Entah kenapa, tubuh Garry, peliharaan
Sponge Bob bisa menyedot uang logam dan menembel di cangkangnya. Begitu tuan
Krab tahu, Garry ia ambil alih dan memerintahkan Sponge Bob melakukan berbagai
kerjaan yang tidak biasa seperti memeriksa semua paku yang sudah tertancap di
seluruh restoran.
Ternyata sementara Sponge bekerja, tuan
Krab memanfaatkan Garry untuk merampas uang receh. Di mulai di restoran,
sampai-sampai para pelanggannya lari, dan di jalan-jalan. Akhirnya, tuan Krab
menemukan tempat yang sangat banyak uang recehnya yaitu pusat permainan yang
menggunakan uang receh untuk mengoperasikannya.
Garry sudah tak kuat lagi melakukan
pekerjaan menyedot uang receh, tapi tuan Krab memaksanya. Bersamaan dengan itu
Sponge baru sadar bahwa Garry telah disalahgunakan. Ia mencari tuan Krab. Saat
bertemu ia sangat marah dan membela Garry. Garry menjadi bersemangat, dan
perlahan kemampuannya menyedot uang telah pulih. Akibatnya semua uang logam
receh yang menggunung, tumpah ruah menenggelamkan tuan Krab.
Akhirnya, tuan Krab terdampar terpuruk
di rumah sakit. Ia sakit keras, hampir saja game over alias mampus. Seluruh
uang receh hasil rampasannya diambil rumah sakit sebagai biaya pengobatan, dan
tuan Krab terkapar tak berdaya jadi pesakitan di tempat tidur. Ia malah buntung
bukan untung. Tak ada yang tersisa, kecuali penyakit, dan mungkin rasa malu.
Seperti tuan Krab, sangat banyak orang
yang percaya bahwa menumpuk harta, menimbun kekayaan, mengumpulkan berbagai
gelar merupakan sebuah keniscayaan, dan pekerjaan mulia. Bukan sekedar untuk
mendongkrak gengsi, namun untuk menjamin keselamatan diri dan anak cucu di
keakanan.
Aneh dan lucu memang. Karena siapa yang
tahu apa yang terjadi sebentar lagi dari sekarang? Apakah mereka yang kaya raya
tak bisa jatuh miskin? Dan yang miskin papa, tak bisa berobah jadi juragan kaya
raya? Terlepas dari kedua pertanyaan itu, apa kekayaan memang penting betul?
Lihatlah sekitar kita, bahkan dalam
hidup kita sendiri. Air yang sedikit bisa kita nikmati menjadi teh atau kopi.
Namum, bila air terhimpun dalam jumlah yang sangat berlebihan, rumah dan harta
kita bisa diseretenggelamkannya, habis tak bersisa, tinggal sampah dan lumpur.
Penumpukan, pemusatan, penimbunan pasti
menimbulkan tekanan yang luar biasa dan berujung penghancuran. Energi nuklir
dihasilkan dari pemusatan dan penumpukan energi atom. Bila ada kesalahan seupil
saja, resikonya adalah ledakan dahsyat. Tampaknya sudah menjadi kodrat dan
hukum alam bahwa penimbunan, pemusatan dan penumpukan berakibat kehancuran dan
penghancuran dahsyat.
Kekuasaan yang terpusat melahirkan
kediktatoran dan penindasan. Kenyataan inilah yang kemudian melahirkan
pembagian kekuasaan seperti trias politica. Upaya terencana dan sadar untuk
memecah dam membagi kuasa.
Hukum ini berlaku secara universal,
terlebih dalam dunia sosial. Oleh sebab itu peduli dan berbagi adalah
keniscayaan untuk menjaga keseimbangan, harmoni, dan kelangsungan hidup.
Pada tatanan alam, ada mekanisme yang
sejauh ini tak dapat dipengaruhi oleh manusia untuk menjaga keseimbangan dan
kelangsungan hidup. Kekuatan magma terus terhimpun, menumpuk, dan terus memusat
sampai akhirnya gunung berapi erupsi, karena energi yang tak lagi bisa dibendung.
Penimbunan, penumpukkan, dan pemusatan selalu berujung ledakan, dan
penghancuran.
Alam secara tragik berbagi dengan
manusia. Dan selalu ada korban. Namun, dalam jangka cukup lama ada kesuburan.
Itulah sebabnya penduduk Gunung Merapi dan gunung-gunung aktif lain tak
bersedia di relokasi. Mereka menghayati erupsi adalah cara alam berbagi, karena
tidak mampu menumpuk magma, meski acapkali tragik akibatnya.
Dalam kekuasaan sama saja. Sejak zaman
dahulu kala sampai kini, siapa pun yang menumpuk dan memusatkan kekuasaan pada
ahkirnya berakhir tragis, dipermalukan, masuk penjara atau dibunuh dengan keji.
Karena kekuasaan yang ditumpukpusatkan membuat penguasanya mati rasa dan
berbuat seenaknya. Mereka tak lagi punya nurani, yang ada cuma kalkulasi
duniawi.
Oleh sebab itu penumpukpusatan kuasa
atau kuasa absolut apalagi atas nama Tuhan dan agama harus dilawan. Meskipun
didasarkan pada dalil-dalil agama, penguasanya tetaplah manusia yang tidak
pernah bisa bebas dari kepentingan dan ambisi. Kuasa yang ditumpukpusatkan
lebih berbahya dan menjijikakan dibandingkan tumpukan sampah, bahkan tumpukan
kotoran manusia.
Penimbunan harta, penumpukan kekayaan
ya sama saja. Ujungnya pasti menimbulkan kesenjangan sosial yang bisa memicu
kerusuhan dan revolusi sosial. Para penumpuk harta yang pantas disebut si
rakusa, akan bernasib seperti tuan Krab yang
tenggelam tak berdaya dan remuk tertimbun uang receh yang
dikumpulkannya.
Jadi, bila Tuhan memerintahkan agar
para hartawan berbagi, memberikan hartanya pada orang tak mampu, pada
hakikatnya bukanlah untuk menolong pihak yang diberi, tetapi justru hendak
menyelematkan si pemberi. Dengan berbagi Tuhan bermaksud melucuti, menyiangi
dan membersihkan egonya. Agar hatinya tak lagi berbulu, fikirannya bebas dari
jamur, dan hidupnya tak berlumut. Ia menjadi manusia yang bermakna bagi
dirinya, karena berbagi dengan sesama.
Tidak mengherankan Nabi Muhammad
mendefinisikan orang kaya bukan orang yang paling banyak hartanya, tetapi yang
paling banyak membagikan hartanya pada yang tak berpunya. Pesannya sangat
jelas, hidup kita bermakna jika bermanfaat, memberi manfaat pada kebersamaan,
pada orang lain.
Peduli dan berbagi dengan sesama adalah
metode paling tepat untuk menjaga keresikan dan keseimbangan jiwa dan
kemanusiaan kita. Penumpukan, penimbunan, dan pemusatan seperti yang
ditunjukkan tuan Krab pasti mendatangkan kehancuran, kini atau nanti. Janganlah
menjadi manusia rakus, sebab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd