Partai Islam? Apa
maknanya? Menjelang, selama, dan sesudah pemilu legislatif dan menjelang pemilu
presiden ramai dibicarakan tentang partai Islam. Partai yang dikategorikan
sebagai partai Islam adalah PKB, PAN, PPP, PKS, PBB. Partai-partai ini
berdasarkan hitung cepat hanya mendapatkan suara sekitar 30 persen.
Ada pertanyaan
yang menggelitik terkait dengan perolehan suara tersebut. Negeri ini jumlah
penduduk yang beragama Islam sekitar 90 persen, partai-partai Islam hanya
dipilih oleh sekitar 30 persen pemilih. Kenapa ya, kira-kira? Sejumlah orang
yang berasal dari partai-partai Islam dan pendukungnya menuduh, orang Islam
yang tidak memilih partai Islam adalah orang yang tidak faham islam. Ada pula
yang menyatakan yang tidak memilih partai Islam adalah orang sekuler, dan
beragam tuduhan miring lain.
Ironinya mereka
tidak pernah secara jujur dan berani menilai diri mereka sendiri. Mestinya
mereka bertanya mengapa umat Islam enggan memilih mereka? Daripada meributkan
orang yang tidak mau memilih mereka dan menuding dengan tuduhan yang miring,
lebih baik mereka berkaca diri, bagaimana perilaku mereka, apa saja yang mereka
perjuangkan, bagaimana gaya hidup dan ucapan-ucapan mereka yang merasa mewakili
umat Islam? Mereka hanya dipilih sekitar 30 persen, dan golput juga sekitar 30
persen, hitung sendiri betapa sedikitnya suara yang mereka peroleh. Dengan
fakta angka-angka itu, tidak maluka menyatakan sebagai perwakilan umat Islam?
Marilah kita
longok secara lebih jernih sosok partai yang menyebut dirinya partai Islam.
Lihatlah tingkaipangkai yang kini sedang bergejolak dalam tubuh PPP. Mereka
menyebut diri Rumah Besar Umat Islam. Bagaimana bisa menjadi rumah besar,
ngurusin gubuk reyot sendiri saja tak mampu. Manuver politik ketua umumnya sungguh
menunjukkan ketidakmampuan menjadi pemimpin yang amanah dan konsisten
menjalankan aturan partai sendiri. Perilaku mereka dalam berpolitik demi
mencapai kekuasaan lebih banyak mempermalukan umat Islam. Kita orang Islam saja
mau muntah melihatnya.
Dalam konteks itu
kita juga tidak dapat melupakan bagaimana PKB dulu menyelesaikan keributan
internalnya. Sama sekali tak ada perhatian dan keinginan untuk menggunakan
cara-cara yang Islami. Tanpa rasa malu mengumbar pertengkaran di depan publik.
Saling membuka aib. Bagaimana pula cara ketua umumnya memperlakukan kadernya
yang kritis dan berbeda pendapat. Benar-benar prinsip silaturahmi dan saling
mengingatkan dalam kebaikan tidak mendapat tempat. Sama sekali menggunakan
pendekatan kekuasaan.
Lihatlah cara
ketua umum PAN bersikap saat anaknya melakukan kesalahan yang menyebabkan orang
meninggal. Benar-benar menggunakan cara-cara orde baru. Menggunkan kekuasaan
untuk melindungi sang anak. Kita terheran-heran dibuatnya, karena dia lebih
banyak memberi keterangan pada media daripada polisi. Bagaimana kita hendak
percaya pada orang yang menggunakan atribut Islam, tetapi menggunkan kekuasaan
untuk menghancurkan keadilah dan kepastian hukum.
Apakah kita bisa
melupakan bagaimana sikap dan reaksi saat presiden partainya dicokok KPK karena
diduga terkait kasus korupsi? Benar-benar seperti kebakaran rambut dan bulu
ketek. Menuding ada konspirasi Jahudi, menuduh KPK alat dan antek Jahudi. Terus
saja menuding orang lain, sama sekali tak ada kesadaran untuk menilai diri
sendiri. Kesudahannya, kadernya melakukan upaya dan membangun opini untuk
membubarkan KPK dengan berbagai argumentasi yang saling bertentangan. Ingat
juga bagaimana sikap mereka dalam koalisi. Mosok partai yang katanya Islam
tidak konsisten dengan ucapannya sendiri.
Apa yang
diungkapkan di atas hanyalah sekelumit gambaran partai yang selalu membawa-bawa
nama Islam. Seperti partai lain, mereka juga terjerat kasus korupsi. Pakai
berdalih lagi, kami kan tidak sebanyak partai lainnya melakukan korupsi.
Sedikit atau banyak tetaplah namamya korupsi. Tragisnya ngaku partai Islam,
tetapi jadi koruptor, ada yang presiden partainya lagi yang lakukan.
Oleh karena itu
kita jadi bertanya, mereka itu partai Islam atau partai yang bawa-bawa atau
ngaku-ngaku Islam? Islam itu bukan label, bukan merek dagang. Tetapi sejumlah
prinsip yang harus diujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk
akhlak yang baik, sikap yang konsisten, dan keamanahan dalam integritas. Islam
adalah kejujuran dan mencarakan segala yang halal, bukan menghalalkan segala
cara.
Lihatlah dulu,
mereka pernah membentuk poros tengah, hasilnya menjadi poros engah alias
terengah-engah. Mengapa bisa begitu? Karena tak mampu bersikap amanah dan
konsisten. Kepentingan kekuasaan lebih mengemuka.
Seyogyanya partai-partai
yang ngaku partai Islam itu lebih mawas diri, melakukan introspeksi, dan tidak
sibuk menuding orang yang tidak memilihnya dengan berbagai tudingan yang tak
beradasar. Mereka harus mengerti, mayoritas umat Islam tidak memilih mereka
karena perilaku yang mereka tunjukkan. Kita semua masih ingat kan, kader PKS
yang nonton film porno saat mengikuti sidang yang membahas kepentingan rakyat?
Mengapa pada
Pemilu 1955 yang diakui sebagai pemilu paling demokratis partai Islam menduduki
posisi pemenang kedua dan ketiga dengan suara yang sangat signifikan? Antara
lain karena para politisi Islam masa itu dikenal sebagai tokoh-tokoh yang
terkenal karena akhlaknya baik, amanah, dan konsisten serta memang sangat dekat
dengan umat. Perjuangan mereka juga sangat jelas yaitu mengedepankan aspirasi
umat Islam dengan tetap menghargai kebhinekaan keindonesiaan. Para politisi
Islam itu, sampai meninggal tetap dikenal sebagai orang yang lurus, jujur dan
hidup dalam kesederhanaan. Mereka tidak mau hidup dalam kemewahan karena sadar
kondisi umat Islam yang sesungguhnya. Bandingkan dengan kemewahan yang
ditunjukkan oleh kebanyakan politisi
yang ngaku dari partai Islam sekarang ini. Berdasarkan beragam fakta, kita bisa
katakan sekarang ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd