Minggu, 23 Desember 2012

UANG RECEH TUAN KRAB



Entah kenapa, tubuh Garry, peliharaan Sponge Bob bisa menyedot uang logam dan menembel di cangkangnya. Begitu tuan Krab tahu, Garry ia ambil alih dan memerintahkan Sponge Bob melakukan berbagai kerjaan yang tidak biasa seperti memeriksa semua paku yang sudah tertancap di seluruh restoran.

Ternyata sementara Sponge bekerja, tuan Krab memanfaatkan Garry untuk merampas uang receh. Di mulai di restoran, sampai-sampai para pelanggannya lari, dan di jalan-jalan. Akhirnya, tuan Krab menemukan tempat yang sangat banyak uang recehnya yaitu pusat permainan yang menggunakan uang receh untuk mengoperasikannya.

Garry sudah tak kuat lagi melakukan pekerjaan menyedot uang receh, tapi tuan Krab memaksanya. Bersamaan dengan itu Sponge baru sadar bahwa Garry telah disalahgunakan. Ia mencari tuan Krab. Saat bertemu ia sangat marah dan membela Garry. Garry menjadi bersemangat, dan perlahan kemampuannya menyedot uang telah pulih. Akibatnya semua uang logam receh yang menggunung, tumpah ruah menenggelamkan tuan Krab.

Akhirnya, tuan Krab terdampar terpuruk di rumah sakit. Ia sakit keras, hampir saja game over alias mampus. Seluruh uang receh hasil rampasannya diambil rumah sakit sebagai biaya pengobatan, dan tuan Krab terkapar tak berdaya jadi pesakitan di tempat tidur. Ia malah buntung bukan untung. Tak ada yang tersisa, kecuali penyakit, dan mungkin rasa malu.

Seperti tuan Krab, sangat banyak orang yang percaya bahwa menumpuk harta, menimbun kekayaan, mengumpulkan berbagai gelar merupakan sebuah keniscayaan, dan pekerjaan mulia. Bukan sekedar untuk mendongkrak gengsi, namun untuk menjamin keselamatan diri dan anak cucu di keakanan.

Aneh dan lucu memang. Karena siapa yang tahu apa yang terjadi sebentar lagi dari sekarang? Apakah mereka yang kaya raya tak bisa jatuh miskin? Dan yang miskin papa, tak bisa berobah jadi juragan kaya raya? Terlepas dari kedua pertanyaan itu, apa kekayaan memang penting betul?

Lihatlah sekitar kita, bahkan dalam hidup kita sendiri. Air yang sedikit bisa kita nikmati menjadi teh atau kopi. Namum, bila air terhimpun dalam jumlah yang sangat berlebihan, rumah dan harta kita bisa diseretenggelamkannya, habis tak bersisa, tinggal sampah dan lumpur.

Penumpukan, pemusatan, penimbunan pasti menimbulkan tekanan yang luar biasa dan berujung penghancuran. Energi nuklir dihasilkan dari pemusatan dan penumpukan energi atom. Bila ada kesalahan seupil saja, resikonya adalah ledakan dahsyat. Tampaknya sudah menjadi kodrat dan hukum alam bahwa penimbunan, pemusatan dan penumpukan berakibat kehancuran dan penghancuran dahsyat.

Kekuasaan yang terpusat melahirkan kediktatoran dan penindasan. Kenyataan inilah yang kemudian melahirkan pembagian kekuasaan seperti trias politica. Upaya terencana dan sadar untuk memecah dam membagi kuasa.

Hukum ini berlaku secara universal, terlebih dalam dunia sosial. Oleh sebab itu peduli dan berbagi adalah keniscayaan untuk menjaga keseimbangan, harmoni, dan kelangsungan hidup.

Pada tatanan alam, ada mekanisme yang sejauh ini tak dapat dipengaruhi oleh manusia untuk menjaga keseimbangan dan kelangsungan hidup. Kekuatan magma terus terhimpun, menumpuk, dan terus memusat sampai akhirnya gunung berapi erupsi, karena energi yang tak lagi bisa dibendung. Penimbunan, penumpukkan, dan pemusatan selalu berujung ledakan, dan penghancuran.

Alam secara tragik berbagi dengan manusia. Dan selalu ada korban. Namun, dalam jangka cukup lama ada kesuburan. Itulah sebabnya penduduk Gunung Merapi dan gunung-gunung aktif lain tak bersedia di relokasi. Mereka menghayati erupsi adalah cara alam berbagi, karena tidak mampu menumpuk magma, meski acapkali tragik akibatnya.

Dalam kekuasaan sama saja. Sejak zaman dahulu kala sampai kini, siapa pun yang menumpuk dan memusatkan kekuasaan pada ahkirnya berakhir tragis, dipermalukan, masuk penjara atau dibunuh dengan keji. Karena kekuasaan yang ditumpukpusatkan membuat penguasanya mati rasa dan berbuat seenaknya. Mereka tak lagi punya nurani, yang ada cuma kalkulasi duniawi.

Oleh sebab itu penumpukpusatan kuasa atau kuasa absolut apalagi atas nama Tuhan dan agama harus dilawan. Meskipun didasarkan pada dalil-dalil agama, penguasanya tetaplah manusia yang tidak pernah bisa bebas dari kepentingan dan ambisi. Kuasa yang ditumpukpusatkan lebih berbahya dan menjijikakan dibandingkan tumpukan sampah, bahkan tumpukan kotoran manusia.

Penimbunan harta, penumpukan kekayaan ya sama saja. Ujungnya pasti menimbulkan kesenjangan sosial yang bisa memicu kerusuhan dan revolusi sosial. Para penumpuk harta yang pantas disebut si rakusa, akan bernasib seperti tuan Krab yang  tenggelam tak berdaya dan remuk tertimbun uang receh yang dikumpulkannya.

Jadi, bila Tuhan memerintahkan agar para hartawan berbagi, memberikan hartanya pada orang tak mampu, pada hakikatnya bukanlah untuk menolong pihak yang diberi, tetapi justru hendak menyelematkan si pemberi. Dengan berbagi Tuhan bermaksud melucuti, menyiangi dan membersihkan egonya. Agar hatinya tak lagi berbulu, fikirannya bebas dari jamur, dan hidupnya tak berlumut. Ia menjadi manusia yang bermakna bagi dirinya, karena berbagi dengan sesama.

Tidak mengherankan Nabi Muhammad mendefinisikan orang kaya bukan orang yang paling banyak hartanya, tetapi yang paling banyak membagikan hartanya pada yang tak berpunya. Pesannya sangat jelas, hidup kita bermakna jika bermanfaat, memberi manfaat pada kebersamaan, pada orang lain.

Peduli dan berbagi dengan sesama adalah metode paling tepat untuk menjaga keresikan dan keseimbangan jiwa dan kemanusiaan kita. Penumpukan, penimbunan, dan pemusatan seperti yang ditunjukkan tuan Krab pasti mendatangkan kehancuran, kini atau nanti. Janganlah menjadi manusia rakus, sebab

MANUSIA RAKUS HANYA PANTAS HIDUP DI KAKUS!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd