Minggu, 03 Februari 2013

CATATAN KECIL BAGI WANDA (2)



Anak-anak jalanan, anak-anak pasar, dan anak-anak daerah kumuh itu sangat luar biasa. Sebagai guru, kami lebih banyak belajar dari mereka dibandingkan mengajar mereka. Terutama belajar tentang hidup, optimisme, semangat pantang menyerah, hidup tanpa keluhan, dan tetap bahagia dalam kepapaan. Kami tak pernah mendengar mereka berkeluh kesah sebagaimana biasa dilakukan oleh presiden di depan pejabat dan media. Mereka menunjukkan dengan perilaku bahwa hidup memang tidak pernah mudah dan harus tetap dijalani dengan gembira.

Meski banyak di antara mereka yang mengalami kekerasan berlapis di rumah dan lingkungan tempat mereka mengais rezeki, mereka tetaplah anak-anak yang selalu gembira dan kreatif. Itulah sebagian modal hidup yang membuat mereka tetap bertahan dan melangsungkan hidup. Hidup adalah perjuangan, untuk bertahan dan terus tumbuh kembang sebagai manusia. Ya....mereka memang selalu tampak kumuh secara fisik, tetapi hati mereka kinclong. Mereka adalah korban. Korban dari model pembangunan yang dirumuskan para petinggi republik ini. Korban dari kebijakan para pejabat yang menginginkan jalanan bersih dari orang miskin, tanpa program yang terukur untuk mengentaskan kemiskinan. Konsekuansinya, pengentasan kemiskinan adalah pengentasan orang miskin dari jalan-jalan utama perkotaan.

Karena terlalu lama berada di jalanan, selalu berkumpul, terpengaruh teman, atau sekedar iseng, ada di antara anak-anak itu yang terlibat dan terjerat narkoba. Mulai dari 'ngelem' sampai narkoba yang rada mahal. Tidak mudah untuk membebaskan anak-anak itu bila telah terkena narkoba. Sebab, kebanyakan mereka tidak lagi tinggal bersama keluaraga, tetapi hidup berpetualang di jalanan dalam kebebasan.

Jadi, sebagai relawan kami harus menyediakan waktu lebih lama untuk bersama mereka. Berkumpul, berbincang, makan bersama, terkadang singgah di tempat-tempat mereka nongkrong di tengah malam buta. Cara ini harus dilakukan untuk menunjukkan perhatian, kepedulian, dan kepastian bahwa mereka akan semakin menjauhi narkoba. Sudah pasti ada potensi resiko keselamatan diri di situ.

Tidak mudah memang membuat mereka bebas tuntas dari narkoba. Narkoba pada hakikatnya adalah penjara jiwa yang merusak otak secara perlahan dan permanen. Kami sudah sangat terbiasa menghadapi anak-anak yang mengalami kapok-kapok melahirkan. Banyak ibu yang bilang tak mau lagi melahirkan bila baru saja mengalami persalinan, namun, tahun depan hamil lagi. Begitulah perilaku kebanyakan pecandu narkoba. Bukan karena mereka tak mau bebas lepas, tetapi tidak bisa. Otak mereka sudah diborgol narkoba.

Kerja keras, kepedulian, empati dan kesabaran merupakan modal utama untuk membantu dan memberdayakan anak-anak itu. Ini bukan jalan yang mudah, ini jalan mendaki. Tidak semua orang mau dan punya waktu untuk melakukannya.

Wanda Hamidah adalah sedikit di antara sangat sedikit orang yang mau dan punya waktu untuk melakukannya. Ia bersedia menyambangi anak-anak itu di tempat-tempat nongkrong, di pinggiran jalan, di pelataran toko, di sekitar terminal, dan di tempat-tempat yang tergolong mengerikan di gulita malam. Ia pernah mengurusi anak yang hampir wafat dalam kondisi yang mengenaskan karena racun jahat narkoba. Ia pernah mengalami ketegangan penantian, menunggui anak-anak yang sekarat. Ia sangat sabar, telaten, dan tenang menghadapi situasi menegangkan itu.

Bila sedang mengurusi anak-anak itu, Wanda seperti lupa pada diri dan kesehatannya. Ia sadar betul, anak-anak ini bukan sekedar butuh bantuan dana untuk tetap dirawat di rumah sakit, mereka butuh perhatian, pendampingan, dan kehangatan perhatian. Wanda selalu punya waktu untuk itu.

Itu artinya Wanda tidak pernah menjadi korban narkoba, tetapi membantu, mendampingi, dan bekerja keras bagi para korban narkoba. Ia tidak sekedar memberi perhatian, juga kehangatan dan harapan. Ia berjuang membebaskan anak-anak itu dari jeratan kelampauan yang bergelimang narkoba untuk menyongsong keakanan dengan semangat dan hidup baru. Itu artinya ia selalu bersedia diganggu dan dipanggil dalam situasi darurat di tengah malam buta untuk menolong siapa pun di antara anak jalanan itu yang sedang diluluhlantakkan narkoba, dan mengorbankan waktunya untuk berbagi kehangatan dengan buah hatinya sendiri di rumah.

Jadi, tatkala teman teman aktivis, pemerhati dan pembela anak memilihnya menjadi bagian dari pelindung anak dalam sebuah institusi, pertimbangannya bukanlah kemanisan wajahnya, keindahan tutur katanya, dan partainya. Tetapi pertimbangan itu didasarkan pada keterlibatannya yang empatis, integritas, dan komitmennya yang nyata. Wanda telah membuktikannya dengan perbuatan, bukan dengan perkataan.

Bila kini, Wanda terseret-seret masalah narkoba, ini hanya sebuah gajlukan di jalan luruslempang yang selama ini dilaluinya. Percayalah, peristiwa ini Insya Allah akan membuat Wanda lebih tegar dan bermakna. Sebab,

APA PUN YANG TIDAK DAPAT MENGALAHKAN KITA, MEMBUAT KITA TAMBAH PERKASA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd