Jumatan di Masjid Raya Baitussyakur, Jalan Raja Haji Ali, Batam. Masjid besar bertingkat. Jamaah ramai karena masjid terletak di pusat keramaian. Dekat dengan hotel-hotel besar dan kecil, pusat perkantoran, dan tidak jauh dari pusat hiburan yaitu bar/pub, karaoke, dan panti pijat.
Baitussyakur artinya orang yang bersyukur. Sangat pantas warga Batam bersyukur. Batam telah berkembang dengan kecepatan luar biasa. Dulu sebagian Batam adalah hutan dan rawa. Kini kota moderen yang memiliki fasilitas lengkap dan tingkat kemakmuran tinggi.
Jumat kali ini khotbah di masjid ini terasa sangat tepat. Khatib berbicara tentang Surat Nuh dari Al Quran. Paling tidak ada dua topik penting yang relevan dengan kondisi Batam. Pertama, Anjuran agar manusia memohon ampun pada Tuhan. Permohonan ampun dalam Surat Nuh dikaitkan dengan perilaku umat di zaman Nuh yang bukan saja tidak patuh, malah menutup kupingnya rapat-rapat dari seruan kebenaran, dan melawan kebenaran.
Sebagian kita tahu apa yang terjadi pada zaman Nabi Nuh. Akhirnya Tuhan menghukum mereka yang ingkar. Tidak banyak yang bisa ikut perahu Nabi Nuh. Artinya siapa pun yang mengingkari kebenaran pasti mendapat balasan setimpal.
Di Batam, rumah ibadah juga semakin bertambah banyak dan bagus-bagus seiring dengan pembangunan berbagai fasilitas umum, perkantoran dan pemukiman. Tetapi perkembangan tempat-tempat 'panas' termasuk panti pijat kelas menengah dan bawah juga sangat cepat.
Tribun Batam (27.02.2014) memberitakan, Kabid Sumberdaya Aparatur Satpol PP Batam, Hendra Felani mengaku di Batam memang banyak tempat-tempat pijat dan karaoke.Sedikitnya, data yang dimiliki Hendra menyebutkan, ada 163 titik tempat massage, pub dan karaoke.
Di Batam, pusat hiburan cenderung berkumpul di suatu kawasan yang bersatu dengan pertokoan, hotel dan rumah ibadah. Sebenaranya kondisi seperti ini bukan hanya ada di Batam. Di Jakarta, bahkan di kota pelabuhan Hamburg juga begitu. Pusat hiburan ada bersama dengan tempat ibadah.
Perkembangan tempat hiburan di Batam memang harus dicermati, diawasi dan dikelola dengan sebaik-baiknya. Menghapus sama sekali tempat-tempat hiburan di kawasan pelabuhan bebas bukanlah hal yang mudah. Bercampur baur kepentingan ekonomis dan persoalan moral yang tidak mudah diurai di situ.
Dalam konteks itulah rasa syukur masyarakat tidak boleh berhenti hanya pada penamaan sebuah masjid raya. Tatakelola kota dan masyarakat Batam sungguh harus sangat memperhitungkan akar budaya Batam. Meski kini Batam bersifat terbuka dan dihuni banyak orang dari beragam budaya dan negara. Batam berakar pada budaya Melayu.
Dalam kaitan ini pantas menyebut Raja Haji Ali. Raja Haji Ali adalah ulama, ahli sejarah, ahli bahasa Melayu, dan pujangga yang lahir di Pulau Penyengat.
Sebagai ahli bahasa Melayu ia menulis buku Pedoman Bahasa. Buku yang ditulisnya sangat membantu peserta Kongres Pemuda yang merumuskan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kesatuan. Kita semua mengetahui bahwa Bahasa Indonesia berakar atau beribu Bahasa Melayu. Artinya budaya Melayu memberikan kontribusi yang sangat bermakna dalam kerangka keindonesiaan.
Berdasar fakta sejarah itu, kita bisa berharap akan ada semacam kontribusi timbal balik antara Batam dan keindonesiaan. Meskipun Batam adalah pelabuhan bebas yang memiliki karakteristik tertentu seperti bersifat terbuka, ramai dan meriah dengan hiburan, Batam adalah bagian tak terpisahkan dari keindonesiaan. Budaya keindonesiaan diharapkan dapat menjadi piranti untuk memilah, memilih, dan mengolah apapun yang masuk ke Batam dan Indonesia pada umumnya.
Artinya, berbagai potensi problem moralitas yang bisa menjerumuskan, mestinya dapat diatasi dengan pendekatan budaya. Jadi, rasa syukur kita, selain diujudkan menjadi sebuah masjid, juga penting diujudnyatakan dengan membuat nilai-nilai budaya berfungsi dalam kehidupan keseharian.
Batam dan semua wilayah di Indonesia tampaknya perlu mengembangkan strategi budaya sebagai bagian integral dari rencana strategis yang selama ini sudah dikembangkan. Pendekatan budaya dalam menyelesaikan beragam masalah tampaknya harus lebih dikedepankan sekarang. Karena selama ini kebudayaan hanya heboh dalam wacana di kalangan para intelektual, dan budayawan dalam berbagai banyak persilatan lidah dalam bentuk seminar dan simposium. Tetapi kurang hidup dalam realitas nyata kehidupan.
PEMBANGUNAN BATAM DAN INDONESIA HARUS SECARA NYATA BERAKAR PADA NILAI BUDAYA INDONESIA YANG DINAMIS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd