Kamis, 27 Desember 2012

SPONGE BOB STRES



Sponge Bob akan mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikat mengemudi sekaligus SIM. Salah satu ujiannya adalah pidato di depan kelas. Ia sangat ketakutan menghadapinya. Ia sibuk membuat naskah pidato, dan mulai melatih diri untuk membacakan pidato itu.

Ia tidak dapat fokus dan berkonsentrasi ketika mengolah kraby patty, sebab dikerjakan sambil menghafal pidato. Ia membayangkan betapa mengerikannya berpidato di depan orang. Tak sebuah kraby patty bisa diolah, penggorengannya penuh naskah pidato. Sementara itu para pelanggan menunggu terlalu lama. Ada yang mulai pingsan karena kelaparan, yang lain mulai marah, mengumpat dan memaki. Squidward mulai panik, karena ia yang berhadapan langsung dengan mereka.

Squidward mengingatkan Sponge Bob agar fokus pada pekerjaannya dan membuang semua rasa takut terhadap ujian, serta berhenti latihan pidato di depan penggorengan. Namun, Sponge Bob semakin dicengkram rasa takut yang sangat berlebihan, dan hanya berhasil membuat satu kraby patty. Rasa takut dan bayangan kegagalan telah mengacaukan dirinya sehingga tidak dapat fokus, bahkan membuat sebuah kraby patty seperti biasanya.

Dalam suasana hati kacau dan takut, Sponge Bob berjalan ke arah pintu hendak mengantar satu-satunya kraby patty yang berhasil dibuatnya, tentu dengan asal-asalan. Pintu menganga, Sponge Bob kaget dan tambah takut. Ia melihat mata para pelanggan melotot menatapnya. Ia membanting pintu dengan keras. Ia membayangkan orang-orang pasti sangat marah padanya dan akan melahapnya. Ia gemetaran tak bisa beranjak. Fikirannya bertambah kacau, ketakutan sungguh telah menghancurkannya. Ia tidak tahu harus ngapain.

Squidward mengambil inisiatif untuk mengantarkan kraby patty satu-satunya itu. Para pelanggan berebutan dan menyerang Squidward, memukuli dan melemparkannya ke berbagai arah. Sponge Bob sungguh semakin diteror oleh rasa takut, kini bahkan berkedip pun dia tak kuasa.

Seperti Sponge Bob dan Squidward, kita setiap hari menghadapi masalah, pilihan, tekanan, dan tantangan yang menyebabkan muncul dan berkuasasnya rasa cemas, takut, khawatir, tak berdaya yang mempurukkan kita dalam stress yang menghancurkan syaraf, bahkan kemanusian kita.

Tantangan dan tekanan yang terukur dan proporsional memekarkan kemampuan dan kreativitas kita. Membuat hidup bergairah, hari-hari indah dan berkah. Masalah yang bisa dipetarumuskan dan sebanding dengan kemampuan, menjadikan kita makin cerdas, kritis, dan merasa bermakna. Karena bisa mengatasinya dan membuat kita makin percaya diri.

Tapi hidup tidak sepenuhnya ada dalam genggaman kita. Masalah, tantangan, dan tekanan tidak selalu dapat kita pilih dan tentukan. Kadang salah satu atau ketiganya datang menyerang bagai air bah atau angin puting beliung. Sangat mendadak. Tak cukup waktu untuk mengantisipasinya, dan kita dibiartinggalkan menjadi seonggokan sampah berantakan tak karuan.

Persoalannya berbeda sama sekali bila kita memiliki kesempatan, kuasa, dan wewenang untuk memilih dan menentukan. Masalah dan tantangan apa yang layak, cocok, dan proporsional untuk kita pilih, olah dan hadapi. Di sini yang sangat menentukan adalah kejujuran terhadap diri sendiri. Mengakui dan mengukur kapasitas diri. Kekuatan otak dan otot untuk berhadapan dan nyemplung dalam masalah dan tantangan.

Sayangnya, seperti Sponge Bob, kebanyakan kita kurang jujura dan tidak akurat mengukur diri. Kita ingin dapatkan semua sekaligus, acapkali dalam waktu berbarengan. Padahal dalam alam dan hidup sosial berlaku hukum yang sangat jelas. Bila kita ambil semua, ujungnya kita malah tak mendapatkan apa pun atau tak dapat semua.

Lihatlah sekeliling, orang-orang yang tanpa perhitungan melakukan banyak pekerjaan sekaligus. Kebanyakan berakhir terkapar di rumah sakit, dan semua penghasilan dari pekerjaan jauh dari cukup untuk kembali sehat, sedangkan tubuh telah berantakan dan butuh waktu panjang untuk pulih. Atau dimakicaci orang karena pekerjaan asal jadi, tak mutu, dan kemudian tak mendapatkan apa pun lagi karena orang kehilangan kepercayaan.

Jika yang hilang atau melayang sekedar penghasilan tidaklah seberapa. Kebanyakan kehilangan kesempatan untuk tetap sehat, bugar dan hidup normal. Karena ada penyakit yang melekaterat dalam jejaring tubuh yang makin rentan dan rapuh.

Mengapa jadi begitu?

Sejatinya, kita adalah makhluk yang terbatas kapasitasnya. Kita juga tidak berkuasa penuh atas tubuh ini. Fikiran bahwa kita bisa sepenuhnya mengatur tubuh, rasanya lebih merupakan ilusi daripada kenyataan. Memang, secara sangat terbatas kita bisa menguasai dan mengatur tubuh dan kebertubuhan. Tetapi harus juga disadari dan diakui, tubuh lebih sering mengatur dan menyandera kita. Apa yang dapat kita lakukan jika kantuk menyerang? Segala upaya untuk melawannya akan berakibat buruk pada bagian atau tubuh secara keseluruhan. Bila kita marah dan emosi, dapatkah kita dapat mencegah darah menggumpal atau memecahkan pembuluh yang biasa dilaluinya? Sederhana saja, apakah kita dapat memaksa kentut keluar menyebar, jika dia enggan keluar dan membuat perut kembung dan hidup jadi tak nyaman?

Hubungan kita dengan kebertubuhan kita tidak berjalan searah, dan kita bukanlah penguasa tunggalnya. Hubungan itu lebih bersifat dialektis, saling kuasa dan saling mempengaruhi. Tak usah sampai kena serangan jantung, apakah kita bisa hidup nyaman, normal, optimal dan masih penuh makna jika cantengan? Minimal kita tak lagi bisa berjalan cepat dan terpaksa melanggar aturan kantor karena tak dapat memakai sepatu. Jadi gak enak dah ketemu bos, atau kawan. Bukankah hidup kita seperti terengut sama sekali oleh sakit gigi. Marleau Ponty filsuf fenomenologis bilang, aku adalah kebertubuhanku. Ini lebih terasa bagi kita daripada apa yang dikatakan Descartes, aku ada karena aku berfikir. Kita gak mikir ternyata masih dan tetap ada koq.

Tubuh kita memiliki mekanisme yang tidak sepenuhnya dapat kita atur, bahkan ia yang mengatur dan mendoninasi kita. Pada 2009 Elizabeth H. Blackburn, Carol W. Greider dan Jack W. Szostak mendapat hadiah Nobel bidang kedokteran karena jasa mereka mengungkapkan misteri cara kerja atau perilaku telomer.

Kita tumbuh kembang dan dapat terus bertahan hidup karena ada kromosom di dalam tubuh kita yang membelah diri, menggantikan bagian-bagian tubuh yang sudah aus bahkan mati. Jadi, sejatinya kita tiap waktu lahir dan mati, berkali-kali. Jarang kita sadari ini, bahkan ketika memotong kuku dan rambut. Ketika memotong kuku, sebenarnya kita sedang membunuh bagian tubuh kita sendiri. Kita memang tidak pernah merasa bersalah karena kurang elok dan kurang sehat membiarkan kuku panjang. Kita juga meyakini, pasti kuku itu tumbuh kembali. Itulah contoh hasil pembelahan kromosom.

Telomer merupakan bagian penting dalam kromosom, ia terletak di ujung kromosom dan menentukan apakah kromosom bisa membelah diri atau tidak. Bila telomer itu rusak, kromosom tidak dapat membelah diri dan mati. Bila banyak kromosom yang mati, maka akan bertumpuk dan menjadi penyebab penyakit dalam tubuh.

Apa yang menyebabkan telomer rusak. Bila kita stres, stres berkepanjangan, marah, takut, cemas yang berlebihan akan menyebabkan telomer rusak. Mekanisme itu tidak dapat kita ubah. Sudah begitu dari sononya. Yang dapat kita lakukan adalah menjaga hati agar tidak stres, marah dan emosional berkelebihan.

Bila kita sangat emosional apalagi marah, stres terus menerus, maka hormon stres yaitu cortisol akan meningkat di dalam darah, pergerakan darah melambat karena mengental. Inilah yang membuat orang darah tinggi dan diabet, bahkan kita yang sehat bisa terkena serangan stroke atau jantung. Karena pengentalan darah menyebabkan kemampuan darah memasok oksigen ke otak jauh berkurang. Otak kita tidak dapat bekerja optimal jika kekurangan pasok oksigen.

Itulah yang dialami para pelanggan yang menjadi sangat kelaparan karena kesalahan Sponge Bob. Masih bagus mereka cuma memukul dan melempar-lempar Squidward ke udara. Mereka bisa lebih ganas dari itu. Sebab otak mereka sudah sangat kurang pasokan oksigennya karena sangat lapar. Perut yang lapar membuat orang lepas kendali, karena otak mereka tak dapat berfungsi normal. Itulah kebertubuhan kita.

JUJUR MENAKAR DIRI, DAN MENGHORMATI KEBERTUBUHAN ADALAH FONDASI HIDUP MANUSIA NORMAL.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd