Minggu, 30 Maret 2014

ISLAM ITU RAHMAT

(Doa dan kenangan bagi Osman Raliby)

Ia tua, semangat belia. Jika berbicara masih berapi-api. Dengan sangat fasih ia berbicara tentang dinamika dunia Islam. Ia pernah pergi ke banyak tempat untuk mengajar, berdiskusi, berceramah, dan terus belajar. Ia benar-benar memanfaatkan semua pengalaman perjalanannya ke berbagai tempat di berbagai negara di dunia untuk menjelaskan banyak hal.

Ia sangat senang menerima anak-anak muda datang berkunjung di rumahnya yang sederhana. Kami bebas menggunakan buku miliknya yang sangat banyak. Ia selalu bersedia disambangi bila sedang ada di rumah. Kami  menjadwalkannya cermah di banyak masjid, sebab sebagai remaja masjid, kami sudah membentuk jejaring kerjasama untuk melakukan pembinaan berjangka panjang dengan menghadirkan sejumlah tokoh untuk mendiskusikan beragam perspektif tentang Islam dan kekinian.

Pertemuanku dengan beliau bermula dari serangkaian pengajian yang kami lakukan dari masjid ke masjid. Kami mengundang tokoh-tokoh muda yaitu M.S Kaban, Toni Ardie, Sumargono, Syarifin Maloko, dan sejumlah nama lain. Namun yang memiliki waktu luang untuk menyelenggarakan pengajian rutin dalam bentuk kajian ialah Yusril Ihza Mahendra dan Husien Umar. Kedua mereka aktif di Dewan Dawah Islamiyah Indonesia (DDII). Keduanya merupakan sekretaris M. Natsir yang merupakan pimpinan DDII pada waktu itu.

Kami selalu bertandang ke Kramat Raya 45 kantor pusat DDII untuk mengikuti kajian yang menampilkan M. Natsir, M. Roem dan sejumlah tokoh Islam yang pada waktu itu berseberangan dengan orde baru. Bagi anak SMA seperti kami, berada bersama kaum oposisi yang sangat kritis terhadap pemerintah otoriter merupakan kebanggaan tersendiri. Meski untuk itu kami sering berhadapan dengan aparat keamanan yaitu  kodim dan kodam, bukan  polisi. Rasanya waktu itu malah terasa asyik kerena bisa memacu adrenalin, lebih mengasyikkan daripada naik gunung atau olahraga ekstrim lainnya.

Yusril yang memperkenalkan kami pada Osman Raliby. Karena rumahku dekat dengan rumah guru besar itu, aku rajin berkunjung. Kemudian aku minta izin membawa sejumlah teman. Beliau tidak keberatan. Sejak itulah kami secara teratur berkunjung ke rumahnya. Semakin lama partisipannya bertambah terus.

Diskusi dan perbincangan mengalir hangat dan sangat mengasyikkan. Beliau selalu meminta kami mengajukan sejumlah pertanyaan. Setiap kami diminta untuk mempersiapkan sejumlah pertanyaan untuk diajukan. Selama dan setelah selasai perbincangan, beliau menganjurkan buku-buku yang harus dibaca sesuai dengan topik yang dibincangkan. Beberapa buku kami pinjam dari beliau.

Kami sangat tertarik saat beliau membicarakan Muhammad Iqbal, filsuf penyair asal Pakistan. Beliau yang menerjemahkan buku Iqbal ke dalam bahasa Indonesia. Kami sungguh sangat tidak faham, karena itu topik ini sangat menarik. Kami membaca buku itu berkali-kali, aku juga membaca buku yang sama yang diterjemahkan oleh Goenawan Mohammad dan Ali Audah. Sungguh, ini petualangan pemikiran yang mengasyikkan.

Beliau menagajarkan cara belajar. Untuk bisa memahami buku Iqbal, beliau meminta kami membaca sejumlah buku yang digunakan Iqbal sebagai landas tumpu bagi bukunya. Itu yang menyebabkan sebagian kami membaca sejumlah besar buku untuk memahami Iqbal. Menariknya, beliau tidak pernah melarang kami membaca buku tertentu. Buka fikiran dan tetap kritis.

Ada yang sangat menarik, dan kami sangat terpesona dibuatnya. Beliau dengan sangat hati-hati, objektif, dan jernih membahas tentang politik kontenporer keindonesiaan. Ia dengan sangat tajam menganalisis pola, perilaku, tujuan-tujuan dan tipuan-tipuan orde baru. Kami sangat bersyukur bisa belajar dari beliau.

Sungguh tak ada kata-kata tajam penuh emosi, dan sumpah serapah, serta makian. Ia menunjukkan dengan sikap yang nyata bahwa Islam itu adalah rahmat. Merupakan tugas kita sebagai umat Islam untuk tunjukkan itu. Boleh menganalisis secara tajam, bukan mengecam secara tajam.

Belaiu benar-benar tunjukkan kecanggihan berfikir dan kesantunan sikap sekaligus. Kami sangat berbahagia karena beliau bersedia bercermah dan berkeliling dari masjid ke masjid. Sebab kami yakin bahwa cara beliau menjelaskan, bersikap harus dirasakan oleh lebih banyak orang. Terutama bagi anak-anak muda. Beliau berhasil mengeluarkan kami dari lumpur radikalisme yang berbahaya dan menjijikkan.

ISLAM ADALAH RAHMAT BAGI SEMUA MAKHLUK.

1 komentar:

  1. Nama : Pathurochmah
    Kelas : P.IPS Reguler B 2013
    Sebagai seorang muslim saya percaya dan yakin bahwasanya Islam merupakan rahmat bagi semua makluk. Namun, kini berbagai pemahaman telah banyak keliru di kalangan masyarakat. Membuat seolah-olah bahwa jihad harus dilakukan dengan membunuh, teroris menjamur begitu banyak. Padahal Rasullulah tidak pernah mengajarkan kekerasan dalam setiap dakwahnya, beliau selalu mengajak pada perdamaian. Islam itu adalah rahmat, tolernasi yang tinggi juga mengutamakan perdamaian.
    pertanyaan
    1. Bagaimana cara mengembalikan pemahaman yang salah dari para teroris?
    2. Dan mengapa kini pemahaman Islam banyak yang keliru?

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd