Sabtu, 07 Februari 2015

KEUTUHAN DAN KONTEKS

Jungkir balik. Kacau balau. Salah paham. Kekacauan. Inilah yang terjadi bila kata atau kalimat dilepaskan dari keutuhannya dan kejadian tidak dijelaskan atau dimanipulasi konteknya.

Konon katanya pada zaman partai komunis mulai banyak pengikut, para kadernya menggunakan ayat Al Qur'an di pedesaan untuk mengajak orang agar tidak sholat. Inilah ayat yang mereka gunakan,
Maka celakalah orang yang shalat  [QS.Al-Ma’un(107): 3].

Ayat itu dilepaskan dari ayat sebelum dan sesudahnya. Juga dari keutuhan seluruh surat yang merupakan rangkaian ayat. Ayat berikutnya adalah,  "(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya..” [QS.Al-Ma’un(107): 4].

Ayat Al Qur'an pun bisa berubah total bahkan bertentangan maknanya bila dilepaskan dari keutuhannya. Apalagi omongan dan tulisan manusia. Itulah sebabnya kata dan kalimat yang ditulis atau diucapkan harus dilihat secara utuh untuk menangkap makna yang sesungguhnya.

Bahkan kadang keutuhan kalimat saja belum memadai. Konteks kemunculan kalimat itu juga harus diperhatikan. Sebagai contoh, kata anjing yang lebih sering digunakan secara negatif dan biasa digunakan untuk memaki, pada komunitas tertentu merupakan kata pujian. Ini ada hubungannya dengan kegiatan komunitas itu yang sangat mirip dengan perilaku anjing, terutama kesetiaan pada majikan.

Ada contoh lain yaitu eufemisme atau penghalusan kata yang bermakna sama. Kita lebih sering menggunakan kata meninggal, wafat, berpulang, bukan mati atau tewas yang dianggap lebih kasar. Begitupun saat hendak membuang kotoran dari dalam tubuh, kita menghaluskannya menjadi buang hajat atau mengatakan mau ke belakang, meskipun seringkali toiletnya di depan.

Namun, dalam konteks orde baru, eufemisme bukan saja digunakan sebagai penghalusan, tetapi juga untuk memanipulasi. Harga naik disebut penyesuaian harga, orang ditahan dikatakan diamankan, penggusuran diganti dengan penertiban, bahkan kata pembinaan bisa bermakna pembinasaan.

Kita mengerti itu dilakukan sebagai cara untuk membangun citra baik dari sebuah rezim otoriter yang anti kritik dan sering membungkam kebenaran menggunakan hukum dan senjata. Kata dan kalimat diberi makna baru dalam konteks yang baru pula.

Para ahli sosiolinguistik memiliki catatan lengkap dan rinci bagaimana penguasa zhalim di manapun di dunia ini secara canggih merekayasa bahasa untuk menghancurkan kesadaran masyarakat dan memaksakan pemaknaan baru atas kata dan kalimat. Tidak sedikit penguasa yang percaya kata mencerminkan realitas. Mengubah makna kata sama dengan mengubah realitas.

Coba jelaskan, apa arti kata operasi. Jawabannya adalah, tergantung siapa yang menggunakannya. Kata operasi memiliki makna yang sangat berbeda jika digunakan oleh polisi dan dokter, kementrian perdagangan dan maling.

Makna konteks tidak terbatas pada  kejadian saat kalimat itu muncul, dan siapa penggunanya, juga bisa sangat luas yaitu konteks sosial dan budaya. Karena itu, jangan pernah gegabah membuat penilaian atas ucapan, kalimat, foto, dan kejadian. Perhatikan betul keutuhan dan konteksnya.

Beberapa waktu ini banyak orang menjadi bingung. Paling kurang, mulai terganggu dan bertanya-tanya, siapakah yang sungguh jujur dan benar, dan siapa yang pembohong. Konteks besarnya adalah perseteruan KPK vs Polri.

Entah kenapa para kader PDIP yang sangat keras menyerang Ketua KPK Abraham Samad, setelah KPK menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka. Hasto Plt Sekjen PDIP saat membuat pengakuan terkait pertemua Abraham Samad dengan kader PDIP menyatakan bahwa ia terdorong menyampaikan kebenaran atas nama pribadi. Begitupun kader PDIP lainnya yang melaporkan Bambang Widjoyanto ke Bareskrim Polri.

Rasanya hanya orang yang sangat tidak cerdas yang percaya bahwa kedua kejadian itu kebetulan dan spontan, serta tidak terkait dengan penetapan Budi Gunawan sebagai tersangka. Pastilah semua ini ada kaitannya, juga dengan fakta bahwa Budi Gunawan adalah mantan ajudan Presiden Megawati yang menjadi Ketua Umum PDIP.

Bagian sangat menarik adalah saat Hasto membeberkan pertemuan itu. Setiap kali ditanya bukti yang mendukung ucapannya, ia mengelak dan berbicara tentang perlunya kejujuran dan integritas seorang pimpinan lembaga terhormat yaitu KPK. Orang meminta bukti konkret, ia malah bicara soal nilai dan etika. Ini sungguh Jaka Sembung bawa golok dan sabit. Ketika terus didesak ia malah minta ada uji kebohongan terhadap Abraham Samad. Bukankah seharusnya ia dulu yang diuji dengan alat pendeteksi kebohongan. Karena dialah yang membeberkan cerita itu. Sungguh sirkus nalar yang keterlaluan sesatnya.

Akhirnya pada saat didengar pendapatnya di Komisi 3 DPR, ia menunjukkan sejumlah foto. Memang itu foto Abraham Samad, tetapi apa hubungannya dengan pengakuannya? Ditambah lagi foto lain yang diberikan orang lain, yaitu foto Samad dengan wanita. Apa makna foto itu semua bila tak jelas konteks dan keseluruhan ceritanya, juga keterkaitannya dengan cerita Hasto.

Seorang kader PDIP lain dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi bahkan mengatakan apa yang dilakukan Abraham Samad itu adalah tragedi kemanusiaan. Tidak dijelaskan apa alasannya, apalagi indikatornya.

Sebenarnya persoalannya sangat sederhana, mereka mau tunjukkan bahwa pimpinan KPK memiliki cacat dan tidak bisa dipercaya. Mestinya dengan bukti yang teruji. Bukan spekulasi. Dengan demikian sangat mudah ditebak, pastilah ini serangan balik karena calon yang mereka usung  untuk menjadi Kapolri ditetapkan sebagai tersangka.

Lucu dan tragisnya, Polri malah mengikuti skenario dan jalan cerita yang dibangun oleh orang-orang PDIP. Ini sangat berbahaya, karena Polisi terkesan menjadi "alat" partai politik yang sedang berkuasa. Mestinya Polri menuruti perintah Presiden Jokowi untuk objektif, transparan dan terbuka.

Secara nalar pasti tak mungkin Abraham Samad dan Hasto sama-sama benar terkait dengan cerita pertemuan yang sekarang dipersoalkan, padahal saat pilpres justru PDIP yang paling banyak menyebut nama Samad sebagai salah satu calon wapres. Karena menyebut nama Samad pastilah dapat menaikkan minat orang memilih calon yang disorongkan PDIP. Karena KPK di bawah kepemimpinan Samad jelas kiprahnya dalam meberantas korupsi.

Kemungkinan yang masuk akal adalah keduanya ngibul atau salah satu yang benar. Karena cerita telah melebar kemana-mana, tidak jelas juntrungan dan konteksnya, jalan terbaik untuk mencaritemukan kebenaran adalah membawa masalah ini ke pengadilan yang terbuka dan objektif. Setiap pihak bisa dan harus menunjukkan bukti-bukti yang teruji. Bukan cerita yang penuh imajinasi.

KEBENARAN HARUS DIUJI DENGAN BUKTI YANG UTUH DAN KONTEKS YANG JELAS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd