Senin, 16 Februari 2015

CINTA DIRI: JAGA BERAT BADAN

(Untuk Catherin, Ambar, Elly, Purwanto, Wiwit, Eko Pras, Tarya, Widyat)

Mencintai diri sendiri itu wajib. Cinta diri yang membuat kita dapat terus hidup, tumbuh kembang, dan beranak pinak. Cinta dirilah yang menjamin kelangsungan manusia sampai saat ini dan sampai kiamat mengakhiri segalanya, nanti.

Dengan mencintai diri sendiri, memungkinkan orang untuk merawat diri, bertahan hidup, berjuang melawan penyakit, bekerja keras mengusahakan rezeki, mengupayakan yang terbaik, tergerak untuk mendapatkan kesuksesan hidup, dan menghindari semua penderitaan. Cinta diri adalah motivasi utama manusia untuk terus mengusahakan kebaikan dan kemajuan.

Mencintai diri sendiri merupakan titik tolak untuk mencintai orang lain.
Rasullullah bersabda, tidak beriman salah seorang dari kamu sekalian, sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.

Bagaimana mungkin orang mencintai orang lain bila ia tidak mencintai dirinya? Sungguh mencintai diri sendiri adalah modal untuk mencintai orang lain. Dengan mencintai diri dan orang lain, kebudayaan dan peradaban mungkin ditumbuhkembangkan.

Karena kebudayaan dan peradaban merupakan hasil kerja keras manusia dalam interaksi dan kebersamaan. Susah membayangkan orang mau memahami orang lain dan bekerja sama dengan mereka, bila ia tidak mulai dari mencintai diri sendiri.

Namun, kita perlu hati-hati memberi makna pada mencintai diri sendiri. Ada cinta diri berlebihan, yaitu narsisme. Narsisme merupakan modus mencintai diri sendiri yang negatif. Sebab mencintai diri sendiri secara ekstrem, berlebih-lebihan sampai menjadikan diri sendiri sebagai pusat dan indikator untuk menilai orang lain. Narsisme adalah sebentuk sakit jiwa, bisa berkategori akut.

Narsisme bisa melahirkan solipsisme, menganggap diri sendiri sebagai sumber kebenaran. Subjektivitas yang sangat radikal dan eskterm. Sebentuk sikap yang menafikan bahkan meniadakan orang lain.

Cinta diri juga bisa menghancurkan diri sendiri bila salah perujudannya. Tidak sedikit di antara manusia yang mewujudkan cinta diri dengan cara mengikuti semua keinginan. Mulai dari keinginan memenuhi selera makan sampai membiasakan diri mengkonsumsi makanan dan minuman berbahaya bagi kesehatan seperti alkohol dan narkoba.

Ada lagi yang hidup mengikuti apa yang enak saja. Tidak memperhatikan waktu istirahat dan malas berolah raga. Karena bagi kebanyakan orang, olah raga diarasa sangat berat dan tidak mengenakkan.

Ujung-ujungnya badan jadi tambun alias kegendutan. Perut buncit bagai orang hamil sebelas bulan. Jika sudah begini badan sendiri jadi terasa sebagai beban. Secara perlahan mulai susah beraktivitas dan penyakit mulai berdatangan.

Para dokter kini berpendapat, kegemukan yang berlebihan alias obesitas merupakan penyakit. Jadi gendut alias gemuk dan perut buncit bukanlah tanda kemakmuran. Tetapi sebentuk penyakit.

Sudah terbukti perut buncit bukan karena hamil, merupakan sumber berbagai penyakit karena mengganggu peredaran darah. Peredaran darah yang terganggu pasti bisa merusak jantung, otak dan semua organ tubuh yang lain.

Tubuh gendut yang berlebihan lemak juga menyimpan potensi beragam penyakit yang sangat berbahaya. Oleh karena itu, cinta diri pada hakikatnya bukanlah mengikuti semua keinginan untuk menikmati semua yang enak dan nyaman.

Cinta diri pada hakikatnya adalah menahan diri atau mampu mengendalikan diri. Terutama berhadapan dengan tantangan menikmati makanan enak. Hiromi Shinya dalam bukunya The Miracle of Enzyme (2013:48) menegaskan, sehat atau tidak,bergantung pada apa yang dimakan dan cara hidup sehari-hari orang itu.

Itu artinya cinta diri paling jelas terlihat pada saat perut diserang rasa lapar. Bagaimana kita bersikap terhadap makanan. Apakah serbu habis, sampai ngap? Atau memulai dengan buah setengah jam sebelum makan? Kemudian disambung dengan makanan sehat? Menguyah sampai makanan halus? Dan berhenti sebelum kenyang? Kita sendirilah yang menentukan!

Apakah mau menahan diri tidak makan menjelang tidur? Karena makan menjelang tidur adalah kebiasaan sangat buruk. Apakah bisa mengendalikan diri dari goreng-gorengan dan makanan dan minuman yang manis?

Memang sangat berat menghadapi tantangan saat berhadapan dengan makanan. Apalagi saat sedang lapar dan banyak pekerjaan. Makan rasanya merupakan hiburan paling menyenangkan dan mengeyangkan.

Saat kerja lembur sampai tengan malam, nasi goreng, plus dadar telur atau mie instan ditambah kornet, oi sedep bener. Ada teh manis hangat pula, lengkap sudah kenikmatan. Tetapi justru inilah racun bagi hidup sehat.

Makan malam seperti ini benar-benar bagai menabung lemak dalam tubuh. Itu bermakna menabung penyakit. Itulah sebabnya pilihan dan cara makan ikut menentukan jarak kita terhadap makam. Karena itu semoga kita bisa menahan diri dan mengikuti prinsip, makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.

PERCAYALAH, APA YANG KITA MAKAN, PADA AKHIRNYA AKAN MEMAKAN KITA!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd