(Doa dan
penghargaan bagi Rosihan Anwar)
Ia disebut
wartawan senior, padahal sudah tak punya koran lagi. Ia sangat anti komunis,
dan dia seorang sosialis. Ia tokoh pers perjuangan. Pendiriannya jelas dan
tegas. Dulu korannya dibredel karena sangat tajam bila mengeritik. Itulah
pangkal sebabnya ia tak lagi punya koran. Ia menulis banyak buku dan artikel.
Ciri tulisannya sangat khas, tajam, kritis, langsung dan sangat jelas. Sangat
bergaya Sumatra.
Aku menjadi sangat
kenal dan dekat dengannya karena ia sering berkunjung ke rumah Soedjatmoko, dan
secara teratur datang berkunjung ke Jalan Guntur ke kediaman Subadio
Sastrosatomo (Om Kio). Para sosialis tua itu rajin berkumpul di situ untuk
berdiskusi. Mereka secara sangat tajam mendiskusikan rezim orde baru yang
diyakini akan segera tumbang.
Bila banyak anak
muda ikutan diskusi, ia adalah yang paling kritis mengejar dengan sejumlah
pertanyaan. Serasa lebih susah dari ujian skripsi. Ia terus mengejar dengan
pertanyaan yang makin kritis dan tajam. Namun, dalam ketajaman dan
kekritisannya itu, ia juga tunjukkan dengan cara yang sangat khas, penghargaanya
yang luar biasa pada beragam pendapat kami yang memang masih hijau.
Karena kebanyakan
kami pada mulanya lebih sering berdiskusi dengan Soedjatmoko yang tenang,
lembut dan sabar, awalnha sangat kaget dengan gayanya yang lebih panas dan ngejar.
Ia selalu meminta kami untuk membaca buku tertentu bila kami terlihat tidak
menguasai masalah yang sedang didiskusikan. Gayanya yang tunjuk hidung mulanya
terasa agak menghentak.
Kekerapan diskusi
membuat kami jadi makin memahami dia. Positifnya kami benar-benar mempersiapkan
diri bila berdiskusi bersamanya. Malah kami jadi makin sering dan suka, justru
karena gayanya yang tunjuk hidung itu. Ia berhasil memacu kami, tentu dengan
gaya Sumatra yang khas itu.
Dalam menjelaskan
sesuatu, ia sering bercerita tentang pengalamanya pada masa lalu terpaut dengan
topik yang sedang dibincangkan. Ia banyak bercerita pengalamannya bersama
Syahrir, Hatta, Soekarno, dan tokoh-tokoh pendiri bangsa ini. Juga bagaimana
perseteruannya dengan tokoh-tokoh komunis yang pada zaman menjelang jatuhnya
Sukarno benar-benar sangat suka menyerang dengan cara-cara yang kasar. Ia juga
banyak bercerita tentang Tan Malaka. Namun, Syahrir lah yang paling banyak
diceritakannya. Ia sungguh memiliki ingatan yang sangat kuat pada rincian
cerita, malah bisa sampai sangat njelimet. Mendengar ia bercerita sungguh
seperti membaca buku yang sangat tertata bahasanya.
Aku banyak belajar
darinya. Sewaktu aku menulis skripsi yang berjudul Pemikiran Soedjatmoko
tentang Kebebasan, ia adalah pengeritik yang utama. Ada saja kesalahan yang
bisa ditunjukannya. Ia benar-benar sampai memperhatikan salah ketik dan pilihan
kata. Ia selalu bilang, perhatikan pilihan kata, pilihan kata itu bisa memberi
ciri penting pada tulisan kita. Ia selalu ingatkan, beranilah memiliki
pandangan yang berbeda.
Ia memberikan
beberapa tulisan Soedjatmoko yang aku belum miliki. Ia mengedepankan
pandangannya tentang Soedjamoko. Tampak sekali ia sangat menghargai teman
dekatnya itu. Pada akhir pembicaraan ia bilang, kamu harus punya pandangan yang
berbeda dengan argumentasi yang tentu juga berbeda. Kalau sama itu namanya
pengekor, jangan jadi pengekor.
Bila ia merasa
tulisan itu mengena, ia pasti memuji. Beberapa kali ia menunjukkan bagaimana
caranya membuat kalimat yang kita konstruksikan itu memiliki kekuatan. Ia
memilih beberapa kalimat yang telah kubuat. Dan mengubahnya, ada beberapa kata
ditambahkan. Memang benar, kalimat itu menjadi lebih bermakna dan berpeluru.
Ia memberi
beberapa bukunya, dan memintaku untuk memperhatikan bagian-bagian tertentu.
Inilah caranya mengajari bagaimana membuat uraian rinci, apa yang perlu dibuat
rinci dan mengapa. Aku benar-benar belajar pada seorang maestro dalam
biadangnya. Aku merasa bangga dan bahagia karena ia mau membaca tulisankj dan
memberi masukan. Dia pesan, jika mau jadi penulisan beneran, rajin-rajinlah
menulis, menulis apa saja. Rajin dan disiplin membaca, serta belajar pada siapa
saja. Dalam konteks ini ia bercerita bagimana ia dulu sering dengan perhatian
penuh dan ketekunan mendengarkan Syahrir berdebat dan berdikusi dengan banyak
orang.
Saat skripsi
hampir selesai kutulis, ia memberi sejumlah masukan. Aku ikuti nasihat dan
masukannya. Ketika skripsi itu jadi, ia yang usulkan pada Om Anto (Murdianto)
agar diterbitkan menjadi buku. Ia bilang meski kecil, tulisanku berhasil
merangkum dengan benar dan padat pemikiran Soedjatmoko yang terserak-serak
dalam banyak topik.
Ia juga memberi
beberapa masukan lagi saat tulisan itu akan diterbitkan menjadi buku. Aku
benar-benar beruntung karena pernah menjadi muridnya.
Suatu kali
kutunjukkan tulisanku tentang Soedjatmoko yang akan dikirimkan ke KOMPAS. Ia
sama sekali tidak memberi masukan. Ia bilang, kalau dimuat aku akan diberi hadiah, aku tanya hadiah apa, ia
bilang yang penting ada hadiah menarik.
Saat tulisan itu
dimuat, ia memberiku hadiah sejumlah uang untuk membeli buku, dan sejumlah buku
bagus berbahasa Inggris. Waktu itu ia bilang, sekarang kamu sudah menjadi
penulis beneran. Oi seperti melayang rasanya.
Aku merasa ia
sungguh guru yang luar biasa. Setelah tulisan itu dimuat, tulisanku sering
muncul di KOMPAS. Suatu kali ia keras mengertikku karena ada bagian tulisanku
yang menurutnya kurang cermat dan tidak konsisten. Aku baca tulisan itu
hati-hati. Aku sungguh bersyukur bahwa ia benar. Yang membuatku bersyukur ia
tetap mengkritikku dengan keras, seperti saat pertama kali aku belajar dan
meminta pendapatnya. Belajar dengannya membuat aku yakin,
Ketegasan dalam bersikap memamg sangat diperlukan agar kita tidak mudah terbantahkan juga penegas bahwa kita memilikinpendirian yang kokoh, tapi sering kali ketegasan itu diikutindengan sikap yang otoriter. Tugas bukan berarti memaksakan kehendak, tapi teguh pada pendirian.
BalasHapusPertanyaan
1. Haruskah kritik itu dilakukan dengan cara yang sedikit radikal?
2. Bagaimana cara mengkritik tanpe menyinggung hati orang lain?