(Doa dan kenangan bagi Abdul Azis)
Suaranya sangat
lembut, nyaris tak terdengar. Bila ia memberi kuliah kami
duduk sangat dekat dengannya. Cara ini dilakukan agar bisa mendengar suaranya
dengan jelas. Bila ada mahasiswa yang bertanya, ia menjawab dengan lebih dulu
menyapa Saudara.....(menyebutkan nama mahasiswa), baru menjawab. Ia hafal nama
kami secara lengkap. Sangat menyenangkan saat nama kami disebutkan dengan cara seperti itu oleh
dosen, dosen senior pula. Ia sangat menghindari penggunaan sapaan Anda.
Kami sangat suka
bila ia menulis di papan tulis. Tulisannya adalah tulisan nyambung tempo doeloe
yang sangat indah. Ia membagi papan tulis dengan membuat garis batas dan
menuliskan topik kuliah dengan cara yang sangat sistematis, tertata dan sangat
terukur. Papan tulis seperti penuh lukisan asesori oleh tulisannya.
Ia mengajar sastra
lama yang berisi topik sastra Melayu. Ia sangat menguasai khazanah seluruh
sastra Melayu. Kami berpetualang dalam mantra, gurindam, seloka, dan pantun. Ia
sangat pintar merangkai pantun, pun pantun-pantun yang lucu.
Pada umumnya
mahasiswa kurang tertarik belajar sastra Melayu. Mungkin karena kekunoannya dan
juga terasa kini kurang fungsional. Namun, ia berhasil menarik perhatian dan
meyakinkan kami tentang apa yang selalu dikatakannya bahwa Melayu adalah Akar
Keindonesiaan. Dia menjelaskan kecanggihan bahasa Melayu dan mengapa bahasa
Melayu yang kemudian dipilih sebagai ibu bahasa Indonesia.
Ia membuktikan
bahwa sastra Melayu itu merupakan cermin dari masyarakat dan budaya Melayu.
Kami agak tersentak saat dia menjelaskan bahwa dalam masyarakat Melayu ada
tradisi mengkritik penguasa. Ia bisa tunjukkan itu dalam banyak karya sastra
apakah pantun, gurindam dan kisah berbingkai. Artinya, budaya mengkritik
penguasa itu bukan monopoli Barat seperti selama ini diyakini banyak orang. Ia
bahkan bisa menunjukkan sejumlah karya sastra Melayu yang berisi kritik keras
terhadap penguasa. Melalui berbagai karya sastra, ia juga berhasil buktikan
bahwa masyarakat Melayu sangat demokratis. Demokrasi yang sangat dihiasasi oleh
moralitas, urainya.
Topik ini tentu
saja sangat menarik saat rezim otoriter orde baru berkuasa. Saat itu orde baru
sedang getol-getolnya menghabisi para pengeritik pemerintah. Dia berhasil meyakinkan
kami bahwa sastra itu tidak menarik diri dari kekuasaan dan asyik sendiri
dengan dan dalam keindahan. Kami juga baru tahu bahwa sastra Melayu itu sangat
kaya, dan tidak apolitis. Kami mendalami karya-karya Abdullah bin Abdul Kadir
Munsyi dan Raja Haji Ali.
Kuliah menjadi
sangat menarik saat kami membincangkan aspek mitis mantra dan mengaitkannya
dengan syair-syair Amir Hamzah, Raja Sastra Melayu. Dosen yang sangat santun
dan baik hati ini sungguh sangat terlibat secara emosional, sehingga kuliah menjadi
sangat menarik. Ia menjelaskan secara mendalam akar budaya dari mantra-mantra
yang memang penuh misteri itu. Kebanyakan mantra memang seperti kumpulan bunyi
diulang-ulang tanpa makna. Ternyata pilihan bunyi itulah kunci untuk menemukan
maknanya.
Ia kemudian
menceritakan segala sesuatu tentang suku Dayak Kalimantan, dari mana ia
berasal. Ia hafal ratusan mantra suku Dayak Kalimantan dan memahami maknanya.
Kuliah kini berubah menjadi petualangan budaya. Begaimana memahami budaya dari
dalam, dari sudut penghayat budaya bersangkutan. Ia kaitkan mantra itu dengan
keyakinan dan berbagai kejadian mitis dalam suku Dayak.
Dengan cara yang
tenang dan sangat hati-hati, ia mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan moderen
memiliki sangat banyak keterbatasan untuk memahami aspek terdalam dari banyak
kebudayaan asli kita. Sastra memiliki kekuatan untuk mengungkap jiwa manusia,
pun jiwa atau roh terdalam suku-suku asli seperti suku Dayak lewat mantra.
Bagiku pribadi
yang memiliki emak orang Melayu Deli, sungguh ini pengalaman luar biasa. Kuliah
tentang mantra ini telah memicu diskusi di antara mahasiswa tentang kekuatan
daya ungkap sastra klasik dalam tiap suku atau daerah. Kami mulai mengkaji
tembang-tembang Jawa dan Sunda yang juga sangat kaya akan permainan bunyi. Kami
sungguh dibuat mampu memahami dan menghayati kekuatan, keindahan, dan pesona
kata dan bunyi.
Dosen kami ini
bukan tipe orang yang penuh semangat dan berapi-api. Ia sungguh orang Melayu,
kalem, tenang, hati-hati dan sangat lembut. Justru dengan cara seperti itu,
dengan kesantunan dan kesabaran yang luar biasa, ia berhasil mencerahkan dan
meledakkan kami. Kami sangat bersyukur mendapat kesempatan berpetualang dalam
dunia makna yang sangat menantang bersamanya. Dalam khazanah sastra dan budaya,
tantangan tertinggi yang harus kita capai adalah merenggut makna dari beragam
ungkapan. Dan mantra adalah ungkapan yang sangat misterius. Mencaritemukan
makna terdalam dari mantra pastilah menjadi petualangan yang sangat menarik dan
mengasyikkan.
Dosen yang santun
dan baik hati ini, menyalami kami satu persatu. Dia berjalan nyamperin kami
satu persatu saat kuliah berakhir. Ia mohon maaf dan pamit, serta meminta kami
mendoakan diri dan istrinya yang akan menunaikan ibadah haji.
Tak satu pun dari
kami yang mengira, hari itu adalah hari terakhir kami bersua dengannya. Ia dan
istrinya wafat dalam tragedi Mina yang memakan banyak sekali korban. Ia yang
sangat lembut dan santun, pergi dengan cara yang mendadak dalam sebuah tragedi.
Sungguh ini misteri manusia, lebih dahsyat dari misteri dan makna mantra. Kami
semua berdoa, tentu dengan cucuran air mata, saat shalat ghaib bagi dirinya dan
semua orang yang wafat di Mina.
Nama : Pathurochmah
BalasHapusKelas : P.IPS Reguler B 2013
satu lagi guru itu adalah seseorang yang digugu dan ditiru. Prilaku seorang guru seolah menjadi sorotan tajam karena guru bukan hanya mendidik pendidikan akademis tetapi diluar itu ia memilik tanggungjawab moral terhadap peserta didiknya. Mantra memang suatu misteri yang sulit untuk terpecahkan karena mantra terkadang memiliki banyak makna atau tidak sama sekali. Namun, misteri dan rencana Tuhan jauh lebih sulit untuk diterka atau diraba. Gajah mati meninggalkan gadingnya sedangkan manusia mati meninggalkan kebaikannya. Dan seperti apa nanti manusia dikenang setelah kematiaanya maka hanya prilaku merekalah yang menentukannya.
pertanyaan
1. Bagaimana sastra dapat menungkap jiwa manusia?
2. Ilmu moderen memiliki keterbatasan, tapi bukankah ilmu itu memang selalu memiliki keterbatasan? karena ilmu lahir dari keterbatasan rasio manusia?