Singapura itu hebat. Sebenarnya lambang singa kurang cocok untuk Singapura. Singapura kuat dan hebat seperti singa, tetapi Singapura itu kecil. Singa kan hebat, kuat dan besar. Jika Singapura ingin tetap menggunakan lambang singa, ya bolehlah, tetapi anak singa, bukan induknya.
Karena Singapura itu kecil tapi hebat, maka sejumlah orang Indonesia yang penasaran ingin punya wilayah seperti Singapura. Dirancanglah Batam sebagai pelabuhan bebas untuk mengimbangi Singapura. Setelah sekian lama beroperasi sebagai pelabuhan bebas yang terus berkembang, apakah Batam berhasil menjadi alternatif dan mengimbangi Singapura? Orang Melayu bilang, jauh panggang dari api. Kenapa bisa begitu?
Bila menciptakan sebuah kawasan sekadar membangun gedung, jalan, dan semua fasilitas umum lainnya, rasanya banyak wilayah Indonesia bisa lakukan. Siapa pun yang punya banyak duit, bisa kerjakan. Rasanya gak perlu mengikutsertakan presiden untuk membuat ketentuan dan aturan. Serahkan saja pada konglomerat.
Membangun sebuah kawasan lebih dari sekedar itu. Ini sepenuhnya soal strategi budaya yang mempersyaratkan dihayatinya sejumlah filosofi, cara berfikir, dan pembudayaan serangkaian sifat, sikap, dan kebiasaan yang menempatkan manusia dalam jejaring konteks sosial yang rumit untuk mencapai tujuan.
Artinya sama sekali tidak memadai hanya berfikir dan merancang bangunan apa, dimana dengan biaya berapa? Lihatlah Hongkong yang telah berhasil menjadi sebuah kawasan yang maju, butuh waktu untuk menjaga keberadaan dan kebertahanannya saat diserahkan dari Inggris ke Cina. Karena tidak cukup hanya mengganti para pejabat. Lebih dari itu, bagaimana caranya menjamin tradisi, budaya dan etos kerja, dan gaya manajemen yang sudah teruji, mampu terus dipertahankan dan dikembangkan.
Kawasan secara kasat mata memang bersifat fisik. Terdiri dari sejumlah bangunan, gedung, jejaring jalan, pengaturan air dan listrik, transportasi umum, dan wilayah pemukiman. Tetapi semua yang fisik itu hanyalah tampakan luar. Substansi isi atau ruh yang menentukan adalah manusia.
Pada sisi substansi ini kita berkutat dengan persoalan-persoalan fundamental terkait dengan cara berfikir, budaya, tradisi, sejumlah sikap dan sifat yang harus dimiliki, dihayati dan diujudkan dalam hidup sehari-hari. Singapura membutuhkan waktu yang lama, kerja keras dengan disiplin tinggi untuk mewujudnyatakannya menjadi nilai yang hidup dalam masyarakat.
Singapura memiliki sejumlah pemimpin visioner yang sangat berkomitmen untuk memajukan negerinya dengan kompetensi tingkat tinggi. Mereka merumuskan hukum untuk dipatuhi agar negerinya dapat dikelola dengan keterukuran berakurasi tinggi, dan semua fihak mendapatkan kepastian. Mereka menjadi teladan bagi tegaknya hukum.
Tegaknya hukum memberi kepastian, dan dalam jangka panjang menumbuhkan tradisi dan budaya yang memungkinkan pembiasaan kedisiplinan, keteraturan, dan tatakelola yang terstruktur dan terukur. Atas dasar itulah ketertiban, dan keindahan dibangun. Keseluruhannya merupakan kebiasaan yang hidup dalam keseharian masyarakat. Meskipun boleh jadi sebagian masyarakat menjalankannya dengan keterpaksaan. Namun, kepatistian tegaknya hukum telah menunjukkan hasil-hasil yang nyata.
Bandingkan dengan Batam. Perhatikan dengan seksama. Tidak sedikit warga Singapura datang ke Batam untuk menikmati keliaran dan lemahnya hukum. Kesannya apa saja boleh. Pada sisi inilah, bukan hanya Batam, tetapi kita sebagai bangsa sangat lemah.
Era dan kepemimpinan terus berganti. Pergantian kepemimpinan selalu pake huru-hara. Zaman orde lama yang senang dengan motto perjuangan berlalu. Orde baru yang mengusung tema pembangunan, tumbang. Orde reformasi yang berkutat dengan perubahan tampaknya malah berisi kisah korupsi bagai sinetron berseri.
Kita selalu gagal membangun sebuah sistem yang memungkinkan bangsa ini bergerak maju dengan keterukuran. Selalu saja, setiap kali pergantian kepemimpinan, kita mulai dari mula kembali.
Itulah yang membuat Batam sampai sejauh ini tak pernah mendekati, apalagi melampaui Singapura. Dan yang membuat bangsa ini seperti jatuh bangun, babak belur, serta tak pernah sampai pada suatu tujuan yang dengan susah payah telah dirumuskan. Ini semua menegaskan,
KEBERHASILAN PEMBANGUNAN TIDAK PERNAH DITENTUKAN OLEH HAL-HAL YANG BERSIFAT MATERIAL SAJA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd