Siti Aisyah
Pulungan (8 tahun) akhirnya kembali ke sekolah setelah menjaga ayahnya yang
sakit dan terbaring di becak selama setahun. Bisa dibayangkan beragam derita
yang dirasakannya selama setahun, dan tahun-tahun panjang sebelumnya karena
dibekab kemiskinan. Aisyah tentulah bukan satu-satunya anak Indonesia yang
menderita karena kemiskinan.
Jutaan anak-anak
Indonesia dipekerjakan pada tempat-tempat yang sangat beresiko. Tidak sedikit
anak-anak yang dipekerjakan di pertambangan pasir, menjadi pengangkat dan
pemecah batu, di pabrik, dan di bagan
yaitu tempat penangkankapan ikan di tengah laut.
TEMPO.CO
(18.06.2013) memberitakan, Komisi Nasional Perlindungan Anak melansir data
kasus terkait anak-anak selama semester pertama 2013. Sekretaris Jenderal
Komnas PA, Samsul Ridwan, mengatakan jumlah pekerja anak mencapai 4,7 juta
jiwa.
"Paling
banyak di Papua, (pekerja anak) sebanyak 34,7 persen dari total pekerja,"
katanya, Kamis 18 Juli 2013. Posisi kedua adalah Sulawesi Utara dengan besaran
20,46 persen, disusul Sulawesi Barat 19,82 persen. Dilihat dari lokasi kerja,
dari total jumlah itu, kisaran 1,1 juta anak bekerja di kawasan perkotaan.
Lainnya, 2,3 juta anak di pedesaan.Sebagai perbandingan, data Badan Pusat
Statistik mencatat jumlah pekerja anak sebesar 1,7 juta jiwa. Rinciannya, 674
ribu berusia di bawah 13 tahun. Sebanyak 321 ribu berusia 13-14 tahun, dan
sisanya 760 ribu berusia 15-17 tahun. Padahal, Indonesia punya target bebas
dari pekerja anak pada 2020.
Kita tidak tahu,
apakah anak-anak yang bekerja sebagai pengamen, pemulung, dan pengemis yang
jumlahnya terus bertambah termasuk dalam angka-angka yangdisebutkan di atas.
Juga sejumlah anak yang bekerja di pasar induk, di sekitar pelabuhan, di
terminal, di kapal penyeberangan dalam bentuk rebutan uang yang dilemparkan
penumpang ke dalam laut. Semua pekerjaan itu mengandung resiko yang mengancam
kesehatan dan keselamatan anak-anak tersebut.
Di berbagai kota
besar, bahkan kota kecil, kini semakin banyak gerombolan orang dewasa yang
mengeksploitasi anak untuk dipekerjakan sebagai pengemis di perempatan jalan
dan sekitar pertokoan. Tidak sedikit yang mengeksploitasi anak-anak itu adalah
orang tua kandung mereka.
Tak kalah
mengerikan adalah perdagangang anak. Sejumlah fakta di media massa
mengungkapkan beragam kejadian perdagangan anak. Sejumlah 11 anak di bawah umur
10 tahun asal NTT jadi korban perdagangan anak (Tempo.co, 05.12.2013). Sat Reskrim Polres
Bangka Barat berhasil mengungkap perdagangan anak di bawah umur, yang terjadi di
Muntok Kabupaten Bangka Barat, Senin (17/2/2014)(Bangka Pos.com, 18.10.2014). Katua
Komnas Perlindungan Anak Pusat, Aris Sirait mengtakan, dari laporan yang
diterima pihaknya diketahui sepanjangn tahun 2013 sudah ratusan anak yang
keluar dari wilayah hukum Indonesia karena menjadi korban perdagangan manusia (tabloidjubi,
23.11.2012).
Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan
Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sukabumi, Elis Nurbaeti mengatakan kasus
perdagangan manusia yang korbannya perempuan di bawah umur kerap terjadi di
Sukabumi. Salah satu penyebab utamanya tidak lagi masalah ekonomi tetapi lebih
kepada pergaulan dan sifat hedonisme dan konsumtif.Setiap tahun mengungkap
puluhan korban perdagangan manusia yang mayoritas korbannya adalah perempuan di
bawah umur. Korbannya biasanya dijanjikan bekerja dengan upah tinggi dan tempat
yang nyaman. Ternyata sampai di daerah tujuan korbannya biasanya menjadi budak
atau ditempatkan di tempat hiburan malam," kata Elis.(Republika Online,
24.03.2014).
Anak-anak kita
dikepung dan dikeroyok oleh banyak orang dewasa pengeksploitasi anak. Mereka
hanya memikirkan keuntungan bagi diri sendiri
dan tak memikirkan akibatnya bagi anak.
Sementara itu
anak-anak dari kelompok sosial ekonomi menengah dan atas juga dieksploitasi
oleh para bandar dan mafia narkoba. Jumlah anak-anak yang terlibat dan
kecanduan narkoba semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Penyalahgunaan
narkoba sudah menjadi momok yang menakutkan bagi para orang tua. Pasalnya,
penyalahgunaan narkoba tidak saja menyerang orang dewasa, tetapi juga anak-anak
dan remaja. Hasil survei Badan Narkotika
Nasional (BNN) bekerjasama dengan Universitas Indonesia, menyebut DKI Jakarta
adalah Provinsi dengan prevalensi penyalahgunaan paling tinggi di Indonesia,
yakni sekira 7 persen atau setara dengan 491.848 orang penyalahguna narkoba.Kasie
Media Non Elektronik, Deputi Bidang Pencegahan BNN, Ahmad Soleh Siregar
menjelaskan, peredaran narkoba di masyarakat sudah sangat meresahkan orang tua.
"Pasalnya penggunaan narkoba di kalangan remaja terus meningkat,"
kata Soleh dalam Forum Group Discussion (FGD) BNN, di Utan Kayu, Jakarta,
Minggu (17/1/2014).(okezone, 19.01.2014)
Tidak
mengherankan jika jumlah korban narkoba di Indonesia juga kian banyak.
Berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) 2011, 5 juta dari 237 juta
penduduk Indonesia menjadi pelaku penyalahgunaan narkoba. Yang memprihatinkan,
sekitar 63 persen pengguna narkoba pertama kali mencoba narkoba pada usia 15-24
tahun. Bahkan satu di antara 10 responden mengaku menggunakan/mengkonsumsi
narkoba pertama kali pada usia kurang dari 15 tahun. Korban meninggal 15 ribu
orang setiap tahun. Yang patut disesalkan, hampir 15 ribu korban narkoba adalah
anak-anak SD. Jaringan pengedar narkoba di Indonesia mendapatkan rata-rata Rp
30 triliun per tahun.(Tempo.Co, 27.06.2012).
Berbagai fakta di
atas seharusnya menyadarkan kita bahwa kenakalan remaja tidaklah seberapa
dibandingkan kejahatan orang dewasa. Anak-anak kita telah menjadi korban
kejahatan orang dewasa yang hanya mencari keuntungan. Harus sepenuhnya
disadari, menyelamatkan anak-anak sangat fundamental sifatnya, sebab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd