Minggu, 30 Maret 2014

MENGHITUNG BINTANG

(Catatan kecik bagi sulungku Khal)

Lately, I've been, I've been losing sleep
Dreaming about the things that we could be
But baby, I've been, I've been praying hard,
Said, no more counting dollars
We'll be, we'll be, counting stars
(OneRepublic)

Berapa banyak di antara kita yang bisa bebas dari jeratan pekerjaan, kewajiban dan target yang harus diselesaikan? Apakah kita punya kemampuan untuk menolak pekerjaan yang menawarkan bayaran tinggi? Apakah anak-anak kita cukup diberi kebebasan dan tidak disiksa oleh pekerjaan rumah dan beragam tugas-tugas yang harus dikumpulkan, selesai atau tidak selesai? Apakah hidup di dunia ini hanya berisi pekerjaan, rutinitas, dan pengulangan yang tak kenal henti sampai kita mati? Apakah hari-hari hanya bisa dilalui dengan keketan waktu yang terasa menjerat menjepit?

Kerangkeng rutinitas hidup menyedot habis energi dan membuat kita tersungkur dalam kegalauan tak tentu. Letih yang berlebih, lelah yang membelah, mengacaukan sistem syaraf dan metabolisme kita. Mata tak lagi bisa terpejam, karena otak terus mendidih, bagai listrik  mengalami arus pendek yang membakar. Tidur manjadi kemewahan yang tak lagi dapat dinikmati. Pun bila terperosok dalam lelap tidur, mimpi buruk menyerbu. Tiba-tiba terasa seperti berada di dunia asing yang disesaki binatang purba yang buas, mengejar-ngejar dengan api menyala dimoncong yang terhunus.

Dalam ancaman yang mengerikan, didera keletihan yang terlalu, apakah berlebihan jika bermimpi mendapatkan apapun yang diinginkan. Membangun mimpi tentang hidup yang indah dan membahagiakan. Bukankah mimpi adalah cara yang murah dan menyenangkan untuk sekejab menarik jarak dari realitas yang bergerigi, tajam tak bertepi, meremukkan hidup dan menyisakan onggokan kenangan.

Mimpi kadang dapat menggatikan harapan yang tak juga terpenuhi dalam waktu yang bergerak cepat dan meninggalkan luka pada syaraf otak. Hidup bagaimana pun haruslah tetap dinikmati dan disyukuri. Dijalani dengan tetap optimis bahwa kita mampu melewati gelombang sedahsyat apapun, dan kerikil yang bukan saja dapat melukai kaki, bahkan mata. Inilah hidup, tak pernah gampang dan apa adanya.

Hidup memang sering terasa berat dan menyiksa. Karena beban, karena sepi, karena khianat, dan menguapnya harapan. Hidup kadang bagai cuaca ekstrim yang tak pernah bisa diprediksi kecenderungan dan arahnya. Bagai kapal yang hilang kemudi, bagai pesawat canggih dengan komputer dikerubutin virus.

Tak ada salahnya bila kita membuka hati dan berdoa. Doa adalah kekuatan tak terbatas yang bisa menembus langit demi langit, yang membawa kita melambung melampaui apapun yang mengikat kemanusiaan kita pada tanah, pada air, pada awan, pada apapun yang bisa dikalkulasi, dihitung, dipilah, dibagikali, ditambahkurangi.

Hidup menjadi sumur kering, padang tandus bila hanya dikalkulasi, dikuantifikasi dalam bilangan-bilangan yang pasti, ketat kaku gaya akuntan publik yang tak pernah berani memasuki dan tenggelam pada nikmatnya empati kualitatif. Angka dan bilangan akurat dan pasti, tetapi kaku dan kering.

Memang, ada kalanya kita memilih terpenjara dalam logaritma: apa yang kulakukan berapa yang kudapat, berapa modal dan berapa untung. Kita memiskinkan hidup dalam operasi hitung yang rumit, namun tak bermakna. Seakan uang bisa membeli kebahagiaan, padahal paling tinggi uang hanya mampu memberi sedikit kegembiraan yang melelahkan.

Percayalah, kebahagiaan itu hanya dapat dirasakan bila ada keberanian untuk terbang tinggi, menjauhi gravitasi keterbatasan kemanusiaan kita. Kebahagiaan adalah keberanian untuk merasakan petualangan mencari makna, memasuki ketakpastian dalam dunia bebas dari semua tarikan duniawi, melambung tinggi, menghitung bintang yang tak terbilang, membangun harapan tentang hidup yang penuh cahaya. Hidup yang berwarna karena berani melampaui cakrawala hati, terbang tinggi menuju bintang yang tak terbilang di gulita malam.

Hidup bahagia adalah cahaya, keberanian untuk merenggut cahaya yang mampu menerangi hati dan dunia. Hidup bahagia adalah kemauan dan kemampuan menghitung bintang, cahaya dan harapan yang tak pernah padam, yang tak bisa dikalkulasi dengan pendekatan akutansi. Hidup bahagia adalah terbang menuju cahaya, optimisme tanpa batas bahwa kita bisa melampaui semua kegelapan di dalam dan luar diri. Kita menjadi cahaya, menjadi bintang yang menerangi siapa pun tanpa kecuali.

MANUSIA ADALAH POTENSI TAK TERBATAS BAGAI CAHAYA, BAGAI BINTANG YANG TAK TERHITUNG, BAGAI BINTANG YANG MENERANGI SIAPA PUN, TANPA KECUALI.

2 komentar:

  1. Nama : Pathurochmah
    Kelas : P.IPS Reguler B 2013
    Tutuntan globalisasi membuat setiap orang kini dihadapkan dengan realita bahwa waktu yang ada hanya diperuntukan untuk bagaimana caranya memaksimalkan waktu yang ada untuk mengejar sebuah materi. Rutinitas yang ada, bak penjara yang tak berjeruji menjebak setiap orang tenggelam dalam kesibukannya, dan acap kali melupakan kodratnya sebagai makhluk sosial. Tak kenal dan tak peduli dengan apa yang dilakukan orang lain, globalisasi membuat manusia kini menjelma menjadi seorang yang lebih egois. Mimpi adalah hal yang sangat lumprah dan murah meriah, tapi kini banyak orang takut bermimpi untuk terbang bebas jauh menembus awan. Karena realita yang ada untuk mewujudkan mimpi yang ada terasa begitu sukar untuk diwujudnyatakan.
    Pertanyaan
    1. Tuntutan sering kali membuat manusia tak memiliki kebebasan, tapi bukankah tuntutan itu perlu untuk meningkatkan kerja otak?
    2. Bagaimana cara bapak mengukur kebhagiaan? Sedangkan kebahagian itu sendiri relatif adanya?

    BalasHapus
  2. “I see this life
    Like a swinging vine
    Swing my heart across the line
    In my face is flashing signs
    Seek it out and ye shall find
    Old, but I'm not that old
    Young, but I'm not that bold”
    Itu sekadar melanjutkan lagu diatas hehe 
    Tentang kehidupan . . .
    Hidup itu keindahan maka kagumilah.
    Hidup itu mimpi maka wujudkanlah.
    Hidup itu nyanyian maka bernyanyilah.
    Hidup itu tragedi maka hadapilah.
    Hidup itu berharga maka jagalah jangan dirusak.
    Hidup ya hidup maka berjuanglah untuk itu.
    Ketika hidup harus terbalik, berputar dan berubah arah itu hanya sementara maka jalanilah dengan ikhlas, ia akan kembali ke sedia kala.

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd