Ngaco. Mosok kediaman pak ustaz diserbu dengan gaya preman bangets. Penyerangnya mengatasnamakan kelompok agama tertentu. Diduga orang-orang Syiah. Ini dikaitkan dengan spanduk yang dipasang di sekitar masjid dalam kompleks Az Zikra yang menolak Syiah. Rasanya itu alasan yang dibuat-buat dan dicari-cari. Sudah sangat lama spanduk itu terpasang di situ.
Agaknya, penyerangan itu memiliki kaitan dengan konflik KPK vs Polri yang kian hari kian memanas, dan tentu berhubungan langsung dengan pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Mengapa ada hubungan?
Ustaz Arifin Ilham, pengasuh pondok pesantren Az Zikra pernah menyambangi KPK pada awal kisruh KPK vs Polri yang dipicu oleh dijadikannya Budi Gunawan sebagai tersangka oleh KPK. Meski kehadirannya untuk mengisi pengajian rutin tiga bulanan, menjadi bermakna lain karena konflik mulai memanas. Meski Arifin Ilham tidak hanya mendoakan KPK, juga Polri dan TNI, namun tetaplah ia dianggap lebih memihak KPK karena mendoakannya di gedung KPK.
Sementara itu mantan petinggi TNI dan intelijen negara yang sangat dekat dengan Ketua Umum PDIP berulang-ulang mengatakan bahwa Syiah memiliki potensi memicu pertikaian di Indonesia. Ia mengaitkan peringatannya itu dengan desakan agar Budi Gunawan segera dilantik jadi Kapolri. Detik News (12.02.2015) memberitakannya,
Ancaman adanya konflik sunni dan syiah semacam ini pernah diperingatkan oleh eks Kepala BIN Hendropriyono.
Hendropriyono menyampaikan pentingnya antisipasi terhadap ancaman konflik tersebut dalam pesan tertulis kepada wartawan pada Jumat 23 Januari 2015.
"Mari kita bersatu kembali, menghadapi ancaman terhadap bangsa yang sudah di depan mata. Ancaman tersebut adalah infiltrasi radikalisme global dan konflik horizontal, antara kaum Sunni dan Syi'ah. Hanya dengan persatuan langkah politik dan hukum, ancaman tersebut bisa kita hadapi bersama," pesan Hendropriyono.
Pesan tersebut adalah bagian kesimpulan dari pesan panjang satu-satunya guru besar di bidang intelijen di Indonesia itu. Hendro mengawali siaran pers tersebut dengan seruannya agar Komjen Budi Gunawan segera dilantik sebagai Kapolri. Menurutnya, itu kebijakan paling arif.
"Kebijakan yang paling arif adalah segera saja lantik Budi Gunawan sebagai Kapolri, karena itu merupakan penyelesaian politik," ujar orang dekat Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri itu.
Kepala BIN di masa Presiden Megawati ini menilai, pelantikan Komjen Budi Gunawan merupakan solusi dari polemik cicak vs buaya jilid III. Menurutnya, permasalahan yang harus diselesaikan adalah persoalan politik dan hukum.
Dari pemberitaan Detik News di atas ada yang sangat menarik. Hendro mengatakan potensi konflik oleh Syiah, kelompok Syiah yang diduga menyerang Az Zikra dan Arifin Ilham, Arifin Ilham pernah secara terbuka mendukung KPK. Az Zikra diserang, Hendro mengaitkan konflik itu dengan pengankatan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Apakah ini kebetulan?
Boleh jadi persolannya akan menjadi semakin jelas bila dikaitkan dengan berita lain pada media lain. Republika on Line (11.02.2015) agak panjang menulis,
Jejak sentuhan Hendropriyono juga terlihat saat kepergok wartawan menemui Presiden Jokowi di sela-sela memanasnya konflik KPK-Polri awal Februari lalu. Desas-desus yang beredar, ada pesan sederhana yang ingin disampaikan Hendropriyono untuk meminta Presiden Jokowi tetap melantik Komjen Budi Gunawan.
Peran Hendro dalam pelemahan KPK itu pun menampakkan sentuhannya ketika ada penggantian Kabareskrim Mabes Polri Irjen Pol Budi Waseso, menggantikan Komjen Pol Suhardi Alius yang dituduh membocorkan data korupsi Budi Gunawan ke KPK. Hendropriyono menampakkan namanya dalam sebuah karangan bunga ketika Budi Waseso naik pangkat menjadi Komjen. Dia menjadi satu-satunya orang yang mengirim karangan bunga kepada Budi Waseso.
Kabareskrim saat ini berperan dalam menangkap Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto. Setelah itu, seluruh pimpinan KPK menjadi terlapor, bahkan tersangka perkara hukum.
Hendropriyono memang handal mengatur peran, terlebih menantunya Mayjen TNI Andika Perkasa sudah ditempatkan di istana sebagai Komandan Paspampres. Mata dan telinga Hendropriyono terus memantau pergerakan di pusat kekuasaan. Di Istana, Hendropriyono memiliki Andika. Di Polri, dia pasti memiliki orang kepercayaan. Karangan bunga bisa jadi menunjukkan siapa orang kepercayaan mantan kepala BIN ini.
Pemberitaan Republika ini bahkan lebih jelas menempatkan Hendro serta peran dan fungsinya. Dengan demikian, masyarakat diharapkan jangan sampai terpancing untuk melakukan tindakan saling menyerang. Karena bisa jadi apa yang terjadi dengan Az Zikra adalah imbas dari konflik kepentingan para elit. Jangan sampai rakyat yang menjadi korban. Menteri Agama juga mengingatkan, bisa jadi ada kelompok ketiga yang memiliki kepentingan sebagai pemicu konflik ini.
RAKYAT INDONESIA JANGAN MAU MENJADI KORBAN KONFLIK KEPENTINGAN PARA ELIT KEKUASAAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd