Kamis, 27 Maret 2014

AHLI PANTUN YANG SANTUN



(Doa dan kenangan bagi Abdul Azis)

Suaranya sangat lembut, nyaris tak terdengar. Bila ia memberi kuliah   kami duduk sangat dekat dengannya. Cara ini dilakukan agar bisa mendengar suaranya dengan jelas. Bila ada mahasiswa yang bertanya, ia menjawab dengan lebih dulu menyapa Saudara.....(menyebutkan nama mahasiswa), baru menjawab. Ia hafal nama kami secara lengkap. Sangat menyenangkan saat nama  kami disebutkan dengan cara seperti itu oleh dosen, dosen senior pula. Ia sangat menghindari penggunaan sapaan Anda.

Kami sangat suka bila ia menulis di papan tulis. Tulisannya adalah tulisan nyambung tempo doeloe yang sangat indah. Ia membagi papan tulis dengan membuat garis batas dan menuliskan topik kuliah dengan cara yang sangat sistematis, tertata dan sangat terukur. Papan tulis seperti penuh lukisan asesori oleh tulisannya.

Ia mengajar sastra lama yang berisi topik sastra Melayu. Ia sangat menguasai khazanah seluruh sastra Melayu. Kami berpetualang dalam mantra, gurindam, seloka, dan pantun. Ia sangat pintar merangkai pantun, pun pantun-pantun yang lucu.

Pada umumnya mahasiswa kurang tertarik belajar sastra Melayu. Mungkin karena kekunoannya dan juga terasa kini kurang fungsional. Namun, ia berhasil menarik perhatian dan meyakinkan kami tentang apa yang selalu dikatakannya bahwa Melayu adalah Akar Keindonesiaan. Dia menjelaskan kecanggihan bahasa Melayu dan mengapa bahasa Melayu yang kemudian dipilih sebagai ibu bahasa Indonesia.

Ia membuktikan bahwa sastra Melayu itu merupakan cermin dari masyarakat dan budaya Melayu. Kami agak tersentak saat dia menjelaskan bahwa dalam masyarakat Melayu ada tradisi mengkritik penguasa. Ia bisa tunjukkan itu dalam banyak karya sastra apakah pantun, gurindam dan kisah berbingkai. Artinya, budaya mengkritik penguasa itu bukan monopoli Barat seperti selama ini diyakini banyak orang. Ia bahkan bisa menunjukkan sejumlah karya sastra Melayu yang berisi kritik keras terhadap penguasa. Melalui berbagai karya sastra, ia juga berhasil buktikan bahwa masyarakat Melayu sangat demokratis. Demokrasi yang sangat dihiasasi oleh moralitas, urainya.

Topik ini tentu saja sangat menarik saat rezim otoriter orde baru berkuasa. Saat itu orde baru sedang getol-getolnya menghabisi para pengeritik pemerintah. Dia berhasil meyakinkan kami bahwa sastra itu tidak menarik diri dari kekuasaan dan asyik sendiri dengan dan dalam keindahan. Kami juga baru tahu bahwa sastra Melayu itu sangat kaya, dan tidak apolitis. Kami mendalami karya-karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dan Raja  Haji Ali.

Kuliah menjadi sangat menarik saat kami membincangkan aspek mitis mantra dan mengaitkannya dengan syair-syair Amir Hamzah, Raja Sastra Melayu. Dosen yang sangat santun dan baik hati ini sungguh sangat terlibat secara emosional, sehingga kuliah menjadi sangat menarik. Ia menjelaskan secara mendalam akar budaya dari mantra-mantra yang memang penuh misteri itu. Kebanyakan mantra memang seperti kumpulan bunyi diulang-ulang tanpa makna. Ternyata pilihan bunyi itulah kunci untuk menemukan maknanya.

Ia kemudian menceritakan segala sesuatu tentang suku Dayak Kalimantan, dari mana ia berasal. Ia hafal ratusan mantra suku Dayak Kalimantan dan memahami maknanya. Kuliah kini berubah menjadi petualangan budaya. Begaimana memahami budaya dari dalam, dari sudut penghayat budaya bersangkutan. Ia kaitkan mantra itu dengan keyakinan dan berbagai kejadian mitis dalam suku Dayak.

Dengan cara yang tenang dan sangat hati-hati, ia mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan moderen memiliki sangat banyak keterbatasan untuk memahami aspek terdalam dari banyak kebudayaan asli kita. Sastra memiliki kekuatan untuk mengungkap jiwa manusia, pun jiwa atau roh terdalam suku-suku asli seperti suku Dayak lewat mantra.

Bagiku pribadi yang memiliki emak orang Melayu Deli, sungguh ini pengalaman luar biasa. Kuliah tentang mantra ini telah memicu diskusi di antara mahasiswa tentang kekuatan daya ungkap sastra klasik dalam tiap suku atau daerah. Kami mulai mengkaji tembang-tembang Jawa dan Sunda yang juga sangat kaya akan permainan bunyi. Kami sungguh dibuat mampu memahami dan menghayati kekuatan, keindahan, dan pesona kata dan bunyi.

Dosen kami ini bukan tipe orang yang penuh semangat dan berapi-api. Ia sungguh orang Melayu, kalem, tenang, hati-hati dan sangat lembut. Justru dengan cara seperti itu, dengan kesantunan dan kesabaran yang luar biasa, ia berhasil mencerahkan dan meledakkan kami. Kami sangat bersyukur mendapat kesempatan berpetualang dalam dunia makna yang sangat menantang bersamanya. Dalam khazanah sastra dan budaya, tantangan tertinggi yang harus kita capai adalah merenggut makna dari beragam ungkapan. Dan mantra adalah ungkapan yang sangat misterius. Mencaritemukan makna terdalam dari mantra pastilah menjadi petualangan yang sangat menarik dan mengasyikkan.

Dosen yang santun dan baik hati ini, menyalami kami satu persatu. Dia berjalan nyamperin kami satu persatu saat kuliah berakhir. Ia mohon maaf dan pamit, serta meminta kami mendoakan diri dan istrinya yang akan menunaikan ibadah haji.

Tak satu pun dari kami yang mengira, hari itu adalah hari terakhir kami bersua dengannya. Ia dan istrinya wafat dalam tragedi Mina yang memakan banyak sekali korban. Ia yang sangat lembut dan santun, pergi dengan cara yang mendadak dalam sebuah tragedi. Sungguh ini misteri manusia, lebih dahsyat dari misteri dan makna mantra. Kami semua berdoa, tentu dengan cucuran air mata, saat shalat ghaib bagi dirinya dan semua orang yang wafat di Mina.

GURU SEJATI MENJADIKAN HIDUP DAN PERILAKUNYA SEBAGAI TELADAN BAGI ANAK DIDIKNYA.

1 komentar:

  1. Nama : Pathurochmah
    Kelas : P.IPS Reguler B 2013
    satu lagi guru itu adalah seseorang yang digugu dan ditiru. Prilaku seorang guru seolah menjadi sorotan tajam karena guru bukan hanya mendidik pendidikan akademis tetapi diluar itu ia memilik tanggungjawab moral terhadap peserta didiknya. Mantra memang suatu misteri yang sulit untuk terpecahkan karena mantra terkadang memiliki banyak makna atau tidak sama sekali. Namun, misteri dan rencana Tuhan jauh lebih sulit untuk diterka atau diraba. Gajah mati meninggalkan gadingnya sedangkan manusia mati meninggalkan kebaikannya. Dan seperti apa nanti manusia dikenang setelah kematiaanya maka hanya prilaku merekalah yang menentukannya.
    pertanyaan
    1. Bagaimana sastra dapat menungkap jiwa manusia?
    2. Ilmu moderen memiliki keterbatasan, tapi bukankah ilmu itu memang selalu memiliki keterbatasan? karena ilmu lahir dari keterbatasan rasio manusia?

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd