cincin yang indah. Tak pernah mudah membantuk mutiara yang bagus dari bongkahan batu alam yang tak jelas bentuknya.
Kadang cinta harus melalui jalan terjal berliku penuh lumpur dan batu. Dibutuhkan kesungguhan dan kesabaran untuk melintasinya agar sampai pada tujuan. Cinta memang tak mudah. Apalagi bila masih dirasakan sebagai sesuatu yang abstrak, tak jelas juntrungannya, tak kentara arahnya, dan tak muncul tanda-tandanya.
Cinta akan tetap abstrak bila dicuekin, dibiarkan tumbuh mekar sendiri dan tidak ditelateni. Cinta abstrak jadi rusak jika terus menerus ditolak mengakuinya padahal dirasakan getarnya.
Meski cinta bisa semakin jelas ujud dan arahnya. Namun, tetap ada bagian yang tetap abstrak. Tidak mudah dimengerti dan bikin bingung. Bahkan sering membuat hati dag dig dug dan kepala nyat nyit nyut.
Cinta, abstrak atau tidak, tetaplah membuat hidup bermakna dan pantas dijalani. Cinta sungguh membuat hidup tambah hidup.
JANGAN BIARKAN CINTAMU TETAP ABSTRAK.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd