Minggu, 30 Maret 2014

SYAHWAT KUASA

Mendengarkan berbagai penyataan para politisi kadang terasa lucu, mengagetkan, memuakkan, bahkan menjijikkan. Mereka suka pura-pura lupa dan masa bodoh dengan kenyataan terkait dengan partai dan diri mereka sendiri. Mungkin karena sudah merasa menjadi tokoh publik dan dikelilingi orang yang mabuk kuasa, para pengikut yang tidak memiliki daya kritis, mereka sering lupa diri. Tak pernah menyadari ukuran baju sendiri. Pernyataan mereka seringkali mengabaikan bahwa rakyat sudah berubah dibandingkan zaman orde baru dulu.

Mereka sengat kritis terhadap partai lain dan tokoh dari partai lain, tetapi tidak pernah kritis terhadap diri sendiri. Mereka sibuk menjelek-jelekkan, membongkar kesalahan tokoh dan partai lain, dan lupa pada kejelekan dan kesalahan tokoh dan partai sendiri. Mereka lupa rakyat juga tahu reputasi, kapasistas dan semua borok mereka.

Mereka sering menunjukkan sikap kekanak-kanakan, kampungan dan narsis yang berlebihan. Mereka lupa bahwa tidak semua rakyat bisa dipengaruhi dengan pendekatan emosional. Dalam jumlah yang sangat besar rakyat masih waras dan menggunakan akal sehatnya.

Dalam konteks seperti itulah terasa menggelikan ada partai politik menyalahkan tokoh dan partai lain karena tidak mendukung mereka. Mestinya partai politik itu membangun kekuatan sendiri semaksimal mungkin dengan cara-cara yang legal, rasional, dan elegan. Dengan kekuatan itu mereka kemudian membangun koalisi yang konstruktif, positif, dan bermartabat.

Bukannya sibuk memaki-maki tokoh dan partai lain karena merasa tidak didukung, kemudian melakukan kampanye negatif terhadap tokoh dan partai lain tersebut. Cara-cara kotor seperti itu mestinya tidak terjadi lagi dalam politik moderen kita.

Semua ini terjadi karena syahwat kuasa yang sangat berlebihan. Kesannya tak terkendali. Akhirnya menghalalkan segala cara. Mungkin inilah bentuk kehendak untuk berkuasa yang sangat negatif tampilannya. Akibatnya tak ada lagi akal sehat, yang muncul ungkapan emosi yang melulu negatif. Sungguh cara-cara seperti ini merupakan bentuk pendidikan politik yang sangat buruk bagi rakyat banyak.

Merupakan hal yang bisa diterima bila setiap partai politik berusaha keras untuk mendapatkan dukungan rakyat. Kita pastilah menghargai kerja keras itu. Namun, merupakan kesalahan sangat besar bila pencarian dukungan itu dilakukan maksimal pada saat kampanye pemilu dengan cara-cara yang dapat dikategorikan lebay, alay, dan lebih emosional daripada rasional. Bentuk irasionalitas itu misalnya tidak memperdulikan berapa suara yang pernah diraih dan berapa prediksi suara yang dapat diraih dalam pileg yang akan berlangsung. Konyol kan, ada partai yang kemungkinan perolehan suaranya, berdasarkan regulasi yang ada, tidak memungkinnya mengajukan calon presiden, malah buru-buru mengumumkan calon presiden dan bersibuk diri menyerang calon lain. Ini namanya politik onani atau masturbasi. Dengan agak sarkas bisa dibilang sikap ini merupakan politik paranoid alias sakit jiwa akut.

Mestinya reputasi itu dibangun sejak mereka dipilih sampai pemilihan berikutnya. Masyarakat kan tidak buta, dan bisa menilai. Apa dikira iklan habis-habisan yang membuang uang milyaran bisa membuat rakyat lupa pada perilaku buruk yang selama ini sudah terungkap secara telanjang di depan publik seperti korupsi dan kegagalan memenuhi janji politik yang telah pernah diungkapkan?

Berdasarkan beragam perilaku dan pernyataan yang kini mereka tumpahkan, tampak betul bahwa yang paling mengemuka adalah syahwat kuasa. Mencaridapatkan kekuasaan dengan cara apapun. Omongan tentang rakyat agaknya cuma pemulas bibir untuk menarik perhatian.

Kita sungguh berharap para politisi dan partai politik lebih mnegedepankan kejujuran, rasionalitas, komitmen dan integritas. Hanya menggunakan strategi yang rasional, komunikatif, dengan mengemukakan program yang jelas dan terukur, dan sama sekali tidak menggunakan cara-cara negatif, serta mengharu biru emosi-emosi negatif. Yang juga sangat penting adalah menahan diri untuk tidak menggunakan isu-isu sara yang bisa meluluhlantakkan kebhinekaan Indonesia hanya demi kuasa. Keutuhan Indonesia sebagai negara bangsa harus tetap dijaga, dipertahankan dan dikedepankan. Terlalu mahal menggadaikannya demi kekuasaan yang bersifat jangka pendek.

Bagaimanapun keadaannya, kekuasaan hanyalah alat atau piranti yang bisa digunakan untuk mensejahterakan rakyat, membangun Indonesia menjadi negara yang berdaulat, mandiri, maju, sejahtera, dan berkeadlian. Menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dan mempertaruhkan apa saja pun untuk mendapatkannya sungguh sangat mengancam keberadaan dan kebertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga pemilu kali ini sungguh dapat menghasilkan yang terbaik bagi kita, dan pemenangnya adalah rakyat Indonesia secara keseluruhan. Konsekuensinya, merupakan keniscayaan untuk menegakkan dan mempraktikkan sikap jujur dan rasional, sebab

KOMPETISI POLITIK YANG TIDAK JUJUR DAN TIDAK RASIONAL HANYA AKAN MENGHASILKAN GEROMBOLAN DAN PENGKHIANAT ASPIRASI RAKYAT.

2 komentar:

  1. Nama : Vivich Husnul Khotimah
    NIM : 4915131387
    Jurusan : Pendidikan IPS
    Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
    Pada dasarnya manusia mempunyai hasrat untuk berkuasa dan mempunyai kehendak untuk berkuasa memaksakan kehendaknya terhadap orang lain. Namun, yang terjadi adalah hasrat untuk berkuasa itu sering kali sulit untuk dikendalikan dan untuk mendapatkan kekuasaan dalam rangka memenuhi hasrat tersebut manusia melakukan berbagai cara agar hasrat tersebut terpenuhi baik dengan cara yang bersih maupun dengan cara yang kotor. Tetapi yang sering kita temui di masyarakatr luas adalah cara-cara kotor yang ditempuh para politisi untuk mendapatkan kekuasaan. Sehingga ini sangat mencoreng dunia perpolitikan.
    Tahun 2014 ini adalah tahun pemilu dan tahunnya masyarakat untuk memilih pemimpin yang berkompeten dan mampu membawa negeri ini menjadi lebih baik dari kepemimpinan sebelumnya. Kita lihat bahwa partai politik pada saat ini sedang gencar-gencarnya berkompetisi untuk mempromosikan partai politiknya masaing-masing, bagaikan seorang SPG atau SPB yang sedang menjual produknya dan berharap produk tersebut terjual habis.
    Banyak cara yang dilakukan oleh para partai politik maupun calon presiden yang diusung oleh masing-masing partai untuk meminta dukungan dengan lebih tepatnya adalah untuk meminta suara agar bisa menaikan calon presidennya untuk Pilpres 2014, seperti dengan turun ke jalan, memasang iklan, membuat acara seperti kuis yang mengatasnamakan partai, memasang umbul-umbul dan lain sebagainya. Contohnya saja seperti acara bagi-bagi uang yang dikemas dengan acara reality show, kuis pintar dan lainnya. apakah ini tidak termasuk ke dalam moneypolitic? Tentu masyarakat Indonesia yang sudah modern seperti sekarang ini bisa menilai sendiri dan kritis terhadap hal seperti itu. Bagaimana jika musim pemilu telah selesai, apakah masih ada acara kuis pintar atau reality show yang lebih contok dan diperuntukan pada masyarakat kalangan bawah?. Dunia perpolitikan sudah menguasai industri pertelevisian, karena televisi lah yang dianggap mampu mendongkrak suara karena dekat dengan masyarakat. Lihatlah pada iklan ditelevisi, para partai politik beramai-ramai untuk memasang iklannya. Dan tahukah anda, bahwa televisi yang dimiliki oleh beberapa pembesar partai jika anda amati hanya memberitakan hal yang baik-baik saja terhadap partai pembesar itu, bukankah ada keburukan dari partai tersebut? Lalu mengapa tidak diberitakan hal seperti itu agar masyarakat tahu keburukan dari setiap partai yang diketahuinya dan bukan hanya kebaikan dari partai tersebut.
    Banyak para calon legislatif dan bahkan calon presiden mulai melakukan pawai dan meminta dukungan untuk maju. Banyak janji yang mereka tebarkan kepada masyarakat dan memulai untuk turun ke dalam masyarakat yang biasa kita sebut dengan Turba (turun ke bawah), para calon mulai memasuki masyarakat dengan mengikuti kegiatan kemasyarakatan seperti pengajian, arisan, dan lain sebagainya. Apakah setelah mereka terpilih hal tersebut masih dilakukan? Apakah setelah mereka terpilih akan memikirkan nasib rakyatnya?. Dan yang dirugikan akibat dari permainan politik adalah rakyat.
    Kita sebagai masyarakat yang cerdas diharapkan peka terhadap kasus seperti itu, dan memilah-milih serta mencari tahu siapakah pemimpin yang nantinya akan kita pilih agar tidak salah pilih. Suara kita menentukan akan seperti apa negara kita selama 5 tahun kedepan. Pemilih cerdas akan mengahasilkan pemimpin yang cerdas pula.
    Pertanyaan :
    1. Bagaimana cara membangun sikap kritis pada masyarakat dalam memilih pemimpin negara?
    2. Bagaimana mengendalikan syahwat kuasa tersebut dalam diri setiap individu?
    3. Mengapa dunia perpolitikan sering diwarnai oleh kompetisi yang berujung pada pemikiran yang irasional, tidak jujur dan kotor?

    BalasHapus
  2. Nama : Pathurochmah
    Kelas : P.IPS Reguler B 2013
    Bukankah kekuasaan itu memang bisa membabi butakan segalanya??? Karena dengan kekuasaan seseorang dapat memiliki pengaruh yang besar dalam suatu negara. Hakikatnya manusia memiliki sifat yang lumprah seperti ini, tapi orang yang hebat bukanlah mereka yang berhasil memanaipulasi semua orang demi sebuah kekuasaan yang sesaat. Persaingan dalam dunia politik menjadi hal yang wajar, namun persaingan yang picik dan kotorlah yang harus kita hindari. Rakyat seolah menjadi sebuah permainan yang bisa dijanjikan beragam kenikmatan yang tak kunjung diberikan, membuat rakyat jengah hal ini terlihat dari tingkat golput yang naik setiap tahunnya.
    petanyaan
    1. Mungkinkah penunjukkan seorang penguasa dari rakyat bisa menjadi solusi dari persaingan perpolitikan?
    2. Bagimana cara mengerem syahwat kekasaan itu?

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd