Kamis, 13 Maret 2014

TUYUL TERTANGKAP

Warga di Ponorogo heboh. Ada tuyul tertangkap. Tuyulnya dimasukkan ke botol syrup yang diberi air cabe. Ini bukan kali pertama tuyul tertangkap. Pada 2010 warga di Kemayoran Lama menangkap 4 tuyul, dan di Menteng juga ada tuyul tertangkap. Pada 2011 tercatat di Kramat Jati, Jombang dan Pamulang, tuyul juga tertangkap. Semua tuyul itu dimasukkan dalam botol syrup. Sudah pasti tak seorang pun yang bisa melihat tuyul itu, kecuali yang menangkap. Di Surabaya malah sampai melibatkan Kapolres yang ikut melarung tuyul yang telah dimasukkan ke botol ke aliran deras sungai. Warga percaya tuyul telah tertangkap, sebab sejak tuyul tertangkap tidak ada lagi orang yang kehilangan uang.

Menariknya, para tuyul ini tidak pernah mengambil banyak. Warga mengaku duitnya hilang 100 ribu, dari 1,5 juta yang ditaruh di lemari. Dari berbagai catatan, tuyul paling tinggi mengambil 200 ribu. Mengapa tuyul tidak mengambil banyak? Apa karena ukuran tubuhnya kecil atau dia tidak faham soal uang?

Dari sedikitnya uang yang diambil, gampang ditangkap, dan mudahnya penyelesaian masalah, tuyul memang tidak sehebat dan secanggih Akil, Atut, Anas, Andi Mallarangeng, Wawan, dan Rudi Rubiandini yang oleh KPK dijadikan tersangka kasus korupsi milliaran rupiah. Juga tidak secanggih ustaz Luthfi Hasan Ishaq mantan presiden PKS yang sudah jadi terpidana. Para tuyul itu hanya sebutir debu dibandingkan orang-orang terkenal ini.

Mengapa banyak orang yang percaya tuyul dan sejenisnya? Comte, filsuf Perancis yang dikenal sebagai Bapak Positivisme membagi perkembangan fikiran dan kebudayaan manusia menjadi tiga tingkat. Tiga tingkat itu adalah teologis, metafisis, dan positivis. Pada tingkat pertama, yang paling rendah yaitu tingkat teologis ditandai dengan keyakinan bahwa ada kekuatan di luar manusia yang menentukan segala-galanya. Biasanya kekuatan ini disembah atau ditakuti manusia. Comte menjelaskan ada evolusi dalam tingkat ini, mulai dari keyakinan adanya ruh nenek moyang, dan kekuatan ghaib lain, berkembang menjadi politheisme yang percaya dan menyembah banyak dewa, kemudian berpuncak pada monotheisme. Comte menyebut tingkat ini sebagai masa kanak-kanak manusia karena manusia tergantung, takut dan menyembah sesuatu yang tidak jelas. Semua penjelasan dalam kehidupan selalu dikaitkan dengan kekuatan ghaib itu. Gempa bumi misalnya, diyakini sebagai kemarahan yang ghaib pada manusia yang tidak taat. Semua kejadian di dunia, yang dialami manusia selalu dikaitkan dengan kekuatan ghaib itu.

Manusia kemudian memasuki masa remajanya yaitu tingkatan metafisis. Pada tingkat ini manusia mulai percaya pada kekuatan dan fikiran sendiri. Manusia mulai menggunakan akalnya untuk menjelaskan berbagai fenomena, peristiwa dan hakikat apapun. Para pemikir Yunani praSocrates misalnya sudah mulai mencoba merumuskan hakikat alam semesta. Thales menyebutnya air, Democritos menawarkan ide berupa atom, Phytagoras memulangkannya pada angka matematis. Meski sudah mulai percaya dan menggunakan akal, tetapi masih sangat spekulatif, tidak didasarkan pada kajian empiris. Semuanya masih bersifat metafisik, di balik atau di atas atau melampaui yang fisik.

Akhirnya, manusia sampai pada kedewasaan atau kematangan yaitu tingkat positif. Pada tingkat ini manusia mencari penjelasan atas segala sesuatu berdasarkan ilmu pengetahuan yang berbasis pemikiran rasional dan kajian empiris atau pengalaman indrawi yang terukur dan objektif. Eksperimen menjadi penting sebagai wahana untuk mengujibuktikan penjelasan yang telah didasarkan pada fikiran rasional. Comte percaya, pada tingkat ini manusia sudah benar-benar dewasa dan positif. Positif dalam arti segala penjelasan atas berbagai pertanyaan dan masalah sepenuhnya didasarkan pada pembuktian yang sangat terukur dan akurat. Tak ada tempat lagi bagi spekulasi metafisik dan segala sesuatu yang ghaib.

Comte percaya, perkembangan itu bersifat hirarkis seperti tangga. Artinya manusia atau kebudayaan yang sudah sampai pada tingkat yang lebih tinggi, tidak akan dipengaruhi apalagi kembali ke tingkat sebelumnya. Jadi, mereka yang sudah memasuki tingkatan positif, tak akan lagi dipengaruhi oleh cara fikir dan penghayatan teologis dan metafisik.

Comte percaya, era agama, keyakinan pada yang ghaib dan spekulasi metafisik, termasuk filsafat telah berakhir. Manusia hanya akan percaya pada ilmu pengetahuan yang bersifat rasional-empiris, objektif, didasarkan pada eksperimentasi yang terukur secara kuantitatif dan akurat.

Comte yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa ini kemudian mencoba merumuskan dan mendirikan agama kemanusiaan. Agama yang didasarkan pada pemikiran manusia. Ia gagal.

Ternyata pandangan Comte tentang hirarki itu salah. Sebab terbukti banyak orang yang sudah memasuki tingkat positif, belajar dan hidup dengan ilmu pengetahuan moderen ternyata masih percaya pada yang ghaib. Di Indonesia dan juga di negara-negara yang sangat maju, banyak kaum terpelajar yang percaya betul pada dukun. Cara kerja dukun yang berkutat dengan yang ghaib, sebenarnya merupakan cara fikir dan hidup pada tingkatan teologis.

Bila dicermati berbagai naskah kuno, ritual, dan kuburan kuno di seluruh dunia, ada banyak bukti yang tak terbantahkan bahwa manusia dalam zaman apapun ternyata memiliki keyakinan dan keterikatan pada yang ghaib. Penggalian terhadap semua kuburan kuno membuktikan, mayat selalu dikubur dengan sejumlah peralatan yang dipersiapkan untuk keperluan hidup di dunia sana, dunia di seberang kematian. Kuburan kuno di Cina, Eropa, Mesir, Amerika Latin, dan Afrika, ternyata tidak hanya berisi tulang belulang manusia, juga ada sejumlah peralatan yang mirip dengan yang digunakan untuk hidup di dunia. Temuan-temuan ini adalah bukti-bukti fisik yang tak terbantahkan tentang keyakinan, bahkan kelekatan erat manusia dengan yang ghaib.

Agama-agama yang sangat tua seperti Zoroaster, Hindu, dan Budha dengan sangat tegas menjadikan keyakinan pada yang ghaib, kehidupan nanti dan di sana sebagai basis bagi ajarannya. Keseluruhan fakta ini menegasbuktikan manusia memang manusia tidak pernah bisa menghindar, mengelak apa lagi lari dari yang ghaib, meskipun ada sejumlah manusia, misalnya kaum atheis, yang berusaha keras mengingkarinya.

Sebenarnya fakta kelekatan manusia pada yang ghaib itu tidak mengherankan. Sebab manusia sendiri, dan setiap manusia, bukanlah melulu makhluk darah, dagin, otot, tulang, syaraf dan urat. Melekat dalam diri manusia keberadaan roh atau jiwa. Dulu kaum atheis radikal mencoba menjelaskan roh atau jiwa dengan pendekatan ilmu pengetahuan memanfaatkan  biologi, kimia, dan fisika. Tetapi mereka tak pernah berhasil.

Jadi, bila ada orang yang percaya tuyul itu ada dan bisa tertangkap, meskipun tidak pernah melihatnya sama sekali, bukanlah sesuatu yang mengherankan. Persoalannya adalah, menyangkut kawasan yang ghaib, kita harus sangat berhati-hati. Bila tidak, kita akan tergelincir dan dapat merusak diri sendiri, serta orang lain. Sikap sangat hati-hati itu sangat perlu dijaga dan dikembangkan, karena yang ghaib sepenuhnya berkaitan dengan keyakinan. Pemikiran rasional, bahkan bukti empiris jika ada, hanyalah penopang yang sangat lemah dan tak pernah memadai untuk menjelaskan yang ghaib.

MANUSIA, BERIMAN ATAU TIDAK, TAK BAKAL BISA MELEPASKAN DIRI DARI KELEKATANNYA PADA YANG GHAIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd