Rabu, 19 Maret 2014

KECERDASAN DAN LINGKUNGAN

Manusia tidak hidup dan tumbuh kembang dalam ruang kosong. Meski merupakan seorang individu, manusia sejatinya adalah makhluk sosial. Manusia selalu berada dalam konteks yaitu jejaring sosial yang kompleks. Dalam kompleksitas itulah ia tumbuh kembang. Wajar bila perkembangan kecerdasannya juga dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan fisik dan sosial budaya.

Kaum behavioris bahkan sangat percaya bahwa lingkunganlah yang epenuhnya membentuk manusia dalam skema stimulus-respon. Artinya respon manusia sepenuhnya tergantung dari stimulus lingkungan. Dengan cara itulah manusia tumbuh dan kembang. Mereka meyakini pengaruh sangat besar lingkungan terhadap tumbuh kembang manusia berdasarkan eksperimen ilmiah yang mereka lakukan terhadap bayi tiga tahunan, anjing, monyet, tikus, dan kelinci. Dalam eksperimen mereka terbukti, kelinci yang dibiarkan hidup bebas di alam bebas memiliki jaringan dan ukuran otak yang lebih rumit dan lebih besar dibandingkan kelinci yang dikurung di kandang dan kurang diberi stimulus. Tikus dan monyet yang diberi beragam stimulus yang spesifik, terukur dan terus menerus bisa memecahkan sejumlah masalah. Tidak demikian halnya dengan tikus dan monyet yang tidak diberi stimulus.

Bersebalikan dengan itu, J. Piaget yang sangat terkenal sebagai ahli perkembangan kognisi manusia, terutama anak menjelaskan perkembangan kognitif anak yang seakan bebas dari pengaruh lingkungan berdasarkan penelitian terhadap anaknya sendiri. Piaget merumuskan tingkatan dan batas-batas perkembangan kognisi anak.

Tampaknya pandangan ekstrim kaum behavioris dan pandangan Piaget yang relatif bebas dari pengaruh lingkungan sudah kurang populer kini. Vygotsky telah lama mengembangkan pandangan bahwa tumbuh kembang anak merupakan interaksi dengan lingkungan. Ia menegaskan bahwa anak belajar tentang hal-hal spesifik dari lingkungannya melalui interaksi sosial. Itulah sebabnya meski masih kecil anak-anak bisa berbahasa Inggris bila dia besar di Inggris. Tidak perlu kursus atau belajar secara khusus seperti kita yang tumbuh kembang di Indonesia. Namun, pandangan Vygotsky tidak sama dengan pandangan kaum behavioris yang memutlakkan lingkungan. Vygotsky juga mengeritik pandangan Piaget yang memastikan tingkat perkembangan kognisi anak sesuai usia seperti anak tangga. Vygotsky, berdasarkan sejumlah penelitian, menunjukkan bahwa tingkatan itu bisa tidak tercapai, bahkan bisa dilampaui sangat tergantung interaksi sosial yang dialami anak.

Sebenarnya pandangan kaum behavioris pun tidak seluruhnya salah. Konsep pengkondisiaan yang sangat mereka unggulkan sampai sekarang secara empiris susah dibantah. Berbagai teori pembelajaran berbasis otak yang kini sedang poluper membenarkan bahkan mempercanggih pengkondisian tersebut dengan memasukkan teknologi sebagi unsur penting dalam pengkondisian.

Revolusi belajar dalam bentuk Quantum Learning menjadikan pengkondisian yang terstruktur berupa pengunaan musik, ruang yang sejuk dan aroma terapi sebagai bagian dari menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Artinya pengkondisian itu memang bisa memengaruhi kita.  Behaviorime menjadi problematis saat menjadikan lingkungan, pengkondisian, dan stimulus sebagai faktor yang dominan bahkan mutlak dalam menentukan tumbuh kembang manusia. Pastilah pandangan ini merendahkan manusia yang memiliki kebebasan dan kemampuan untuk melampaui lingkungannya.

Gardner dalam Unschooled Mind: How Children Think and How School Should Teach (2004) mengakui adanya pengaruh lingkungan sosial budaya dalam pembentukan kecerdasan anak. Itulah sebabnya, dalam mengimplementasikan kecerdasan majemuk yang dirumuskannya ia memberi kebebasan bagi para penggunanya untuk mengintegrasikan unsur budaya lokal di dalamnya.

Qi Chen, Moran & Gardner ed. Dalam Multiple Intelligences Around The World menguraikan bagaimana kecerdasan majemuk tersebut dikembangkan dengan cara yang berbeda di seluruh dunia. Bahkan di Cina saja berkembang sejumlah model yang sangat berbeda. Di setiap tempat yang berbeda, kecerdasan majemuk sungguh dikembangkan dengan cara berbeda sesuai konteks sosial budaya setempat. Strategi ini bisa dilakukan karena lingkungan sosial budaya memang memberikan pengaruh pada tumbuh kembang kecerdasan.

Michel Ferrari & Ljiljna Vuletic eds. dalam Developmental Relation among Mind, Brain, and Education (2010) menegaskan bahwa tingkat perkembangan kecerdasan itu tidak bersifat universal, tetapi lebih ditentukan oleh situasi lokal melalui pengalaman spesifik yang diperkuat oleh mekanisme biologis dan pengalaman budaya yang praktis dalam hidup sehari-hari.

Joan Y. Chiao ed. dalam Cultural Neuroscience: Cultural Influences on Brain Function (2009) bahkan menekankan banyak fungsi spesifik otak ditentukan oleh pengaruh kebudayaan yang bersifat praktis. Itulah sebabnya perkembangan bahasa anak, cara-cara pemecahan masalah, strategi menghadapi berbagai persoalan dari tiap kebudayaan tidak sama. Semuanya ini merupakan hasil interaksi timbal balik antara lingkungan sosial budaya dengan perkembangan otak.

Sebagai contoh, berbagai simbol yang dibuat manusia adalah salah satu ungkapan kecerdasan. Perhatikan berbagai simbol yang kita buat, seperti simbol tiap daerah di Indonesia, dengan simbol-simbol yang sama di tempat lain seperti di Eropa. Berdasarkan perbedaan itu kita tidak dapat mengatakan kecerdasan orang Eropa lebih tinggi dari orang Indonesia. Tetapi bisa dikatakan kecerdasan dan ungkapan kecerdasan antara keduanya sangat berbeda. Cermati dengan seksama komik Jepang yang dikenal sebagai manga, dan kartunya yang disebut anime, sangat berbeda dengan buatan Eropa dan Amerika. Ungkapan kecerdasan yang berbeda dari budaya yang berbeda

Shinobu Kitayama & Dov Kohen dalam Handbook of Cultural Psychology (2010) semakin menegaskan pandangan Vygotsky melalui penelitian empiris, bahwa jejaring kompleks lingkungan sosial budaya memang memengaruhi tumbuh kembang kognisi, persepsi, memori, dan fungsi-fungsi otak lainnya. Jejaring kompleks lingkungan sosial budaya itu berfungsi secara integratif dalam rentang waktu panjang yang berkelanjutan secara terus menerus selama masa tumbuh kembang manusia. Pengaruh itu bersifat timbal balik, tidak satu arah seperti yang dijelaskan kaum behaviorsi. Juga diakui kemampuan manusia mengatasi lingkungan sosial budaya yang memengaruhi. Itu artinya manusia meski dipengaruhi lingkungan sosial budayanya, tetapi tidak terpenjara di dalamnya.

Selama puluhan tahun menangani anak-anak marjinal yaitu anak jalanan, anak pasar, dan anak pemukiman kumuh bersama sejumlah relawan, ditemukan beragam cara dan strategi yang berbeda dalam cara anak-anak itu memecahkan masalah dan menjalani hidup dibanding anak-anak yang dibesarkan dengan cara yang berbeda, yaitu anak-anak yang hidup di rumah yang lebih baik dan mengalami masa persekolahan yang panjang.

Atas dasar fakta itulah saya berani menyebut adanya kecerdasan jalanan, yaitu seperangkat kemampuan dalam merespon berbagai kesulitan hidup yang memang tidak diajarkan di sekolah formal, tetapi yang dihadapi anak-anak marjinal tersebut setiap hari dalam kehidupannya. Kebanyakan mereka tidak sekolah atau berpendidikan rendah. Namun, mereka memiliki daya tahan luar biasa dan kreativitas tak terduga dalam menghadapi tantangan hidup yang keras dan terkadang kejam. Anak-anak yang makan sekolahan itu belum tentu mampu menghadapinya. Karena itu, 

ANAK-ANAK YANG LULUS UJIAN SEKOLAHAN BELUM TENTU LULUS DALAM UJIAN KEHIDUPAN, UJIAN KEHIDUPAN LEBIH SULIT DAN LEBIH KOMPLEKS DARIPADA UJIAN SEKOLAHAN.

11 komentar:

  1. Eka Ma'rifah
    P.IPS A 2013
    4915131384
    Manusia merupakan makhluk sosial. Mnusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia hidup dalam lingkungan bersama manusia lain. Manusia dan lingkungan tidak mungkin dapat dipisahkan. mulai dari ia lahir sampai ia harus kembali ke dalam tanah, manusia selalu bersama lingkungan. sehingga pertumbuhan dan perkembangan manusia dipengaruhi oleh lingkungan, termasuk pertumbuhan kecerdasan otak manusia. Kecerdasan tersebut dipengaruhi oleh lingkungan fisik manupun lingkungan sosial budaya. Setiap saat manusia berinteraksi dengan lingkungan sehingga tumbuh kembang akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang, kognisi, persepsi, memori, dan tentunya otak.
    pertanyaan:
    1. mengapa ada manusia yang menempati lingkungan fisik dan sosial budaya sama tetapi kecerdasan mereka berbeda?
    2.bagaimana pengaruh lingkungan terhadap orang yang tidak dapat berfikir rasionla (gila) ?
    3. adakah faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan manusia selain faktor lingkungan?

    BalasHapus
  2. Syifa Wulandari
    P.IPS Reg B 2013
    4915133405
    Kecerdasan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial budayanya. Betapa pun para ilmuwan yang tidak sepenuhnya setuju dengan hal itu, namun yang saya alami dan menjadikan pengalaman memang tergantung lingkungan sekitar dimana kita tinggal, belajar, bergaul dan tumbuh berkembang. Namun, bisa berbeda hal dengan anak-anak yang lainnya. Hal ini harus bisa kita teliti dengan serangkaian metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Agar kita mengetahui dengan jelas dan pasti, bagaimana lingkungan fisik dan sosial budaya memengaruhi kecerdasan anak-anak. Penelitian harus dilakukan dengan kita sebagai peneliti menyingkirkan pengalaman kita semasa kecil yang bisa jadi berasal dari lingkugan fisik dan sosial budaya yang sama dengan yang kita akan teliti, agar data dan fakta yang kita temukan bersifat netral dan apa adanya. Penelitian dilakukan di dua lingkungan yang berbeda, agar dapat kita bandingkan dan selanjutnya kita bisa membuat hasil tersebut dalam laporan dan yang penting adalah membuat kesimpulan dari penelitian yang kita lakukan.
    Pertanyaan:
    1. Apakah anak-anak yang hidup dijalanan yang sangat dekat dengan kekerasan akan lebih mudah melakukan hal yang sama dengan yang mereka lihat?
    2. Apakah sudah ada data dalam prosentase berapa anak-anak yang kecerdasannya dipengaruhi oleh lingkungan?
    3. Apakah pola asuh dari orang tua bisa memengaruhi kecerdasan anak-anaknya?
    Terima kasih.

    BalasHapus
  3. Arlietha Nofeliza (4915131392)
    PIPS A 2013 “Kecerdasan dan Lingkungan”
    Lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan baik lingkungan fisik dan sosial budaya. Karena lingkungan merupakan tempat manusia tinggal dan menjalani kehidupan yang sekitarnya terdiri dari individu lainnya yang masing-masing mempunyai ciri dan karakteristik berbeda, oleh karena itu lingkungan tempat seseorang tinggal sangat mempengaruhi dalam perkembangan kecerdasan seseorang. Mengapa seperti itu? Karena dalam menjalani kehidupan sehari-hari seseorang belajar dan tumbuh kembang dalam lingkungan tersebut baik belajar dalam lingkungan keluarga maupun diluar keluarga atau dalam masyarakat. Menurut saya, jika memang kita hidup dalam lingkungan yang baik maka setidaknya akan menghasilkan individu yang baik pula, tetapi perlu diingat kembali bahwa banyak sekali yang hidup dalam lingkungan yang baik tetapi tidak menghasilkan seorang individu yang baik, mengapa bisa terjadi? Karena ada yang salah dalam proses berinteraksi dengan lingkungan sekitar tempat tinggal. Meskipun sudah disukung oleh kondisi lingkungan yang baik, tetapi jika kita tidak bis berinteraksi dengan lingkungan dengan baik maka sama saja hasilnya akan nihil. Oleh karena itu, saya setuju dengan apa yang disampaikan Vygotsky bahwa tumbuh kembang anak merupakan interaksi dengan lingkungan. Ia menegaskan bahwa anak belajar tentang hal-hal spesifik dari lingkungannya melalui interaksi sosial. Dan saya juga setuju dengan pandangan behavioris bahwa lingkunganlah yang sepenuhnya membentuk manusia dalam skema stimulus-respon. Artinya respon manusia sepenuhnya tergantung dari stimulus lingkungan. Menurut saya antara pandangan behavioris dengan Vygotsky jika keduanya salingmelengkapi akan menghasilkan tumbuh kembang kecerdasan baik.
    Tetapi ada hal yang sangat menarik dan perlu menjadi pengajaran bahwa dari lingkungan yang kurang baikpun pastilah mempunyai dampak yang positif seperti yang terdapat dalam tulisan ini, kecerdasan jalanan memang suatu dampak positif dari keadaan lingkungan yang bisa dikatakan kurang baik. Tetapi justru dari situlah kita harus belajar, mereka yang hidup dalam lingkungan seperti itu bisa hidup dan memliki daya tahan yang luar biasa, mereka mempunyai kreatifitas tak terduga dalam menghadapi tantangan hidup yang keras dan terkadang kejam. Anak-anak yang makan sekolahan itu belum tentu mampu menghadapinya. Karena itu, saya sangat setuju dengan “ANAK-ANAK YANG LULUS UJIAN SEKOLAHAN BELUM TENTU LULUS DALAM UJIAN KEHIDUPAN, UJIAN KEHIDUPAN LEBIH SULIT DAN LEBIH KOMPLEKS DARIPADA UJIAN SEKOLAHAN.” Atau anak-anak yang mempunyai kesempatan hidup lebih baik belum tentu mereka dapat menghadapi ujian dalam dinamika kehidupan, karena biasanya banyak yang salah mengartikan keadaan yang baik justru mereka malah terlalu santai dan kurang menghadapi tantangan dalam hidupnya. Satu sisi yang dapat diambil dari tulisan ini adalah, bahwa kita harus bersyukur dengan keadaan atau kondisi lingkungan tempat kita hidup dan harus berusaha seoptimal mungkin agar menghasilkan tumbuh kembang kecerdasan yang baik.
    Pertanyaan: (1.) Bagaimana kriteria lingkungan tempat tinggal yang baik yang bisa menghasilkan tumbuh kembang kecerdasan yang baik? (2.) Manakah yang lebih baik, menyesuaikan diri dengan lingkungan atau memaksakan lingkungan agar sesuai dengan diri pribadi? Apa alasannya? (3.) Manakah yang lebih penting, lingkungan dalam kondisi keluarga yang baik atau hanya pada lingkungan tempat tinggal yang baik? (4.) Apakah lingkungan perumahan yang elit dapat dipastikan mempengaruhi tumbuh kembang kecerdasan?

    BalasHapus
  4. Gatot Prasetyo P IPS B
    komentar : memang nilai pembelajaran kognitif hanya modal yang tidak begitu besar dibandingkan modal pembelajaran terhadap lingkungan ( kehidupan yang sesungguhnya)
    1. mengapa pembelajaran lingkungan di sd kurang terhadap kepada teorinya?
    2. dan mengapa di indonesia banyak orang yang kurang memperhatikan lingkungannya ? tidak perduli
    3. mengapa harus diadakannya ujian teori yang menjadi prasyarat yang dinasionalkan tapi prakteknya hanya sekolah yang mengawasi?

    BalasHapus
  5. Siti Alawiyah
    4915131385
    Saya setuju dengan tulisan bapak ini bahwa kecerdasan manusia tidak hanya didapat di lingkungan sekolah saja tetapi kecerdasan bisa didapatkan di luar lingkungan sekolah misalnya di lingkungan masyarakat, di lingkungan jalanan, pasar dan tempat lainnya .Seperti halnya anak-anak yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan dan mereka harus bekerja untuk membantu orangtuanya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka harus berputar otak untuk memikirkan bagaimana mereka harus bekerja dan hidup di jalanan yang penuh dengan kekejamandan kekerasan. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan bahwa anak yang bersekolah dan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari orangtuanya lebih cerdas daripada anak-anak yang tidak sekolah bahkan mereka harus bekerja untuk membantu orantuanya memenuhi kehidupan sehari-hari untuk melanjutkan hidup mereka. Namun pendidikan formal juga harus tetap diberikan kepada anak-anak jalanan karena pengetahuan yang didapatkan di dalam pendidikan formal dapat menjadi pegangan bagi masa depan mereka.

    BalasHapus
  6. Siti Alawiyah
    4915131385

    1. Mengapa setiap manusia memiliki kecerdasan yang berbeda-beda?
    2. Apakah lingkungan sangat mempengaruhi kecerdasan seseorang?
    3. Penelitian apa yang digunakan dalam melihat pengaruh lingkungan terhadap kecerdasan manusia?

    BalasHapus
  7. Nama : Ayatusyifa Wulandari
    Kelas : P. IPS A 2013
    Menurut saya mengenai tulisan bapak yang berjudul cerdas dan lingkungan sangat menggambarkan ketidaksempurnaan kita sebagai makhluk yang bagi kebanyakan orang menganggap sempurna. Karena, tak satupun bagian dari hidup kita dapat bertanggung jawab untuk kelangsungan hidup kita, seperti yang telah bapak jelaskan pada tulisan di atas, bahwa, kita manusia tak cukup hanya hidup dalam sangkar tapi juga butuh akan adanya peran lingkungan. Tapi tak seharusnya kita menggagungkan lingkungan pergaulan, lingkungan pekerjaan, lingkungan pengajaran, lingkungan pendidikan, dan lingkungan – lingkungan lain yang biasanya selalu berada disekitar kita sebagai piranti utama pembentuk keceerdasan dan karakteristik kita. Banyak dari kita yang menganggap bahwa lingkunganlah yang menentukan seseorang itu dapat dipuji atau dicaci karena kecerdasan yang dimiliki. Tapi yakinlah bahwa lingkungan tidak 100 % menjamin akan kecerdasan yang kita miliki, lingkungan hanya sebagian kecil dari beragam faktor yang dapat mencerdaskan. Karena cerdas sudah pasti pintar, tetapi pintar belum tentu cerdas yang artinya cerdas sesungguhnya adalah yang tak hanya memiliki intelektual tinggi tetapi juga memiliki jiwa sosial, rasa tanggung jawab, cinta terhadap lingkungan, dan bisa menyikapi berbagai persoalan hidup yang menimpa dengan solusi bukan dengan ilusi.
    Pertanyaan :
    1. Pada tulisan bapak di atas disebutkan bahwa ada beberapa tokoh yang tak sependapat mengenai lingkungan yang sepenuhnya bisa membangun kecerdasan manusia, bagaimana pandangan dari filsafat ilmu dapat menjelaskannya mengenai hal tersebut ?
    2. Mengapa banyak orang yang terbentuk fisik dan mentalnya karena faktor lingkungan ?
    3. Siapakah yang menjadi penentu utama kecerdasan seseorang? Apakah semuanya berawal dari interaksi sosial yang ada di lingkungan ?

    BalasHapus
  8. orang selalu merasa bangga mendapatkan nilai sempurna ketika ujian sekolah. ia di sanjung-sanjung berkat kecerdasan yang dimilikinya. tapi ada sebagian manusia yang mengaku cerdas lantas menyerah ketika di hadapkan pada suatu problema. misalnya jatuh miskin, dilanda hutang dan sebagainya hingga memaksanya menyerah dan lebih memilih mengakhiri hidupnya.
    ada orang yang sering disebut tidak cerdas dan hanya mendapat ejekan ketika mendapatkan nilai yang kecil, serta pandanga yang meremehkan. namun di luar dugaan ia sangat tegar menghadapi hidup yang pahit ini. aapa yang sebeanarnya terjadi
    1. seberapa kuat lingkungan menanamkan pengaruh bagi kecerdasan
    2. apakah orang yang cerdas jalanan memiliki IQ yang istimewa
    3. apa hubungan IQ dan lingkungan

    BalasHapus
  9. Selama ini, kurikulum Indonesia cenderung mengutamakan kecerdasan akademis terhadap kecerdasan lainnya. Mereka mengesampingkan multiple intellegence. Siswa yang tidak berbakat dalam bidang akademis dianggap sebagai siswa yang bodoh. Mereka dipaksa untuk mempelajari sesuatu yang tidak mereka bisa dan bakat mereka menjadi terbengkalai, Itulah sistem pendidikan konsevatif di Indonesia.
    1. Mengapa budaya termasuk bagian dari kecerdasan?
    2. Apakah setiap orang memerlukan stimulus?
    3. Apakah sekolah merupakan tempat yang tepat untuk belajar?

    BalasHapus
  10. Suci Ramadhaniyati (4915133404)
    P.IPS B 2013

    Lingkungan sangat berpengaruh erat terhadap kecerdasan otak yangmana lingkungan mampu menstimulus otak kita dengan berbagai rangsangan. Kita tahu bahwa kita hidup di lingkungan dan dibesarkan di lingkungan. Maka dari itu, lingkungan tempat kita dibesarkan mendominasi isi kemampuan otak kita. Jika kita hidup di antara orang-orang yang pandai bergaul pasti secara langsung otak kita memberi respons untuk mengikuti lingkungan sekitarnya. Berdasarkan penelitian yang telah disebutkan bahwasanya otak manusia memiliki kompleksitas terhadap lingkungan. Maka kesuksesan seseorang bergantung pada lingkungan yang membesarkannya.
    Lingkungan pada hakikatnya memilik keterkaitan erat dengan kita. Jika tidak ada lingkungan maka kita tidak bisa hidup. Begitu pun dengan otak kita. Otak dirancang sebagai pengendali dari seluruh aktivitas yang sadar maupun tak sadar, yang dibantu dengan organ-organ lain. Selain itu, apabila kita tumbuh dan berkembang di lingkungan yang memberikan stimulus yang baik, maka otak kita akan terekplorasi dengan baik dan mampu berpikir kritis.
    LINGKUNGAN ADALAH TEMPAT DI MANA KITA MENGEKSPLORASI KEMAMPUAN OTAK KITA.

    1. Lingkungan yang seperti apa yang mampu memaksimalkan fungsi otak kita?
    2. Bagaimana jika seseorang hidup di tengah-tengah lingkungan yang masyarakatnya memiliki perspektif dan paradigma masing-masing dan tidak ingin mencapai kesepakatan bersama? Apakah orang tersebut akan membangun paradigmanya sendiri? Atau dia lebih condong menggunakan kecerdasan emosinya untuk memilah dan memilih yang mana paradigma yang cocok untuk dirinya dari sekian banyak paradigma yang ada?
    3. Jika kita tidak peka terhadap lingkungan, apakah lingkungan mampu memberikan stimulus untuk kita?

    BalasHapus
  11. Judul ini menarik karena apa ? Karena yanga biasa saya dengar adalah lingkungan dengan sikap tapi ini menarik judulnya kecerdasan Dan lingkungan. Disini dtekankan bahwa lingkungan mempengaruhi kecerdasan.

    1. adakah orang yang lingkungannya tidak baik tapi kecerdasannya baik ? Mengapa demikian ?
    2. Bgaiaman lingkungan yang baik menurut bapak ?
    3. Bagaimana cara mengatasi masalah kecerdasan yang ada di lingkungan yang kurang baik ?

    Tarmuji
    4915133414

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd