Selasa, 22 April 2014

PARTAI ISLAM (?)



Partai Islam? Apa maknanya? Menjelang, selama, dan sesudah pemilu legislatif dan menjelang pemilu presiden ramai dibicarakan tentang partai Islam. Partai yang dikategorikan sebagai partai Islam adalah PKB, PAN, PPP, PKS, PBB. Partai-partai ini berdasarkan hitung cepat hanya mendapatkan suara sekitar 30 persen.

Ada pertanyaan yang menggelitik terkait dengan perolehan suara tersebut. Negeri ini jumlah penduduk yang beragama Islam sekitar 90 persen, partai-partai Islam hanya dipilih oleh sekitar 30 persen pemilih. Kenapa ya, kira-kira? Sejumlah orang yang berasal dari partai-partai Islam dan pendukungnya menuduh, orang Islam yang tidak memilih partai Islam adalah orang yang tidak faham islam. Ada pula yang menyatakan yang tidak memilih partai Islam adalah orang sekuler, dan beragam tuduhan miring lain.

Ironinya mereka tidak pernah secara jujur dan berani menilai diri mereka sendiri. Mestinya mereka bertanya mengapa umat Islam enggan memilih mereka? Daripada meributkan orang yang tidak mau memilih mereka dan menuding dengan tuduhan yang miring, lebih baik mereka berkaca diri, bagaimana perilaku mereka, apa saja yang mereka perjuangkan, bagaimana gaya hidup dan ucapan-ucapan mereka yang merasa mewakili umat Islam? Mereka hanya dipilih sekitar 30 persen, dan golput juga sekitar 30 persen, hitung sendiri betapa sedikitnya suara yang mereka peroleh. Dengan fakta angka-angka itu, tidak maluka  menyatakan sebagai perwakilan umat Islam?

Marilah kita longok secara lebih jernih sosok partai yang menyebut dirinya partai Islam. Lihatlah tingkaipangkai yang kini sedang bergejolak dalam tubuh PPP. Mereka menyebut diri Rumah Besar Umat Islam. Bagaimana bisa menjadi rumah besar, ngurusin gubuk reyot sendiri saja tak mampu. Manuver politik ketua umumnya sungguh menunjukkan ketidakmampuan menjadi pemimpin yang amanah dan konsisten menjalankan aturan partai sendiri. Perilaku mereka dalam berpolitik demi mencapai kekuasaan lebih banyak mempermalukan umat Islam. Kita orang Islam saja mau muntah melihatnya.

Dalam konteks itu kita juga tidak dapat melupakan bagaimana PKB dulu menyelesaikan keributan internalnya. Sama sekali tak ada perhatian dan keinginan untuk menggunakan cara-cara yang Islami. Tanpa rasa malu mengumbar pertengkaran di depan publik. Saling membuka aib. Bagaimana pula cara ketua umumnya memperlakukan kadernya yang kritis dan berbeda pendapat. Benar-benar prinsip silaturahmi dan saling mengingatkan dalam kebaikan tidak mendapat tempat. Sama sekali menggunakan pendekatan kekuasaan.

Lihatlah cara ketua umum PAN bersikap saat anaknya melakukan kesalahan yang menyebabkan orang meninggal. Benar-benar menggunakan cara-cara orde baru. Menggunkan kekuasaan untuk melindungi sang anak. Kita terheran-heran dibuatnya, karena dia lebih banyak memberi keterangan pada media daripada polisi. Bagaimana kita hendak percaya pada orang yang menggunakan atribut Islam, tetapi menggunkan kekuasaan untuk menghancurkan keadilah dan kepastian hukum.

Apakah kita bisa melupakan bagaimana sikap dan reaksi saat presiden partainya dicokok KPK karena diduga terkait kasus korupsi? Benar-benar seperti kebakaran rambut dan bulu ketek. Menuding ada konspirasi Jahudi, menuduh KPK alat dan antek Jahudi. Terus saja menuding orang lain, sama sekali tak ada kesadaran untuk menilai diri sendiri. Kesudahannya, kadernya melakukan upaya dan membangun opini untuk membubarkan KPK dengan berbagai argumentasi yang saling bertentangan. Ingat juga bagaimana sikap mereka dalam koalisi. Mosok partai yang katanya Islam tidak konsisten dengan ucapannya sendiri.

Apa yang diungkapkan di atas hanyalah sekelumit gambaran partai yang selalu membawa-bawa nama Islam. Seperti partai lain, mereka juga terjerat kasus korupsi. Pakai berdalih lagi, kami kan tidak sebanyak partai lainnya melakukan korupsi. Sedikit atau banyak tetaplah namamya korupsi. Tragisnya ngaku partai Islam, tetapi jadi koruptor, ada yang presiden partainya lagi yang lakukan.

Oleh karena itu kita jadi bertanya, mereka itu partai Islam atau partai yang bawa-bawa atau ngaku-ngaku Islam? Islam itu bukan label, bukan merek dagang. Tetapi sejumlah prinsip yang harus diujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk akhlak yang baik, sikap yang konsisten, dan keamanahan dalam integritas. Islam adalah kejujuran dan mencarakan segala yang halal, bukan menghalalkan segala cara.

Lihatlah dulu, mereka pernah membentuk poros tengah, hasilnya menjadi poros engah alias terengah-engah. Mengapa bisa begitu? Karena tak mampu bersikap amanah dan konsisten. Kepentingan kekuasaan lebih mengemuka.

Seyogyanya partai-partai yang ngaku partai Islam itu lebih mawas diri, melakukan introspeksi, dan tidak sibuk menuding orang yang tidak memilihnya dengan berbagai tudingan yang tak beradasar. Mereka harus mengerti, mayoritas umat Islam tidak memilih mereka karena perilaku yang mereka tunjukkan. Kita semua masih ingat kan, kader PKS yang nonton film porno saat mengikuti sidang yang membahas kepentingan rakyat?

Mengapa pada Pemilu 1955 yang diakui sebagai pemilu paling demokratis partai Islam menduduki posisi pemenang kedua dan ketiga dengan suara yang sangat signifikan? Antara lain karena para politisi Islam masa itu dikenal sebagai tokoh-tokoh yang terkenal karena akhlaknya baik, amanah, dan konsisten serta memang sangat dekat dengan umat. Perjuangan mereka juga sangat jelas yaitu mengedepankan aspirasi umat Islam dengan tetap menghargai kebhinekaan keindonesiaan. Para politisi Islam itu, sampai meninggal tetap dikenal sebagai orang yang lurus, jujur dan hidup dalam kesederhanaan. Mereka tidak mau hidup dalam kemewahan karena sadar kondisi umat Islam yang sesungguhnya. Bandingkan dengan kemewahan yang ditunjukkan oleh kebanyakan  politisi yang ngaku dari partai Islam sekarang ini. Berdasarkan beragam fakta, kita bisa katakan sekarang ini

ISLAM CUMA DIJADIKAN LABEL OLEH TOKOH DAN PARTAI POLITIK YANG NGAKU-NGAKU PARTAI ISLAM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd