Jumat, 14 Maret 2014

SORE NAGOYA(NG)

Sore di pusat perbelanjaan Nagoya(ng) Batam. Sepi. Tempat parkir lengang, jalanan juga. Di dalam toko para wanita penjaga asyik ngobrol, karena tak ada tamu. Bila ada orang lewat, dipersilahkan masuk. Hanya sedikit toko yang berpengunjung. Aku masuki sejumlah toko besar yang menjual banyak barang mulai dari dompet wanita warna-warni, beragam tas wanita dan pria, pakaian, jam tangan, parfum, bermacam asesori, dan makanan kecil. Semua barang  berlogo merek-merek terkenal. Kecuali parfum, tampaknya semua barang itu tidak ori (ginal), tetapi KW, sepertinya KW 1. Pastilah harganya goyang atau miring.

Menggunakan parfum, jam tangan, tas wanita, dan kaos pria sebagai indikator, tampaknya Nagoya(ng) bukan lagi surga belanja seperti dulu. Dibanding Pusat Belanja Mangga Dua, barang-barang tersebut di Nagoya(ng) agak ketinggalan model dan harganya lebih mahal. Susah mencari barang-barang unik seperti dulu. Nagoya(ng) memang telah banyak berubah.

Menurut petugas hotel dan tukang ojek yang diajak ngobrol, sekarang polisi rajin merazia toko-toko. Itu yang membuat pasar gelap tidak seramai dan seheboh dulu. Lebih lanjut mereka jelaskan, sewaktu Kapolri Jendral Sutanto, penegakan hukum di Batam memang tegas. Bukan hanya judi yang hilang, pasar gelap juga. Itulah sebabnya, mengapa sangat susah mencari barang-barang ekslusif yang dulu menjadi kebanggaan Batam.

Tetapi kawasan Nagoya(ng) dan sekitarnya tidak hanya diramaikan oleh pertokoan. Juga banyak bar, karaoke, dan panti pijat. Sore ini di teras sejumlah bar, para wanita dengan baju yang serba terbuka, yang memungkinkan tato di dada dan pahanya terlihat, sudah mulai nongkrong. Jumlah bar yang memajang wanita berpakaian seksi seperti ini sangat banyak. Sore ini mereka mulai berkemas. Di sebuah bar yang penuh hiasan bergaya koboi, ada beberapa wanita yang hanya menggunakan  pakaian dalam berdiri di pintu masuk.

Para wanita itu menyapa setiap lelaki yang lewat. Mengajak mampir dengan gaya yang mengundang. Di sebuah bar terdapat lebih dari 20 wanita berpakaian seksi duduk di teras. Beberapa nampak melayani 3 orang lelaki bule minum bir. Hari masih sore kehebohan dan kemeriahan sudah menjelma.

Tidak jauh dari bar ini, ada empat wanita yang kelihatannya masih ABG di depan sebuah bar yang penuh lukisan wanita, sibuk melayani dua lelaki berwajah Timur Tengah menikmati minuman ringan. Tepat di bar sebelahnya, juga di teras, dua wanita dengan pakaian yang biasa digunakan untuk senam, mini dan ketat, melayani tujuh lelaki berkulit hitam. Ada puluhan bir hitam pada meja di depan mereka.

Menurut tukang ojek dan tukang parkir yang diajak ngobrol, sekarang keadaannya sudah lebih baik. Dulu lebih parah dari ini. Selepas maghrib, para wanita berpakaian sangat minim melakukan semacam tarian erotis di teras bar untuk menarik perhatian dan menggoda pengunjung yang lewat untuk mampir. Dulu banyak atraksi aneh-aneh yang dilakukan tiap bar untuk menarik pengunjung ke tempat mereka.

Mereka bilang, sejak judi diberantas habis, Batam memang tidak seramai dan seheboh dulu. Sekarang hanya pada akhir pekan saja yang ramai. Dulu setiap malam ramai dan meriah. Di beberapa diskotik masih diselenggarakan tarian erotis, juga di sejumlah bar. Kawasan ini benar-benar Nagoya(ng).

Toko-toko menjual barang dengan harga goyang atau miring, dan tempat hiburan malam dipenuhi acara goyang. Seorang bapak yang sudah berusia di atas lima puluh dan sudah lebih dua puluh tahun berjualan rokok di dekat bar yang di pintunya ada wanita berpakaian dalam bertutur. Ia bilang, Batam ni kan pelabuhan bebas, ya orang bebas lakukan apa saja. Banyak pelaut singgah di sini. Mereka kan sudah digoyang ombak di laut, lama kan mereka tak jumpa daratan. Ya mereka kalau ke sini maunya mendarat dan menggoyang saja. Dulu orang Singapur banyak ke Batam juga hanya cari wanita. Tak dapat hotel di taksi pun jadi. Syukurlah sekarang tak separah dulu. Lebih tertib. Dulu memang liar, rame dan lebih bebas.

Dua lelaki bertubuh besar yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi keamanan beberapa bar bercerita. Sebenarnya sekarang pun masih ada 'tarian gila', tetapi mesti dipesan. Mereka menunjuk beberapa bar yang masih bisa menyelenggarakan tontonan meriah dengan memesan terlebih dahulu.

Bahkan di sekitar pelabuhan kehebohan masih ada. Tetapi pada umumnya keadaan memang tidak seheboh dahulu. Batam rasanya memang melakukan penataan ke arah yang lebih baik. Namun, Batam adalah pelabuhan bebas, dunia hiburan, dunia goyang tampaknya tak bakalan bisa dibersihkan total. Paling hanya bisa sedikit ditertibkan.

Pasar gelap barang luar negeri katanya sudah digerus habis. Sementara keremangan malam tak lagi seheboh dulu. Batam memang sangat bergairah melakukan pembangunan fisik. Para pekerja bangunan jumlahnya ribuan. Sebagian besar mereka datang dari luar Batam. Itulah sebabnya, di luar Nagoya(ng) banyak sekali panti pijat kelas bawah, sampai agak ke pelosok.

PEMBANGUNAN FISIK YANG CEPAT SELALU MEMBAWA KONSEKUENSI KEMANUSIAAN YANG TAK TERDUGA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd