Minggu, 30 Maret 2014

GURU YANG TEGAS DAN KRITIS

(Doa dan penghargaan bagi Rosihan Anwar)

Ia disebut wartawan senior, padahal sudah tak punya koran lagi. Ia sangat anti komunis, dan dia seorang sosialis. Ia tokoh pers perjuangan. Pendiriannya jelas dan tegas. Dulu korannya dibredel karena sangat tajam bila mengeritik. Itulah pangkal sebabnya ia tak lagi punya koran. Ia menulis banyak buku dan artikel. Ciri tulisannya sangat khas, tajam, kritis, langsung dan sangat jelas. Sangat bergaya Sumatra.

Aku menjadi sangat kenal dan dekat dengannya karena ia sering berkunjung ke rumah Soedjatmoko, dan secara teratur datang berkunjung ke Jalan Guntur ke kediaman Subadio Sastrosatomo (Om Kio). Para sosialis tua itu rajin berkumpul di situ untuk berdiskusi. Mereka secara sangat tajam mendiskusikan rezim orde baru yang diyakini akan segera tumbang.

Bila banyak anak muda ikutan diskusi, ia adalah yang paling kritis mengejar dengan sejumlah pertanyaan. Serasa lebih susah dari ujian skripsi. Ia terus mengejar dengan pertanyaan yang makin kritis dan tajam. Namun, dalam ketajaman dan kekritisannya itu, ia juga tunjukkan dengan cara yang sangat khas, penghargaanya yang luar biasa pada beragam pendapat kami yang memang masih hijau.

Karena kebanyakan kami pada mulanya lebih sering berdiskusi dengan Soedjatmoko yang tenang, lembut dan sabar, awalnha sangat kaget dengan gayanya yang lebih panas dan ngejar. Ia selalu meminta kami untuk membaca buku tertentu bila kami terlihat tidak menguasai masalah yang sedang didiskusikan. Gayanya yang tunjuk hidung mulanya terasa agak menghentak.

Kekerapan diskusi membuat kami jadi makin memahami dia. Positifnya kami benar-benar mempersiapkan diri bila berdiskusi bersamanya. Malah kami jadi makin sering dan suka, justru karena gayanya yang tunjuk hidung itu. Ia berhasil memacu kami, tentu dengan gaya Sumatra yang khas itu.

Dalam menjelaskan sesuatu, ia sering bercerita tentang pengalamanya pada masa lalu terpaut dengan topik yang sedang dibincangkan. Ia banyak bercerita pengalamannya bersama Syahrir, Hatta, Soekarno, dan tokoh-tokoh pendiri bangsa ini. Juga bagaimana perseteruannya dengan tokoh-tokoh komunis yang pada zaman menjelang jatuhnya Sukarno benar-benar sangat suka menyerang dengan cara-cara yang kasar. Ia juga banyak bercerita tentang Tan Malaka. Namun, Syahrir lah yang paling banyak diceritakannya. Ia sungguh memiliki ingatan yang sangat kuat pada rincian cerita, malah bisa sampai sangat njelimet. Mendengar ia bercerita sungguh seperti membaca buku yang sangat tertata bahasanya.

Aku banyak belajar darinya. Sewaktu aku menulis skripsi yang berjudul Pemikiran Soedjatmoko tentang Kebebasan, ia adalah pengeritik yang utama. Ada saja kesalahan yang bisa ditunjukannya. Ia benar-benar sampai memperhatikan salah ketik dan pilihan kata. Ia selalu bilang, perhatikan pilihan kata, pilihan kata itu bisa memberi ciri penting pada tulisan kita. Ia selalu ingatkan, beranilah memiliki pandangan yang berbeda.

Ia memberikan beberapa tulisan Soedjatmoko yang aku belum miliki. Ia mengedepankan pandangannya tentang Soedjamoko. Tampak sekali ia sangat menghargai teman dekatnya itu. Pada akhir pembicaraan ia bilang, kamu harus punya pandangan yang berbeda dengan argumentasi yang tentu juga berbeda. Kalau sama itu namanya pengekor, jangan jadi pengekor.

Bila ia merasa tulisan itu mengena, ia pasti memuji. Beberapa kali ia menunjukkan bagaimana caranya membuat kalimat yang kita konstruksikan itu memiliki kekuatan. Ia memilih beberapa kalimat yang telah kubuat. Dan mengubahnya, ada beberapa kata ditambahkan. Memang benar, kalimat itu menjadi lebih bermakna dan berpeluru.

Ia memberi beberapa bukunya, dan memintaku untuk memperhatikan bagian-bagian tertentu. Inilah caranya mengajari bagaimana membuat uraian rinci, apa yang perlu dibuat rinci dan mengapa. Aku benar-benar belajar pada seorang maestro dalam biadangnya. Aku merasa bangga dan bahagia karena ia mau membaca tulisankj dan memberi masukan. Dia pesan, jika mau jadi penulisan beneran, rajin-rajinlah menulis, menulis apa saja. Rajin dan disiplin membaca, serta belajar pada siapa saja. Dalam konteks ini ia bercerita bagimana ia dulu sering dengan perhatian penuh dan ketekunan mendengarkan Syahrir berdebat dan berdikusi dengan banyak orang.

Saat skripsi hampir selesai kutulis, ia memberi sejumlah masukan. Aku ikuti nasihat dan masukannya. Ketika skripsi itu jadi, ia yang usulkan pada Om Anto (Murdianto) agar diterbitkan menjadi buku. Ia bilang meski kecil, tulisanku berhasil merangkum dengan benar dan padat pemikiran Soedjatmoko yang terserak-serak dalam banyak topik.

Ia juga memberi beberapa masukan lagi saat tulisan itu akan diterbitkan menjadi buku. Aku benar-benar beruntung karena pernah menjadi muridnya.

Suatu kali kutunjukkan tulisanku tentang Soedjatmoko yang akan dikirimkan ke KOMPAS. Ia sama sekali tidak memberi masukan. Ia bilang, kalau dimuat aku akan  diberi hadiah, aku tanya hadiah apa, ia bilang yang penting ada hadiah menarik.

Saat tulisan itu dimuat, ia memberiku hadiah sejumlah uang untuk membeli buku, dan sejumlah buku bagus berbahasa Inggris. Waktu itu ia bilang, sekarang kamu sudah menjadi penulis beneran. Oi seperti melayang rasanya.

Aku merasa ia sungguh guru yang luar biasa. Setelah tulisan itu dimuat, tulisanku sering muncul di KOMPAS. Suatu kali ia keras mengertikku karena ada bagian tulisanku yang menurutnya kurang cermat dan tidak konsisten. Aku baca tulisan itu hati-hati. Aku sungguh bersyukur bahwa ia benar. Yang membuatku bersyukur ia tetap mengkritikku dengan keras, seperti saat pertama kali aku belajar dan meminta pendapatnya. Belajar dengannya membuat aku yakin,

GURU SEJATI MEMANG SANGAT PEDULI DAN TIDAK PERNAH MEMBIARKAN MURIDNYA MEMBUAT DAN BERADA DALAM KESALAHAN.

1 komentar:

  1. Ketegasan dalam bersikap memamg sangat diperlukan agar kita tidak mudah terbantahkan juga penegas bahwa kita memilikinpendirian yang kokoh, tapi sering kali ketegasan itu diikutindengan sikap yang otoriter. Tugas bukan berarti memaksakan kehendak, tapi teguh pada pendirian.
    Pertanyaan
    1. Haruskah kritik itu dilakukan dengan cara yang sedikit radikal?
    2. Bagaimana cara mengkritik tanpe menyinggung hati orang lain?

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd