Jumat, 21 Maret 2014

KECERDASAN, CINTA DAN KEBAHAGIAAN

Revolusioner. Saat penelitian otak mampu menelisik sampai pada tumbuh kembang bayi dalam rahim ibu, sungguh mencengangkan. Ternyata bagian otak yang mengendalikan emosi yaitu sistem limbik, lebih dulu tumbuh, baru kemudian menyusul bagian yang mengatur pemikiran rasional yaitul frontal lobes atau neokorteks. Disebut neokorteks sebab baru tumbuh dan sangat khas manusia.

Apa dan mengapa otak emosi ini semakin jelas setelah Joseph LeDoux melakukan penelitian mendalam dan menuliskannya pada The Emotional Brain (1996). Buku terkenal Emotional Intelligence yang ditulis Daniel Goleman, menjadikan temuan dan buku LeDoux sebagai fondasinya.

Meskipun pada mulanya diragukan, dipersoalkan dan digugat, kini kecerdasan emosional diakui keberadaan dan kepentingannya. Penelitian-penelitian mutakhir menegaskan bahwa keberhasilan dalam mengarungi bahtera kehidupan ternyata lebih ditentukan oleh kecerdasan emosional tinimbang kecerdasan kognitif intelektual.

Bahkan keberhasilan dalam bidang-bidang akademik juga sangat ditentukan oleh kecerdasan emosional. Bisakah kita mengerjakan soal ujian apapun, mulai dari pelajaran umum seperti Kewarganegaraan sampai yang sulit seperti statistik bila menjelang ujian ada SMS dari sang kekasih yang isinya, hubungan kita berakhir sekarang, mohon maaf.

Hantaman keras emosi itu menyebabkan otak rasional kita lumpuh, tak berdaya, dan bisa jadi macet total. Ini terjadi karena, menggunakan istilah Goleman, otak emosi memiliki kemampuan membajak otak rasional. Mekanisme pembajakan inilah yang terjadi jika manusia tenggelam dalam emosi positif dan negatif.

Bila sedang sangat gembira, bahagia atau jatuh cinta, tiba-tiba berkata pun tak bisa. Paling hanya air mata hangat mengalir, lidah kelu. Pun saat kemarahan menguasai sistem limbik, maka semua pertimbangan rasional hilang, yang ada hanya makian, pukulan, lempara, bahkan bisa berujung pembunuhan. Bila pembajakan itu berhasil, sudah ada korban, barulah otak rasional bekerja, dan sang pelaku baru menyadari perbuatannya.

Fakta tentang tumbuh kembang otak emosi, kepentingan dan kekuatannya telah merevolusi pandangan tentang hakikat manusia. Dulu diyakini bahwa manusia adalah makhluk rasional yang memiliki emosi. Kini sudah terbalik menjadi manusia adalah makhluk emosional yang memiliki rasio. Konsekuensi pembalikan ini pastilah tidak sederhana.

Emosi ternyata adalah bahan bakar bagi rasio dan kemanusiaan kita. Emosi bisa membuat rasio dan kemanusiaan kita berfungsi, juga bisa meledakkannya. Dengan keindahan cinta atau melalui kemarahan tak terkendali.

Kekuatan emosi bisa dengan sederhana dibuktikan. Apakah masih ingat dengan rinci apa yang kita lakukan dua bulan yang lalu? Mungkin sudah agak susah mengingatnya. Tetapi, apakah masih ingat saat bertemu pertama sekali dengan pasangan kita sekarang? Meskipun kejadiannya sudah berlalu sekian tahun, bahkan sekian puluh tahun, rasanya kita masih mengingatnya dengan sangat rinci dan lengkap. Mengapa bisa? Sebab peristiwa itu sangat emosional. Semua kejadian yang memiliki emosi yang sangat kuat, melekat kuat dalam memori kita, dan dengan mudah memengaruhi otak rasional kita. Itulah kekuatan emosi.

Cinta adalah emosi yang sangat kuat dan penuh pesona. Apakah ada manusia yang kuat melawan sergapan cinta? Cinta memiliki kekuatan luar biasa untuk memengaruhi, mencoraki, dan merempahi hidup manusia. Juga dalam tumbuh kembang otak dan kecerdasan.

Daniel G. Amien dalam The Brain in Love (2007) menguraijelaskan bagaimana cinta memengaruhi kimia otak terkait dengan produksi hormon yang memberi rasa bahagia, bukan sekedar kesenangan jangka pendek. Cinta ternyata mempunyai kekuatan untuk membuat otak berada dalam kondisi terbaik. Cinta sebagai bentuk emosi positif mampu memicu manusia untuk melakukan berbagai tindakan positif seperti membangun hubungan empatis dan rela berkorban. Keseluruhannya memberi dampak positif pada kesegaran dan kinerja otak.

Caroline Leaf dalam Who Switched Off My Brain? (2009), menjelaskan bahwa bagi tumbuh kembang anak, cinta yang diujudkan dalam bentuk sentuhan hangat, perhatian, pengasuhan yang penuh kasih dapat menghindarkannya dari stres dan membangkitkan rasa bahagia. Cinta dan rasa bahagia tersebut sungguh memberi dampak yang sangat positif bagi tumbuh kembang otak dan kecerdasan anak. Bukan hanya kecerdasan kognitif.

Sebaliknya bayi yang kurang mendapatkan kehangatan cinta, sentuhan dan pandangan mata dari ibu dan orang dewasa lain cenderung menjadi bayi atau anak yang mengalami stres. Stres terbukti dapat mengganggu tumbuh kembang otak dan kecerdasan.

Cinta yang mendatangkan kebahagiaan ternyata memberi efek positif pada otak manusia, semua manusia tanpa kecuali dan tak memandang usia. Earl Henslin dalam Inilah Otak Anda Ketika Bahagia (2008) menggunakan teknologi pemindai otak membuktikan bagimana rasa bahagia menyebabkan banyak area atau bagian otak terlihat lebih terang. Sebaliknya stres memberi warna kusam pada banyak bagian otak.

Maknanya, cinta dan kebahagiaan sungguh mampu menyegarkan dan membantu tumbuh kembang otak dan meningkatkan kinerjanya. Memberi pada manusia rasa bermakna dalam hidupnya.

CINTA DAN KEBAHAGIAAN MEMBERI DAMPAK POSITIF BAGI TUMBUH KEMBANG DAN KINERJA OTAK.

12 komentar:

  1. Syifa Wulandari
    P.IPS Reg B 2013
    4915133405
    Dari serangkaian penelitian kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan oleh para ilmuwan ditemukan fakta baru bahwa tumbuh kembang bayi dalam rahim, ternyata bagian otak yang mengendalikan emosilah lebih dulu tumbuh, baru kemudian menyusul bagian yang mengatur pemikiran rasional. Pada saat itu bayi berarti telah memiliki rasa emosi dan dapat merasakan cinta dan kasih sayang yang merupakan emosi yang sangat kuat dan positif. Emosi cinta itu dapat ia rasakan saat tumbuh kembangnya dalam rahim dan saat ia dilahirkan dan tumbuh kembang, yaitu bagaimana cara pengasuhan yang penuh kasih sayang dari orang tua dan orang-orang terdekatnya. Begitu pula dengan orang-orang dewasa saat ia merasakan cinta, ia akan merasa hidupnya ceria dan penuh kebahagiaan saat ia jatuh cinta. Emosi cinta telah membuat sebagian orang terkadang melupakan rasa rasionalisnya dan lebih memakai perasaan. Penelitian tersebut berarti membeberkan fakta baru mengenaih hakikat manusia. Dari penelitian tersebut boleh dikatakan bahwa manusia adalah makhluk emosional yang memiliki rasio namun hasil penelitian ini konsekesinya belum dapat diterima secara luas. Selain emosi yang positif, manusia juga memiliki emosi negatif seperti marah yang bisa meledak jika kita tidak cerdas mengontrolnya. Kemarahan bisa menimbulkan kekerasan seperti pukulan dan melempar benda-benda keras. Saat ini kita telah mengenal istilah "kecerdasan emosioanal" yaitu kemampuan seseorang untuk menilai, menerima dan mengontrol emosi dirinya dan orang lain disekitarnya. Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri. Jadi, kecerdasan emosional juga sangat penting disamping kecerdasan rasional atau intelektual.
    Pertanyaan:
    1. Bagaimana cara manusia agar cerdas dalam mengontrol emosinya dan dapat memanfaatkan emosi tersebut secara positif?
    2. Bagaimana ilmuwan meneliti otak manusia saat ia masih dalam rahim?
    3. Bagaimana jika bayi yang masih dalam rahim pertumbuhan otaknya tidak sempurna, apakah memengaruhi dalam kecerdasan emosinya?
    Terima kasih.

    BalasHapus
  2. Syifa Wulandari
    P.IPS Reg B 2013
    4915133405
    Dari serangkaian penelitian kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan oleh para ilmuwan ditemukan fakta baru bahwa tumbuh kembang bayi dalam rahim, ternyata bagian otak yang mengendalikan emosilah lebih dulu tumbuh, baru kemudian menyusul bagian yang mengatur pemikiran rasional. Pada saat itu bayi berarti telah memiliki rasa emosi dan dapat merasakan cinta dan kasih sayang yang merupakan emosi yang sangat kuat dan positif. Emosi cinta itu dapat ia rasakan saat tumbuh kembangnya dalam rahim dan saat ia dilahirkan dan tumbuh kembang, yaitu bagaimana cara pengasuhan yang penuh kasih sayang dari orang tua dan orang-orang terdekatnya. Begitu pula dengan orang-orang dewasa saat ia merasakan cinta, ia akan merasa hidupnya ceria dan penuh kebahagiaan saat ia jatuh cinta. Emosi cinta telah membuat sebagian orang terkadang melupakan rasa rasionalisnya dan lebih memakai perasaan. Penelitian tersebut berarti membeberkan fakta baru mengenaih hakikat manusia. Dari penelitian tersebut boleh dikatakan bahwa manusia adalah makhluk emosional yang memiliki rasio namun hasil penelitian ini konsekesinya belum dapat diterima secara luas. Selain emosi yang positif, manusia juga memiliki emosi negatif seperti marah yang bisa meledak jika kita tidak cerdas mengontrolnya. Kemarahan bisa menimbulkan kekerasan seperti pukulan dan melempar benda-benda keras. Saat ini kita telah mengenal istilah "kecerdasan emosioanal" yaitu kemampuan seseorang untuk menilai, menerima dan mengontrol emosi dirinya dan orang lain disekitarnya. Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri. Jadi, kecerdasan emosional juga sangat penting disamping kecerdasan rasional atau intelektual.
    Pertanyaan:
    1. Bagaimana cara manusia agar cerdas dalam mengontrol emosinya dan dapat memanfaatkan emosi tersebut secara positif?
    2. Bagaimana ilmuwan meneliti otak manusia saat ia masih dalam rahim?
    3. Bagaimana jika bayi yang masih dalam rahim pertumbuhan otaknya tidak sempurna, apakah memengaruhi dalam kecerdasan emosinya?
    Terima kasih.

    BalasHapus
  3. Lina Wati P.IPS B 2013. Kesuksesan serta keberhasilan manusia lebih dipengaruhi oleh kecerdasan emosional ketimbang kecerdasan kognitif in telektual. Contohnya adalah saat menghadapi Ujian Nasional (UN). Kita telah menguasai semua materi UN, juga telah belajar sungguh-sungguh siang malam untuk UN, tetapi saat hari H menghadapi UN, kita kurang percaya diri serta tidak siap mental. Hasilnya adalah kita tidak bisa mengerjakan soal dengan baik, dan hasilnya nilai UN tidak memuaskan walaupun kenyataannya kita telah menguasai semua materi UN. Kecerdasan emosi juga dipengaruhi oleh cinta. Cinta serta kebahagiaan sangat berpengaruh positif terhadap kinerja otak kita.
    Pertanyaan :
    1. Anak yatim piatu bisa dikatakan akan kekurangan cinta dari sosok orang tuanya, apakah anak yatim piatu itu kinerja otaknya akan buruk?
    2.Cinta sebagai bentuk emosi positif mampu memicu manusia untuk melakukan berbagai tindakan positif. Apakah orang yang dilimpahi cinta akan selalu terhindar dari perbuatan tercela?
    3. Dan lalu bagaimana dengan orang-orang didunia ini yang kekurangan cinta?

    BalasHapus
  4. Nama : Gatot Prasetyo
    P IPS 2013

    komentar : menurut saya memang benar kecerdasan emosi sangat mempengaruhi kinerja otak, kebahagiaan dan amarah condong dapat membuat sistem kerja otak yang pastinya berbeda. Memang kecerdasan emosional sangat penting dan harus diperhatikan.

    pertanyaan.
    1. mengapa sistem kerja otak itu dapat terpengaruh lewat emosional ?
    2. mengapa putus cinta bisa menghambat sistem kerja otak, padahal otak bekerja jika kita mau ?
    3. apakah anak yang diberi kecerdasan emosional lebih baik dari pada yang lebih mementingkan kecerdasan kognitif?

    BalasHapus
  5. Menurut saya tentang tulisan diatas bahwa emosi dan otak sama sama bekerja sama dalam artian jika otak dapat hantaman tiba tiba otak akan lari ke emosi akan bisa melakukan yang diluar logika manusia.cinta juga bisa membuat emosi yang membara menjadi tenang dengan cinta yaitu perhatian,sentuhan.Cinta yg mendatangkan kebahagian buat hati akan berpengaruh positif ke otak dan emosi seaeorang atau manusia tersebut.Dan stres akan berwarna kelam sedangkan kebahagian otak berwarna terang.Maka dari itu gunanya cinta yang sangat kuat dan mempesona bisa meredam emosi yang membara.

    Pertanyaan:
    1.apakah emosi bisa menyebar diseluruh otak manusia?
    2.bagaimana proses kembalinya otak yang terang akibat emosi ?
    3.Apakah otak dan emosi sangat berlangsung baik setiap waktunya?

    BalasHapus
  6. Agustina R
    P.IPS.REB B 2013

    kecerdasan emosional mempengaruhi kehidupan manusia. Apabila tingkat emosional seseorang sedang buruk, pasti orang itu tidak akan baik melaksanakan kegiatannya karena lebih terpengaruh pada tingkat emosionalnya. Tetapi, orang yang mempunyai emosional baik, apalagi seperti saat jatuh cinta mungkin akan lebih baik 10x lipat mengerjakan sesuatu. Bahkan, jika melakukan hal yang tidak ia sukai bisa menjadi suka dan akan tetap dikerjakan, karena sedang terpengaruh emosional yang positif. Hubungan emosional dengan perilaku memang sangat erat dan sangat mempengaruhi.
    1. Apakah bisa dikatakan bahwa kecerdasan emosional itu lebih penting dari pada kecedasan rasional?
    2. Mengapa bisa bahwa otak manusia itu berubah warna ketika dia sedang sedih atau senang?
    3. Mengapa kecerdasan rasional bisa kalah dengan kecerdasan emosional?

    BalasHapus
  7. Sella Alferaria/ 4915131419
    P.IPS A 2013
    Sebelumnya saya berfikir bahwa kecerdasan berfikir itu dihasilkan dari otak rasio yaitu neokorteks. Tapi ternyata, dari segi empiris melalui penelitian oleh para ahli seperti Daniel Goleman dan Joseph LeDoux bahwa otak emosi lebih dominan dalam mempengaruhi kinerja otak. hal tersebut membuat saya mengerti dan faham bahwa otak emosi yang disebut sistem limbik tersebut bisa membajak otak rasio. Berdasarkan pengalaman saya, dalam pembelajaran saya selalu berupaya untuk meningkatkan cara berfikir saya agar mudah memahami pelajaran. Membutuhkan waktu yang lama agar bisa mencerna dan memahami apa yang saya pelajari. Namun, ketika saya mendapat masalah hidup, saya menjadi stres sampai semangat belajar saya menjadi turun. Yang lebih parah lagi akibat masalah tersebut, saya menjadi lupa tentang pelajaran yang sudah saya pelajari sebelumnya. Mengingat pengalaman itu ditambah lagi dengan tulisan Bapak ini membuat saya yakin bahwa otak emosilah yang mengendalikan setiap aktivitas manusia. Otak emosi yang disebut sistem limbik berperan lebih dominan dibandingkan otak rasio.
    Kecerdasan emosional memang lebih berperan dalam mengendalikan tingkah laku manusia. Saya setuju dengan tulisan Bapak bahwa ketika kita marah atau bahagia dengan pengaruh emosi yang tidak terkendali membuat kita bertindak tanpa berfikir. Seolah – olah kita secara tidak sadar telah melakukan perbuatan atas pengaruh kecerdasan emosional tersebut. Kemudian setelah kita melakukan perbuatan tersebut, barulah otak rasio bekerja yang membuat kita mulai memikirkan dampak-dampak atas perbuatan kita. Namun apakah kecerdasan emosional itu juga dipengaruhi oleh perasaan dan kata hati ? sehingga setiap kita dihadapkan sesuatu yang mempengaruhi perasaan langsung dimasukkan kedalam hati yang akibatnya membuat kita sulit melupakannya ?
    Saya selalu berfikir bahwa emosi itu memiliki keterkaitan dengan perasaan manusia. Contohnya adalah cinta. Manusia bisa merasakan rasa bahagia dan sakit hati akibat dari cinta, karena manusia itu memiliki perasaan yang membuat otak emosional lebih banyak bekerja dibandingkan otak rasional. Oleh karena itu, tak heran jika kebahagiaan itu mempengaruhi tumbuh kembangnya otak emosi dan stres membuat perkembangan otak baik rasio dan emosi menjadi terhambat.

    Pertanyaan
    1. Apakah benar otak emosi mempunyai keterkaitan dengan perasaan manusia?
    2. Kapan kita menggunakan otak emosi dan kapan kita menggunakan otak rasio ?
    3. Mana yang lebih baik otak emosi atau otak rasio ?

    BalasHapus
  8. Muhamad Asharianto
    P.IPS R B 2013
    4915133408


    Berbagai penelitian tentang otak menembus apa yang sangat sulit terbaca disaat bagaimana kinerja otak sedang berfungsi. Bagian-bagian pada otak seperti frontal lobes atau neokorteks memiliki peran dalam kinerja otak yang memerintahkan tubuh serta emosional. Kecerdasan emosional menghasilkan output yang ditentukan dari apa yang di rasakan dari hati. Hal yang sifatnya positif maupun negatif yang diterima maupun dirasakan hati menghasilkan sebuah output yang sesuai. Begitu besarnya pemikiran serta tingkah laku manusia diawali dan dibentuk dari kecerdasan emosional dalam otak.

    Pertanyaan :
    1.Bagaimana sel sel otak yang bekerja saat manusia itu sadar? serta bagaimana di saat tidak sadar?
    2. Perasaan yang terbenam dalam hati seperti cinta sebenarnya tumbuh dari hati atau dari otak? apakah itu termaksuk dalam kecerdasan emosional?
    3. Bagaimana ada orang yang tidak memiliki rasa cinta atau pun kebahagiaan tingkat kecerdasan emosional mereka seperti apa?

    BalasHapus
  9. Nama : Selvi Indriani
    Nim :4915131405

    Menurut saya memang benar cinta sangat berpengaruh terhadap rangsangan otak kita . Contohnya ketika kita sedang jatuh cinta pasti mood kita bagus tetapi ketika kita sedang mengalami patah hati atau sakit hati pasti kita mengalami badmood atau unmood . Kasih sayang memang sangat penting bagi otak . Dapat mencegah stress otak . Dapat meningkatkan smangat dan dapat meningkatka kecerdasan otak kita . Makadari itu kasih sayang dan cinta itu sangatlah penting .
    1. Apa dampak apabila ada orang tua yg mendidik anaknya tanpa kasih sayang?
    2. Mengapa cinta sangat berpengaruh terhadap otak ?
    3. Bagaimana keadaan cinta yg baik agar otak kita tidak stress ?

    BalasHapus
  10. Suci Ramadhaniyati (4915133404)
    P.IPS B 2013

    Kecerdasan, cinta dan bahagia,tiga kata yang saling berkorelasi erat di mana ketiganya bersumber dari otak manusia. Otak manusia diciptakan dengan segala kemampuan yang mampu menangkap segala rangsang, kepekaan dan sentuhan. Dalam tulisan ini, kecerdasan dibagi menjadi dua yaitu EQ dan IQ. Emotional Quotient(EQ) cenderung lebih mendominasi otak kita. Terbukti, jika kita melakukan sesuatu pasti cenderung menggunakan emosi daripada rasional kita. Sebab manusia pada hakikatnya adalah makhluk perasa dan memiliki tingkat emosi. Dalam otak kita, ada ruang khusus yang menempatkan emosi kita, yangmana emosi dapat mengendalikan seluruh kontrol terhadap apa yang akan kita lakukan. Ruang emosi pada otak pun pada umumnya cenderung lebih luas, ketimbang dengan ruang untuk akal atau rasio kita. Ini terbukti dengan kita lebih condong menggunakan sense (rasa) ketika kita melakukan sesuatu. Tetapi akal atau rasional pun turut andil untuk merealistiskan apa yang kita rasakan. Bagaimana kita tahu bahwa rasa bakso itu pedas jika kita tidak mencicipinya terlebih dahulu bukan?
    Memang, kenyataannya kecerdasan emosional cenderung memiliki potensi yang besar jika dibandingkan dengan kecerdasan intelektual/ rasio. Seperti yang dijelaskan dalam tulisan ini bahwa emosi dapat meruntuhkan apa yang telah kita pikirkan sebelumnya. Maka dari itu, kecerdasan emosi memiliki potensi yang besar jika kita dapat mengendalikan seluruh aktivitas tubuh dengan tingkatan emosi yang sesuai. Jika kita cerdas dalam mengendalikan sesuatu dan tidak terpengaruh oleh ego maka kecerdasan emosi itu yang membuat kita sukses. Sebab,
    JIKA OTAK KITA DAPAT MENGONTROL EMOSI DENGAN BAIK MAKA KECERDASAN INTELEKTUAL AKAN MENGIKUTI DENGAN SENDIRINYA.

    1. Bagaimana jika kita dihadapkan dengan masalah yang tidak bisa menggunakan kecerdasan emosi maupun kecerdasan rasional?
    2. Bagaimana dengan orang-orang yang memiliki kelainan terhadap jiwanya sehingga emosinya tidak stabil? Apakah mereka masih memiliki kecerdasan emosi? Sedangkan akal dan rasional mereka juga sudah tidak mampu lagi memecahkan masalah, lantas bagaimana dengan orang yang memiliki kelainan jiwa tersebut?
    3. Apa yang menyebabkan tingkat emosi kita cenderung naik dan turun?

    BalasHapus
  11. Revolusioner telah terjadi bagaimana kecerdasan emosi lebih menentukan keberhasilan ketimbang kecerdasan kognitif. Faktanya telah di ungkap kan di atas. Bahwa ketika sedang belajar serius tiba - tiba kekasih memutuskan hubunganya. Seketika iu pula kecerdasan kognitif telah dibajak kecerdasan emosional.
    1. Bagaimana cara merubah emosi negatif menjadi emosi positif ?
    2. Bagaimana cara menyeimbangakan antara kognitif dengan emosional ?
    3. Bagaimana cara menjaga kecerdasan emosional lebih seimbangan dengan kognitif ?

    Tarmuji
    4915133414

    BalasHapus
  12. Revolusioner telah terjadi bagaimana kecerdasan emosi lebih menentukan keberhasilan ketimbang kecerdasan kognitif. Faktanya telah di ungkap kan di atas. Bahwa ketika sedang belajar serius tiba - tiba kekasih memutuskan hubunganya. Seketika iu pula kecerdasan kognitif telah dibajak kecerdasan emosional.
    1. Bagaimana cara merubah emosi negatif menjadi emosi positif ?
    2. Bagaimana cara menyeimbangakan antara kognitif dengan emosional ?
    3. Bagaimana cara menjaga kecerdasan emosional lebih seimbangan dengan kognitif ?

    Tarmuji
    4915133414

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd