(Doa dan kenangan
bagi Osman Raliby)
Ia tua, semangat
belia. Jika berbicara masih berapi-api. Dengan sangat fasih ia berbicara
tentang dinamika dunia Islam. Ia pernah pergi ke banyak tempat untuk mengajar,
berdiskusi, berceramah, dan terus belajar. Ia benar-benar memanfaatkan semua
pengalaman perjalanannya ke berbagai tempat di berbagai negara di dunia untuk
menjelaskan banyak hal.
Ia sangat senang
menerima anak-anak muda datang berkunjung di rumahnya yang sederhana. Kami
bebas menggunakan buku miliknya yang sangat banyak. Ia selalu bersedia
disambangi bila sedang ada di rumah. Kami
menjadwalkannya cermah di banyak masjid, sebab sebagai remaja masjid,
kami sudah membentuk jejaring kerjasama untuk melakukan pembinaan berjangka
panjang dengan menghadirkan sejumlah tokoh untuk mendiskusikan beragam
perspektif tentang Islam dan kekinian.
Pertemuanku dengan
beliau bermula dari serangkaian pengajian yang kami lakukan dari masjid ke
masjid. Kami mengundang tokoh-tokoh muda yaitu M.S Kaban, Toni Ardie,
Sumargono, Syarifin Maloko, dan sejumlah nama lain. Namun yang memiliki waktu
luang untuk menyelenggarakan pengajian rutin dalam bentuk kajian ialah Yusril
Ihza Mahendra dan Husien Umar. Kedua mereka aktif di Dewan Dawah Islamiyah
Indonesia (DDII). Keduanya merupakan sekretaris M. Natsir yang merupakan
pimpinan DDII pada waktu itu.
Kami selalu
bertandang ke Kramat Raya 45 kantor pusat DDII untuk mengikuti kajian yang menampilkan
M. Natsir, M. Roem dan sejumlah tokoh Islam yang pada waktu itu berseberangan
dengan orde baru. Bagi anak SMA seperti kami, berada bersama kaum oposisi yang
sangat kritis terhadap pemerintah otoriter merupakan kebanggaan tersendiri.
Meski untuk itu kami sering berhadapan dengan aparat keamanan yaitu kodim dan kodam, bukan polisi. Rasanya waktu itu malah terasa asyik
kerena bisa memacu adrenalin, lebih mengasyikkan daripada naik gunung atau
olahraga ekstrim lainnya.
Yusril yang
memperkenalkan kami pada Osman Raliby. Karena rumahku dekat dengan rumah guru
besar itu, aku rajin berkunjung. Kemudian aku minta izin membawa sejumlah
teman. Beliau tidak keberatan. Sejak itulah kami secara teratur berkunjung ke
rumahnya. Semakin lama partisipannya bertambah terus.
Diskusi dan perbincangan
mengalir hangat dan sangat mengasyikkan. Beliau selalu meminta kami mengajukan
sejumlah pertanyaan. Setiap kami diminta untuk mempersiapkan sejumlah
pertanyaan untuk diajukan. Selama dan setelah selasai perbincangan, beliau
menganjurkan buku-buku yang harus dibaca sesuai dengan topik yang dibincangkan.
Beberapa buku kami pinjam dari beliau.
Kami sangat
tertarik saat beliau membicarakan Muhammad Iqbal, filsuf penyair asal Pakistan.
Beliau yang menerjemahkan buku Iqbal ke dalam bahasa Indonesia. Kami sungguh
sangat tidak faham, karena itu topik ini sangat menarik. Kami membaca buku itu berkali-kali,
aku juga membaca buku yang sama yang diterjemahkan oleh Goenawan Mohammad dan
Ali Audah. Sungguh, ini petualangan pemikiran yang mengasyikkan.
Beliau
menagajarkan cara belajar. Untuk bisa memahami buku Iqbal, beliau meminta kami
membaca sejumlah buku yang digunakan Iqbal sebagai landas tumpu bagi bukunya.
Itu yang menyebabkan sebagian kami membaca sejumlah besar buku untuk memahami
Iqbal. Menariknya, beliau tidak pernah melarang kami membaca buku tertentu.
Buka fikiran dan tetap kritis.
Ada yang sangat
menarik, dan kami sangat terpesona dibuatnya. Beliau dengan sangat hati-hati,
objektif, dan jernih membahas tentang politik kontenporer keindonesiaan. Ia
dengan sangat tajam menganalisis pola, perilaku, tujuan-tujuan dan
tipuan-tipuan orde baru. Kami sangat bersyukur bisa belajar dari beliau.
Sungguh tak ada
kata-kata tajam penuh emosi, dan sumpah serapah, serta makian. Ia menunjukkan
dengan sikap yang nyata bahwa Islam itu adalah rahmat. Merupakan tugas kita
sebagai umat Islam untuk tunjukkan itu. Boleh menganalisis secara tajam, bukan
mengecam secara tajam.
Belaiu benar-benar
tunjukkan kecanggihan berfikir dan kesantunan sikap sekaligus. Kami sangat
berbahagia karena beliau bersedia bercermah dan berkeliling dari masjid ke
masjid. Sebab kami yakin bahwa cara beliau menjelaskan, bersikap harus
dirasakan oleh lebih banyak orang. Terutama bagi anak-anak muda. Beliau
berhasil mengeluarkan kami dari lumpur radikalisme yang berbahaya dan
menjijikkan.
Nama : Pathurochmah
BalasHapusKelas : P.IPS Reguler B 2013
Sebagai seorang muslim saya percaya dan yakin bahwasanya Islam merupakan rahmat bagi semua makluk. Namun, kini berbagai pemahaman telah banyak keliru di kalangan masyarakat. Membuat seolah-olah bahwa jihad harus dilakukan dengan membunuh, teroris menjamur begitu banyak. Padahal Rasullulah tidak pernah mengajarkan kekerasan dalam setiap dakwahnya, beliau selalu mengajak pada perdamaian. Islam itu adalah rahmat, tolernasi yang tinggi juga mengutamakan perdamaian.
pertanyaan
1. Bagaimana cara mengembalikan pemahaman yang salah dari para teroris?
2. Dan mengapa kini pemahaman Islam banyak yang keliru?