Minggu, 30 Maret 2014

HOMESICK

a song for
someone who needs somewhere
to long for

homesick
cause I no longer know
where home is
(Kings of Convenience)

Dimanakah rumah kita? Dimana kita merasa bahagia dan betah. Meski mungkin tempatnya kecil, pengap dan sempit, membuat kita mandi keringat. Meski atapnya bocor dan lantainya tanah yang lembab. Meski dindingnya bambu dan lampunya sentir yang redup. Meski pintunya adalah hati, jendelanya fikiran, dan ventilasinya harapan.

Kembali ke rumah, dari manapun kita datang, terasa damai, nyaman, tenang dan menyenangkan. Meski hanya makan seadanya. Rumah adalah mata air kehangatan dan kegembiraan. Rumah adalah ketentraman yang menggairahkan.

Berkumpul bersama keluarga di rumah membuat hidup terasa penuh, bermakna, dan hari-hari terasa indah.

Di rumah semuanya terasa hangat. Berbincang tentang hal-hal kecil yang sangat sehari-hari. Di rumah topik pembicaraan tidaklah terlalu penting. Berbincang tentang apa saja dalam hangat kebersamaan dan saling mengerti adalah segalanya. Malampaui kesenangan dan kemeriahan dalam keramaian mal yang dipenuhi lampu aneka warna. Melampaui pesta makan besar di resto ternama dengan menu kuliner dari semua penjuru angin.

Rumah adalah pusat energi yang dapat meledakkan kebahagiaan tak terperi, dalam canda tawa keluarga. Rumah adalah pusaran cahaya yang menerangi hati dan membakar semua sedih.

Rumah adalah padang rumput bagi bunga empati yang menumbuhkan pohon pengertian yang berbuah cinta. Karena itu rumah harus dimekarkan dengan kehadiran bersama dalam senang dan sedih.

Kesedihan bisa ditransformasi menjadi senyum di dalam rumah. Kegembiraan yang terlalu bisa dikendali menjadi kebahagian yang proporsional.

Semua keletihan bisa luruh di rumah dan memberi kesegaran jiwa dan kebugaran tubuh melalui cinta dan kehangatan. Semua resah, semua galau, semua khawatir, semua was-was, dan semua kecupetan lenyap menguap di rumah dalam keceriaan kebersamaan dan saling mengerti yang tulus.

Rumah adalah dangau teduh yang menenteram jiwa, menenangkan hati, dan menyegarkan fikiran.

Rumah adalah ladang persemaian yang menjaga kelangsungan manusia dan peradaban di semesta raya.

Rumah adalah kiblat bagi hati yang kembara, yang selalu disambangi meski kerikil tajam melukai kaki sepanjang jalan.

Rumah adalah pelabuhan bagi jiwa yang berlayar dalam gelombang kehidupan yang melelahkan.

Rumah adalah syurga, dimana hati merasa betah dalam keceriaan keluarga.

Namun, kerap kali hidup tidak memberi banyak pilihan. Rumah terpaksa ditinggalkan karena kewajiban pada keluarga, pada negara, pada masyarakat, bahkan untuk waktu lama.

Kini baru terasa, kamar mewah hotel berbintang hanya menyelimuti kita dengan sepi yang getir. Kerinduan pada gelak dan celoteh anak menjadi teror yang membuat syaraf di otak seperti tersengat listrik tegangan tinggi.

Sangat terasa betapa keluarga adalah segalanya, namun kini jauh di sana, dan kita di sini remuk dibekap pekerjaan. Betapa keletihan jadi monster yang ganggu tidur dan fikiran.

Hati terasa kosong dan ngilu. Kangen pada rumah bahkan bisa meledakkan sistem syaraf dan membakar otak. Rindu pada rumah mampu mendongkrak asam lambung dan membuat semua sendi terasa nyeri. Kangen pada rumah bisa menggelombangkan tensi, dan gula darah. Rindu pada rumah bisa jadi pemicu diare. Rindu pada rumah dapat memunculkan alergi dan gatal-gatal. Rindu pada rumah adalah campuran virus dan bakteri yang menyerang stabilitas emosi.

Di keterjarakan ruang dan waktu, rumah dan keluarga makin bermakna keberadaannya. Betapa tak menyenangkan perpisahan. Sungguh rindu pada rumah membuat hati kehilangan rasa tenteram.

Sungguh semua kemewahan dan keberagaman makanan terasa hambar, dan sama sekali tak menarik. Bahkan acap jadi siksaan.

KANGEN PADA RUMAH SEJATINYA MENEGASKAN, KITA MEMANG TAK BISA HIDUP NORMAL SENDIRIAN, JAUH DARI ORANG-ORANG YANG DICINTAI.

5 komentar:

  1. Nama : Dinta Fajryenti
    Nim : 4915131386
    P IPS REG A 2013

    Saya sangat menyukai artikel pak nusa yang satu ini. “ HOME SICK” ini adalah salah satu yang saya rasakan saat ini sebagai anak rantau. Kehangaatan di dalam keluarga memang tidak dapat di gantikan oleh apapun. Meskipun saya di sini makan makanan yang enak sekalipun, terasa lebih nikmat jika makan di rumah bersama keluarga yang saya cintai. Kehangatan dan kenyamanan di dalam keluarga juga kalah oleh hotel mewah. Di dalam rumah kita sendiri, kita dapat mengekspresikan diri kita sepuasnya tanpa batas. Tawa canda yang diciptakan di dalam rumah melebihi stand up comedy unj. Namun saat ini saya pergi untuk kembali. Kembali bersama keluarga yang saya cintai. Semua hal yang ada di dalam rumah sangat saya rindukan saat ini, karena saya sangat mencintai keluarga saya.
    Pertanyaan :
    1. Bagaimana caranya agar kita merasakan suasana rumah atau keluarga saat kita pergi ?
    2. Apakah Home Sick merupakan gejala yang wajar ?
    3. Apakah ukuran seseorang sudah dikatakan Home Sick ?
    Terima Kasih pak.

    BalasHapus
  2. Nama : Pathurochmah
    Kelas : P.IPS Reguler B 2013
    Rumah seperti apa yang bapak paparkan, namun saya banyak menemukan fakta di lapangan bahwa rumah bukan lagi menjadi tempat yang teduh dan menyenangkan. Kesibukan orang tua membuat, anak-anak merasa bosan di rumah karena di rumah tak ada kehangatan seperti layaknya keluarga yang seharusnya. Akhirnya tak ada komunikasi yang terjalin secara intensif, yang ada hanya pemicu pertengkaran. Membuat anak-anak zaman sekarang lebih menyukai pergi ke tempat-tempat hiburan dimana mereka mendapatkan semua perhatian itu. Rumah kini telah kehilangan makna sebagai tempat melepas letih dan lelah, atau rumah kini hanya sebagai tempat untuk tidur tidak lebih dari itu.
    pertanyaan
    1. Bagaimana cara mengatasi homesick?
    2. Bagimana jika srbuah rumah telah hilang kehangatannya?

    BalasHapus
  3. Irma Lutfiana (4915131378)
    P.IPS A 2013

    Dengan membaca tulisan Pak Nusa yang berjudul Homesick ini mengingatkan saya pada kampung halaman. Sebagai mahasiswa rantau tentu saya sangat berat hati ketika pertama kali hidup jauh dari keluarga. Sering rindu pada rumah, pada keluarga, dan suasana saat kami berkumpul. Rumah memang suatu tempat yang membuat kita merasa betah dan bahagia. Sekali pun hotel yang tempatnya nyaman dan terpenuhi segala fasilitas yang ada akan tetapi rumah tetaplah tempat yang nyaman melebihi kenyamanan hotel. Meskipun tempatnya kecil, sempit, dan pengap. Saya sangat setuju dengan pernyataan Pak Nusa bahwa kangen pada rumah bahkan bisa meledakkan sistem syaraf dan membakar otak. Bagi saya ketika kita rindu pada keluarga kita akan berpikir bagaimana kabar keluarga di sana? Apakah mereka baik-baik saja? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi otak kita sehingga kita sulit untuk berkonsentrasi. Ketika rasa kangen pada rumah datang, akan lebih baik bila diisi dengan perbuatan baik dan ibadah. Supaya kita dapat berpikir positif serta melakukan aktivitas dengan baik. Sekarang saya tersadar bahwa saya pergi meninggalkan rumah dan keluarga dalam waktu yang cukup lama tidak lain untuk menuntut ilmu, menjalani tugas sebagai mahasiswa, dan untuk meraih cita-cita. Walaupun kerinduan itu sering terlintas dalam benak saya.
    1. Apakah seseorang bisa merindukan rumah disaat ada suatu masalah dalam keluarganya?
    2. Mengapa kebanyakan orang rantau yang sudah sukses lebih memilih tempat yang mereka tinggali (tempat rantau) daripada memperbaiki kampung halamannya?
    3. Bagaimana jika kita dilanda homesick yang berkepanjangan?

    BalasHapus
  4. Ade Nika Oktavia
    P. Ips Reg A 2013

    Rumah adalah gubuk teristimewa karena didalamnya terdapat orang-orang yang istimewa bagi kita. Rumah adalah tempat beristirahat yang begitu nyaman dari pikiran penat pada otak setelah menjalankan aktifitas diluar sana. Merindukan sebuah keluarga kecil yang ada dirumah itu adalah sesuatu yang tidak bisa aku pungkiri, karena dengan mereka aku bisa berbagi kasih dan sayang didalam rumah kecil. Rumah dimana kita menumbuhkan dan mengembangkan jati diri kita sebagai makhluk sosial. Kita keluar akan membawa karakter baik jika didalam rumah kita berkarakter baik. Karakter tersebut terbentuk karena ada sosok yang mendidik diri kita yaitu kedua orangtua. Rumah adalah istana untuk berbagi kebahagiaan satu sama lain, bercanda tawa dengan orang yang kita sayangi, saling memberi perhatian, saling memberi penyemangat hidup dikehidupan yang keras ini. Keluarga adalah sebuah selimut kebahagian ada dirumah yang tidak akan habis waktunya sampai akhir hayat.

    Bagaimana kita tetap merasakan suasana rumah meski kita sedang dalam perantauan ?
    Bagaimana agar keluarga tetap harmonis dan hangat kasih sayang meski tidak dalam satu rumah ?
    Apakah Homesick dapat menyebabkan kita menjadi tidak semangat dalam menjalani aktifitas diluar rumah ?

    BalasHapus
  5. NAMA : NUR ANISA ATMAJA (P.IPS.A 2013)
    NIM : 4915131383

    Rumah adalah bagian dari diri seseorang yang terpenting, tempat kita berteduh, tempat kita melepas semua penat dalam fikiran. Entah apa yang membuat rumah memiliki aura yang sangat kuat sehingga membuat orang yang mendiaminya merasa tenang, nyaman seolah ada kebahagiaan yang terus melekat dalam diri ini. Apalagi ketika kita bersama dengan orang-orang yang sangat kita sayangi dan menyayangi kita. Masalah yang ada pun terasa entah seperti tak punya beban.Mungkin suasana rumah dan kebersamaan keluarga yang menjadikan kita selalu ingin mereflesikan fikiran ketika masalah-masalah itu mulai muncul. Hal ini serupa dengan pengalaman saya sendiri. Kerinduan ini selalu datang ketika Saya terlalu lama meninggalkan rumah. Namun kewajiban saya sebagai mahasiswa yang merantau di Jakarta harus mampu menahan rindu ini. Selalu merasa ingin pulang ke rumah sendiri(kampung halaman) setiap kali saya merasa sudah lelah dengan masalh-masalah yang saya alami dijakarta. Terkadang hanya karena tugaspun, sering merasa ingin pulang ke rumah sendiri. Entahlah, suasana rumah dan keluarga selalu menjadi pereda rasa kesal dan suntuk ini. Meskipun, meninggalkan rumah kesayangan karena ada kewajiban yang harus kita jalani juga memiliki sisi positif. Dimana kita harus belajar berani, kuat dan tangguh dalam menjalankan hidup yang keras ini. Kerinduan pada rumah kesayangan membuktikan bahwa dimanapun kita berada, kita tetap membutuhkan orang-orang tersayang yang selalu dapat mencairkan suasana rumah kita. Bahwa, kita selalu mengenang saat-saat bahagia, sedih, ataupun ceria bersama mereka ketika di rumah kesayangan.
    pertanyaanya adalah:
    1. Bagaimana cara kita untuk mengatasi homesick ini?
    2. Bagaimana cara mencairkan suasana rumah supaya keluarga kita juga merasa bahagia?
    3. Apakah homesick disebabkan hanya karena kita selalu rindu pada suasana rumah, apakah faktor lingkungan di perantauan juga bisa jadi penyebab homesick?

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd