(Doa dan
penghargaan bagi Soedjatmoko)
Soedajatmoko
adalah oase bagi banyak orang Indonesia. Ia salah seorang cendekiawan dunia
ketiga yang paling didengar di mana-mana. Ia seorang 'pelintas batas' yang
memiliki kemampuan untuk melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang
berbeda, dan punya keberanian besar untuk menempuh jalan sebaliknya yang dihindari
banyak orang.
Ia sangat kalem,
santun, bijak, namun sangat tajam dalam analisis. Ia selalu tunjukkan di mana
ia berdiri, dengan tegas, meski harus berhadapan dengan resiko yang kadang
sangat getir. Ia sungguh cendekiawan seperti yang ditulis dalam banyak buku
sebagai orang yang berumah di atas angin.
Aku berkenalan
dengannya berkat jasa Ibu Conny R. Semiawan yang pada waktu itu (1988) adalah
Rektor IKIP Jakarta. Kami anak-anak muda di IKIP memiliki keprihatinan besar
terkait dengan haluan pendidikan nasional yang menurut penghayatan dan analisis
kami sedang berada di persimpangan jalan.
Rezim otoriter
orde baru sungguh menjadikan pendidikan sebagai tempat penyemaian sikap
monoloyalitas pada pemerintah yang antikritik. Pencekokan ideologi yang hanya
boleh ditafsirkan oleh penguasa menjadi menu utama pada semua jenjang
pendidikan dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Penataran Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) menjadi ritual wajib yang dipaksakan
dan membuat kita secara psikologis muntah-muntah karena bosan, muak dan jengah.
Politisasi
pendidikan sangat kental. Daya kritis disamakan dengan subversi, dan pendidikan
melulu diarahkan pada keterampilan teknis dan kehilangan dimensi kebudayaan dan
kemanusiaan. Keprihatinan inilah yang menbuat kami sangat berkeinginan untuk
membincangkan topik ini dan mencarirumuskan jalan-jalan baru sebagai alternan
bagi beragam masalah akut ini.
Kami ingin
mengumpulkan sejumlah cendekiawan kritis di kampus IKIP Jakarta untuk
membincangkan topik ini. Harus ada seorang pembicara berkaliber yang daya
gaungnya harus sangat luar biasa. Kami semua sepakat untuk memilih Soedjatmoko
yang baru pulang dari luar negeri sebagai pembicara kunci.
Kami adalah
generasi yang tak pernah berhubungan dengannya, meski getol membaca
tulisan-tulisannya yang bernas dan cergas. Jadi dibutuhkan usaha keras untuk
bisa malkukan komunikasi dan membangun saling pemahaman.
Ibu Conny R.
Semiawan menjembatani hubungan kami. Dalam jumlah yang cukup besar kami
menyambangi rumahnya di Jl. Tanjung. Karena aku ketua panitia pengarah, maka
waktu berkomunikasi dengannya menjadi sangat banyak dan intens. Di luar
dugaanku, ia rupanya ingin mendengar banyak hal tentang perkembangan pendidikan
di tanah air.
Beberapa kali ia
memanggilku ke rumahnya untuk menjelaskan perkembangan praktik-praktik nyata
proses pendidikan yang sesungguhnya di lapangan, pada semua tingkat. Ia
memintaku untuk mencerikatakan apa saja yang menjadi anomali dalam sistem
pendidikan kita. Apa yang menjadi persoalan pokok dan berapa akut masalahnya.
Rupanya ia telah menyiapkan sejumlah pertanyaan. Aku sepenuhnya sadar, orang
sekaliber dia pastilah tahu banyak hal. Namun, kehendaknya untuk mendengarkan,
bagiku merupakan suatu anugerah besar.
Kesempatan ini
sungguh sangat luar biasa bagiku, karena mendapat kesempatan menjadi murid dari
seorang cendekiawan berkaliber internasional. Seorang cendekiawan yang mampu
merubah pandangan pesimis Club Of Rome yang mempopulerkan gagasan batas-batas pertumbuhan.
Caranya berbicara
dan mendengarkanku dan sejumlah teman yang kubawa ke rumahnya untuk berdiskusi
sungguh sangat membangun semangat dan perhomatan. Ia seorang pendengar yang
empatis dan sangat sabar. Seringkali ia mengubah posisi duduknya untuk
mendengarkan lebih tekun uraian kami. Dan yang sangat mengagumkan adalah ia
mencatat sejumlah hal yang kami katakan. Ia kemudian bertanya lebih dalam
tentang beberapa hal yang memang sangat menarik untuk dibicarakan.
Ia mengajakku
untuk menemaninya memenuhi undangan ke sejumlah tempat di Jakarta. Waktu itu ia
memang diundang ke banyak tempat untuk berbicara, dengan topik-topik yang
sangat beragam. Ia tidak pernah berbicara tanpa makalah, dan mengetik sendiri
semua makalahnya.
Bila berbicara,
konstruksi fikirnya sangat terstruktur dan bahasanya sungguh teratur,
benar-benar seperti tulisan yang tertata dengan baik. Ia sangat kalem dan
jernih saat menjelasuraikan pandangan-pandangannya. Ia selalu berhasil
menemurumuskan persoalan-persoalan pokok dari sesuatu masalah dan mampu
memberikan sudut pandang yang sama sekali berbeda dengan pandangan kebanyakan
orang.
Setiap kali para
partisipan berbicara, ia dengan sabar dan penuh perhatian mendengar dan memberi
apresiasi. Ia tak pernah menunjukkan raut wajah yang kurang menyenangkan saat
pandangannya dipersoalkan dan diserang. Ia juga tak pernah menunjukkan sikap
dan ucapan negatif terhadap para pengeritiknya yang tampak sekali menilai
fikiran-fikirannya secara parsial.
Ia bersedia
berbicara dengan siapa pun, dengan topik apapun. Apapun topik yang dibicarakan
ia selalu menunjukkan apa yang menjadi fokus dan keprihatinannya. Baginya
pembelaan terhadap marbatat manusia, dan perjuangan habis-habisan bagi
emansipasi orang miskin dan penegakan keadilan adalah perjuangan yang harus
terus diupayakan tanpa mengenal lelah. Pandangan-pandangannya sangat visioner,
seringkali melampaui zamannya. Sungguh cakrawala pemikirannya bagai pelangi
dilangit biru. Sangat berwarna, indah, dan luas. Ia sungguh pelintas batas yang
tidak pernah terperangkap dalam spesialisasi yang sempit dan kaku. Ia seorang
pendakwah kebebasan, martabat, dan kesetaraan manusia. Baginya pembangunan dan
semua upaya yang tidak menghormati dan memekarkan kebebasan, martabat, dan
kesetaraan manusia adalah sebentuk kezhaliman.
Saat aku kemukakan
niat menulis pemikiran-pemikirannya bagi tema skripsiku, ia tersenyum dan menganggapku
terlalu serius. Aku bersyukur bahwa aku berhasil mewujudkan niat itu, dan atas inisiatif
Yayasan Soedjatmoko dan Gramedia, skripsi itu diterbitkan sebagai buku dengan
judul Pemikiran Soedjatmoko tentang Kebebasan.
Pergaulan,
komunikasi, dan interaksiku dengannya sangat bermakna bagiku. Aku sungguh
belajar tentang kecanggihan berfikir, kekuatan dan kelurusan argumentasi, dan
kerendahan hati seorang begawan.
Nama : Pathurochmah
BalasHapusKelas : P.IPS Reguler B 2013
Maikin berisi padi maka akan semakin merunduk, saya rasa pepatah lama ini patut disematkan bagi bapak Soedjatmoko ini. Karena sering kali banyak orang hebat menyombongkan dirinya, merasa bahwa apa yang diperbuatnya melebihi orang-orang pada umumnya. Bukan hal yang mudah untuk bisa rendah hati seperti itu. Berpikir kritis juga agak sulit untuk memulainya karena pada dasarnya pemikiran kritis timbul dari sikap ketidakpuasaan dan keingintahuan yang menggebu. Kadang setiap orang takut untuk berfikiran berbeda dengan yang lainnya, apalagi mengungkapkan aspirasi yang ada. Hal ini terjadi karena kita cenderung mengikuti pola yang ada dan tidak berani untuk melakukan perubahan.
pertanyaan
1. Bagimana cara menumbuhkan sikap kritis?
2. Apa yang membuat seseorang berani untuk mengungkapkan aspirasinya?
Bagaimana caranya saya hendak mendapat buku-buku Dr.Soedjatmoko? Saya tinggal di Malaysia.
BalasHapus