(Catatan kecik bagi sulungku Khal)
Lately,
I've been, I've been losing sleep
Dreaming
about the things that we could be
But
baby, I've been, I've been praying hard,
Said,
no more counting dollars
We'll
be, we'll be, counting stars
(OneRepublic)
Berapa banyak di
antara kita yang bisa bebas dari jeratan pekerjaan, kewajiban dan target yang
harus diselesaikan? Apakah kita punya kemampuan untuk menolak pekerjaan yang
menawarkan bayaran tinggi? Apakah anak-anak kita cukup diberi kebebasan dan
tidak disiksa oleh pekerjaan rumah dan beragam tugas-tugas yang harus
dikumpulkan, selesai atau tidak selesai? Apakah hidup di dunia ini hanya berisi
pekerjaan, rutinitas, dan pengulangan yang tak kenal henti sampai kita mati?
Apakah hari-hari hanya bisa dilalui dengan keketan waktu yang terasa menjerat
menjepit?
Kerangkeng
rutinitas hidup menyedot habis energi dan membuat kita tersungkur dalam
kegalauan tak tentu. Letih yang berlebih, lelah yang membelah, mengacaukan
sistem syaraf dan metabolisme kita. Mata tak lagi bisa terpejam, karena otak
terus mendidih, bagai listrik mengalami
arus pendek yang membakar. Tidur manjadi kemewahan yang tak lagi dapat
dinikmati. Pun bila terperosok dalam lelap tidur, mimpi buruk menyerbu.
Tiba-tiba terasa seperti berada di dunia asing yang disesaki binatang purba
yang buas, mengejar-ngejar dengan api menyala dimoncong yang terhunus.
Dalam ancaman yang
mengerikan, didera keletihan yang terlalu, apakah berlebihan jika bermimpi
mendapatkan apapun yang diinginkan. Membangun mimpi tentang hidup yang indah
dan membahagiakan. Bukankah mimpi adalah cara yang murah dan menyenangkan untuk
sekejab menarik jarak dari realitas yang bergerigi, tajam tak bertepi, meremukkan
hidup dan menyisakan onggokan kenangan.
Mimpi kadang dapat
menggatikan harapan yang tak juga terpenuhi dalam waktu yang bergerak cepat dan
meninggalkan luka pada syaraf otak. Hidup bagaimana pun haruslah tetap
dinikmati dan disyukuri. Dijalani dengan tetap optimis bahwa kita mampu
melewati gelombang sedahsyat apapun, dan kerikil yang bukan saja dapat melukai
kaki, bahkan mata. Inilah hidup, tak pernah gampang dan apa adanya.
Hidup memang
sering terasa berat dan menyiksa. Karena beban, karena sepi, karena khianat,
dan menguapnya harapan. Hidup kadang bagai cuaca ekstrim yang tak pernah bisa
diprediksi kecenderungan dan arahnya. Bagai kapal yang hilang kemudi, bagai
pesawat canggih dengan komputer dikerubutin virus.
Tak ada salahnya
bila kita membuka hati dan berdoa. Doa adalah kekuatan tak terbatas yang bisa
menembus langit demi langit, yang membawa kita melambung melampaui apapun yang
mengikat kemanusiaan kita pada tanah, pada air, pada awan, pada apapun yang
bisa dikalkulasi, dihitung, dipilah, dibagikali, ditambahkurangi.
Hidup menjadi
sumur kering, padang tandus bila hanya dikalkulasi, dikuantifikasi dalam
bilangan-bilangan yang pasti, ketat kaku gaya akuntan publik yang tak pernah
berani memasuki dan tenggelam pada nikmatnya empati kualitatif. Angka dan
bilangan akurat dan pasti, tetapi kaku dan kering.
Memang, ada
kalanya kita memilih terpenjara dalam logaritma: apa yang kulakukan berapa yang
kudapat, berapa modal dan berapa untung. Kita memiskinkan hidup dalam operasi
hitung yang rumit, namun tak bermakna. Seakan uang bisa membeli kebahagiaan,
padahal paling tinggi uang hanya mampu memberi sedikit kegembiraan yang melelahkan.
Percayalah,
kebahagiaan itu hanya dapat dirasakan bila ada keberanian untuk terbang tinggi,
menjauhi gravitasi keterbatasan kemanusiaan kita. Kebahagiaan adalah keberanian
untuk merasakan petualangan mencari makna, memasuki ketakpastian dalam dunia
bebas dari semua tarikan duniawi, melambung tinggi, menghitung bintang yang tak
terbilang, membangun harapan tentang hidup yang penuh cahaya. Hidup yang
berwarna karena berani melampaui cakrawala hati, terbang tinggi menuju bintang
yang tak terbilang di gulita malam.
Hidup bahagia
adalah cahaya, keberanian untuk merenggut cahaya yang mampu menerangi hati dan
dunia. Hidup bahagia adalah kemauan dan kemampuan menghitung bintang, cahaya
dan harapan yang tak pernah padam, yang tak bisa dikalkulasi dengan pendekatan
akutansi. Hidup bahagia adalah terbang menuju cahaya, optimisme tanpa batas
bahwa kita bisa melampaui semua kegelapan di dalam dan luar diri. Kita menjadi
cahaya, menjadi bintang yang menerangi siapa pun tanpa kecuali.
Nama : Pathurochmah
BalasHapusKelas : P.IPS Reguler B 2013
Tutuntan globalisasi membuat setiap orang kini dihadapkan dengan realita bahwa waktu yang ada hanya diperuntukan untuk bagaimana caranya memaksimalkan waktu yang ada untuk mengejar sebuah materi. Rutinitas yang ada, bak penjara yang tak berjeruji menjebak setiap orang tenggelam dalam kesibukannya, dan acap kali melupakan kodratnya sebagai makhluk sosial. Tak kenal dan tak peduli dengan apa yang dilakukan orang lain, globalisasi membuat manusia kini menjelma menjadi seorang yang lebih egois. Mimpi adalah hal yang sangat lumprah dan murah meriah, tapi kini banyak orang takut bermimpi untuk terbang bebas jauh menembus awan. Karena realita yang ada untuk mewujudkan mimpi yang ada terasa begitu sukar untuk diwujudnyatakan.
Pertanyaan
1. Tuntutan sering kali membuat manusia tak memiliki kebebasan, tapi bukankah tuntutan itu perlu untuk meningkatkan kerja otak?
2. Bagaimana cara bapak mengukur kebhagiaan? Sedangkan kebahagian itu sendiri relatif adanya?
“I see this life
BalasHapusLike a swinging vine
Swing my heart across the line
In my face is flashing signs
Seek it out and ye shall find
Old, but I'm not that old
Young, but I'm not that bold”
Itu sekadar melanjutkan lagu diatas hehe
Tentang kehidupan . . .
Hidup itu keindahan maka kagumilah.
Hidup itu mimpi maka wujudkanlah.
Hidup itu nyanyian maka bernyanyilah.
Hidup itu tragedi maka hadapilah.
Hidup itu berharga maka jagalah jangan dirusak.
Hidup ya hidup maka berjuanglah untuk itu.
Ketika hidup harus terbalik, berputar dan berubah arah itu hanya sementara maka jalanilah dengan ikhlas, ia akan kembali ke sedia kala.