Sponge Bob dan Patrick berencana akan
pergi ke taman bermain. Untuk memastikan mendapat bus yang pertama, Sponge
memilih tidur di tempat perhentian bus. Pagi tiba, orang-orang mulai
berdatangan ke perhentian bus, mereka meminta berdiri di depan Sponge Bob. Ia
tidak dapat mengatakan tidak dan memberikan tempatnya, akhirnya ia menjadi
orang paling belakang. Bus yang ditunggu datang bersaaman dengan Patrick tiba. Patrick
langsung naik ke bus. Sponge Bob tidak naik karena Sandy meminta bantuannya.
Sponge Bob tak dapat menolaknya.
Begitulah terus-menerus. Setiap kali
bus berhenti, ada yang meminta bantuannya, Sponge Bob tak kuasa mengatakan
tidak, menolong orang, dan ketinggalan bus. Sampai akhinya Patrick pulang dari
tempat bermain dengan kegembiraan dan membawa sejumlah mainan. Sponge Bob
menyesal karena tidak dapat pergi. Patrick dengan santai mengeritik sikap
Sponge Bob yang tidak berani mengatakan tidak dan tidak dapat menikmati
kesenangan bermain.
Sponge Bob kesal dan sedih pulang ke
rumah. Garry peliharaannya sangat prihatin mendengar penjelasan Sponge. Garry
kemudian memesan sponge yang kasar untuk dikenakan Sponge Bob. Sponge Bob
senang sekali dan segera mengenakannya.
Sponge Bob yang dikenal suka menolong
dan sopan, terutama pada orang tua kini berubah sama sekali. Setiap kali ada
yang meminta tolong, ia berbalik badan menampakkan sisi kasarnya dan menyatakan
tidak dengan kasar. Siapa pun yang meminta tolong termasuk sang nenek, ia
mengatakan tidak dengan membentak.
Ketika bertemu Patrick ia juga bersikap
sama. Patrick mengingatkannya bahwa ia tidak boleh bersikap kasar seperti itu.
Kini Sponge Bob bingung, ia ingin kembali seperti semula tapi tak bisa. Ia
sepenuhnya dikuasai sisi kasarnya. Ia merasa benar-benar menjadi orang yang
lain sama sekali. Ia sangat terganggu dan sedih.
Untunglah Patrick dapat membantunya
melepaskan sisi kasarnya itu. Ia kini gembira karena menjadi dirinya lagi.
Namun sayang sekali, orang-orang masih menjauhinya dan bersikap kasar padanya.
Sponge Bob bingung, takut dan sedih.
Mengatakan YA tampaknya lebih mudah
daripada TIDAK. Sebab mengatakan tidak itu mengandung lebih banyak konsekuensi
dan resiko. Sementara mengatakan ya biasanya menyenangkan orang dan bisa
menjamin keselamatan, terutama bagi para pejabat ketika berbicara pada
atasannya.
Mengatakan tidak seringkali bisa
mendatangkan kesulitan yang membelit. Lihatlah partai penguasa yang dulu
berkampanye KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI. Ketika para kadernya terjerat dan
terbelit kasus korupsi, tak ada yang dapat mereka lakukan untuk membela diri,
kecuali menyebut partai lain juga korupsi. Tentu saja ini sebuah pengakuan
bahwa partai mereka sama korupnya dengan partai lain. Sialnya, masyarakat
menvonis mereka lebih korup dan ingkar janji, tidak amanah dan tidak konsisten.
Karena, berbeda dengan partai lain, mereka tampil sebagai partai baru yang anti
korupsi. Ternyata, setelah berkuasa, ya... sama saja.... tidak dapat mengatakan
tidak pada godaan materi.
Mengatakan tidak memang butuh
keberanian. Filsuf eksistensialis seperti Nietzsche dan Sartre meyakini, kata
tidak merupakan tanda kebebasan dan memantapkan keberadaan manusia sebagai
individu, bahkan sebagai manusia. Kata tidak mengisyaratkan penolakan.
Penolakan terhadap ketundukan pada dominasi dan kuasa pihak lain. Kata tidak
bukan saja memiliki kekuatan untuk menarik jarak, tetapi sekaligus menciptakan
garis batas atau demarkasi. Resiko menjadi niscaya.
Kita masih ingat zaman orde baru, saat
negeri ini berada dalam cengkeraman diktator yang pura-pura demokratis.
Mengatakan tidak pada asas tunggal Pancasila beresiko penjara dan mati.
Jangankan mengatakan tidak, bersikap netral atau abstain saja bisa sangat
beresiko, terutama saat pemilihan umum. PNS yang ketahuan golput bisa menderita
dan terus-menerus diganggu. Golput yang sebenarnya bermakna abstain, dulu
dimaknai sikap penolakan, atau penidakan yang halus.
Sekarang banyak PNS terutama guru dan
kepala sekolah yang tidak mau telibat politik atau bersikap netral saat
pilkada, bisa terancam di mutasi ke tempat jin janjian ama syetan. Sebab
dianggap menyatakan tidak atau menolak sang kepala daerah yang ngotot mau
dipilih lagi.
Ya.., kata tidak memang beresiko. Dan
tidak setiap orang bisa dan mau menerima resiko. Bukan hanya itu, kata tidak
juga merupakan keputusan yang membutuhkan kekritisan. Kemampuan melakukan
analisis dan sintesis sekaligus. Tentu saja tiga serangkai kemampuan dasar
manusia nornal yaitu memillah, memilih dan mengolah, dibutuhkan untuk berdikap
kritis. Tetapi yang lebih penting adalah keberanian dan kejujuran. Banyak orang
yang sangat pintar menganalisis dan
menemukan kesalahan, misalnya pada kebijakan yang dijalankan pimpinan. Namun,
tak berani bilang tidak, karena takut disingkirkan. Orang seperti ini cuma cari
selamat dan mengorbankan kebenaran. Mereka biasa disebut pengecut yang
bermental kecut, bernyali rambut.
Kata tidak juga menuntut tanggunjawab
dan konsistensi. Dalam Islam, pengakuan akan keyakinan fundamental dimulai
dengan kata tidak yaitu TIDAK ADA TUHAN, SELAIN ALLAH. Maknanya semua
sesembahan, dominasi, kecenderungan, ketakuatan, penghomatan, ketundukan,
kepasrahaan kepada apapun yang dianggap super harus dikikis tuntas. Hanya ada
satu yang berhak untuk itu semua yaitu ALLAH. Ini bukan pernyataan sederhana,
karena itu tak mudah untuk melaksanakannya. Terkadang, tidur saja bisa
mengalahkan kewajiban shalat. Tak heran jika ada orang yang gelarnya lebih
panjang dari namanya, pakai kiyai haji lagi, tapi korupsi. Ini karena tak mampu
jalankan amanah sebagai konsekuensi dari keyakinan fundamental itu. Banyak
orang yang shalat rajin, maksiat gak kalah rajin. STMJ kata anak muda, shalat
terus, maksiat jalan.
Hidup memang tidak pernah mudah. Tidak
cukup hanya diisi dengan kata tidak. Hidup pada hakikatnya adalah implementasi
kebebasan dalam realitas, yang diujudkan dengan kemampuan memilih, yaitu
mengafirmasi dengan ya, dan menegasi dengan kata tidak, setiap waktu. Hidup tak
bisa dijalani dengan hanya ya, atau tidak saja. Keduanya harus digunakan dengan
tepat, akurat dan bijak.
Kesalahan Sponge Bob adalah ia hanya
mengembangkan sikap dan habitus atau kebiasaan ya, hampir pada semua hal.
Memang menyenangkan banyak orang, tetapi menghanyuttenggelamkan dirinya
sendiri. Ketika sadar, ia berbalik total dengan cara mengatakan tidak pada apa
dan siapa pun. Ia malah sekaligus kehilangan diri dan orang lain. Ia
terjerembab dalam kesendirian pahit kesepian. Dunianya sunyi senyap,
solitaritas ekstrim yang mengerikan. Bijaklah untuk mengungkapkan ya dan tidak,
karena
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd