Minggu, 08 Februari 2015

CINTA MENGALIR

( Bagi Nani dan Wahyu yang sedang kasmaran)

Cinta mengalir sampai jauh, menerobos batas dan sekat hati. Mengaliri nadi, aorta, syaraf dan neuron. Menggamit jantung, merayapi otak, dan menggairahkan hidup. Hidup terasa indah, dan waktu cepat berlalu.

Cinta kadang datang bagai malaikat maut. Tiba-tiba menyergap dan membuat tak berdaya. Menyerah pasrah dalam dekap indahnya. Cinta adalah perangkap yang membuat kita menyerah, pasrah dalam bahagia.

Cinta datang kapan saja, tak terduga, entah dengan cara apa. Tak peduli apakah ada alasan atau tidak. Cinta nyerempet dan nabrak, membabakbelurkan hati, akhirnya jatuh. Jatuh cinta. Terjerembab dalam pesona indahnya. Hanyut larut dalam gelombangnya, dan terikat dalam simpul jeratnya.

Cinta nyelusup dari mana saja, lewat pandangan mata tak sengaja, atau papasan yang tak direncana. Bisa juga karena terbiasa, biasa bertemu di stasiun kereta, di kantin, atau ditakdirkan satu kantor. Mulanya hanya saling lihat, kemudian saling sapa. Biasanya bermula dari malu-malu kucing, kemudian jadi angsa, tak bisa jalan sendiri. Makan dan pulang bersama.

Cinta membutuhkan waktu untuk tumbuh, kurang elok bila tiba-tiba dan instan. Kadang cepat mekar, kerap juga cepat layu. Kesabaran dan kemauan memahami adalah pupuk terbaik agar tetap tumbuh, mekar dan bertunas.

Cinta kadang bagai hujan yang jatuh di pegunungan. Mengalir kencang, berbenturan pepohonan, batu, dan rerumputan nuju sungai.  Mengalir deras ke laut. Sepanjang jalan terus berubah, sesampai di laut tetaplah menjadi air. Namun kandungan, warna, dan baunya telah berubah. Itulah cinta, terus berubah seiring waktu, tantangan, ujian dan cobaan. Tak pernah gampang pertahankan cinta sejati.

Kerap bagai banjir bandang. Cinta mengalir deras, merambah kemana pun, memporakporandakan dan menggerus apa saja. Sama sekali tak terbendung. Inilah cinta yang dirempahi syahwat. Berbahaya dan mengerikan. Boleh jadi bukan cinta, tetapi syahwat bertopeng cinta. Hindari dan jauhilah. Jika tidak, hanya akan berujung derita tiada akhir.

Jangan tumbuhmekarkan cinta bagai lumut tumbuh di batu. Cepat tumbuh, cepat kering dan mati. Sangat tergantung cuaca. Cinta harus berakar dalam di nurani. Tetap tumbuh dalam segala musim. Pancaroba musim menjadi vitamin yang memperkokoh cinta.

Cinta bagai kepompong. Butuh waktu untuk metamorfosa jadi kupu-kupu. Maknanya cinta hanya tumbuh dalam dan dengan kesabaran. Ada kerelaan untuk menunggu semua proses menuju pematangan. Tak usah buru-buru, biarkan berkembang dengan iramanya sendiri.

Proses menuju pematangan cinta kadang nyebelin. Entah kenapa, ada saja yang meminta lebih, tetapi sangat berhitung bila berbagi. Pun berbagi perhatian. Ada saja yang merasa telah berkorban lebih, sehingga menagih imbalan yang adil. Cinta bukan transaksi dengan hitung-hitung akuntansi. Cinta bual jual-beli dan tawar-menawar. Cinta adalah komitmen dan ketulusan.

Cinta mengalir, bagai darah dalam nadi. Menyebar ke seluruh bagian tubuh dan menentukan denyut jantung kehidupan. Cinta membuat hidup lebih hidup. Cinta menjadikan hidup bermakna dan penuh gairah. Namun jaga dan rawatlah dengan baik. Jangan sampai alirannya macet atau pembuluhnya pecah dan membuyarkan semua harapan hidup.

Ada kalanya cinta mengalir seperti air mata. Sebagai sebuah ungkapan luar dari kegembiraan atau kesedihan. Air mata mengalir tak terbendung, sebagai ungkapan perasaan yang dalam. Mengalir begitu saja, tak ada yang bisa menghentikannya, sampai hati merasa tenang dalam ketentraman. Gembira dan sedih yang terlalu menyemburkan air mata yang sama. Begitupun cinta. Bisa menjadi sumber kegembiraan dan kesedihan. Jika jatuh cinta, jagalah hatimu agar tetap gembira.

Cinta hakikinya adalah saling berbagi. Saling berbagi kegembiraan dan kebahagiaan. Lebih baik menjadi pemberi dan tak pernah meminta dalam cinta. Karena cinta adalah hati yang terbuka untuk memahami dan memperhatikan.

Cinta adalah mata air yang tak henti mengalir, walau kemarau panjang. Airnya membasahi tanah hati yang retak, menyuburkan pohon-pohon harapan, dan mengisi sumur-sumur gelap kesepian.

Cinta mengalir bagai udara. Tak terasa, bebas dan kemana saja. Menjadi nafas kehidupan. Menjamin hidup terus mengalir menapaki waktu. Udara begitu halus sampai kita tak pernah menyadari keberadaannya. Dirasakan sebagai sesuatu yang niscaya dan pasti tersedia. Udara baru disadari kala kita merasa sesak dan kesulitan bernafas atau saat udara kotor karena polusi. Begitupun cinta, justru baru disadari keberadaannya saat yang dicintai tidak berada dekat atau kala ada anomali, ada hambatan dan kendala. Pemicunya bisa jadi hal sangat remeh atau sesuatu yang prinsip. Cinta sungguh sangat terasa bila ada masalah. Karena itu sadarilah cinta justru saat semuanya baik-baik saja, agar cinta bisa terus dijaga keutuhan dan kelangsungannya.

Polusi cinta hanya bisa dibersihkan dengan kebeningan hati, emosi yang terkendali, dan ketulusan untuk mempreteli ego. Buka hati, terimalah ia apa adanya dengan empati dan ketulusan. Berjanjilah untuk saling membahagiakan.

SELAMAT MENGALIR CINTA, SAMPAILAH DI KEBAHAGIAAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd