Sponge Bob akan mengikuti ujian untuk
mendapatkan sertifikat mengemudi sekaligus SIM. Salah satu ujiannya adalah
pidato di depan kelas. Ia sangat ketakutan menghadapinya. Ia sibuk membuat
naskah pidato, dan mulai melatih diri untuk membacakan pidato itu.
Ia tidak dapat fokus dan berkonsentrasi
ketika mengolah kraby patty, sebab dikerjakan sambil menghafal pidato. Ia
membayangkan betapa mengerikannya berpidato di depan orang. Tak sebuah kraby
patty bisa diolah, penggorengannya penuh naskah pidato. Sementara itu para
pelanggan menunggu terlalu lama. Ada yang mulai pingsan karena kelaparan, yang
lain mulai marah, mengumpat dan memaki. Squidward mulai panik, karena ia yang
berhadapan langsung dengan mereka.
Squidward mengingatkan Sponge Bob agar
fokus pada pekerjaannya dan membuang semua rasa takut terhadap ujian, serta
berhenti latihan pidato di depan penggorengan. Namun, Sponge Bob semakin
dicengkram rasa takut yang sangat berlebihan, dan hanya berhasil membuat satu
kraby patty. Rasa takut dan bayangan kegagalan telah mengacaukan dirinya
sehingga tidak dapat fokus, bahkan membuat sebuah kraby patty seperti biasanya.
Dalam suasana hati kacau dan takut,
Sponge Bob berjalan ke arah pintu hendak mengantar satu-satunya kraby patty
yang berhasil dibuatnya, tentu dengan asal-asalan. Pintu menganga, Sponge Bob
kaget dan tambah takut. Ia melihat mata para pelanggan melotot menatapnya. Ia
membanting pintu dengan keras. Ia membayangkan orang-orang pasti sangat marah
padanya dan akan melahapnya. Ia gemetaran tak bisa beranjak. Fikirannya
bertambah kacau, ketakutan sungguh telah menghancurkannya. Ia tidak tahu harus
ngapain.
Squidward mengambil inisiatif untuk
mengantarkan kraby patty satu-satunya itu. Para pelanggan berebutan dan
menyerang Squidward, memukuli dan melemparkannya ke berbagai arah. Sponge Bob
sungguh semakin diteror oleh rasa takut, kini bahkan berkedip pun dia tak
kuasa.
Seperti Sponge Bob dan Squidward, kita
setiap hari menghadapi masalah, pilihan, tekanan, dan tantangan yang
menyebabkan muncul dan berkuasasnya rasa cemas, takut, khawatir, tak berdaya
yang mempurukkan kita dalam stress yang menghancurkan syaraf, bahkan kemanusian
kita.
Tantangan dan tekanan yang terukur dan
proporsional memekarkan kemampuan dan kreativitas kita. Membuat hidup
bergairah, hari-hari indah dan berkah. Masalah yang bisa dipetarumuskan dan
sebanding dengan kemampuan, menjadikan kita makin cerdas, kritis, dan merasa
bermakna. Karena bisa mengatasinya dan membuat kita makin percaya diri.
Tapi hidup tidak sepenuhnya ada dalam
genggaman kita. Masalah, tantangan, dan tekanan tidak selalu dapat kita pilih
dan tentukan. Kadang salah satu atau ketiganya datang menyerang bagai air bah
atau angin puting beliung. Sangat mendadak. Tak cukup waktu untuk
mengantisipasinya, dan kita dibiartinggalkan menjadi seonggokan sampah
berantakan tak karuan.
Persoalannya berbeda sama sekali bila
kita memiliki kesempatan, kuasa, dan wewenang untuk memilih dan menentukan.
Masalah dan tantangan apa yang layak, cocok, dan proporsional untuk kita pilih,
olah dan hadapi. Di sini yang sangat menentukan adalah kejujuran terhadap diri
sendiri. Mengakui dan mengukur kapasitas diri. Kekuatan otak dan otot untuk
berhadapan dan nyemplung dalam masalah dan tantangan.
Sayangnya, seperti Sponge Bob,
kebanyakan kita kurang jujura dan tidak akurat mengukur diri. Kita ingin
dapatkan semua sekaligus, acapkali dalam waktu berbarengan. Padahal dalam alam
dan hidup sosial berlaku hukum yang sangat jelas. Bila kita ambil semua,
ujungnya kita malah tak mendapatkan apa pun atau tak dapat semua.
Lihatlah sekeliling, orang-orang yang
tanpa perhitungan melakukan banyak pekerjaan sekaligus. Kebanyakan berakhir
terkapar di rumah sakit, dan semua penghasilan dari pekerjaan jauh dari cukup
untuk kembali sehat, sedangkan tubuh telah berantakan dan butuh waktu panjang
untuk pulih. Atau dimakicaci orang karena pekerjaan asal jadi, tak mutu, dan
kemudian tak mendapatkan apa pun lagi karena orang kehilangan kepercayaan.
Jika yang hilang atau melayang sekedar
penghasilan tidaklah seberapa. Kebanyakan kehilangan kesempatan untuk tetap
sehat, bugar dan hidup normal. Karena ada penyakit yang melekaterat dalam
jejaring tubuh yang makin rentan dan rapuh.
Mengapa jadi begitu?
Sejatinya, kita adalah makhluk yang
terbatas kapasitasnya. Kita juga tidak berkuasa penuh atas tubuh ini. Fikiran
bahwa kita bisa sepenuhnya mengatur tubuh, rasanya lebih merupakan ilusi
daripada kenyataan. Memang, secara sangat terbatas kita bisa menguasai dan
mengatur tubuh dan kebertubuhan. Tetapi harus juga disadari dan diakui, tubuh
lebih sering mengatur dan menyandera kita. Apa yang dapat kita lakukan jika
kantuk menyerang? Segala upaya untuk melawannya akan berakibat buruk pada bagian
atau tubuh secara keseluruhan. Bila kita marah dan emosi, dapatkah kita dapat
mencegah darah menggumpal atau memecahkan pembuluh yang biasa dilaluinya?
Sederhana saja, apakah kita dapat memaksa kentut keluar menyebar, jika dia
enggan keluar dan membuat perut kembung dan hidup jadi tak nyaman?
Hubungan kita dengan kebertubuhan kita
tidak berjalan searah, dan kita bukanlah penguasa tunggalnya. Hubungan itu
lebih bersifat dialektis, saling kuasa dan saling mempengaruhi. Tak usah sampai
kena serangan jantung, apakah kita bisa hidup nyaman, normal, optimal dan masih
penuh makna jika cantengan? Minimal kita tak lagi bisa berjalan cepat dan
terpaksa melanggar aturan kantor karena tak dapat memakai sepatu. Jadi gak enak
dah ketemu bos, atau kawan. Bukankah hidup kita seperti terengut sama sekali
oleh sakit gigi. Marleau Ponty filsuf fenomenologis bilang, aku adalah
kebertubuhanku. Ini lebih terasa bagi kita daripada apa yang dikatakan
Descartes, aku ada karena aku berfikir. Kita gak mikir ternyata masih dan tetap
ada koq.
Tubuh kita memiliki mekanisme yang
tidak sepenuhnya dapat kita atur, bahkan ia yang mengatur dan mendoninasi kita.
Pada 2009 Elizabeth H. Blackburn, Carol W. Greider dan Jack W. Szostak mendapat
hadiah Nobel bidang kedokteran karena jasa mereka mengungkapkan misteri cara
kerja atau perilaku telomer.
Kita tumbuh kembang dan dapat terus
bertahan hidup karena ada kromosom di dalam tubuh kita yang membelah diri,
menggantikan bagian-bagian tubuh yang sudah aus bahkan mati. Jadi, sejatinya
kita tiap waktu lahir dan mati, berkali-kali. Jarang kita sadari ini, bahkan
ketika memotong kuku dan rambut. Ketika memotong kuku, sebenarnya kita sedang
membunuh bagian tubuh kita sendiri. Kita memang tidak pernah merasa bersalah
karena kurang elok dan kurang sehat membiarkan kuku panjang. Kita juga
meyakini, pasti kuku itu tumbuh kembali. Itulah contoh hasil pembelahan
kromosom.
Telomer merupakan bagian penting dalam
kromosom, ia terletak di ujung kromosom dan menentukan apakah kromosom bisa
membelah diri atau tidak. Bila telomer itu rusak, kromosom tidak dapat membelah
diri dan mati. Bila banyak kromosom yang mati, maka akan bertumpuk dan menjadi
penyebab penyakit dalam tubuh.
Apa yang menyebabkan telomer rusak.
Bila kita stres, stres berkepanjangan, marah, takut, cemas yang berlebihan akan
menyebabkan telomer rusak. Mekanisme itu tidak dapat kita ubah. Sudah begitu
dari sononya. Yang dapat kita lakukan adalah menjaga hati agar tidak stres,
marah dan emosional berkelebihan.
Bila kita sangat emosional apalagi marah,
stres terus menerus, maka hormon stres yaitu cortisol akan meningkat di dalam
darah, pergerakan darah melambat karena mengental. Inilah yang membuat orang
darah tinggi dan diabet, bahkan kita yang sehat bisa terkena serangan stroke
atau jantung. Karena pengentalan darah menyebabkan kemampuan darah memasok
oksigen ke otak jauh berkurang. Otak kita tidak dapat bekerja optimal jika
kekurangan pasok oksigen.
Itulah yang dialami para pelanggan yang
menjadi sangat kelaparan karena kesalahan Sponge Bob. Masih bagus mereka cuma
memukul dan melempar-lempar Squidward ke udara. Mereka bisa lebih ganas dari
itu. Sebab otak mereka sudah sangat kurang pasokan oksigennya karena sangat
lapar. Perut yang lapar membuat orang lepas kendali, karena otak mereka tak dapat
berfungsi normal. Itulah kebertubuhan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd