(Doa dan kenangan
bagi Subadio Sastrosatomo)
Politik Indonesia
itu bagai badai penuh petir. Selalu ada gejolak yang memberangus dan meluluhlantakkan
apa saja. Sementara partai politik mirip istana pasir di pantai, gampang hancur
dan muncul lagi di mana-mana. Begitulah keadaannya sejak proklamasi kemerdekaan
hingga kini.
Pada awal
kemerdekaan, partai politik sungguh bagai pasir di laut jumlahnya. Kesannya negara
ini sangat demokratis, namum faktanya negara ini terus menerus dilanda
perseturan berdarah-darah. Politik sungguh menjadi ajang gontok-gontokkan untuk
memperebutkan kekuasaan. Inilah zaman bekuasanya politik, politik adalah
panglima. Partai politik berseteru melibatkan rakyat, tak ada waktu yang cukup
untuk melakukan pemberdayaan masyarakat agar sejahtera.
Akibatnya sejak
kemerdekaan negara ini lebih banyak diisi oleh dinamika politik yang sangat
mengerikan karena bangsa ini saling
bunuh dalam jumlah yang sangat besar. Di samping itu, dalam jumlah yang juga tidak
sedikit, anak bangsa ini dijadikan tahanan politik oleh orde baru saat orde
lama tumbang. Tak ada proses pengadilan di situ. Sungguh peristiwa itu
merupakan lembaran hitam dalam sejarah republik ini. Sejarah pemberangusan dan
pelanggaran HAM berat. Pertarungan ideologi sungguh sangat menonjol.
Dalam gelombang
badai itu menarik untuk melihat keberadaan seorang anak bangsa, politisi yang
mengalami era awal kemerdekaan sampai runtuhnya orde baru. Subadio Sastosatomo
yang dikenal dengan Om Kio. Ia adalah sekretaris jenderal Partai Sosialis
Indonesia (PSI), dan ketua fraksi PSI di DPR pada masa orde lama.
Perkenalanku
dengan Soedjatmoko (Koko) yang dikenal sebagai pentolan PSI membawaku
berkenalan dengan orang-orang sosialis melalui sekretaris pribadinya Om Anto
(Murdianto). Om Anto membawaku ke lingkungan PSI tua. Om Kio ternyata menjadi
pusat meski ada tokoh lain.
Om Kio ditahan
orde baru karena dituduh menjadi aktol intelektual Malari bersama tokoh PSI
lainnya. Om Kio melawan orde baru karena sangat otoriter dan merupakan kaki
tangan kapitalisme internasional. Ia melakukan perlawanan antara lain dengan
menulis buku dan berkeliling berceramah ke mana-mana.
Agaknya usia tua
yang menggerogotinya tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melakukan
perlawanan. Kemana pun ia pergi Om Anto mendampingi dan meminta aku ikut serta.
Ada kalanya aku dibawa bertemu dan berdiskusi dengan Soedarpo Sostrosatomo yang
merupakan adik Om Kio dan pengusaha pemilik Samudera Indonesia. Melalui Yayasan
Soedjatmoko, beliau memberikan bea siswa bagiku yang sedang mengambil S2.
Aku benar-benar
kagum pada Om Kio karena semangatnya untuk melakukan perjalanan ke banyak kota
saat menjelang kejatuhan Suharto. Ia datang ke kanton-kantong gerakan mahasiswa
dan buruh. Ini dia lakukan sebagai upaya untuk membangkitkan semangat
perlawanan. Paling tidak tiga kali ia masuk umah sakit karena keletihan.
Dalam usianya yang
sepuh pada senjakala orde baru, Om Kio melambung namanya berkat buku kecil berjuful
ERA BARU, PEMIMPIN BARU. Buku itu secara sangat keras mengkritik orde baru
dengan cara membongkar berbagai kejahatannya.
Kami, anak-anak
muda yang ada di sekitarnya yang mendorong kelahiran buku itu. Om Kio berurusan
dengan polisi karena buku itu, dan sekretaris pribandinya sampai ditahan.
Ternyata buku itu memang ikut meramaikan keriuhan politik menjelang
terjungkirnya Suharto.
Om Kio sangat
piawai menggunakan tokoh-tokoh wayang seperti dosomuko untuk menggambarkan
Suharto dan para pejabat orde baru. Aku adalah orang yang ditugaskan untuk
terus mengajaknya berdiskusi dan mencoba rumuskan fikiran-fikirannya. Ia benar-benar
bersemangat melawan rezim orde baru yang menurutnya pengkhianat aspirasi
rakyat.
Ia terus saja
melakukan perlawanan meskipun sebenarnya berada pada lingkar luar pertarungan
politik yang sedang sangat bergejolak, karena bukan orang partai dan tidak
memiliki cukup kekuatan untuk tampil ke publik karena telah di makan usia.
Namun ia terus saja melakukan perlawanan dengan segala keterbatasan itu.
Sungguh pada masa
itu ia dikenal karena buku kecil yang ditulisnya tersebut. Selebihnya ia tak
lagi bisa berbuat apa-apa karena telah direnggut usia. Kehidupan dan
perlawannya menegaskan,
Nama : Pathurochmah
BalasHapusKelas : P.IPS Reguler B 2013
Usia sering kali menjadi sebuah hambatan dalam berkarya, tapi hal ini tidak mutlak adanaya karena banyak juga tokoh hebat dikala usianya telah senja. Namun, orang-orang hebat mengawali karyanya sedari muda karena setelah kita tiada hanya amal kebaikan dan karya yang kita tinggalkan. Jadi usia bukanlah penghalang dari segalanya.
pertanyaan
1. Bagaimana caranya untuk tetap bertahan melakukan kebaikan meski tak ada satu pun yang mempercayai??
2. Apakah orang-orang hebat lahir dari keterdesakan?