Saatnya rakyat
berkuasa. Rakyat jangan hanya jadi pemilih.
Media massa,
terutama televisi ramai memberitakan adanya sejumlah caleg yang diberi gelar
caleg modal dengkul. Siapakah mereka? Mereka adalah tukang jamu, tukang parkir
motor, pengecer koran, penjual makanan pinggir jalan, dan rakyat kecil lainnya.
Bisa dipastikan,
fakta ini sangat menarik. Sebab rakyat kecil mendapat kesempatan untuk mewakili
rakyat. Karena mereka termasuk wong cilik, bila terpilih semoga bisa
benar-benar mewakili rakyat, memperjuangkan aspirasi rakyat.
Seorang mantan
mahasiswaku yang bekerja pada sebuah media massa memintaku jangan percaya. Dia
bilang itu cuma pencitraan partai politik saja. Dia bilang, coba perhatikan
televisi yang memberitakan, pasti televisi yang dimiliki oleh petinggi partai
tertentu, dan caleg wong cilik yang diberitakan berasal dari partainya.
Aku perhatikan
televisi yang memberitakan dan cara pemberitaannya. Agaknya apa yang dikatakan
mantan mahasiswaku itu ada benarnya. Meski tidak sepenuhnya benar. Namun, aku
mencoba percaya bahwa tampilnya wong cilik yang disebut sebagian media sebagi
caleg modal dengkul bukan sepenuhnya pencitraan partai. Aku meyakinkan diriku
bahwa munculnya caleg dari masyarakat golongan bawah adalah berkah reformasi.
Konsekuensi tak terelakkan bahwa kita (mungkin) makin demokratis. Masyarakat
makin terbuka, media massa makin berpengaruh dan sungguh dapat ikut mendorong
perubahan ke arah perbaikan. Akses masyarakat ke media sosial dan penggunaan
teknologi komunikasi makin meluas. Keseluruhannya mampu meningkatkan kepedulian
dan partisipasi masyarakat.
Aku sungguh
berharap, caleg wong cilik ini ada yang jadi. Semoga mereka dapat mencoraki
dewan perwakilan rakyat. Dengan demikian
politik pengatasnamaan yang selama ini menonjol, secara perlahan bisa diubah.
Tetapi apakah ini
mungkin terjadi dalam praktik politik yang berbiaya sangat mahal sekarang ini?
Apakah upaya mereka keliling berjalan kaki atau melakukan kontak dengan orang
yang kebetulan datang ke tempat mereka kerja atau berusaha cukup memadai?
Rasanya banyak di antara kita yang mahfum bagaimana para caleg mapan dari
parpol berkuasa telah dengan canggih memanfaatkan bansos sebagai 'meriam' untuk
menggempur rakyat agar memilih dirinya. Perhatikan saja dengan cermat bagaimana
dana bansos naik berkali lipat dalam tahun politik ini. Sampai-sampai KPK
menyurati Presiden SBY agar dana bansos dibekukan sampai pemilu usai.
Kita sama tahu,
bukan hanya dana bansos yang bisa digunakan untuk memenangkan pemilu. Masih banyak
dana 'siluman' lain yang tidak mudah ditelusuri dan dibongkar. Lihatlah betapa
tidak mudah bagi KPK untuk membongkar pemanfaatan uang korupsi Hambalang bagi
pemenangan Anas pada pemilihan ketua umum partai demokrat.
Kivlan Zein,
purnawirawan jenderal, yang kini maju sebagai caleg, dalam acara televisi
secara gamblang membuka adanya kongkalikong antara pejabat, orang partai,
pejabat BUMN, dan pengusaha untuk mendapatkan dana bagi pemenangan pemilu. Dia
berjanji akan membongkar semua itu bila terpilih.
Politik uang
dengan demikian bukanlah cerita burung. Beberapa televisi secara terbuka
memberitakan adanya caleg partai demokrat yang membagi-bagikan uang. Sementara
itu media massa juga meributkan penggunaan fasilitas negara oleh Presiden SBY
untuk kampanye.
Sebagian
masyarakat justru mengharapkan dan menunggu 'serangan fajar' oleh para caleg.
Sikap ini terbentuk karena memang tradisi ini sudah terbangun sejak lama. Sejak
zaman orde baru berkuasa lebih dari tiga puluh tahun. Masyarakat dan partai
politik menganggap politik uang itu sudah sewajarnya sebagai penghargaan dan
uang lelah bagi rakyat yang telah bersedia memilihnya.
Kemarin waktu
banjir melanda, termasuk ke pemukimanku. Seorang caleg partai demokrat
membagi-bagikan mie instan. Padahal selama ini, saat banjir melanda sangat
parah dan makanan sulit didapatkan, dia sama sekali tak peduli. Pastilah tidak
semua orang yang menerima bantuan dan uang itu akan memilih orang yang
memberinya. Namun, tetaplah praktik politik uang ini menghancurkan demokrasi yang
sedang kita bangun.
Dalam kondisi
seperti ini tentulah sangat menyulitkan bagi calon wong cilik untuk ikut
berkompetisi secara sehat. Kesannya mereka seperti pemandu sorak atau asesori
dalam konstruksi bangunan politik kita. Sekadar sebagai penghibur untuk
menyenangkan hati bahwa pemilu sekarang sudah sangat akomodatif dan terbuka.
Kita sepenuhnya
faham bahwa reformasi politik menuju negara yang sungguh demokratis, tidak
dapat dilakukan dengan hanya menunjukkan bahwa ada caleg dari kalangan wong
cilik. Secara keseluruhan harus ada keberanian untuk secara mendalam
mencaritemukan anomali yang terjadi dalam sistem politik kita yang kini
berlangsung. Kemudian melakukan perbaikan mendasar agar sistem politik kita
sungguh demokratis dan bermakna, yang memungkinkan rakyat, dan bukan hanya kaum
elit yang berada dalam lingkar dalam kuasa dan mengendalikan kekuasaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd