Minggu, 09 Desember 2012

SUDI



Seorang teman yang bekerja di Sekneg bercerita bahwa sejak dahulu banyak orang Batak bertugas di Sekneg, jadi tentu saja banyak marga di situ. Namun sekarang hanya ada dua marga di Sekneg yaitu sudi Silalahi dan tak sudi Silalahi. Tentu saja tak sudi Silallahi terdiri dari banyak marga, sebab yang bukan Silalahi semuanya masuk ke situ.

Marga bukan sekedar identitas yang menunjukkan seseorang berada pada ranting sebelah mana dari pohon keluarga besar. Melampaui identitas, marga sebenarnya menegaskan akar keberasalan dan keberadaan. Jadi, marga seharusnya tetap dipertahankan bersama nama, sebagai cara menegaskan akar dari mana si pemilik nama berasal. Karena itu warga negara Amerika Serikat mesti sudah turunan kesekian tetap mencantumkan akar keberasalan dan keberadaan dalam namanya, sebutlah sebagai contoh bintang film terkenal yang kemudian menjadi gubernur, Arnold Suasanaseger (mohon maaf, saya mengalami kesulitan menuliskan nama aslinya). Golden Boy Oscar De Lahoya, dan Kareem Abdul Jabbar. Ada kebanggan menggunakan marga atau nama yang menunjukkan keberasalan itu.

Bersebalikan dengan itu, di negeri yang sangat kita cintai ini, ada kecenderungan generasi muda dari suku-suku yang biasa mencamtumkan marga mulai menghilangkan marga, bahkan inisial marga di belakang namanya. Banyak alasan yang melatarbelakanginya. Ada yang merasa pencantuman marga itu membuat mereka lebih menonjolkan kesukuan, kurang moderen, dan belum mampu menjaga kehormatan marganya. Tentu saja banyak alasan lain. Rasanya, alasan itu seperti dicari-cari. Tampaknya rasa bangga dengan marga itu mulai meleleh.

Dalam era digitalglobal ini justru identitas kita ditentukan dan ditunjukkan oleh akar keberasalan yang tampak sangat kentara melalui nama. Bila meleburkan diri dalam keseragaman yang menjadi ciri globalisasi, kita justru kehilangan identitas, menjadi seperti lagu yang dikumadankan Kansas, dust in the wind.

Sebagai contoh, kini banyak  keluarga orang berduit dan orang terkenal berebutan dan bangga bila ada anggota keluarganya wafat dikebumikan di San Diego Hills. Sekilas kelihatan keren. Namun, jika berita kematiannya ditampilkan di internet yang bisa diakses di seluruh dunia, pastilah berta itu kurang memicu rasa ingin tahu. Karena nama pemakaman itu sama dengan nama  tempat lain yang relatif telah dikenal. Coba dimakamkan di Rengasdengklok, dan beritanya disebarluaskan di internet. Orang Indonesia yang tinggal di pelosok Amerika Serikat mungkin lebih tertarik untuk membacanya, dan orang asing yang tidak kenal Indonesia juga mungkin akan tertarik membacanya karena namanya yang unik. Bila Anda sedang on line di Upsalla (bukan acara televisi ups salah) Swedia, nama-nama seperti Leuwilliang, Toraja, Jeneponto, Muara Gembong, Pandeglang, Bantul, Tarutung, Sentolo, Muaro Bungo, Wonokromo, tampak lebih eksotik dan mengundang rasa inin tahu. Sebab nama itu unik dan tidak ada di tempat lain. Nama-nama tempat itu unik karena berakar dari tempat dan kultur yang berbeda.

Keunikan dan keberbedaan itulah yang kemudian memunculkan identitas dan apresiasi. Cokot, pematung asli Bali  bukan saja mempertahankan identitas Bali , tetapi menciptakan akar pribadi dalam patung-patungnya. Ia kemudian disejajarkan dengan pematung tingkat dunia, dihargai karena keunikan yang berakar pada Bali dan pribadinya, sampai memunculkan aliran Cokotisme. Nama dan alirannya terdapat dalam semua literatur tentang seni dan patung. Cokot adalah kreator besar karena memiliki akar, menciptakan tradisi. Cokot taksudi mengikuti tradisi yang telah ada. Ketaksudiannya menjadikan Cokot melakukan rangkaian proses memilah, memilih, dan mengolah untuk sampai pada kreasi baru. Inovasi revolusioner dalam menciptakan cara membuat, gaya, dan model-model patung. Di dunia ini patung Cokot dikenal dengan namanya. Namanya mengingatkan orang pada akarnya, Bali!

Memilah dan memilih mengharuskan para kreator untuk menggunakan daya kritis, pisau tajam analisis untuk mengiris, mencincang,  membongkar, melumat apa yang telah ada sampai ditemukan rahasia dan makna terdalamnya. Sementara itu mengolah meniscayakan berfungsinya daya kreatif untuk mensistesiskan, meramu hasil daya kritis dengan berbagai kemungkinan yang tak terduga. Ketegangan kreatif yang beranjak dari sikap tak sudi inilah yang telah melahirkan Soekarno, Hatta, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Raden Saleh, W.S. Rendra, Pramoedya Ananta Toer, Garin Nugroho, Affandi, Buya HAMKA, Iwan Falls, B.J. Habibie, Mangunwijaya, dan para kreator Indonesia yang sangat banyak jumlahnya.

Atas dasar fakta ini kita harus menumbuhkembangkan sikap taksudi. Taksudi bukanlah penolakan, tetapi rasa ogah untuk menjadi epigon atau pengikut. Ketaksediaan menjadi pengikut memicu kita untuk menonjolkan keunikan dan keberbedaan, tidak hanyut tenggelam dalam samodra keseragaman. Identitas kita jadi jelastegas ditampilkan. Ketaksudian adalah titik anjak, pemantik api kreativitas, menjadikan kemanusiaan kita penuh makna.

Konsekuensinya, MANUSIA BERIDENTITAS DAN BERKUALITAS DITAKDIRKAN JADI KREATOR, BUKAN PENGEKOR!

81 komentar:

  1. Syifa Wulandari
    P.IPS Regular B 2013
    Indonesia memiliki banyak keberagaman dari Sabang sampai Merauke. Hal itu menunjukan betapa kayanya bangsa ini. Salah satu dari begitu banyak keberagaman yaitu marga sebagai identitas darimana seseorang berasal. Saya sangat setuju dengan pendapat bapak mengenai marga harus dipertahankan sebagai identitas yang menegaskan keberadaan dan keberasalan. Identitas kita sebagai negara Bhineka Tunggal Ika pun jangan sampai luntur apalagi dihilangkan dalam kehidupan kita sebagai warga negara Indonesia. Berbeda-beda namun tetap satu tujuan untuk merdeka dan sejahtera. Seharusnya orang yang memiliki marga dan identitas lainnya harus bangga dan bersyukur. Bangga dan bersyukur karena hanya orang-orang tertentu saja yang memilki identitas tersebut. Begitu juga dengan kita harus bangga akan keberagaman yang negara kita miliki. Keberagaman yang berbeda dan unik yang menjadikan negara ini kaya itu dapat dimanfaatkan untuk memunculkan inovasi-inovasi. Berangkat dari keberagaman, perbedaan, keunikan tadi menjadikan suatu identitas tersendiri untuk bangsa ini. Keunikan dan keberbedaan tadi dapat digunakan untuk manusia berkarya. Seperti dalam tulisan diatas, Cokot sebagai pematung khas Bali yang menjadikannya identitas yang berbeda yang tidak dimilki oleh seniman lain. Ia sebagai kreator taksudi hanya mengikuti tradisi. Ia menciptakan akar pribadi pada patung-patungnya dan menciptakan sendiri tradisi. Ia berbeda dan unik sehingga memunculkan sebuah aliran cokotisme. Nama dan alirannya terdapat dalam semua literatur tentang seni dan patung. Menciptakan sesuatu yang baru, orisinil, berbeda dan unik. Berkarya dan tak sudi menjadi pengekor berasal dari manusia beridentitas dan berkualitas.
    Pertanyaan:
    1. Bagaimana menjadi seorang kreator dengan menggunakan semaksimal mungkin kemampuan, keterampilan dan keahlian kita yang memang masing-masing berbeda kapasitasnya?
    2. Apa arti pentingnya identitas bagi manusia?
    3. Bagaimana tahapan-tahapan menjadi manusia kreator yang karyanya dapat diapresiasi?

    BalasHapus
  2. Devy Novianti
    P.IPS Reguler B
    4915133402

    Marga merupakan ciri khas atau symbol bagi budaya Batak. Marga seharusnya dijadikan daya tarik untuk suatu budaya demi menarik perhatian budaya lain. Contohnya demi menarik budaya asing untuk belajar mempelajari salah satu budaya Indonesia. Keunikan inilah yang harus kita tunjukan kepada bangsa ataupun budaya lain agar budaya di negri kita tidak akan pudar dan terkenal di banyak Negara, bukan malah menghapus marga dari nama seseorang yang jelas justru nanti akibatnya memudarkan budaya tersebut. Seharusnya sejak dini orang batak harus ditanami rasa bangga akan budayanya agar mereka lebih menyadari akan keunikan budaya mereka.
    Seseorang yang bangga akan bangsa dan budayanya akan lebih menghargai hal sekecil apapun. Sehingga seseorang tersebut tidak berfikir jangka pendek demi kesenangan sesaat. Seharusnya seseorang itu harus berusaha sekuat tenaga mengharumkan bangsa dan budayanya agar lebih maju dan diakui banyak Negara.
    Mereka yang memikili marga zaman sekarang ini cenderung malu, mungkin karena ada pembedaan atas kelas-kelas sosial dalam marganya, atau ada alasan lain, saya kurang paham, mengapa demikian? Mengapa menjadi pengikut identik dengan mencari aman? Jika kita menjadi pengikut yang kreatif yang mempunyai ide bagi banyak orang, apakah kita dapat dikatakan kreator?

    BalasHapus
  3. TRIA MAULIDA AGUTIAR
    P.IPS A 2013

    Banyaknya orang yang meninggalkan indentitas marganya karena beranggapan bahwa itu sudah tidak modern dan ketinggalan zaman. mereka lebih menyukai nama-nama dari luar negri yang keren dan cool, namun mereka tidak menyadari bahwa mereka sudah melupakan suku bangsanya.

    saya ingin bertanya soal sudi Silalahi dan tak sudi Silalahi itu maksudnya apa??
    apa penyebabnya manusia dapat menghilangkan kebiasan negrinya sediri??
    kenapa kebanyakkan dari kita bangga kepada negara lain dan beranggapan negara kita tidak bisa apa-apa??

    BalasHapus
  4. Nama : Selvi Indriani
    No.reg : 4915131405
    P.IPS A 2013

    Menurut artikel yang bapak tulis diatas , saya sangat setuju karena kita tidak selamanya menjadi pengikut . kita harus melahirkan inovasi-inovasi baru yang dapat bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk orang banyak . karena jika kita terus menjalani hidup yang monoton kita tidak akan maju. kita harus mengembangkan kreativitas kita semaksimal mungkin agar kemampuan kita tidak terbuang sia-sia . sebagaimana yang bapak bilang kita bukan tak sudi bukan berarti penolakan atau rasa ogah menjadi pengikut namun kita harus mengembangkan kreativitas agar lebih maju.

    pertanyaan :
    1. bagaimana cara mengembangkan kreativitas sementara kita tidak percaya diri ?
    2. apakah hidup seseorang akan maju ketika terus-terusan menjadi pengikut ?
    3. apakah marga seseorang berpengaruh terhadap status sosial seseorang ?

    BalasHapus
  5. Yurida Adlani
    4915133397
    P.IPS REG B 2013

    Terkadang memang banyak orang yang kurang percaya diri untuk menampilkan identitasnya seperti contoh Marga. Dengan berbagai macam alasan, entah itu karna kurang moderen, terlalu menonjolkan suku dan sebagainya. sebenarnya berbangga dengan identitas sendiri tidak masalah, hanya saja jangan sampai menuju ke etnosentrisme.

    kita tinggal di negara yang memiliki banyak kebudayaan.. mulai dari sabang sampai merauke, hampir segala bagian wilayah memiliki kebudayaan masing-masing. Kebudayaan itu patut dilestarikan. itu merupakan salah satu kekayaan yang kita miliki untuk menjunjung identitas bangsa Indonesia.

    Seharusnya kita dapat lebih melestarikan kebudayaan kita sendiri dari pada menyibukkan diri dengan meniru dan mengikuti kebudayaan bangsa lain.

    Sebenarnya apa sih yang membuat kita gengsi untuk mengakui kebudayaan yang kita miliki ??
    mengapa bangsa ini justru lebih senang meniru kebudayaan orang lain dari pada melestarikan kebudayaan sendiri ?
    Bukankah berinovasi sendiri itu lebih baik dari pada hanya sekedar meniru ??
    Kebudayaan bangsa kita itu unik, tidak kuno, tapi mengapa generasi muda tidak mau berbangga dengan kebudayaan bangsa ini, malah terkesan ingin menghapusnya ???
    ketidaksudian juga sangat dibutuhkan untuk menyaring kebudayaan-kebudayaan yang mungkin akan masuk dan memengaruhi bangsa kita. ketidaksudian bukan berarti menolak, hanya saja sebagai upaya untuk menjaga keaslian kebudayaan bangsa ini.

    BalasHapus
  6. SYIFA MAHARANI DANIAR
    4915131400
    P.IPS A

    saya setuju dengan bapak mengembangakan bukanlah penolakan tetapi rasa ogah untuk menjadi pengikut. kita semua menghargai kebudayaan yang kita miliki tetapi kita juga harus bisa menciptakan inovasi yang baru. mungkin budaya yang lama itu membosankan bagi anak muda zaman sekarang, agar muda zaman sekarang bisa mengaharagai kebudayaan kita tuangkan dikebudayaan yg modern tetapi kebudayaan zaman dahulu pun tidak perlu dihilangkan.

    PERTANYAAN!!!
    1.bagaimana cara membudidayakan kebudayaan dengan cara zaman sekarang?
    2.bagaimana agar budaya kita tak kalah dengan negara lain?
    3.mengapa indonesia banyak mencontoh budaya org lain?

    BalasHapus
  7. Assalamu'alaikum wr.wb saya shaiba ayu widyawati.
    Saya setuju dengan apa yang dituliskan bapak diatas, banyak sekali orang yang menghilangkan asal usul marganya demi sebuah popularitas, cinta atau bahkan karir sekali pun. Namun mengapa mereka lebih terkenal di bandingkan dengan orang yang tetap memakai marga nya di belakang namanya? Mengapa mereka justru hidup dalam kemewahan yang serba ada? Lihat saja para selebritis indonesia , mereka banyak sekali yang menghilangkan marga nya di belakang namanya bahkan nyaris mengganti namanya demi popularitas yang dia peroleh. Apakah mereka tak sadar bahwa mereka terlahir dari suku tersebut yang mempunyai marga sebagai ciri khas suku tersebut? Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa , maka dari itu lah tiap daerah atau sukunya mempunyai marga yang akan disisipkan pada belakang namanya sebagai ciri khas mereka sebagai suku tersebut. Tapi mengapa mereka seakan kacang melupakan kulitnya? Mengapa mereka senantiasa hidup enjoy dengan nama yang mereka peroleh sekarang ini? Tidakkah mereka takut akan akibat dari menghilangkan marganya itu? Tak inginkah mereka menjadi kreator dengan nama dan asal usulnya yang jelas? Bukankah hal seperti itu dapat membuat bangga asal suku atau daerahnya itu dengan tetap memakai marga di belakang namanya? Tidak adakah keinginan mereka membanggakan identitasnya di depan publik? Entahlah pada hakikatnya manusia itu memang selalu ingin menjadi yang populer dengan nama yang tentunya populer pula di zaman globalisasi ini, meskipun mereka menghilangkan identitas asli yang menjadi ciri khas mereka seperti nama marga di belakang namanya itu.

    BalasHapus
  8. Eka Ma'rifah P.IPS A 2013
    Di era globalisasi ini, komunikasi memang sudah tanpa sekat. Batas jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang. kebudayaan asing makin berhasil melunturkan budaya asli kita, kebudayaan leluhur bangsa Indonesia. masyarakat, khususnya kaum muda lebih mengelu-elukan budaya asing atau budaya barat yang dianggap moderen atau uptodate dan lebih cocok dengan kepribadian dan keinginan mereka. Bahkan tak jarang dari mereka merasa malu jika ingin menunjukkan kesetiannya terhadap budaya asli mereka dengan alasan tidak mau dibilang kuper atau kurang pergaulan.
    ironi memang, generasi muda sebagai agen perubahan lebih bangga terhadap budaya luar padahal negerinya mempunyai segudang budaya yang tak dimiliki negeri lain.
    hal ini mungkin karena mereka belum sadar dan paham dari mana mereka berasal, budaya apa yang telah membesarkan mereka, bagaimana perjuangan para pendahulu mereka untuk mempertahankannya, dan bagimana dampak jika mereka tetap membanggakan budaya luar. yang mereka pikirkan sekarang hanyalah bagaimana agar mereka bisa dibilang "gaul" dan tak ketinggalan zaman.
    sebagai bangsa, kita memang harus bisa beradaptasi dengan zaman agar tidak menjadi bangsa yang tertinggal, tetapi alangkah indahnya jika kita bisa mengikuti zaman tetapi tanpa meninggalkan sedikit pun identitas kita sendiri, budaya yang menjadi ciri khas bangsa, serta jati diri bangsa. Karena hanya dengan teteap menjadi diri sendirilah kita bisa menjadi berkualitas.
    pertanyaan :
    1. bagimana cara menumbuhkembangkan sikap taksudi atau untuk tidak menjadi epigon/pengikut?
    2.bagaimana cara melahirkan daya kreatif dari sikap taksudi?
    3. adakah orang asing/orang barat yang lebih bangga terhadap budaya diluar mereka seperti halnya orang-orang di negeri kita?

    BalasHapus
  9. Nama : Dinta Fajryenti
    Nim : 4915131386
    P IPS REG A 2013

    manusia memang diciptakan untuk berkarya. karya setiap manusia pasti berbeda - beda tergantung kreativitasnya. keunikan dan perbedaan dalam diri kita seharusnya menjadi kelebihan dalam diri kita. menurut saya keunikan dan pebedaan itulah yang akan menjadi diri kita lebih dikenal oleh orang banyak. Seperti Habibie, kreativitasnya membuat pewawat terbang membuat beliau dikenal di dunia mancanegara. kreativitas yang kita buat juga menjadikan identitas di dalam diri kita. oleh karena itu kita harus terus mengembanhkan daya kreativitas kita agar bisa dikenalmoleh orang banyak.

    Pertanyaan :
    1. Bagaimana meningkatkan daya kreativitas kita ?
    2. Bagaimana cara mempertahankan identitas kita ?
    3. Bagaimana cara meningkat kualitas kreativitas kita sebagai manusia ?

    BalasHapus
  10. Agustina Rahmawati
    P.IPS Reg B

    Kita seharusnya bangga dapat memperkenalkan budaya Indonesia salah satunya dengan pemakaian nama marga khas dari suku masing-masing. Dengan begitu pasti nama Indonesia akan lebih terkenal dengan pemakaian nama-nama tersebut dan akan menjadi ciri khas masyarakat Indonesia di dunia Internasional. Terkenal bukan kerana nama saja tetapi budaya yang ada. Seharusnya kita mencontoh hal itu dari Bali, yang dengan bangga memperkenalkan dan mempertahankan budayanya. Sehingga bisa saja nama Bali lebih terkenal dari pada Indonesia.
    1. Darimana asal marga ?
    2. Sejak kapan nama marga dipakai sebagai nama seseorang ?
    3. Sepenting apakah nama marga tersebut?

    BalasHapus
  11. HIMAWAN WIGUNA
    P.IPS REG B 2013

    Komentar saya tentang tulisan yang berjudul "SUDI", menurut saya judul tulisan ini tidak berhubungan dengan inti tulisannya, seharusnya berjudul tidaksudi. karena inti dari tulisan ini kita tidak harus mengikuti era global, ada beberapa ciri khas yang salah satunya nama marga yang bisa dijadikan kebanggaan dan keunikan sendiri bagi pemiliknya.
    Pertanyaan:
    1.Apakah marga yang disebut identitas itu hanya berasal dari batak? bagaimana jika itu nama orang tua?
    2.Bagaimana jika seorang yang mempunyai nama belakang suatu marga tetapi ada suatu hal yang menyebabkan dia keluar dari marga itu, apakah dia masih harus mencantumkan nama marga tersebut?
    3.Apakah suatu identitas,keunikan,perbedaan harus diperlihatkan?

    BalasHapus
  12. Ayu Anggraeni
    P.IPS A 2013
    Marga menunjukan identitas kita, menunjukan dari mana kita berasal serta menunjukan keberadaan kita ditengah – tengah masyarakat. Tetapi sekarang marga tidak digunakan lagi sebagai identitas pengenal, bahkan banyak diantara kita yang melupakan dan tak memakai nama belakang marganya lagi. Namun yang harus di ingat marga itu bukan menunjukan strata sehingga dapat dianggap berkualitas tetapi yang bisa menjadi barometer berkualitasnya seseorang adalah kreatifitasannya.
    1.Mengapa orang zaman sekarang enggan untuk memakai nama marga dibelakang namanya??
    2. Apakah untuk menjadi kreator kita harus menolak identitas yang sudah ada dan apakah dengan kita tidak memakai marga, kita bisa disebut kreator??
    3. Mengapa menjadi berkualitas itu kita tidak boleh mengekor? bukankah menjadi kreator itu harus ada proses dan mungkin jalannya itu kita menjadi pengikut yang cerdik sehingga mampu menyerap ilmu dari seseorang yang kita ikuti.

    BalasHapus
  13. Nama : ayatusyifa wulandari ( 4915131390)
    Kelas : p.ips A 2013
    “ SUDI “
    Menurut saya pada tulisan bapak yang berjudul sudi ini, tak semua dari kami ( generasi muda ) yang terpaksa atau bahkan secara sengaja menghilangkan nama marga atau kekhasan daerah di nama belakangnya, karena masih banyak dari kami yang justru menolak jika nama kami yang tertera pada daftar hadir ( presensi ) di singkat nama belakangnya. Sesungguhnya kesalahan bukan hanya dari manusia si pemilik nama itu saja, misalnya saja saat si anak membuat akta kelahiran banyak dari mereka yang nama belakangnya harus disingkat tanpa kehendak mereka, sehingga hal tersebut menjadi biasa untuk disingkat sampai akhirnya banyak dari kami yang akhirnya hanya menulis nama awal saja. Dan pada tulisan berjudul sudi, bapak berkata bahwa manusia beridentitas dan berkualitas ditakdirkan menjadi kreator, bukankah semua dari kami para manusia memang beridentitas dan berkualitas ? karena semua manusia kan memang diciptakan dari asal – usul yang sama yaitu anak cucu keturunan nabi Adam as, hanya saja banyak dari kami yang tak memanfaatkan identitas dan kualistasnya untuk kebaikan seperti mereka yang mengaku beradab, bersimpati, dan berbakti pada nusa dan bangsa yang menggunakan tittle “ KREATOR “ mengubahnya menjadi “ KORUPTOR “. Kemudian pada kalimat “ sudi silalahi dan tak sudi silalahi “ bagi mereka para sudi silalahi, bapak mengatakan bahwa kita tidak boleh menghilangkan identitas diri kita, daerah asal kita, tapi mengapa bapak mengatakan jangan hanya jadi pengekor ? bukankah kreator lahir dari mereka para pengekor yang kemudian meregenarisakan diri mereka sehingga bisa bermetamorfosa menjadi seorang kreator ? menurut pandangan bapak sebagai seorang yang memahami betul mengenai filsafat apakah ada kaitannya seorang pengekor dan kreator dari filosofi yang mereka anut ?

    BalasHapus
  14. Nazia Maulia Amini
    4915131373
    Sebelum saya membaca selesai saya kira judul sudi ini menunjukan bahwa penolakan namun setelah saya baca hingga akhir saya mengerti maksud dari sudi ini. Maksudnya adalah ketasudian dalam mengekor keorang lain dan melahirkan pemimpin pemimpin yang berfikiran kritis dan inovatif. Jika kita selalu sudi maka kita akan menjadi pengikut dan pengekor selamanya. Tidak ada pemimpin dijaman sekarang ini. Karena merasa nyaman dengan zona amannya tersebut.
    1. Bagaimana keluar dari zona aman supaya lahir seorang pemimpin dari ketasudian?
    2. Apakah makna sudi dan ketasudian berbeda sangat jauh?
    3. Mengapa dinamakan dengan kata sudi?

    BalasHapus
  15. Nama : Akhmad Rayhan Aditya
    NIM : 4915131399

    sangat setuju dengan artikel ini, 9 jempol untuk bapak dosen saya. angka 9 menunjukkan kesempurnaan. banyak dari masyarakat kita yang hanya bisa mengikuti seperti trend masa kini sebagai contoh pada saat beberapa tahun yang lalu yang lagi ngetrend trend nya "boyband" yang asalnya dari korea,masyarakat indonesia sangat mengidolai salah satu dari personel boyband tsb, kemudian lambat laun industri musik dalam negeri bermunculan lah para boyband lokal bagaikan jamur di musim penghujan sebut saja boyband semesh yang saat ini satu anggotanya sudah keluar, mereka memiliki sangat banyak penggemar terutama para ABG wanita khususnya. tidak lama mulai satu persatu bermunculan boyband boband lainnya, lalu bagaimanakah kabar musik asli negeri kita ini?? ada yang bilang musik indoneisa itu norak, kampungan dan segala macam kata2 yang tidak sedap. saya ingin bertanya, apakah orang orang yang telah menghujat apakah kalian mampu menciptakan karya sedemikian rupa?? apakah kalian bisa seperti mereka terkenal di negara ini?? (bukan bermaksud membela mereka para musisi loh yaa) tapi inilah ironi identitas dunia permusikan di indonesia. ciptaan anak negeri tapi tidak di hargai di negerinya sendiri. saya rasa mungkin perlu ditingkatkan rasa untuk tertarik kepada karya anak negeri tentuuu harus memenuhi standar kualitas agar bisa bersaing dengan musik internasional. lalu bagaimana carra agar untuk menarik perhatian pecinta musik?? upaya apa yang telah ditempuh para musisi kita untuk meningkatkan mutu serta kualitas musik mereka?? apakah rumah industri rekaman membantu untuk meningkatkan kualitas musik musisi bersangkutan?? penghargaan apa yang menurut anda pantas untuk diberikan kepada musisi berbakat kita?? selera musik seperti apa yang masyarakat sukai??
    sekian, terima kasih wassalamualaikum wr.wb

    BalasHapus
  16. Nama : Reni Nurjanah
    Kelas : P.IPS A
    NIM : 4915131388

    Memang seharusnya kita sebagai makhluk hidup yang mempunyai keberagaman suku, budaya, ras, dan lain sebagainya harus memiliki identitas pribadi karena itu merupakan cerminan atau gambaran dari jati diri kita. Bahkan tak jarang ada orang yang melihat atau menilai seseorang hanya dari tampangnya saja bahkan adapula yang menilai suku seseorang hanya melihat dari nama panjang atau belakangnya saja. Jadi untuk apa malu dengan suku yang kita miliki toh kita dibesarkan dengan beragam suku bangsa di negara ini, bahkan negara kita pun sangat menghormati adanya perbedaan. Adanya keberagaman suku bangsa di Indonesia ini janganlah dijadikan sebuah konflik, justru sebaliknya keberagaman suku bangsa di Indonesia ini adalah bukti bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang saling melengkapi satu sama lain, sesuai dengan jargon negara kita “Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu Jua)”. Jadi untuk generasi muda yang mempunyai marga tertentu janganlah mengabaikan nilai-nilai leluhur yang sudah ditetapkan oleh adat istiadat yang berlaku di suku kalian masing-masing, justru seharusnya kalianlah yang mempertahankan identitas suku kalian tanpa menghilangkan kehormatan marga kalian masing-masing.
    1. Apa yang menyebabkan generasi muda sekarang kurang memperhatikan keberagaman suku bangsa di Indonesia ini? Adakah dampak negatif dan positiv dari keberagaman suku bangsa di kalangan generasi muda?
    2. Selain itu generasi muda juga menganggap bahwa orang yang berbeda suku dengannya adalah musuh baginya, sehingga generasi mudapun bergaul hanya dengan golongan-golongan atau suku-suku tertentu? Bagaimana bapak menanggapi hal tersebut?
    3. Adakah pengaruhnya keberagaman suku bangsa dengan sistem pendidikan di Indonesia?

    BalasHapus
  17. Nama : Pathurochmah
    Kelas : PIPS Reguler B 2013
    Sudi judul yg menarik. Fenomena mengenai penyandang marga memang kerap kali terjadi di sekitar kita. Untuk menjadi seorang kreator tidaklah mudah namun tidak menjadi kerator jauh lebih tidak mudah. Apa yg terjadi dengan bangsa ini karena kebanyakan dari mereka sudah cukup puas dengan penyandang pengekor sehingga tidak ada motivasi untuk menkadi seorang kreator.
    pertanyaan
    1.bagaimana cara memulai menjadi seorang kreator?
    2. Ketidaksudian dalam hal apa sajakah yg seharusnya dilakukan?
    3. Bukankah terlalu menonjol diantara yg lain juga akan menimbulkan sesuatu yg lain?

    BalasHapus
  18. Dessy Permata Sari (4915131417)
    ‘SUDI’ di generasi sekarang memang sudah banyak masyarakat Indonesia yang ogah untuk menempatkan nama marga di belakang namanya. Karena mereka menilai penempatan nama marga itu tidak keren, jadul dan lain sebagainya. Tetapi sebenarnya marga itu dapat menegaskan akar keberasalan dan keberadaan kita. Kita dapat mengambil contoh Cokot. Nama Cokot, dari namanya saja sudah dapat kita kenali dia adalah orang Indonesia. Dan pada akhirnya dia dikenal oleh dunia dan melahirkan aliran cokotisme pada seni patungnya. Di generasi sekarang memang sudah banyak dipengaruhi oleh westernisasi dan menjadikan generasi sekarang kurang tertarik dan menghargai adat istiadat daerahnya. Contohnya dari penempatan nama marga saja, generasi sekarang ogah menempatkan nama marganya dibelakang nama mereka
    1. Adakah cara lain untuk menunjukan identitas seseorang selain dengan pemberian nama marga?
    2. Mengapa generasi sekarang kurang tertarik dengan adat istiadat daerahy dan lebih tertarik dengan budaya luar?
    3. Bagaimana cara menumbuhkan sikap sesorang untuk lebih mencintai budaya sendiri?

    BalasHapus
  19. Lucy Santa Katarina ( P. IPS Regular 2013 )

    Tulisan tersebut sangat mengkritik sekali terhadap mereka yang menjadi plagiat atau pengekor. Saya juga sangat setuju dengan arti ketidaksudian yang tercantum dalam tulisan diatas. Bahwa selayaknya kita harus berani untuk berbeda. Berani untuk menolak ketidaksudia sebagai plagiat. Mengerti akan sebuah keanehan nama yang memiliki makna rahasia.
    Pertanyaan :
    1. Mengapa dijaman sekarang ini banyak orang yang menjadi pengekor bukan kreator ?
    2. Mengapa orang malu terhadap marga yang diberikan oleh orang tuanya ?
    3. Mengapa orang lebih cenderung memilih untuk hal-hal yang lebih popular ketimbang hal aneh yang unik ?

    BalasHapus
  20. Sella Alferaria
    4915131419
    P.IPS A 2013
    identitas kita ditentukan dan ditunjukkan oleh akar keberasalan yang tampak sangat kentara melalui nama. Misalkan nama Golden Boy Oscar De Lahoya, kita akan mengetahui atau mengira-ngira bahwa nama itu bukanlah orang Indonesia, melainkan warga negara Amerika Serikat. Begitu pula dengan nama Cokot, dari namanya saja terdapat nama kekhasan orang Indonesia. Jadi, melalui nama kita dapat menebak akar keberasalan dan keberadaan mereka. Saya setuju dengan pendapat yang ada didalam tulisan ini bahwa marga sebenarnya menegaskan akar keberasalan dan keberadaan. Jadi, marga seharusnya tetap dipertahankan bersama nama, sebagai cara menegaskan akar dari mana si pemilik nama berasal.
    Namun permasalahan yang terjadi adalah kurangnya rasa bangga terhadap tradisi dan kebudayaan bagi marga Indonesia. Karena menganggap nama – nama tersebut seperti nama – nama kesukuan, tidak keren, cadul, tidak modern. Sebagian besar mereka bangga mengikuti nama- nama di negara maju, padahal hal yang membuat mereka untuk mengundang rasa ingin tahu adalah akar keberasalan yang unik dan berbeda yang mereka anggap eksotis.
    Seperti pengalaman Cokot, pematung asli Bali bukan saja mempertahankan identitas Bali , tetapi menciptakan akar pribadi dalam patung-patungnya. Ia kemudian disejajarkan dengan pematung tingkat dunia, dihargai karena keunikan yang berakar pada Bali dan pribadinya, sampai memunculkan aliran Cokotisme. Hal itu membuat Cokot yang dikenal kreator besar karena memiliki akar, menciptakan tradisi dan ketidaksudiannya mengikuti tradisi yang sudah ada.
    Pertayaan
    1. Adakah cara lain untuk menegaskan akar keberasalan selain melalui nama?
    2. Bagaimana cara membuat masyarakat untuk mempertahankan tradisi dan akar keberasalan?
    3. Adakah cara untuk mencegah warga indonesia dari westernisasi?

    BalasHapus
  21. Saya Annisa Ekafenty Ramadhania (4915131407) dari Pendidikan IPS A 2013, saya ingin mengomentari salah satu tulisan bapak yang berjudul Sudi. Menurut saya, pada awalnya cerita ini sangat berbeda dengan cerita –cerita sebelumnya. Sudi sangat lah memotivasi bagi para pengikut atau followers yang sampai saat ini masih banyak di Indonesia. Bahkan tidak hanya menjadi pengikut, banyak sekali masyarakat yang menjadi plagiat dalam hidupnya. Semua manusia mempunyai sifat yang berbeda,oleh karena itu bagaimana kita bisa mengolah sifat tersebut menjadi sifat yang berbeda dari kebanyakan orang dan menjadi identitas yang dapat dibanggakan dan menjadikan kita menjadi manusia yang mempunyai amanah, dan bermakna bagi orang lain karena dapat menjadikan contoh dan pedoman yang dapat dibanggakan.
    Pertanyaan:
    1. Apakah manusia yang menjadi pengikut memiliki keyakinan bahwa yang diikuti tersebut benar dan dapat dijadikan pedoman?
    2. Mengapa banyak manusia yang ingin menjadi pengikut? Apakah mereka tidak mempunyai kreatifitas serta imajinasi?
    3. Bagaimana cara memunculkan rasa tak sudi yang dapat melahirkan berfungsinya daya kreatif?
    Terima Kasih.

    BalasHapus
  22. Saya Annisa Ekafenty Ramadhania (4915131407) dari Pendidikan IPS 2013, saya ingin mengomentari salah satu tulisan bapak yang berjudul Sudi. Menurut saya, pada awalnya cerita ini sangat berbeda dengan cerita –cerita sebelumnya. Sudi sangat lah memotivasi bagi para pengikut atau followers yang sampai saat ini masih banyak di Indonesia. Bahkan tidak hanya menjadi pengikut, banyak sekali masyarakat yang menjadi plagiat dalam hidupnya. Semua manusia mempunyai sifat yang berbeda,oleh karena itu bagaimana kita bisa mengolah sifat tersebut menjadi sifat yang berbeda dari kebanyakan orang dan menjadi identitas yang dapat dibanggakan dan menjadikan kita menjadi manusia yang mempunyai amanah, dan bermakna bagi orang lain karena dapat menjadikan contoh dan pedoman yang dapat dibanggakan.
    Pertanyaan:
    1. Apakah manusia yang menjadi pengikut memiliki keyakinan bahwa yang diikuti tersebut benar dan dapat dijadikan pedoman?
    2. Mengapa banyak manusia yang ingin menjadi pengikut? Apakah mereka tidak mempunyai kreatifitas serta imajinasi?
    3. Bagaimana cara memunculkan rasa tak sudi yang dapat melahirkan berfungsinya daya kreatif?
    Terima Kasih.

    BalasHapus
  23. Nama : Vivich Husnul Khotimah
    NIM : 4915131387
    Jurusan : P.IPS A 2013
    Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
    Bukankah pelestarian terhadap apa yang telah dipertahankan itu penting? Lantas, mengapa itu disebut dengan pengekor? Menjaga identitas itu penting, karena dengan identitas semua akan menjadi jelas. Menurut saya taksudi merupakan suatu penolakan, menolak untuk mempertahankan identitas yang telah melekat. Dan untuk menjadi seorang kreator tidak perlu melepaskan sebuah identitas. Karena kreatif itu penting dan kreatif itu tidak menggeser sesuatu yang telah ada tetapi mengintegrasikan sesuatu yang telah ada dengan sesuatu yang baru sehingga ada sebuah penyegaran dalam sebuah karya.

    Pertanyaan :
    1. Bagaimana sesuatu dikatakan unik ? dan apakah ilmu pengetahuan dapat dikatakan sesuatu yang unik?
    2. Bagaimana identitas itu dibuktikan? Bukankah identitas itu abstrak?
    3. Bagaimana identitas itu bisa tertanam di dalam diri manusia?

    BalasHapus
  24. sebuah identitas sangat diperlukan, karena sebuah identitas menunjukan serta mengetahui perbedaan tanpa ada peniruan.

    1.apa makna dari TAKSUDI tersebut?
    2.apakah setiap orang merasakan hal taksudi?

    BalasHapus
  25. NAMA : WINDI MELANDINI
    NIM : 4915131379
    P.IPS A 2013
    Ya memang betul generasi sekarang mulai menghilangkan kebiasaan membawa nama marga mereka, karena alasan tertentu. Padahal marga itu penting untuk menunjukan identitas mereka. Apalagi jika nama marganya terkesan unik, karena unik hal tersebut mempunyai ciri sendiri. Pada saat ini hal yang berbeda dari yang lain atau ketidakseragaman justru banyak menarik perhatian orang lain. Karena unik orang lainpun jadi ingin lebih tau dan mempunyai identitas sendiri. Seperti suku dan kebudayaan di indonesia, bermacam-macam suku dan kebudayaan memiliki ciri masing-masing, bahasa yang berbeda, adat istiadat yang berbeda hal itulah yang membuatnya terlihat lebih menarik
    1. Apa yang harus dilakukan agar menjadi seorang kreator?
    2. Bagaimana cara menanamkan rasa bangga untuk generasi sekarang pada marga mereka sendiri?
    3. Mengapa identitas diri itu diperlukan?

    BalasHapus
  26. Marga itu nama dari sebuah keluarga. Setiap nama pasti memiliki arti tersendiri. Setiap orangtua yang memberikan nama pada anaknya pastilah mempunyai harapan dan doa pada arti nama yang mereka berikan. Tega kah kita bila menghapus harapan dan doa tersebut? Sungguh disayangkan bila ada orang yang tega menghapus marga dari namanya. Padahal dengan adanya marga, mereka mempunyai sebuah identitas yang jelas atas asal usulnya. Haruskah ada ketentuan hukum tentang kewajiban seseorang yang mempunyai marga tidak boleh menghilangkan marganya dari nama mereka?

    FIDAYANTI AFRILIA PUTRI
    P.IPS B 2013 (4915133422)

    BalasHapus
  27. Maulida Nurul Atikah
    PIPS Reguler B 2013
    4915137155

    menurut saya, jelas memang pencantuman marga yang terkait dengan asal seseorang dan keberadaan mereka pada zaman ini sudah mulai pudar. mengapa? karna mungkin perbedaan waktu yang menjadi masalahnya. hal itu wajar kalau menurut saya. karena seperti contoh saya hidup di zaman yang teknologi informasi sudah berkembang, sangat berbeda dengan zaman orang tua ataupun pendahulu saya yang tinggal di era yang belum mengenal kemajuan. rasa kebanggan atas asal usul mereka amat sangatlah minim. untuk itu perlu lah diadakan sosialisasi tentang hal ini. kalaupun tidak ada tindak lanjut yang tegas untuk masalah yang mungkin terlihat sepele seperti ini maka kebudayaan kita yang sudah tumbuh sejak dahulu tidak ada yang mengembangkan? kalau bukan kita, siapa lagi?

    pertanyaan :
    1. apakah hanya suku Batak saja yang mempunyai marga?
    2. seberapa pentingkah marga itu?
    3. apakah hanya marga yang dijadikan sebagai suatu identias asal usul seseorang?

    BalasHapus
  28. INTAN BAHRIANI KHAER
    4915131391
    PIPS A 2013
    (Sudi)
    Benar, kini banyak orang yang menghilangkan identitasnya. Entah karena apa penyebabnya hanya mereka yang tahu. Namun tidak semua tipikal orang itu sama, pasti setiap orang berbeda-beda. Berbeda pandangan serta pemikiran. Biarkan saja yang menghilangkan identitasnya, mungkin mereka ingin disamaratakan dengan suku atau marga lain seperti masyarakat modern pada umumnya. Berbeda dengan orang yang masih teguh pendirian dengan identitas asalnya, mereka terlihat bangga dan ingin menjadi yang terlhat berbudaya di mata banyak orang. Jika semua orang di dunia adalah seorang kreator, maka siapa yang akan menikmati hasil karya? Maka diciptakanlah perbedaan cara pandang setiap orang. Ada yang menjadi actor, sutradara, dan penonton. Bukan karena buruk, tapi itu pilihan. Hidup itu memilih dimana kita akan berpijak.

    Pertanyaan:
    1. Apakah setiap manusia harus memaksakan diri untuk berkreativitas?
    2. Apakah manusia bisa dikatakan berkualitas apabila tidak beridentitas?
    3. Mampukah seseorang mengaktualisasikan diri hanya dengan beridentitas?

    BalasHapus
  29. dengan berkembangnya zaman banyak manusia yang tidak mau menggunakan marga karena menurut saya mereka berfikiran bahwa tidak mengikuti modernisasi, dan menurut saya mereka malu terbukti setelah saya perhatikan banyak yang menggunakan nama fb hanya nama awal dan terkadang nama marganya tak di cantumkan, lalu bagaimana cara mengatasi berfikir anak muda zaman sekarang agar tidak berfikir bahwa mencantumkan nama tersebut menurut mereka norak atau tidak modern ? namun dari tulisan tersebut "sudi bukanlah penolakan, tetapi rasa ogah untuk menjadi epigon atau pengikut. Ketaksediaan menjadi pengikut memicu kita untuk menonjolkan keunikan dan keberbedaan, tidak hanyut tenggelam dalam samodra keseragaman" namun dari prnyataan tersebut yaitu bahwa seseorang tidak ingin menjadi pengikut tetapi ingin menampilkan ke berbedaan tersebut namun menurut saya tidak harus menghilangkan asal usul kita karena itu lah yg menandakan kita dari mana asal kita.lalu bagaimana cara menampilkan keberbedaan kita agar tidak menjadi buntut atau pengikut selain menghilangkan marga ?

    BalasHapus
  30. AGINDA NABILA PUTRI YUDIA
    4915131408
    P.IPS A 2013

    Benar. Memang pada zaman sekarang banyak yang sudah meninggalkan identitas mereka, tidak tahu apa alasannya kenapa. Mungkin anak zaman sekarang malu mencantumkan nama marga mereka, malah sebagian mereka ada juga yang tidaj mencantumkan nama marga tersebut di akte kelahirannya. Dan seharusnya kita bangga dengan asal-usul kita, bukannya malah malu dengan semua itu.

    1. Apa yang salah dengan pecantuman sebuah marga?
    2. Mengapa kita harus bangga dengan sebuah marga sebagai asal-usul dari mana kita berada?
    3. Bagaimana cara mempertahankan sebuah marga yang telah ada dalam sebuah keluarga?

    BalasHapus
  31. Nama : marsella dwi rahmah
    NIM : 4915131394
    Assalamualaikum wr.wb
    setelah membaca tulisan bapak yang berjudul Sudi, saya ingin menjelaskan bahwa setiap orang itu harusnya bangga dengan apa yg dimilikinya karena setiap masing-masing individu mempunyai karakteristik, identitas yang berbeda satu sama lain. itu semua membuat keunikan tersendiri dan ciri khas yang dimiliki setiap individu. Menurut saya tidak usah malu untuk menunjukan karakteristik kita karena setiap orang itu mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Di era modernisasi seperti ini kita harusnya tetap menjaga jati diri kita agar tidak hilang terbawa arus tersebut. Seperti pencantuman nama marga, Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya, kita tidak perlu malu untuk mencantumkan nama marga kita karena dari situ lah orang lain bisa melihat dari mana kita berasal jangan sampai kalah dengan orang luar yang bangga bila mencantumkan nama marga yang belum tentu dia berasal dari negara yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya.
    Intinya, tetap pertahankan identitas dan karakteristik masing-masing karena Allah memberikan keistimewaan kepada masing-masing umatnya.

    1. bagaimana cara agar kita tidak terpengaruh dengan budaya luar?
    2. kenapa setiap manusia itu terkadang malu dengan apa yang telah dimilikinya?
    3. mengapa era modernisasi sangat membawa pengaruh sehingga orang melupakan identitas dirinya?

    BalasHapus
  32. Nama : marsella dwi rahmah
    NIM : 4915131394
    Assalamualaikum wr.wb
    setelah membaca tulisan bapak yang berjudul Sudi, saya ingin menjelaskan bahwa setiap orang itu harusnya bangga dengan apa yg dimilikinya karena setiap masing-masing individu mempunyai karakteristik, identitas yang berbeda satu sama lain. itu semua membuat keunikan tersendiri dan ciri khas yang dimiliki setiap individu. Menurut saya tidak usah malu untuk menunjukan karakteristik kita karena setiap orang itu mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Di era modernisasi seperti ini kita harusnya tetap menjaga jati diri kita agar tidak hilang terbawa arus tersebut. Seperti pencantuman nama marga, Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya, kita tidak perlu malu untuk mencantumkan nama marga kita karena dari situ lah orang lain bisa melihat dari mana kita berasal jangan sampai kalah dengan orang luar yang bangga bila mencantumkan nama marga yang belum tentu dia berasal dari negara yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya.
    Intinya, tetap pertahankan identitas dan karakteristik masing-masing karena Allah memberikan keistimewaan kepada masing-masing umatnya.

    1. bagaimana cara agar kita tidak terpengaruh dengan budaya luar?
    2. kenapa setiap manusia itu terkadang malu dengan apa yang telah dimilikinya?
    3. mengapa era modernisasi sangat membawa pengaruh sehingga orang melupakan identitas dirinya?

    BalasHapus
  33. Adinda
    4915131389
    P.IPS A 2013

    Marga bukan hanya sebagai identitas tetapi sebagai pengikat rasa persaudaraan yang mempunyai ikatan darah. Tetapi marga secara tidak langsung bukankah sebagai pemecah persatuan. Karena akan terjadi rasis terhadap sesuatu yang bukan dalam kelompok mereka(katakanlah marga itu sebagai kelompok) meskipun kita mempunyai bhinneka tunggal ika. Ini sebuah ironis dalam negeri kita. Marga juga digunakan untuk menyatakan golongan atau status sosial bagi beberapa keluarga. Namun sering kali sebuah marga digunakan untuk ‘menyelamatkan’ anak cucunya yang menyandang marga tersebut. Sehingga dapat dipandang hebat oleh lingkungan sosial, yang bisa jadi belum tentu sehebat ayahnya. Dalam tulisan bapak yang berjudul “SUDI” menginspirasi saya bahwa kita sebagai generasi muda jangan menjadi pengekor atau pengikut saja, tetapi kita harus menjadi kepala. Mengapa saya katakan seperti itu? Selain kepala yang akan maju duluan dalam pergerakan dan juga sebagai penggerak. kepala juga yang memikirkan dan mencari sebuah kreasi, inovasi, dan ide. Karena kepala yang penggerak badan dan ekor.
    1. Bagaimana cara kita menjadi seorang penggerak tidak menjadi seorang pengikut?
    2. Bagaimana tanggapan bapak terhadap orang hebat yang menghilangkan identitas aslinya dan mengganti dengan nama yang lebih komersial padahal jika ia mempertahankan identitas aslinya dapat mempertegas keindonesiaannya di mata dunia?
    3. Dibalik sebuah nama besar yang disandang. menurut bapak sebuah identitas nama besar akan menjadi sebuah ketidakpercayaan diri sang pemilik terhadap identitas tersebut?
    4. Apakah identitas yang ada di indonesia ini sudah mulai punah tergerus zaman?

    BalasHapus
  34. Dari membaca tulisan Pak Nusa di atas saya menyimpulkan bahwa ketika kita mempunyai perbedaan di antara yang lain janganlah kita merasa minder ataupun berkecil hati sebab dari keunikan dan keberbedaan itulah menimbulkan apresiasi. Bahkan ketika kita memunculkan suatu ide janganlah takut untuk mengeksplor, karena dari itulah kita dapat menjadi manusia yang beridentitas dan berkualitas. Setiap manusia pasti memiliki bakat dan minat masing-masing karena dari situlah muncul ide-ide kreatif yang dapat mengembangkan otak kita. Sebagai contoh yang telah disampaikan pak nusa tadi yaitu Cokot sang kreator yang memiliki akar menciptakan tradisi. Dari pernyataan itu saya tahu bahwa dalam sebuah sejarah janganlah kita menjadi pengikut sejarah saja, akan tetapi jika lebih baik kita menjadi pemeran utama atas sejarah tersebut.

    1. Apakah dalam pendidikan sekarang ini para murid dituntut untuk menggunakan daya kritisnya?
    2. Penelitian apa yang dapat diambil ketika seseorang memasuki dunia empirisme akan tetapi pikiran atau akal dia sebenarnya tergolong dalam kriteria rasionalisme?
    3. Bagaimana mengembangkan sikap kritis atau kreativisme, akan tetapi kita masih diliputi oleh perasaan malu?
    4. Apakah perasaan malu merupakan faktor utama yang menyebabkan seseorang menjadi pengikut atau pengekor?

    BalasHapus
  35. Nama : Rizky Rachmawati
    Nim : 4915131381
    Kelas : p.ips A 2013
    Sebagai orang Indonesia harusnya kita bangga terhadap apa yang dimiliki negara tercinta kita ini. Terutama budaya yang sejak zaman dahulu dimiliki. Banyak orang asing yang sangat menyukai budaya tradisonal Indonesia. Bahkan sampai ada yang mengabadikannya dan menjadikan sebagai tempat yang dituju selama liburan tiba. Bila orang asing saja sangat mencintai budaya Indonesia, masa kita sebagai orang asli Indonesia tidak mencintai budaya sendiri?. Kalau kita mengetahui semua jenis kebudayaan yang ada di Indonesia tentu kita tidak perlu bergaya ke barat-baratan untuk memperkenalkan negara Indonesia. cukup dengan memperkenalkan budaya asli sudah menjadikan Indonesia sebagai negara yang dikenal negara lain.

    Pertanyaan:
    1. Mengapa untuk memperkenalkan budaya Indonesia harus bergaya barat?
    2. Apakah cerita diatas memiliki ciri penting ilmu yaitu rasional?
    3. Bagaimana seharusnya kita memperkenalkan budaya Indonesia berdasarkan filsafat ilmu?

    BalasHapus
  36. Ajeng Nur Aryani
    P.IPS
    marga sebuah symbol untuk keturan keluarga, di era modernisasi ini masyarakat sudah jarang yang memakai nama dengan marganya. Menurut saya ini budaya yang salah karena budaya yang seperti ini sebaiknya tidak boleh dihilangkan. Masyarakat sekarang sudah mengikuti gaya hidup yang kebarat-baratan ya akibatnya seperti ini. Banyak sekarangartis di relevusi mengganti namanya dan menghilangkan marga mereka. Indonesia sudah hilang sekali budaya masa lalu karya yang begitu gemilang juga sudah layu sebaiknya diapresiasikan.
    Pertanyaan :
    1. Mengapa ada jata marga? sebenarnya apa itu marga?
    2. Marga apa yang paling tertinggi do dunia?
    3. Marga yang seperti apa ya g biasanya di pakai oleh setiap orang?

    BalasHapus
  37. Nama : Nur Anisa Atmaja
    NIM : 4915131383
    P.IPS A 2013

    Dari tulisan Pak Nusa yang berjudul sudi ini bahwa Tuhan menciptakan semua manusia pasti dengan berbagai macam keunikan. Entah itu manusianya itu sendiri, marga, nama tempat, ataupun sebuah inovasi. Dari keunikan tersebutlah seharusnya manusia memahami potensi yang ada supaya dapat menumbuh kembangkan potensi yang dimilikinya. Sikap ketaksudian itu memang bukanlah sebuah penolakan akan tetapi lebih tepat jika dikatakan ketaksediaan menjadi pengikut maupun pengekor. Yakinkan bahwa diri kita berbeda dengan pribadi yang lain. Ketika orang lain mampu menciptakan inovasi baru contohnya Cokot, lantas janganlah kita mengikuti apa yang telah Cokot lakukan. Akan tetapi kita menemukan sebuah inovasi baru yang orang lain belum temukan. Dengan cara mengoptimalkan kerja pikiran melalui penemuan baru
    1. Manusia berbeda dengan makhluk lain, tetapi mengapa kebanyakan manusia cenderung tidak mau megembangkan potensi yang ada?
    2. Apa yang seharusnya kita lakukan ketika belum mengetahui potensi yang kita miliki?
    3. Bagaimana cara mengasah atau memperdalam potensi kita agar lebih bermanfaat?

    BalasHapus
  38. Yolla Rachmaan Ismatullah P. IPS B 2013
    Marga merupakan salah satu bentuk pengenalan identitas yang memiliki keunikan tersendiri. Marga yang turun-temurun diberikan nenek moyang seharusnya dilestrarikan sebagai bentuk apresiasi. Bentuk apresiasi itu bisa diwujudkan dalam hal apapun. Contohnya saja seperti pematung Bali dalam tulisan ini, dengan karya patungnya yang memiliki ciri khas yang kuat akan identitas Balinya. Keberagaman suku bangsa di Indonesia seharusnya dapat menjadikan generasi muda yang kreatif dengan ciri khas masing-masing. Pesan yang saya dapat dari tulisan ini, berbanggalah dengan keunikan suatu kebudayaan dan menjadikannya sebuah bahan untuk berkreasi. Modal keunikan itulah yang nantinya menjadi daya tarik tersendiri kepada dunia.

    1. Mengapa identitas itu diperlukan?
    2. Bagaimana membuat kaum muda bangga dengan budayanya sendiri?
    3. Apakah menjadi seorang kreator itu sulit?

    BalasHapus
  39. Raka Rosadhi Putra
    P IPS B 2013
    4915133412

    Indonesia. Tersusun dari kurang lebih 17.000 pulau, tentu memiliki berbagai macam adat, budaya, dan identitas masing-masing. Begitu besarnya hingga banyak negeri-negeri tetangga yang mengambil atau mengatasnamakan kebudayaan kita sebagai kebudayaan mereka. kenapa bisa terjadi? KARENA MASYARAKAT INDONESIA TIDAK MENONJOLKAN IDENTITASNYA, kebanyakan masyarakat Indonesia hanya menjadi "pengikut" sungguh suatu hal yang ironis, sejarah menuliskan jaman kejayaan kerajaan Samudera Pasai, Majapahit, Sriwijaya, dan lain-lain yang hampir menaklukan separuh dunia. Tapi pada saat ini, untuk mempertahankan kebudayaan sendiri saja sepertinya tidak mampu dan bahkan MALU untuk menunjukan bahwa dia adalah bagian dari kebudayaan Indonesia.

    Pertanyaan saya
    1. Menurut bapak, siapa yang harusnya disalahkan? Pendahulu kita? Kita? Atau masyarakat luar Indonesia?
    2. Apakah masih ada harapan bagi bangsa ini untuk menunjukkan identitasnya?
    3. Apa cara yang paling efektif untuk meningkatkan kreativitas masyarakat Indonesia?

    BalasHapus
  40. Rismawati Fadillah
    4915131412
    Sudi
    Menurut saya setelah membaca tulisan bapak tentang penting tidaknya suatu marga yang tercantum pada nama tergantung bagaimana seseorang tersebut menyikapi nama tersebut. Karena ada yang menganggap marga itu penting ada juga yg menganggap bahwa itu hanya sekedar nama belakang karena biasanya marga digunakan sebagai identitas darimana orang tersebut berasal atau untuk menunjukan suku bangsa.
    Pertanyaan
    1. Apakah setiap suku bangsa wajib menggunakan marga dibelakangnya ?
    2. Sangat pentingkah suatu marga ?
    3. Mengapa generasi jaman sekarang kurang tertarik untuk menggunakan nama marga dibelakangnya?

    BalasHapus
  41. Nama : Nur Cholis A.S
    P.IPS B 2013
    NIM :4915137156
    Sudi.Negara Indonesia adalah Negara yang memiliki beragam bahasa dan budaya,beragamnya budaya disebabkan oleh beberapa factor yaitu keterbukaan terhadap budaya luar,factor geografis,dan latar belakang historis.Jika dilihat dari latar belakang historis maka tidak akan asing mendengar kata marga,di Indonesia banyak marga yang terkenal dari orang-orang keturunan manado,etnis china,dan batak.Marga dapak dikatakan identitas dari mana seseorang berasal dan biasanya sudah diperkenalkan oleh para orang tua sejak anak masih kecil.Pada zaman yang modern ini ada orang yang mulai menghilangkan nama marga yang ada pada dirinya karena dianggap kubo,ribet,dan yang lebih parah ada yang malu dengan marganya sendiri,padahal identitas itu sendiri merupakan sesuatu yang unik dan orang lain belum tentu memilikinya.Seharusnya orang-orang yang mulai tidak mengharegai marganya tersebut malu,karena itulah kebudayaannya sendiri.Mulailah bersikap t aksudi,taksudi yang dimaksud adalah bukannya tidak mau,tapi maksudnya adalah tidak mau budaya dan identitasnya dibuang dan diejek seperti itu.Dengan ketidaksudian itu pula maka akan ada sesuatu yang unik dan baru dengan ditambah kemampuan inovasi yang baik,ya seperti yang telah dituliskan diatas bahwa orang yang memiliki sikap taksudi seperti iwan fals dan lain-lain adalah orang yang taksudi menjadi pengikut apa yang telah ada,mereka akan selalu bergerak dan berinovasi untuk menciptakan sesuatu yang baru,maka dari itu teruslah menjadi orang yang berfikir dan bertanya tentang sesuatu yang baru dan tidak memperdulikan hal-hal dari luar yang dapat mengganggu.Belajarlah dari “waktu” yang selalu bergerak kedepan dan tidak pernah ragu meninggalkan siapapun.
    PERTANYAAN
    1.Bagaimana solusi dari masalah generasi muda yang mulai menghilangkan marganya ?
    2.Sikap taksudi seperti apakah yang seharusnya diperbaiki generasi muda sebagai penerus bangsa ?
    3.Apa yang membuat suatu hal menjadi unik dan berbeda ?
    4.Sejauh mana sikap taksudi berpengaruh kepada Negara Indonesia dimasa depan ?
    5.Adakah creator yang tidak memiliki sikap taksudi ?

    BalasHapus
  42. SITI ALAWIYAH
    4915131385

    Marga yang dicantumkan diakhir setiap nama sesorang seharusnya tidak dihilangkan karena tidak semua orang dapat memiliki marga itu. Marga membuat keunikan tersendiri dalam diri seseorang atau sekelompok orang. Perbadaan nama-nama marga yang ada di Dunia ini, membuat dunia memiliki keanerakagaman dan keunikan sendiri. Dahulu orang yang memiliki marga dibelakang namanya, sangatlah bangga akan itu. Namun sekarang banyak orang yang malu dengan marga yang tercantum dibelakang namanya. Tidak tahu kenapa mereka malu dengan nama marganya, mungkin mereka menganggap marga yang menyangkut dibelakangnya itu kuno, jadul sudah ketinggalan jaman, tidak gaul. Mereka mengikuti budaya yang masuk tanpa menyaringnya terlebih dahulu sehingga membuat mereka menjadi sama. Padahal perbedaan yang dimilki setiap orang dapat memperlihatkan identitas orang tersebut. Jadi seharusnya setiap orang yang memiliki marga harus bangga akan identitas yang dimilkinya, karena tidak semua orang memilkinya. Jangan hanya mengikuti perkembangan zaman yang dapat menghilangkan identitas suatu marga.

    1. Bagaimana seharusnya anak muda zaman sekarang melestarikan marga yang dimilkinya agar marga tersebut tidak hilang dimakan zaman?
    2. Apakah memiliki marga, dapat memperlihatkan keanekaragaman yang terjadi di dunia ini?
    3. Siapa yang harus menjaga dan melestarikan marga yang ada di dunia ini?

    BalasHapus
  43. NAMA : FANNY FITRIYANI
    NIM : 4915131376
    P.IPS A 2013

    Dari tulisan ini, memberi tahu kepada kita bahwa setiap oaring mempunyai identitas yang berbeda-beda. Identitas itu tidak diambil secara sembarangan, tetapi berdasarkan adat atau kebudayaan yang telah ada sejak zaman dulu. Ketika saya membaca tulisan ini, pada tengah-tengah tulisan terdapat kata “Leuwiliang” saya langsung tersenyum karena nama daerah itu merupakan nama tempat tinggal saya. Ternyata Leuwiliang cukup terkenal juga. Kembali ke masalah identitas, identitas seharusnya tidak dihilangkan karena identitas merupakan ciri khas dalam diri kita.
    Pertanyaan :
    1. Bagaimana identitas itu berasal atau bermula?
    2. Bagaimana cara kita untuk mempertahankan identitas diri akan tidak hilang dari diri kita?
    3. Apakah identitas itu hanya berupa nama atau marga?

    BalasHapus
  44. assalamualaikum warohmatulohi wabarokatuh,
    nur muhammad
    p.ips b 2013


    sudi
    zaman sekarang memang sudi tak sudi memiliki nama marga di belakangnya.
    unik memang salah satu suku di indonesia ini yaitu suku batak dimana setiap orang batak memiliki nama marga yang berbeda itu menunjukan atau mencirikan bahwa marga adalah suatu keturunan dari keluarga.namun sekarang ini jarang sekali suku batak yang mau menggunakan nama marga karena mereka merasa malu jika di cantumkan nama marganya itu..

    pertanyaan:
    1.dari manakah asal usul marga tersebu?
    2.apakah boleh bila kita tidak menggunakan nama marga tersebut?
    3.apakah dampak positif dan negatif dengan adanya marga?

    BalasHapus
  45. Nama saya Anzani Mutiara, dari kelas P.IPS A 2013.berdasarkan tulisan bapak yang berjudul Sudi, menurut itu memang benar bahwa sekarang-sekarang ini banyak yang telah menghapus maraga dalam namanya. Tentu hal ini bukan sesuatu yang membagakan, karena dapat melunturkan budaya kita. Dengan zaman ang semakin modern ini tentu saja kita tidak bisa untuk menutup diri dari globalisasi, namun nampaknya kita harus membangun kesadaran kita bahwa identitas bangsa kita janganlah kita merasa bangga dengan mengikuti trend yang kebarat-baratan, sebaliknya kita seharusnya dapat menjadi trendsetter bagi Negara kita, agar Negara lain yang menjadi pengikut kita, bukan kita yang menjadi pengikut. Saya setuju dengan pendapat bapak bahwa kita harus memiliki sikap tak sudi untuk menjadi pengikut. Menurut saya sikap ini memang seharusnya kita lakukan dari dulu, agar bangsa kita ini tidak kehilangan jati diri dan keunikannya. Budaya yang kita lupakan lama-lama akan hanya menjadi sejarah dan pada akhirnya kita tidak mempunyai keunikkan yang bisa kita tunjukan kepada dunia bahwa bangsa kita merupakan bangsa yang majemuk. Jika bukan kita lalu siapa lagi yang menjaga dan melestarikan budaya bangsa ini ?

    1. Bagaimana caranya agar kita sebagai generasi muda tidak terpengaruh atau tetap bisa menjaga kebudayaannya agar tidak punah ?
    2. Bagaimana menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya bangsa kita ini ?
    3. Apakah dengan zaman yang semakin modern ini kita tidak bisa untuk menghilangkan sikap kita yang sekarang ini cenderung menjadi epigon atau pengikut ?

    BalasHapus
  46. Fani Novi Alvianta
    4915133411
    P.IPS Reg B 2013

    Kepemilikan marga memang sangat identik di Indonesia, seperti di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sulawesi, Maluku, dll. Namnu dari beberapa daerah tersebut, yang paling mendominasi memang dari daerah Sumatar Utara yaitu suku batak. Pada zaman sekarang ini banyak keturunan batak yang tidak memakai marganya karena berbagai alasan. Seharusnya mereka bangga dan menonjolkan keunikan dari suku mereka. Menunjukkan marga bukanlah untuk menganggap sukunya paling benar, namun untuk menunjukkan bahwa kita bangga atas keunikan dan keberagaman suku di Indonesi. Dengan seperti itu, kita dapat menunjukkan ke Negara lain bahwa kita memiliki banyak keunikan dan kebergaman yang dapat dikembangkan dan dibudidayakan agar tetap terjaga.

    1. Bagaimana cara untuk mengajak dan menghimbau agar mereka yang memiliki keunikan dan keberagaman mau mengembangkannya?

    2. Apa wadah yang harus dibentuk untuk membantu mengembangkan keunikan dan keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia agar dikenal oleh Negara lain?

    3. Bagaimana cara menanamkan sikap berpendirian teguh terhadap apa yang kita miliki agar tak di akui atau di dominasi oleh hal-hal lain?

    BalasHapus
  47. SITI CHADIJAH
    P.IPS B 2013


    Seharusnya sebagai orang Indonesia kita bangga akan nama marga yang diberikan. Indonesia yang memiliki suku bangsa yang berbeda-beda yang membuat nama marga berbeda-beda pula. Yang membuat nama itu unik dan orang luar menjadi bertanya-tanya bagaimana orang Indonesia bisa mendapatkan nama seunik itu. Sebagai orang Indonesia kita boleh saja kita mengikuti arus globalisasi tapi jangan sampai kita melupakan jiwa nasionalisme kita.

    1. Bagaimana agar orang tidak melupakan tentang nama marga mereka?
    2. Bagaimana cara menjadi kreator yang berkualitas dan bisa membanggakan identitas?
    3. Bagaimana agar tidak terus menjadi pengekor?

    BalasHapus
  48. Nama : Septi dwi Ambarwati
    NIM : 4915131371
    P.IPS A 2013
    Apalah arti sebuah nama. Kalimat ini sering muncul pada saat nama seseorang yang sangat jadul ternyata orang tersebut sukses. Disisi lain, nama sangat keren tetapi tidak sukses. Ini banyak terjadi pada kehidupan sekarang. Seperti halnya pada orang Batak, yang sangat bangga akan marganya. Bahkan untuk menyebut atau menulis nama pun, yang ditonjolkan nama marganya dan nama depannya disingkat atau inisial. Di era globalisasi ini mulai dari kalangan artis, golongan atas, menengah, dan bawah nama dijadikan trenseter. Contohnya penyanyi dangdut dengan nama asli Surkianih menjadi Saskia Gotik (Goyang Itik), Julia Perez menjadi Jupe, Dewi Persik menjadi DP, Presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono menjadi SBY, Abdurizal Bakhri tokoh golkar menjadi Ical, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menjadi Jokowi, dan lain-lain. Jadi, kesimpulannya nama kadang membawa hoki tersendiri, tetapi yang jelas apapun namanya, manusia harus beridentitas dan berkualitas.
    Setelah saya baca dan pahami terus terang antara judul dengan isi tulisan tidak berhubungan. Saya harus 3 sampai 4 kali membaca tulisan ini. Biasanya saya cukup sekali atau dua kali sudah dapat dipahami.
    Pertanyaan :
    1. Kata “Tak sudi”, apa maksud dari kata untuk isi tulisan bapak tersebut?
    2. Setujukah bapak bahwa nama seseorang itu bagian dari doa orang tuanya?
    3. Apa arti dari pengekor?

    BalasHapus
  49. SITI MARIA ULPAH/4915131401/P.IPS A 2013

    Setelah membacanya, memang di zaman seperti sekarang ini semakin banyak orang yang tidak menggunakan nama belakang sebagai ciri khas darimana asalnya. Entah karena mereka malu atau karena dikira nama belakang atau marga sudah tidak keren dan jelek. Tapi sesungguhnya jika disandingkan dengan nama orang asing, nama kita tentu unik. Sesuatu yang unik itu indah. Orang asing saja tidak malu masih menggunakan nama marganya meski sudah turunan entah ke berapa. Pertanyaan:
    1. Bagaimana mengubah cara berpikir orang zaman sekarang bahwa sesuatu yang unik dan indah itu perlu dilestarikan, bukan malah malu?
    2. Adakah sisi positif dari mengekor nama orang asing, bukan malah nama daerah atau marga asalnya?
    3. Perlukah mengedepankan sifat cuek dengan tanggapan orang lain yang menertawakan nama marga kita yang aneh?

    BalasHapus
  50. Arlietha Nofeliza (4915131392) Pendidikan IPS A 2013
    Identitas merupakan hal penting yang ada pada diri seseorang. Dengan adanya identitas kita bisa dikenal oleh setiap orang. Begitu pula dengan sebuah negara, sebuah negara pasti mempunyai identitas tersendiri atau sebagai ciri khas yang membedakan negaranya dengan negara lainnya. Sebagai warga negara Indonesia, sudah merupakan kewajiban kita untuk menjaga identitas dan kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh pahlawan-pahlawan kita. Tetapi perlu dingatkan bahwa kita tidak boleh menjadi seseorang yang hanya menjadi pengekor, tetapi kita harus bisa menciptakan sesuatu yang lebih baik lagi agar kualitas bangsa kita dikenal lebih baik lagi oleh bangsa lain. Dan kita jangan hanya bisa menjadi seseorang pengekor, karena jika kita hanya menjadi sebuah pengekor tentu saja kita merupakan seseorang yang hanya menikmati saja tetapi tidak pernah merasakan bagaimana perjuangan sesungguhnya. Oleh karena itu kita harus bisa menjadi seorang kreator yang mempunyai prinsip-prinsip unruk melahirkan kreatifitas yang baik. Karena dengan hal tersebut maka identitas akan berkualitas menjadi baik. Lalu pertanyaannya mengapa saat ini banyak sekali seseorang yang dengan sengaja menghilangkan identitas bangsa, seperti salah satu contohnya yaitu menghilangkan nama marga di belakang nama? Mengapa itu bisa terjadi ? apakah ada kaitannya dengan semakin maju dan modernya zaman? Jika ia, apakah hanya hal itu saja yang menjadikan penyebab semuanya ? sesungguhnya apa yang menyebabkan sebuah negara kehilangan sebuah identitasnya? Apakah ada kaitan dari faktor eksternal/ internal?

    BalasHapus
  51. NAMA : TEGUH AJI PUTRA
    KELAS : P.IPS B 2013
    NIM : 4915133436

    SUDI? Judul yang cukup membuat setiap pembaca panasaran untuk membaca artikel yang bapak tulis ini. Marga, jika kita membahas tentang marga, maka marga ini sangat penting untuk dijadikan identitas dalam setiap keluarga. Namun cukup disayangkan, masyarakat di negara Indonesia ini mulai tidak mau untuk menggunakan marganya tersebut sebab mereka menganggap nama-nama dalam keluarga mereka itu sudah sangat kuno untuk digunakan pada era globalisasi ini. Padahal, jika kita lihat lebih jauh, marga memiliki keunikan tersendiri sebab membuat negeri ini memiliki keanekaragaman yang lebih dibanding negara-negara lain. Jadi, jangan malu untuk menggunakan marga keluarga kita hanya karena malu mengikuti perkembangan zaman.

    1. Apa faktor utama yang menyebabkan seseorang malu menggunakan marga keluarganya?
    2. Apa solusi yang dapat dilakukan agar setiap orang mau menggunakan marganya?
    3. Bagaimana cara mempertahankan keanekaragaman negeri ini sedangkan banyak masyarakat yang malu dengan keunikan budanyanya sendiri?

    BalasHapus
  52. Anggi Ratna Furi
    P.IPS REG B 2013
    Marga atau nama keluarga adalah nama pertanda dari keluarga mana seorang berasal. sehingga memberikan ciri khas dan keunikan sendiri. Seharusnya seseorang yang menggunakan nama marga bisa merasa bangga, karna dia diakui dalam marganya sendiri. Marga tidak dapat dicari, namun hanya ada dalam pemberian keturunan , seharusnya memang tetap digunakan dan tidak perlu gengsi mengakuinya.
    bagaimana dengan anak yang memang sejak lahir tidak mempunyai marga ? apakah mencantumkan marga dalam nama hal yang wajib ?

    BalasHapus
  53. gustiana restika
    P.IPS B 2013

    sudi. ya sekarang masyarakat indonesia sudi kehilangan identitas mereka. saat keanekaragaman mewarnai bangsa ini. tetapi sejumlah orang ini menghilangkan itu. era digitalglobalisasi tidak menuntut kita untuk menghilangkan identitas atau ciri khas kita. tetapi hanya menuntut agar kita tidak kudet (kurang updet)
    rasanya banyak orang menyalah artikan itu sebagai zaman homogen. dimana serupa adalah lebih baik.

    BalasHapus
  54. APRI TRIWIBOWO
    P.IPS B 2013
    4915133396
    Keengganan untuk mengunakan nama marga memang mulai terjadi. Seperti di daerah saya saja, tidak ada dari temen-temen sanya yang mengunkan nama maraga, termasuk saya juga tidak menggunakan nama marga, bahkan saya tidak tahu marga saya. Penggunakan nama marga menurut saya juga memang penting dikarenakan nama marga akan menujukan suatu idientitas. Identitas akan membentuk suatu keharmonisan dalam masyrakat. Tapi menurut saya juga suatu identitas akan menimbulkan suatu konflik karena nantinya akan menimbulkan steoretip etnis, yang menggap bahwa hanya marganyalah yang paling baik
    1. Bagaiman cara untuk menyikapi pemikiran orang-orang tentang dampak negative tersebut?
    2. Mengapa di era globalisasi orang-orang cenderung mengabaikan suatu warisan tradisi?
    3. Bukankah pengekor itu diperlukan oleh kreator ?

    BalasHapus
  55. Generasi muda masa kini seringkali masih mencari jati dirnya. Mereka biasanya mencoba hal-hal baru yang mereka kira sesuai dengan jati diri sebenarnya. Saya lihat banyak anak muda yang cenderung mengikuti budaya barat, jepang dan korea. Jika hanya mempelajarinya saja tidak apa-apa, tetapi mereka juga mengagung-agungkan budaya-budaya tersebut hingga melupakan identitas bangsa mereka sendiri. Seharusnya sebagai pemuda Indonesia, kita harus mencintai budaya kita karena budaya Indonesia sangat unik. Jangan menjadi pengikut, tetapi ciptakan kreaifitas yang sesuai dengan identiras bangsa Indonesia.
    Apakah faktor yang mengakibatkan generasi muda mulai melupakan identitas mereka sebagai bangsa Indonesia? Dalam hal apa saja kita harus menerapkan ‘ketidak sudian’? Apakah menjadi menojol tidak menimbulkan kontroversi?

    BalasHapus
  56. Firman Surahman
    P.IPS B 2013

    Dalam tulisan ini bapak memberi informasi penting. Betapa pentingnya sebuah identitas seseorang melalu nama. Namun fenomena ini tidak terjadi di suku Batak saja, tapi ternyata hampir di seluruh suku di Indonesia. Saya ambil contoh di Jawa. Di daerah jawa dari tengah sampai timur kebanyakan nama mereka menggunakan akhiran vokal "o". Apalagi untuk keturunan keraton Jawa. Contoh : Arif Pujiono, Susilo Bambang Yudhoyono, Prabowo, Susanto, Sutono, Sukoto, Subagyo, Suratno dan lain sebagainya. Dahulu memang nama lengkap yang digunakan di Jawa sangat mereka banggakan, sebagai ciri dan khas mereka. Tapi pemuda sekarang yang sudah tergerus era modern ini malah enggan, malu, dan tak ingin menggunakan nama seperti itu. Inilah salah satu penyebab lunturnya nilai budaya yang ada di Indonesia. Lalu bagaimana dengan identitas negara ini ? Jenis kelamin sang burung garuda saja kita tidak tahu. Bagaimana kita bisa menghentikan kuatnya arus globalisasi ? Sedangkan teknologi makin canggih di muka bumi. Sebuah nama yang seharusnya menjadi sebuah petunjuk dari mana ia berasal kini menjadi kisah yang pilu bagi sejarah suku itu sendiri. Apakah moral pemuda yang sudah rusak ? Atau pendidikannya yang rusak ? Kenapa Indonesia yang memiliki ratusan kebudayaan seperti bungkam akan hal ini ?

    BalasHapus
  57. NAMA : FASSA FARHATUSSHOLIHAH PUTRI
    NIM : 4915131374
    P.IPS A REG 2013
    Menurut saya, marga seseorang yang ada di keluarga itu merupakan ciri dan identitas yangh dimiliki oleh seseorang. Tetapi kebanyakan orang yang memiliki marga saat ini, mereka membedakan kasta-kasta yang dimiliki dan di cantumkan oleh marga yang lainnya. Padahal marga itu hanya identitas dan simbol dari silsilah keluarga.

    1. Bagaimana cara menjaga marga keluarga?
    2. Apakah memiliki marga itu termasuk hal yang membedakan seseorang?
    3.Adakah marga yang paling menonjol dan terkenal yang ada di Indonesia?

    BalasHapus
  58. Nama : Daniel Pranata
    P. IPS B 2013
    NIM : 4915133407

    Setiap orang seharusnya memiliki identitas yang berbeda, tapi kenyataannya masih banyak orang yang tidak berani mengambil keputusan untuk menjadi dirinya sendiri. Ini di sebabkan karena mereka lebih memilih untuk berada di zona aman sehingga apa yang sedang terjadi mereka hanya menjadi pengikut saja dan setiap ada masalah yang pernah terjadi sebelumnya pasti mereka selalu melakukan hal yang sama dalam memecahkan masalah tersebut tanpa pernah berani untuk mencoba melakukan hal yang baru.

    Pertanyaan:
    1. Salahkah bila ada orang yang terus-terusan hanya menjadi pengikut saja tanpa ada keinginan untuk menonjolkan dirinya ?
    2. Bagaimana cara untuk bisa memiliki identitas sendiri tanpa harus menjadi pengikut ?
    3. Jika di luar sana masih banyak orang-orang yang hanya jadi pengikut/pengekor kira-kira berapa perbandingannya dengan mereka yang bisa menjadi kreator untuk banyak orang ?

    BalasHapus
  59. Nama saya Ade Nika Oktavia P. Ips Reg. A 2013
    Marga atau nama keluarga adalah nama pertanda dari keluarga mana seseorang berasal. Marga itu nama dari persekutuan dari orang-orang yang bersaudara. Marga itu berfungsi untuk menunjukan identitas seseorang dari mana asal daerahnya. Misalnya didaerah sumatra, orang-orang batak, medan memiliki marga sesuai dengan keluarganya. Walaupun jaman semakin modern tetapi orang-orang medan tetap saja memakai marga untuk nama karena mereka sangat menjaga marganya. Kadang asing bagi kita untuk menyebutkan marga dinama kita karena merasa sudah ketinggalan zaman jika masih menggunakan marga. Mungkin karena perubahan zaman menjadi lebih modern seperti saat ini. didalam tulisan ini menceritakan kita harus menumbuhkan ketidaksudian dalam sesuatu hal. setiap manusia harus mempunyai sebuah identitas yang jelas untuk membedakan asalmula kita dan bisa juga untuk mengetahui dan mengembangkan jati diri agar menjadi manusia yang berkualitas.
    Apakah identitas seseorang itu sangat penting diketahui ?
    Bagaimana cara kita mempertahankan marga yang ada dalam keluarga ?
    Mengapa sebuah marga dalam keluarga harus tetap dijaga ?

    BalasHapus
  60. Sudi
    Rina Listiawati
    4915131410
    P.IPS A 2013
    Dalam karya tulis ini bapak mengambil tema tentang marga dari sebuah nama, Indonesia negeri yang kaya akan keberagaman yang tentunya mempunyai banyak kebiasaan, tradisi dan ciri khas. Marga, salah satu ciri khas yang menunjukkan identitas dan jati diri dari daerah mana seseorang itu berasal. Namun, permasalahan yang terjadi kini, pengunaan nama marga mulai ditinggalkan karena beragam alasan yang dibuat-buat. Di era globalisasi yang seharusnya semakin memperkuat kita sebagai sebuah negara yang multikultural, kita malah seakan kehilangan jati diri, karena terlalu banyak mengadopsi kebudayaan serta kebiasaan dari negara lain. Padahal, sebenarnya kita sendiri mempunyai gaya dan ciri khas yang unik, dan hal itulah yang menarik dan membedakan kita dengan negara lainnya. Karena dari hal yang berbeda tersebut ada hal yang dapat ditonjolkan, sehingga identitas dan jati diri jelas tegas ditampilkan. Seharusnya Indonesia sadar akan hal tersebut dan tidak menjadikan suatu marga dari sebuah nama berarti penggambaran akan faham kesukuan atau etnosentrisme.
    Pertanyaan:
    1. Bagaimana cara menghilangkan pandangan akan suatu marga yang biasanya kita anggap mencirikhaskan kecintaan terhadap sukunya?
    2. Adakah peran pemerintah untuk melestarikan penggunaan marga agar tetap dipakai oleh masyarakat?
    3. Tiga kata yang menggambarkan Indonesia kini menurut Bapak?

    BalasHapus
  61. Almira Maulidhita Mathin
    P.IPS A
    Sekarang-sekarang ini semakin modernnya zaman yang mengikutipolanhidup kebarat-baratan, semakin luntur pula adat-adat di indonesia. Seperti tulisan yang berjudul sudi ini banyak marga yang semakin luntur dikarenakan zaman modern seperti ini. Seharusnya masyarakat indonesia tidak tenggelam dalam modernitas,karena jika sadar banyak sisi negatif manusia tenggelam dalam modernitas akan banyak sisi negatifnya. Contoh sisi negatifnya dari tulisan berjudul sudi ini adalah kita akan kehilangan identitas. Manusia beridentitas dan berkualitas ditakdirkan jadi kreator, tetapi tidak hanya jadi kreator manusia juga harus bangga akan marganya itu sendiri.
    Pertanyaan :
    1. Mengapa adat istiadat di Indonesia itu cepat luntur hanya akibat globalisasi ?
    2. Bagaimana caranya agar tempat (pemakaman) di Indonesia bisa terkenal seperti di San Diego Hills ?
    3. Seberapa pentingkah marga dapat mempengaruhi keturunan ?

    BalasHapus
  62. nama: ilmiawan dwi yulianto
    kelas : P.IPS.A.2013
    No: 4915131370
    menurut saya di dalam tulisan pak Nusa tentang "sudi" menceritakan suatu marga atau budaya nama yang ada di suatu tempat. di indonesia banyak berbagai macam budaya seprti bahasa, adat, suku dan lain-lain.tetapi paling yang terpenting dalam tulisan ini adalah marga atau suku yang sudah terlahir pada nenek moyang indonesia, sehingga ketika marga itu berada suku tersebut maka marga itu di gunakan pada nama yaitu nama panggilan. namun jaman sekarang nama marga tersebut luntur oleh budaya asing.

    1.bagaimana melestarikan nama marga dan bagaimana budaya tersebut tetep lestari?
    2.kenapa budaya tersebut hilang dan tidak di lestarikan kembali?
    3.bisa kah kita melestarikan budaya marga tersebut?

    BalasHapus
  63. Aulia Komala (4915133428)
    P.IPS REG B 2013

    Sebuah nama sebuah identitas. Tanpa nama dan tanpa identitas tidak menjadikan seseorang menjadi orang yang dikenal. Sebuah nama keluarga sebuah nama marga yang seharusnya menjadi kebanggaan orang Indonesia sudah semakin krisis pemakaiannya. Mungkin memang terlihat bahwa beberapa orang seperti mencari-cari alasan akan pencopotan nama marga yang mereka punya. Sebenarnya ada sisi positif dan negatif dari pemakaian nama marga. Sisi positifnya adalah kita bisa membanggakan nama marga yang kita miliki dan bisa membuat kemajemukan yang baik di masyarakat. Sisi negatifnya adalah kita bisa memicu sebuah disintegrasi dan diskriminasi dalam kehidupan masyarakat. Misalnya ada seseorang yang memakai nama marga yang kurang dikenal tetapi memiliki kehidupan sukses dan ada seseorang yang memakai nama marga yang cukup terkenal tetapi kehidupannya biasa-biasa saja. Ini bisa menimbulkan disintegrasi karena kecemburuan sosial yang terjadi akibat berbeda marga.

    1. Apa yang menyebabkan orang Indonesia bisa memiliki banyak nama marga dari satu suku?
    2. Mengapa tidak hanya dipakai satu nama marga untuk seluruh Indonesia?
    3. Bagaimana proses pembentukan sebuah nama marga di kalangan masyarakat?

    BalasHapus
  64. Indonesia merupakan salah satu negara yang penduduknya Majemuk, terdiri dari berbagai suka bangsa, bahasa, dan budya. Mengenai MARGA merupakan bentuk ciri khas yang di miliki suatu keluarga dalam masyarakatnya, marga menunjukan identitas kita, dari mana kita berasal serta menunjukan keberadaan kita ditengah – tengah masyarakat. orang yang peduli akan keIDENTITASannya akan mempertahankan budayanya.. Seharusnya seseorang itu harus berusaha sekuat tenaga mengharumkan bangsa dan budayanya agar lebih maju dan diakui banyak Negara.
    Pertanyaan :
    1. Adakah cara lain selain dengan MARGA, yang bisa mempertahankan identitas diri, keluarga dan budaya?
    2. Apakah faktor modernisasi menyebabkan identitas sejati pada pribadi suatu bangsa hilang begitu saja?
    3. Bagaimana mempertahankan Identitas pribadi untuk bisa menjadi diri sendiri ditengah era digitalglobal ini?

    BalasHapus
  65. Deasy Tiara _4915137154_P.IPSB2013.

    benar pak.saya setuju dengan argumen bapak yang mengatakan "Bila meleburkan diri dalam keseragaman yang menjadi ciri globalisasi, kita justru kehilangan identitas"
    saya punya sedikit pendapat tentang hal ini
    kenapa di Indonesia penggunaan marga atau ciri khas suatu suku bangsa mulai ditinggalkan. kalau saya menilik masa sd atau masa smp yang terkadang merupakan jaman mencari jati diri,rata-rata anak-anak di umur segitu melihat suatu keunikan nama menjadi bahan cemoohan,atau bahkan bahan bullyan.Contohnya dulu teman saya bernama p.... sihombing (marga batak)nama nya dipelesetkan dmenjadi nama p.... kambing .menurut saya inilah cikal bakal banyak anak yang tidak mau membuka nama aslinya.contoh lainnya terlihat di nama user fb.jika dulu membuat nama berdasarkan nama asli sekarang banyak anak-anak membuat user dengan nama panggilan atau nama samaran yang keren menurut pikiran mereka.Mereka ingin terlihat keren dengan nama alias yang mereka pilih,dan menganggap nama marga kesukuan mereka kurang keren. Contoh nya nama sri menjadi celi dsb..
    Padahal kalau melihat dari negara tetangga (jepang) mereka memanggil nama orang yang baru dikenalnya dengan sebutan marga (contoh :nakazama,nohara).bisa juga kita melihat orang eropa yang juga masih menghargai nama turunan orang tua mereka.kita pasti sering mendengar di film film jika orang eropa berkenalan pasti awalnya memanggil nama belakangnya terlebih dahulu,baru kalau sudah akrab saling menmanggil nama kecilnya(contoh Miss Swam,Mr Cullen)
    Dan dari sinilah saya Berfikir kenapa kita malu dengan keunikan bangsa sendiri,padahal perlu kita ketahui keunikan atau kehkasan lah yang dicari dizaman ini,suatu benda yang biasanya memiliki kehasan tersendiri biasanya banyak dicari orang dan memiliki harga yang fantastis (kain songket contoh bendanya)
    Mari kita menjadi pribadi yang menarik dengan kekhasan tersendiri ^_^
    Pertanyaan
    Faktor utama apa yang menyebabkan bangsa kita mulai mengalami krisis identitas diri?
    Bagaimana cara menanamkan jiwa yang cinta akan kehkasan kebudayaannya sendiri?
    Bisakah terwujud negara Indonesia yang dimana setiap warga negaranya mengetahui dan mencintai budayaannya?

    BalasHapus
  66. Deasy Tiara _4915137154_P.IPSB2013.

    benar pak.saya setuju dengan argumen bapak yang mengatakan "Bila meleburkan diri dalam keseragaman yang menjadi ciri globalisasi, kita justru kehilangan identitas"
    saya punya sedikit pendapat tentang hal ini
    kenapa di Indonesia penggunaan marga atau ciri khas suatu suku bangsa mulai ditinggalkan. kalau saya menilik masa sd atau masa smp yang terkadang merupakan jaman mencari jati diri,rata-rata anak-anak di umur segitu melihat suatu keunikan nama menjadi bahan cemoohan,atau bahkan bahan bullyan.Contohnya dulu teman saya bernama p.... sihombing (marga batak)nama nya dipelesetkan dmenjadi nama p.... kambing .menurut saya inilah cikal bakal banyak anak yang tidak mau membuka nama aslinya.contoh lainnya terlihat di nama user fb.jika dulu membuat nama berdasarkan nama asli sekarang banyak anak-anak membuat user dengan nama panggilan atau nama samaran yang keren menurut pikiran mereka.Mereka ingin terlihat keren dengan nama alias yang mereka pilih,dan menganggap nama marga kesukuan mereka kurang keren. Contoh nya nama sri menjadi celi dsb..
    Padahal kalau melihat dari negara tetangga (jepang) mereka memanggil nama orang yang baru dikenalnya dengan sebutan marga (contoh :nakazama,nohara).bisa juga kita melihat orang eropa yang juga masih menghargai nama turunan orang tua mereka.kita pasti sering mendengar di film film jika orang eropa berkenalan pasti awalnya memanggil nama belakangnya terlebih dahulu,baru kalau sudah akrab saling menmanggil nama kecilnya(contoh Miss Swam,Mr Cullen)
    Dan dari sinilah saya Berfikir kenapa kita malu dengan keunikan bangsa sendiri,padahal perlu kita ketahui keunikan atau kehkasan lah yang dicari dizaman ini,suatu benda yang biasanya memiliki kehasan tersendiri biasanya banyak dicari orang dan memiliki harga yang fantastis (kain songket contoh bendanya)
    Mari kita menjadi pribadi yang menarik dengan kekhasan tersendiri ^_^
    Pertanyaan
    Faktor utama apa yang menyebabkan bangsa kita mulai mengalami krisis identitas diri?
    Bagaimana cara menanamkan jiwa yang cinta akan kehkasan kebudayaannya sendiri?
    Bisakah terwujud negara Indonesia yang dimana setiap warga negaranya mengetahui dan mencintai budayaannya?

    BalasHapus
  67. Suci Ramadhaniyari (4915133404)
    P.IPS B 2013

    Tulisan ‘Sudi’ ini mengingatkan kita pada tokoh-tokoh yang sudah lama pergi meninggalkan kita tetapi akan selalu dikenang karena ia meninggalkan ilmu atau karyanya yang bermanfaat untuk kita. Berdasarkan tulisan ini saya menyatakan bahwasanya marga bukan hanya sekedar turun-temurun tetapi membawa nama baik tersendiri bagi sang penerus dan penurunnya. Sebab, marga adalah identitas bagi suatu keluarga besar yang memiliki harga diri tersendiri bagi mereka. Memiliki marga diibaratkan memiliki gelar berdasarkan strata. Namun, seiring waktu bergulir, marga hanya sekedar menempel pada nama seseorang, tidak lagi membawa nama baik untuk keluarganya atau mengharumkannya dengan suatu karya. Maka dari itu, kini banyak orang yang menanggalkan marganya atau tidak meninggikan marganya lagi sebab mereka tidak tahu lagi apa artinya marga. Identitas dari sebuah marga pun hanya mengindikasikan dia terlahir dari marga tersebut. Padahal seharusnya identitas marga seseorang dapat mengindikasi seseorang bahwasanya orang tersebut adalah orang yang berkreativitas tinggi dengan mengarumkan nama identitasnya dengan sebuah karya.

    1. Bagaimana cara agar marga yang berkembang di Indonesia tidak pudar?
    2. Kenapa orang-orang yang memiliki marga justru menanggalkan marga mereka?
    3. Apa korelasi antara identitas dengan kreativitas? Apakah seseorang yang beridentitas sudah pasti memiliki kreativitas?

    BalasHapus
  68. Nama : Raras Elvinza
    No. Reg : 4915131395
    Jurusan : P. IPS Reg A

    Setelah membaca tulisan tersebut saya merasa bahwa di zaman era globalisasi seperti ini, orang menjadi meninggalkan marganya karena merasa tidak modern dan ketinggalan zaman. Mereka merasa jika memakai nama-nama dari luar negeri terlihat akan lebih keren, padahal marga adalah suatu simbol bagi budaya Batak. Marga seharusnya dijadikan daya tarik untuk suatu budaya demi menarik perhatian budaya lain.

    BalasHapus
  69. Nurul Ramadhita P. W
    4915133415
    P. IPS Reg B 2013
    Sebagian besar orang selalu menganggap ketidaksudian sebagai hal yang negatif. Sangat jarang orang yang berani bersikap tidak sudi pada hal-hal yang seharusnya memang seperti itu. Karena pada dasarnya memang sangat sulit untuk keluar dari zona nyaman mereka masing-masing. Lalu bagaimana cara supaya kita berani keluar dari zona nyaman tersebut? Apa yang harus kita lakukan untuk keluar dari zona nyaman kita tanpa merubah jati diri kita yang sesungguhnya? Dan mengapa ketidaksudian dalam konteks yang tidak baik justru lebih mudah dilakukan jika dibandingkan dengan ketidaksudian dalam konteks yang baik?

    BalasHapus
  70. Secara garis besar dapat Saya simpulkan bahwa bapa menulis mengenai masyarakat indonesia, khususnya dalam identitas budayanya.tentu bukan hal yang baru lagi bahwa masyarakat Indonesia malu akan identitas budayanya. pada hal ini marga seumpanya,memang sebagaian dari mereka menghilangkan marga nya dari nama mereka.. jikalau ditanyakan mengenai alasan mengapa mereka tidak mencantumnya beragam-ragam. Akan tetapi alangkah baik marga itu tercantum di namanya sebagai wujud identitas kita dan sebagai bukti penghormatan kita terhadap nenek moyang kita ataupun pendahulu kita.

    1. Apakah seorang yang tidak mencantumkan marga dalam nama mereka tersebut didasarkan hanya sikap tak sudi saja?
    2. Dalam kutipan bapa yang mengatakan : " identitas kita ditentukan dan ditunjukkan oleh akar keberasalan yang tampak sangat kentara melalui nama", apakah hanya nama satu-satunya yang menjadi dasarnya?
    3. Apa yang mendasari seorang tidak mencantumkan marga di dalam namanya?

    BalasHapus
  71. SUDI
    Nama : Anggie Nur Swastika
    Kelas : P.IPS A 2013
    No. Reg : 4915131406

    Menurut saya, unik itu menimbulkan multikultural yang sangat mendominasi disetiap orang. Unik membuat orang berbeda satu dengan yang lain yang membuat beragam orang mempunyai hal yang berbeda dalam hal apapun. Seperti identitas, kebiasaan sehari-hari, perilaku dan tingkah laku kita. Setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda beda. Allah menciptakan akal dan pikiran agar manusia bisa memanfaatkannya dengan baik. Akal dan pikiran diciptakan agar manusia bisa berpikir bisa menciptakan sesuatu yang sangat berguna bagi orang lain. Namun sesuatu tersebut bisa dikatakan unik karena sesuatu tersebut yang diciptakan manusia pasti akan berbeda beda. Itulah yang dinamakan unik. Unik dimata semua orang pasti berbeda bagaimana manusianya yang menciptakan.
    Pertanyaan
    1. Apakah dalam perbedaan disetiap manusia tersebut pasti ada keunikan yang luar bisa. Apa yang dapat mendasari hal tersebut ?
    2. Apakah beragamnya suku manusia yang ada di Indonesia ini tergolong unik. Mengapa demikian ?
    3. Apa yang dapat disimpulkan jika unik dikategorikan ke dalam budaya yang ada di Indonesia ?

    BalasHapus
  72. menurut pendapat saya generasi muda jaman sekrang dengan budaya sudah sangat luntur karna pergaulan bebas yang sangat buming saat ini harusnyaa mereka bangga dengan leluhur mereka masing masing dengan marga mereka itu sangat penting apalgi sesama marga walupun beda orangtua tetap satu marga itu saling bersodaraaan saling membantu yang ada dibatak itu buat kawin pun tidak boleh satu marga,generasi muda jangan sesekali menghilangkan marga mereka sebenarnya itu adalah identintas suku mereka.

    Pertanyaan :
    1.Bagaimana cara generasi muda sekarang untuk melestarikan marga sebagai nama keluarga?
    2.Apakah penting bagi para generasi muda indonesia untuk melestarikan marganya?
    3.Mengapa warga indonesia terutama generasi muda harus melestarikan marga?

    BalasHapus
  73. Siti Amellia Rachmah (4915133442)
    Pendidikan IPS B 2013

    Seringkali seseorang itu malu terhadap kekayaan budaya yang dimiliki oleh masing-masing suku atau marga. Hal tersebut dibuktikan dengan disembunyikannya identitas marganya. Padahal jika mereka tau itu merupakan aset budaya suku atau keluarganya yang sangat berharga. Kemudian kebanyakan orang ikut-ikutan dan memilih suara terbanyak dalam hal apapun demi mendapatkan jalan aman tanpa adanya kritik dan takut disalahkan. Padahal jika mereka percaya diri dalam menggagaskan suatu karya, mereka dapat menjadi sang kreator yang dapat menciptakan karya-karya baru dalam segala hal. Maka kita harus menanamkan rasa percaya diri dalam diri kita agar menciptakan identitas diri yang berkualitas tanpa adanya rasa malu dalam mengungkapkannya.
    1. Apa yang dimaksud dengan marga?
    2. Mengapa kita cenderung ikut-ikutan dengan gagasan-gagasan yang sudah ada?
    3. Bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri tersebut?

    BalasHapus
  74. Tarmuji
    PIPS B 2013
    4915133414

    Pada masa sekarang sudah banyak anak yang malu akan menunjukan identitas bangsa. Mereka lebih memilih budaya barat ketimbang denagn budanyanya sendiri. Mereka berfikir bahwa budaya eropa itu lebih keren daripada budanya bangsa sendiri. Bahkan mereka malu untuk mencantumkan nama marganya. Mereka menggap nama Marga itu kuno, tidak keren padahal orang barat itu belum tentu beranggapan begitu.

    Pertanyaan :
    1. Kenapa di Sekeng hanya ada 2 marga padahal disana banyak orang batak ?
    2. Bagaimana cara budaya kita untuk mempertahankan budaya Kita sendiri ?
    Terima Kasih

    BalasHapus
  75. Nama: Yulinda Indah Pramesta
    No.Reg: 4915133440
    Terkadang apa yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia malah hilang karena faktor malu mengakui ciri khas itu sendiri. Seperti yang tertuang dalam tulisan bapak, sebagai contohnya adalah marga. Bukannya berbondong-bondong bangga akan keunikan nama diri sendiri malah berbondong-bondong ingin melepaskan marga yang tercantum dalam nama belakang pribadi masing-masing. Hal ini sangat disayangkan dalam memajukan budaya Indonesia. Seolah-olah budaya Indonesia sudah sangat terkotori oleh budaya asing. Sehingga bagi sebagian orang, mencantumkan nama marga dibelakang nama mereka pun tidaklah keren dan terkesan kuno. Padahal keunikan nama itulah yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dan yang mengangkat nama Indonesia terkenal ke luar negeri.
    Pertanyaan:
    1. Apa guna dari sebuah marga?
    2. Bagaimana caranya untuk menambah rasa kecintaan kita terhadap bangsa sendiri?
    3. Apakah ada hubungannya perkembangan budaya luar dengan berkurangnya rasa kepedulian terhadap negara?

    BalasHapus
  76. Sudi Silalahi Tak sudi silalahi merupakan gambaran yang terjadi di zaman sekarang. Budaya yang semakin pudar tidak hanya pada suku Batak saja tetapi budaya yang lain juga mengalaminya.. Semakin pudar bahkan hampir hilang..
    Kreator memang harus mempunyai identitas dan kualitas. Mengapa identitas itu dikaitkan dengan budaya?

    BalasHapus
  77. saya megerti maksud bapak disini gengsi manusia sangat tinggi, apalagi gengsi orang indonesia yang dapat dikatakan bahwa ''harta yang akan menentukan kedudukan sosial mu" ini juga berlaku pada yang bapak sebutkan "Sebagai contoh, kini banyak keluarga orang berduit dan orang terkenal berebutan dan bangga bila ada anggota keluarganya wafat dikebumikan di San Diego Hills. Sekilas kelihatan keren." padahal itu hanya pada kematian saja dan tapi dalam tata letak bahasa indonesia dan bahasa daerah , dan mall2 skrg juga ikutan2 mengunakan bahsa inggris sperti ''The ThamrinCity" knp aksen indonesia ditambahkan bahasa inggris,sedangkan bahasa itu penggalan dari jati diri negara bukan ?apa lagi anak jaman sekarang lebih suka yang berbau luarnegeri, menurut mereka itu sangat keren dibanding negaranya sendiri dalam segi bahasa, menrut mereka mungkin jika mengunakan bahasa inggris akan meningkatkan tingkat kekernan mereka?contoh 1 lagi jika ada turist asing ke indoneisa dan berbicara dengan kita, kenapa kita malah mengunkan aksen inggris bukannya indonesia?apa lagi pake bahasa daerah yang sangat unik di indonesia , kenapa kita musti menyesuaikan mereka bukannya mereka yang menyesuaikan dengan kita?bukankah jika kita memperlihatkan jatidir negara kita pada mereka ,mereka akan pensaran dan makin mempelajari budayaan indonesia


    pertanyaan :
    1. apakah yang akan terjadi bila suatu negara akan kehilangan jati diri nya sendiri?akan kah hancur dengan muda atau akan tetap bertahan dengan kekosongan dan disii dengan jati diri negara lain
    2.Bagaimana seharusnya anak muda zaman sekarang melestarikan keragaman budaya yang dimilkinya agar keragaman budaya tersebut tidak hilang dimakan zaman?
    3.sejauh mana indonesia khilangan jatidirinya menurut bapak?


    Hakimmatul fatonah
    P.IPS B 2013
    4915133435

    BalasHapus
  78. Kusumaningdyah (4915133417) pips 2013

    artikelnya bagus pak. pemuda-pemudi yang melupakan nama marga dalam namanya memang harus segera di sadarkan. karna kalau bukan mereka, siapa yg akan meneruskan? lagi pula nama-nama marga di Indonesia kan unik-unik, punya ciri khas sendiri, yang harusnya kita bangga-banggakan di mata dunia.

    pertanyaan:
    1. bagaimana kita menyadarkan orang-orang yang melupakan nama marganya?
    2. apakah melupakan nama marga itu termasuk kesalahan yg fatal?
    3. oh iya pak, sekneg itu apa ya?

    BalasHapus
  79. Risma elisa
    p ips reg b
    4915133403

    menurut saya marga adalah suatu kebanggaan yang patut kita syukuri , karena dengan adanya nama marga dibelakang atau depan nama kita menunjukkan siapa identitas kita ssungguhnya . jangan merasa malu , canggung, kuno atau apalah ? karena sifat seperti itu membuat kita jauh lebih kuno dan katro.sesungguhnya orang yang oke atau keren itu dialah yang percaya diri akan identitas dirinya . pertanyaan saya : bagaimana cara menimbulkan rasa percaya diri seseorang dengan nama marganya ? adakah hubungan marga seseorang dengan jati dirinya ? bagaimana cara melestarikan nama nama marga di negara ini yang bgitu beragam ?

    terima kasih

    BalasHapus
  80. DINNY MAYANGSARI
    4915137150
    P.IPS B 2013

    Perbedaan bukanlah suatu hal yang buruk, jelek atau semisalnya. Dengan adanya beragam perbedaan, seharusnya menjadikan kita bangga akan hal itu. Itu mencontohkan bahwa kita bisa membuat inovasi-inovasi yang belum terpikirkan oleh orang lain. Menjadi seorang kreator adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Dengan menyebutkan marga dibelakang nama, saya rasa iti kebebasan mereka. Menghilangkan nama marga bukanlah suatu hal jelek jika mereka masih tetap mengakui keunikan sukunya masing-masing. Ya.. apalah arti sebuah nama jika kita bisa menghasilkan karya yang bisa mengangkat nama kita sendiri. Tidak terangkat akibat nama marga denga karya yang nol. Tetapi nama marga bisa terangkat atas dasar karya hebat yg telah kita buat.

    Pertanyaan:
    1. Apakah membawa nama marga sangat di anjurkan?
    2. Menjadi seorang kreator adalah keinginan setiap orang. Tetapi bagaimana jika membawa nama marga menjadi kendala bagi sang kreator?
    3. Bagaimana jika terjadi seperti kasus dewi persik yang membeli sebuah nama marga / garis keturunan di daerah keraton (maaf saya lupa di Jawa mana tepatnya) yang membuat dia menjadi memiliki garis keturunan dari keraton?

    BalasHapus
  81. Lina Wati P.IPS B 2013 . Dizaman sekarang ini, banyak generasi muda yang tak bangga dengan asal-usul keluarganya, dengan identitas dirinya, seperti marga contohnya. Mereka beranggapan bahwa hal tersebut jadul, kuno. Justru sebenarnya yang beranggapan seperti itulah orang yang jadul sebenarnya, orang yang kuno.
    Pertanyaan :
    1. Mengapa saat ini banyak orang yang tak bangga dengan marganya?
    2. Apakah manfaat menggunakan marga?
    3. Bagaimana mengembangkan sikap seseorang untuk cinta dengan marganya?

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd