Minggu, 30 Maret 2014

KETEGARAN PEJUANG SEJATI

(Doa dan kenangan bagi Subadio Sastrosatomo)

Politik Indonesia itu bagai badai penuh petir. Selalu ada gejolak yang memberangus dan meluluhlantakkan apa saja. Sementara partai politik mirip istana pasir di pantai, gampang hancur dan muncul lagi di mana-mana. Begitulah keadaannya sejak proklamasi kemerdekaan hingga kini.

Pada awal kemerdekaan, partai politik sungguh bagai pasir di laut jumlahnya. Kesannya negara ini sangat demokratis, namum faktanya negara ini terus menerus dilanda perseturan berdarah-darah. Politik sungguh menjadi ajang gontok-gontokkan untuk memperebutkan kekuasaan. Inilah zaman bekuasanya politik, politik adalah panglima. Partai politik berseteru melibatkan rakyat, tak ada waktu yang cukup untuk melakukan pemberdayaan masyarakat agar sejahtera.

Akibatnya sejak kemerdekaan negara ini lebih banyak diisi oleh dinamika politik yang sangat mengerikan karena  bangsa ini saling bunuh dalam jumlah yang sangat besar. Di samping itu, dalam jumlah yang juga tidak sedikit, anak bangsa ini dijadikan tahanan politik oleh orde baru saat orde lama tumbang. Tak ada proses pengadilan di situ. Sungguh peristiwa itu merupakan lembaran hitam dalam sejarah republik ini. Sejarah pemberangusan dan pelanggaran HAM berat. Pertarungan ideologi sungguh sangat menonjol.

Dalam gelombang badai itu menarik untuk melihat keberadaan seorang anak bangsa, politisi yang mengalami era awal kemerdekaan sampai runtuhnya orde baru. Subadio Sastosatomo yang dikenal dengan Om Kio. Ia adalah sekretaris jenderal Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan ketua fraksi PSI di DPR pada masa orde lama.

Perkenalanku dengan Soedjatmoko (Koko) yang dikenal sebagai pentolan PSI membawaku berkenalan dengan orang-orang sosialis melalui sekretaris pribadinya Om Anto (Murdianto). Om Anto membawaku ke lingkungan PSI tua. Om Kio ternyata menjadi pusat meski ada tokoh lain.

Om Kio ditahan orde baru karena dituduh menjadi aktol intelektual Malari bersama tokoh PSI lainnya. Om Kio melawan orde baru karena sangat otoriter dan merupakan kaki tangan kapitalisme internasional. Ia melakukan perlawanan antara lain dengan menulis buku dan berkeliling berceramah ke mana-mana.

Agaknya usia tua yang menggerogotinya tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melakukan perlawanan. Kemana pun ia pergi Om Anto mendampingi dan meminta aku ikut serta. Ada kalanya aku dibawa bertemu dan berdiskusi dengan Soedarpo Sostrosatomo yang merupakan adik Om Kio dan pengusaha pemilik Samudera Indonesia. Melalui Yayasan Soedjatmoko, beliau memberikan bea siswa bagiku yang sedang mengambil S2.

Aku benar-benar kagum pada Om Kio karena semangatnya untuk melakukan perjalanan ke banyak kota saat menjelang kejatuhan Suharto. Ia datang ke kanton-kantong gerakan mahasiswa dan buruh. Ini dia lakukan sebagai upaya untuk membangkitkan semangat perlawanan. Paling tidak tiga kali ia masuk umah sakit karena keletihan.

Dalam usianya yang sepuh pada senjakala orde baru, Om Kio melambung namanya berkat buku kecil berjuful ERA BARU, PEMIMPIN BARU. Buku itu secara sangat keras mengkritik orde baru dengan cara membongkar berbagai kejahatannya.

Kami, anak-anak muda yang ada di sekitarnya yang mendorong kelahiran buku itu. Om Kio berurusan dengan polisi karena buku itu, dan sekretaris pribandinya sampai ditahan. Ternyata buku itu memang ikut meramaikan keriuhan politik menjelang terjungkirnya Suharto.

Om Kio sangat piawai menggunakan tokoh-tokoh wayang seperti dosomuko untuk menggambarkan Suharto dan para pejabat orde baru. Aku adalah orang yang ditugaskan untuk terus mengajaknya berdiskusi dan mencoba rumuskan fikiran-fikirannya. Ia benar-benar bersemangat melawan rezim orde baru yang menurutnya pengkhianat aspirasi rakyat.

Ia terus saja melakukan perlawanan meskipun sebenarnya berada pada lingkar luar pertarungan politik yang sedang sangat bergejolak, karena bukan orang partai dan tidak memiliki cukup kekuatan untuk tampil ke publik karena telah di makan usia. Namun ia terus saja melakukan perlawanan dengan segala keterbatasan itu.

Sungguh pada masa itu ia dikenal karena buku kecil yang ditulisnya tersebut. Selebihnya ia tak lagi bisa berbuat apa-apa karena telah direnggut usia. Kehidupan dan perlawannya menegaskan,

USIA DAN KERENTANAN BUKANLAH HAMBATAN UNTUK TERUS BERJUANG DALAM KEBAIKAN.

1 komentar:

  1. Nama : Pathurochmah
    Kelas : P.IPS Reguler B 2013
    Usia sering kali menjadi sebuah hambatan dalam berkarya, tapi hal ini tidak mutlak adanaya karena banyak juga tokoh hebat dikala usianya telah senja. Namun, orang-orang hebat mengawali karyanya sedari muda karena setelah kita tiada hanya amal kebaikan dan karya yang kita tinggalkan. Jadi usia bukanlah penghalang dari segalanya.
    pertanyaan
    1. Bagaimana caranya untuk tetap bertahan melakukan kebaikan meski tak ada satu pun yang mempercayai??
    2. Apakah orang-orang hebat lahir dari keterdesakan?

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd