Kamis, 27 Maret 2014

DERITA ANAK-ANAK KITA



Siti Aisyah Pulungan (8 tahun) akhirnya kembali ke sekolah setelah menjaga ayahnya yang sakit dan terbaring di becak selama setahun. Bisa dibayangkan beragam derita yang dirasakannya selama setahun, dan tahun-tahun panjang sebelumnya karena dibekab kemiskinan. Aisyah tentulah bukan satu-satunya anak Indonesia yang menderita karena kemiskinan.

Jutaan anak-anak Indonesia dipekerjakan pada tempat-tempat yang sangat beresiko. Tidak sedikit anak-anak yang dipekerjakan di pertambangan pasir, menjadi pengangkat dan pemecah batu,  di pabrik, dan di bagan yaitu tempat penangkankapan ikan di tengah laut.

TEMPO.CO (18.06.2013) memberitakan, Komisi Nasional Perlindungan Anak melansir data kasus terkait anak-anak selama semester pertama 2013. Sekretaris Jenderal Komnas PA, Samsul Ridwan, mengatakan jumlah pekerja anak mencapai 4,7 juta jiwa.
"Paling banyak di Papua, (pekerja anak) sebanyak 34,7 persen dari total pekerja," katanya, Kamis 18 Juli 2013. Posisi kedua adalah Sulawesi Utara dengan besaran 20,46 persen, disusul Sulawesi Barat 19,82 persen. Dilihat dari lokasi kerja, dari total jumlah itu, kisaran 1,1 juta anak bekerja di kawasan perkotaan. Lainnya, 2,3 juta anak di pedesaan.Sebagai perbandingan, data Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pekerja anak sebesar 1,7 juta jiwa. Rinciannya, 674 ribu berusia di bawah 13 tahun. Sebanyak 321 ribu berusia 13-14 tahun, dan sisanya 760 ribu berusia 15-17 tahun. Padahal, Indonesia punya target bebas dari pekerja anak pada 2020.

Kita tidak tahu, apakah anak-anak yang bekerja sebagai pengamen, pemulung, dan pengemis yang jumlahnya terus bertambah termasuk dalam angka-angka yangdisebutkan di atas. Juga sejumlah anak yang bekerja di pasar induk, di sekitar pelabuhan, di terminal, di kapal penyeberangan dalam bentuk rebutan uang yang dilemparkan penumpang ke dalam laut. Semua pekerjaan itu mengandung resiko yang mengancam kesehatan dan keselamatan anak-anak tersebut.

Di berbagai kota besar, bahkan kota kecil, kini semakin banyak gerombolan orang dewasa yang mengeksploitasi anak untuk dipekerjakan sebagai pengemis di perempatan jalan dan sekitar pertokoan. Tidak sedikit yang mengeksploitasi anak-anak itu adalah orang tua kandung mereka.

Tak kalah mengerikan adalah perdagangang anak. Sejumlah fakta di media massa mengungkapkan beragam kejadian perdagangan anak. Sejumlah 11 anak di bawah umur 10 tahun asal NTT jadi korban perdagangan anak (Tempo.co, 05.12.2013).  Sat Reskrim Polres Bangka Barat berhasil mengungkap perdagangan anak di bawah umur, yang terjadi di Muntok Kabupaten Bangka Barat, Senin (17/2/2014)(Bangka Pos.com, 18.10.2014). Katua Komnas Perlindungan Anak Pusat, Aris Sirait mengtakan, dari laporan yang diterima pihaknya diketahui sepanjangn tahun 2013 sudah ratusan anak yang keluar dari wilayah hukum Indonesia karena menjadi korban perdagangan manusia (tabloidjubi, 23.11.2012).

 Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sukabumi, Elis Nurbaeti mengatakan kasus perdagangan manusia yang korbannya perempuan di bawah umur kerap terjadi di Sukabumi. Salah satu penyebab utamanya tidak lagi masalah ekonomi tetapi lebih kepada pergaulan dan sifat hedonisme dan konsumtif.Setiap tahun mengungkap puluhan korban perdagangan manusia yang mayoritas korbannya adalah perempuan di bawah umur. Korbannya biasanya dijanjikan bekerja dengan upah tinggi dan tempat yang nyaman. Ternyata sampai di daerah tujuan korbannya biasanya menjadi budak atau ditempatkan di tempat hiburan malam," kata Elis.(Republika Online, 24.03.2014).

Anak-anak kita dikepung dan dikeroyok oleh banyak orang dewasa pengeksploitasi anak. Mereka hanya memikirkan keuntungan bagi diri sendiri dan tak memikirkan akibatnya bagi anak.

Sementara itu anak-anak dari kelompok sosial ekonomi menengah dan atas juga dieksploitasi oleh para bandar dan mafia narkoba. Jumlah anak-anak yang terlibat dan kecanduan narkoba semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Penyalahgunaan narkoba sudah menjadi momok yang menakutkan bagi para orang tua. Pasalnya, penyalahgunaan narkoba tidak saja menyerang orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja.  Hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Universitas Indonesia, menyebut DKI Jakarta adalah Provinsi dengan prevalensi penyalahgunaan paling tinggi di Indonesia, yakni sekira 7 persen atau setara dengan 491.848 orang penyalahguna narkoba.Kasie Media Non Elektronik, Deputi Bidang Pencegahan BNN, Ahmad Soleh Siregar menjelaskan, peredaran narkoba di masyarakat sudah sangat meresahkan orang tua. "Pasalnya penggunaan narkoba di kalangan remaja terus meningkat," kata Soleh dalam Forum Group Discussion (FGD) BNN, di Utan Kayu, Jakarta, Minggu (17/1/2014).(okezone, 19.01.2014)

Tidak mengherankan jika jumlah korban narkoba di Indonesia juga kian banyak. Berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) 2011, 5 juta dari 237 juta penduduk Indonesia menjadi pelaku penyalahgunaan narkoba. Yang memprihatinkan, sekitar 63 persen pengguna narkoba pertama kali mencoba narkoba pada usia 15-24 tahun. Bahkan satu di antara 10 responden mengaku menggunakan/mengkonsumsi narkoba pertama kali pada usia kurang dari 15 tahun. Korban meninggal 15 ribu orang setiap tahun. Yang patut disesalkan, hampir 15 ribu korban narkoba adalah anak-anak SD. Jaringan pengedar narkoba di Indonesia mendapatkan rata-rata Rp 30 triliun per tahun.(Tempo.Co, 27.06.2012).

Berbagai fakta di atas seharusnya menyadarkan kita bahwa kenakalan remaja tidaklah seberapa dibandingkan kejahatan orang dewasa. Anak-anak kita telah menjadi korban kejahatan orang dewasa yang hanya mencari keuntungan. Harus sepenuhnya disadari, menyelamatkan anak-anak sangat fundamental sifatnya, sebab

HARI DEPAN NEGARA BANGSA INI SANGAT TERGANTUNG PADA BAGAIMANA SIKAP DAN KEPEDULIAN KITA TERHADAP ANAK-ANAK.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd