Anak-anak jalanan, anak-anak pasar, dan
anak-anak daerah kumuh itu sangat luar biasa. Sebagai guru, kami lebih banyak
belajar dari mereka dibandingkan mengajar mereka. Terutama belajar tentang
hidup, optimisme, semangat pantang menyerah, hidup tanpa keluhan, dan tetap
bahagia dalam kepapaan. Kami tak pernah mendengar mereka berkeluh kesah
sebagaimana biasa dilakukan oleh presiden di depan pejabat dan media. Mereka
menunjukkan dengan perilaku bahwa hidup memang tidak pernah mudah dan harus
tetap dijalani dengan gembira.
Meski banyak di antara mereka yang
mengalami kekerasan berlapis di rumah dan lingkungan tempat mereka mengais
rezeki, mereka tetaplah anak-anak yang selalu gembira dan kreatif. Itulah
sebagian modal hidup yang membuat mereka tetap bertahan dan melangsungkan
hidup. Hidup adalah perjuangan, untuk bertahan dan terus tumbuh kembang sebagai
manusia. Ya....mereka memang selalu tampak kumuh secara fisik, tetapi hati
mereka kinclong. Mereka adalah korban. Korban dari model pembangunan yang
dirumuskan para petinggi republik ini. Korban dari kebijakan para pejabat yang
menginginkan jalanan bersih dari orang miskin, tanpa program yang terukur untuk
mengentaskan kemiskinan. Konsekuansinya, pengentasan kemiskinan adalah
pengentasan orang miskin dari jalan-jalan utama perkotaan.
Karena terlalu lama berada di jalanan,
selalu berkumpul, terpengaruh teman, atau sekedar iseng, ada di antara
anak-anak itu yang terlibat dan terjerat narkoba. Mulai dari 'ngelem' sampai
narkoba yang rada mahal. Tidak mudah untuk membebaskan anak-anak itu bila telah
terkena narkoba. Sebab, kebanyakan mereka tidak lagi tinggal bersama keluaraga,
tetapi hidup berpetualang di jalanan dalam kebebasan.
Jadi, sebagai relawan kami harus
menyediakan waktu lebih lama untuk bersama mereka. Berkumpul, berbincang, makan
bersama, terkadang singgah di tempat-tempat mereka nongkrong di tengah malam
buta. Cara ini harus dilakukan untuk menunjukkan perhatian, kepedulian, dan
kepastian bahwa mereka akan semakin menjauhi narkoba. Sudah pasti ada potensi
resiko keselamatan diri di situ.
Tidak mudah memang membuat mereka bebas
tuntas dari narkoba. Narkoba pada hakikatnya adalah penjara jiwa yang merusak
otak secara perlahan dan permanen. Kami sudah sangat terbiasa menghadapi
anak-anak yang mengalami kapok-kapok melahirkan. Banyak ibu yang bilang tak mau
lagi melahirkan bila baru saja mengalami persalinan, namun, tahun depan hamil
lagi. Begitulah perilaku kebanyakan pecandu narkoba. Bukan karena mereka tak
mau bebas lepas, tetapi tidak bisa. Otak mereka sudah diborgol narkoba.
Kerja keras, kepedulian, empati dan
kesabaran merupakan modal utama untuk membantu dan memberdayakan anak-anak itu.
Ini bukan jalan yang mudah, ini jalan mendaki. Tidak semua orang mau dan punya
waktu untuk melakukannya.
Wanda Hamidah adalah sedikit di antara
sangat sedikit orang yang mau dan punya waktu untuk melakukannya. Ia bersedia
menyambangi anak-anak itu di tempat-tempat nongkrong, di pinggiran jalan, di
pelataran toko, di sekitar terminal, dan di tempat-tempat yang tergolong
mengerikan di gulita malam. Ia pernah mengurusi anak yang hampir wafat dalam
kondisi yang mengenaskan karena racun jahat narkoba. Ia pernah mengalami ketegangan
penantian, menunggui anak-anak yang sekarat. Ia sangat sabar, telaten, dan
tenang menghadapi situasi menegangkan itu.
Bila sedang mengurusi anak-anak itu,
Wanda seperti lupa pada diri dan kesehatannya. Ia sadar betul, anak-anak ini
bukan sekedar butuh bantuan dana untuk tetap dirawat di rumah sakit, mereka
butuh perhatian, pendampingan, dan kehangatan perhatian. Wanda selalu punya
waktu untuk itu.
Itu artinya Wanda tidak pernah menjadi
korban narkoba, tetapi membantu, mendampingi, dan bekerja keras bagi para
korban narkoba. Ia tidak sekedar memberi perhatian, juga kehangatan dan
harapan. Ia berjuang membebaskan anak-anak itu dari jeratan kelampauan yang
bergelimang narkoba untuk menyongsong keakanan dengan semangat dan hidup baru.
Itu artinya ia selalu bersedia diganggu dan dipanggil dalam situasi darurat di
tengah malam buta untuk menolong siapa pun di antara anak jalanan itu yang
sedang diluluhlantakkan narkoba, dan mengorbankan waktunya untuk berbagi
kehangatan dengan buah hatinya sendiri di rumah.
Jadi, tatkala teman teman aktivis,
pemerhati dan pembela anak memilihnya menjadi bagian dari pelindung anak dalam
sebuah institusi, pertimbangannya bukanlah kemanisan wajahnya, keindahan tutur
katanya, dan partainya. Tetapi pertimbangan itu didasarkan pada keterlibatannya
yang empatis, integritas, dan komitmennya yang nyata. Wanda telah
membuktikannya dengan perbuatan, bukan dengan perkataan.
Bila kini, Wanda terseret-seret masalah
narkoba, ini hanya sebuah gajlukan di jalan luruslempang yang selama ini dilaluinya.
Percayalah, peristiwa ini Insya Allah akan membuat Wanda lebih tegar dan
bermakna. Sebab,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd