Senin, 24 Desember 2012

SISI KASAR SPONGE BOB



Sponge Bob dan Patrick berencana akan pergi ke taman bermain. Untuk memastikan mendapat bus yang pertama, Sponge memilih tidur di tempat perhentian bus. Pagi tiba, orang-orang mulai berdatangan ke perhentian bus, mereka meminta berdiri di depan Sponge Bob. Ia tidak dapat mengatakan tidak dan memberikan tempatnya, akhirnya ia menjadi orang paling belakang. Bus yang ditunggu datang bersaaman dengan Patrick tiba. Patrick langsung naik ke bus. Sponge Bob tidak naik karena Sandy meminta bantuannya. Sponge Bob tak dapat menolaknya.

Begitulah terus-menerus. Setiap kali bus berhenti, ada yang meminta bantuannya, Sponge Bob tak kuasa mengatakan tidak, menolong orang, dan ketinggalan bus. Sampai akhinya Patrick pulang dari tempat bermain dengan kegembiraan dan membawa sejumlah mainan. Sponge Bob menyesal karena tidak dapat pergi. Patrick dengan santai mengeritik sikap Sponge Bob yang tidak berani mengatakan tidak dan tidak dapat menikmati kesenangan bermain.

Sponge Bob kesal dan sedih pulang ke rumah. Garry peliharaannya sangat prihatin mendengar penjelasan Sponge. Garry kemudian memesan sponge yang kasar untuk dikenakan Sponge Bob. Sponge Bob senang sekali dan segera mengenakannya.

Sponge Bob yang dikenal suka menolong dan sopan, terutama pada orang tua kini berubah sama sekali. Setiap kali ada yang meminta tolong, ia berbalik badan menampakkan sisi kasarnya dan menyatakan tidak dengan kasar. Siapa pun yang meminta tolong termasuk sang nenek, ia mengatakan tidak dengan membentak.

Ketika bertemu Patrick ia juga bersikap sama. Patrick mengingatkannya bahwa ia tidak boleh bersikap kasar seperti itu. Kini Sponge Bob bingung, ia ingin kembali seperti semula tapi tak bisa. Ia sepenuhnya dikuasai sisi kasarnya. Ia merasa benar-benar menjadi orang yang lain sama sekali. Ia sangat terganggu dan sedih.

Untunglah Patrick dapat membantunya melepaskan sisi kasarnya itu. Ia kini gembira karena menjadi dirinya lagi. Namun sayang sekali, orang-orang masih menjauhinya dan bersikap kasar padanya. Sponge Bob bingung, takut dan sedih.

Mengatakan YA tampaknya lebih mudah daripada TIDAK. Sebab mengatakan tidak itu mengandung lebih banyak konsekuensi dan resiko. Sementara mengatakan ya biasanya menyenangkan orang dan bisa menjamin keselamatan, terutama bagi para pejabat ketika berbicara pada atasannya.

Mengatakan tidak seringkali bisa mendatangkan kesulitan yang membelit. Lihatlah partai penguasa yang dulu berkampanye KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI. Ketika para kadernya terjerat dan terbelit kasus korupsi, tak ada yang dapat mereka lakukan untuk membela diri, kecuali menyebut partai lain juga korupsi. Tentu saja ini sebuah pengakuan bahwa partai mereka sama korupnya dengan partai lain. Sialnya, masyarakat menvonis mereka lebih korup dan ingkar janji, tidak amanah dan tidak konsisten. Karena, berbeda dengan partai lain, mereka tampil sebagai partai baru yang anti korupsi. Ternyata, setelah berkuasa, ya... sama saja.... tidak dapat mengatakan tidak pada godaan materi.

Mengatakan tidak memang butuh keberanian. Filsuf eksistensialis seperti Nietzsche dan Sartre meyakini, kata tidak merupakan tanda kebebasan dan memantapkan keberadaan manusia sebagai individu, bahkan sebagai manusia. Kata tidak mengisyaratkan penolakan. Penolakan terhadap ketundukan pada dominasi dan kuasa pihak lain. Kata tidak bukan saja memiliki kekuatan untuk menarik jarak, tetapi sekaligus menciptakan garis batas atau demarkasi. Resiko menjadi niscaya.

Kita masih ingat zaman orde baru, saat negeri ini berada dalam cengkeraman diktator yang pura-pura demokratis. Mengatakan tidak pada asas tunggal Pancasila beresiko penjara dan mati. Jangankan mengatakan tidak, bersikap netral atau abstain saja bisa sangat beresiko, terutama saat pemilihan umum. PNS yang ketahuan golput bisa menderita dan terus-menerus diganggu. Golput yang sebenarnya bermakna abstain, dulu dimaknai sikap penolakan, atau penidakan yang halus.

Sekarang banyak PNS terutama guru dan kepala sekolah yang tidak mau telibat politik atau bersikap netral saat pilkada, bisa terancam di mutasi ke tempat jin janjian ama syetan. Sebab dianggap menyatakan tidak atau menolak sang kepala daerah yang ngotot mau dipilih lagi.

Ya.., kata tidak memang beresiko. Dan tidak setiap orang bisa dan mau menerima resiko. Bukan hanya itu, kata tidak juga merupakan keputusan yang membutuhkan kekritisan. Kemampuan melakukan analisis dan sintesis sekaligus. Tentu saja tiga serangkai kemampuan dasar manusia nornal yaitu memillah, memilih dan mengolah, dibutuhkan untuk berdikap kritis. Tetapi yang lebih penting adalah keberanian dan kejujuran. Banyak orang yang sangat  pintar menganalisis dan menemukan kesalahan, misalnya pada kebijakan yang dijalankan pimpinan. Namun, tak berani bilang tidak, karena takut disingkirkan. Orang seperti ini cuma cari selamat dan mengorbankan kebenaran. Mereka biasa disebut pengecut yang bermental kecut, bernyali rambut.

Kata tidak juga menuntut tanggunjawab dan konsistensi. Dalam Islam, pengakuan akan keyakinan fundamental dimulai dengan kata tidak yaitu TIDAK ADA TUHAN, SELAIN ALLAH. Maknanya semua sesembahan, dominasi, kecenderungan, ketakuatan, penghomatan, ketundukan, kepasrahaan kepada apapun yang dianggap super harus dikikis tuntas. Hanya ada satu yang berhak untuk itu semua yaitu ALLAH. Ini bukan pernyataan sederhana, karena itu tak mudah untuk melaksanakannya. Terkadang, tidur saja bisa mengalahkan kewajiban shalat. Tak heran jika ada orang yang gelarnya lebih panjang dari namanya, pakai kiyai haji lagi, tapi korupsi. Ini karena tak mampu jalankan amanah sebagai konsekuensi dari keyakinan fundamental itu. Banyak orang yang shalat rajin, maksiat gak kalah rajin. STMJ kata anak muda, shalat terus, maksiat jalan.

Hidup memang tidak pernah mudah. Tidak cukup hanya diisi dengan kata tidak. Hidup pada hakikatnya adalah implementasi kebebasan dalam realitas, yang diujudkan dengan kemampuan memilih, yaitu mengafirmasi dengan ya, dan menegasi dengan kata tidak, setiap waktu. Hidup tak bisa dijalani dengan hanya ya, atau tidak saja. Keduanya harus digunakan dengan tepat, akurat dan bijak.

Kesalahan Sponge Bob adalah ia hanya mengembangkan sikap dan habitus atau kebiasaan ya, hampir pada semua hal. Memang menyenangkan banyak orang, tetapi menghanyuttenggelamkan dirinya sendiri. Ketika sadar, ia berbalik total dengan cara mengatakan tidak pada apa dan siapa pun. Ia malah sekaligus kehilangan diri dan orang lain. Ia terjerembab dalam kesendirian pahit kesepian. Dunianya sunyi senyap, solitaritas ekstrim yang mengerikan. Bijaklah untuk mengungkapkan ya dan tidak, karena

HIDUP MANUSIA SANGAT DITENTUKAN KEMAMPUAN MENGGUNAKAN YA DAN TIDAK SECARA TEPAT DAN BIJAK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd