(Seiring doa bagi Yeni)
Cinta mestinya membawa kebahagiaan. Kebahagianlah yang membuat cinta itu bermakna dan indah. Kebahagiaan itu bisa berujud kebahagiaan keluarga. Suami istri yang dianugerahi anak yang sangat dicintai. Anak merupakan buah cinta yang paling nyata. Karena membawa berkah luar biasa bagi keluarga.
Keluarga adalah wadah persemaian cinta, tempat manusia diasuh, diasih, dan di asah menuju kedewasaan. Keluarga adalah api unggun pada malam dingin nan gelap. Keluarga adalah pohon cinta yang menghasilkan bunga dan buah-buah cinta. Keluarga adalah huma bagi jiwa yang mencamba ketenangan dan kenyamanan. Keluarga adalah oase di gurun tandus sahara jiwa.
Keluarga adalah cikal bakal kebudayaan dan peradaban. Keluarga adalah investasi bagi hari depan manusia dan kemanusiaan. Tanpa keluarga tidak ada masyarakat. Tanpa masyarakat, manusia adalah pengembara menuju kegelapan hidup. Karena itu keluarga adalah sumber kebahagiaan dalam hidup manusia.
Namun, hidup tidak berjalan seperti yang kita inginkan dan harapkan. Kebahagiaan keluarga bisa saja tiba-tiba direnggut, justru pada kala kebahagiaan itu sedang sangat dinikmati. Misalnya, sang suami pergi dipanggil Sang Khalik. Menghadapi situasi ini, manusia sungguh tak berdaya. Tentu yang terbaik adalah melepasnya dengan ikhlas dan fokus untuk mengurusi si buah hati, buah cinta yang memang membutuhkan perhatian dan hidup yang lebih baik bagi masa depannya.
Hidup tanpa suami dan memiliki buah hati tidaklah mudah. Apalagi usia masih sangat muda. Ketidakmudahan sebagai orang tua tunggal bukan hanya karena keharusan menjadi tulang punggung keluarga dan sekaligus mengasuh anak. Juga pada banyaknya godaan yang datang dari dalam dan luar diri.
Pasti sulit mengatur waktu untuk sekaligus mencari rezeki dan mengasuh anak. Tingginya biaya hidup dan pendidikan memaksa bertambahnya jam kerja. Itu bearti semakin berkurangnya waktu untuk mengasuh anak. Kurangnya waktu untuk memgasuh secara langsung pastilah bisa membawa dampak yang kurang menyenangkan, bukan saja bagi anak, juga bagi ibu. Karena sejatinya, para ibu menginginkan mengasuh anak dengan tangannya sendiri.
Para teoritikus biasanya menyarankan agar kurangnya waktu bersama anak dapat diganti dengan meningkatkan intensitas perhatian dan kasih sayang saat bersama anak. Tetapi rumus itu hanya bagus sebagai teori dalam buku teks. Realitas menunjukkan bahwa persoalannya tidaklah semudah itu. Cinta, kasih sayang dan perhatian tak pernah dapat digantikan oleh apapun.
Sungguh kondisi ini sangat dilematis. Lengket seperti dilem, dan sulit layaknya perhitungan matematis. Artinya tidak gampang diselesaikan. Selalu ada resiko di dalamnya.
Meski cinta dan perhatian harus dicurahtumpahkan pada anak demi pengasuhan dan masa depan yang baik. Namun, diri ini juga butuh cinta, kasih sayang dan perhatian. Bukankah aku juga manusia darah, daging dan syaraf yang butuh sentuhan, teman untuk berbincang dan curhat? Sebagai wanita, meski kini semakin mandiri dan memiliki kemampuan yang terus meningkat mengatasi beragam masalah hidup yang nantang menghadang. Aku masih berharap ada kesempatan untuk sekali lagi membangun mahligai cinta dalam kebahagiaan keluarga.
Tetapi aku sangat faham, ini tidak mudah. Boleh jadi dia yang datang bisa saling memberi dan menerima denganku. Bagaimana dengan keberadaan si buah hati, bagaimana pula bila ia harus memiliki saudara dari ayah yang tidak sama? Sungguh ini sangat pelik.
Meski pelik, tidak perlulah menyerah pada keadaan dan putus harapan. Bagaimanapun keadaannya hidup adalah keindahan yang harus disyukuri. Pada tiap kejadian, betapapun sangat melukai, pasti ada sesuatu yang bermakna, selalu ada celah untuk tetap bersyukur. Bahwa sejauh ini semuanya baik-baik saja, banyak masalah bisa ditanggulangi dan hidup dapat dinikmati.
Beragam pengalaman yang telah dijalani semakin menguatkan keyakinan. Bahwa cinta dan rasa syukur adalah kekuatan luar biasa yang dapat membuat hidup bermakna dan pantas dijalani.
Lika-liku hidup yang tidak gampang dan dipadati beragam masalah justru membuat diri ini tambah kuat dan semakin memahami bahwa hidup memang tidak mudah dan tidak pernah mudah. Namun itu tidak berarti hidup itu sepenuhnya hanya berisi kesulitan dan derita.
Kehadiran si buah hati, tumbuh kembangnya yang baik membuat hidup menjadi indah dan sangat pantas disyukuri. Ia adalah buah cinta yang membuat aku merasa bahwa kehadiranku di dunia fana ini sangat bermakna.
Semoga saja ia dapat tumbuh kembang dengan baik. Aku akan fokus padanya. Apapun keputusan yang akan kuambil, buah hatikulah yang akan menjadi penentunya. Mudah-mudahan, ia cukup bagiku. Dengan demikian tak perlulah aku mencari dan berharap yang lain.
Fokus membesarkannya semoga menjadi amal utamaku. Bila Tuhan memberiku jodoh, pastilah aku tak bisa menolak. Tetapi aku tak perlu rasanya untuk aktif mencari dan mengusahakan. Sekarang ini yang terbaik adalah mengasuh si buah hati. Ia buah cintaku. Bersamanya aku membangun harapan masa depan.
CINTA MEMBANGUN HARAPAN, CINTA DAN HARAPAN MEMAKNAKAN HIDUP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd